Apakah pasrah dan putus asa itu sama?

Gobind Vashdev argues that pasrah, or acceptance, is not passive surrender but an active state built on inner strength. True pasrah differs from putus asa, or despair. He says genuine acceptance comes from developing emotional and financial resources so loss doesn't cripple you, not from using gratitude as an excuse for inaction.
Chapters
Kita nggak bisa ikhlas hanya dengan cerama. Sekarang kita ngomongin soal pasrah atau ikhlas. Nah, menurut saya sebagian besar orang Indonesia itu menyala artikan arti pasrah. Seringkali pasrah itu dianggap pasif. Jadi, ya sudah lah diterima aja. Namanya rejeki ya, dapat segini ya diterima ya. Mengalir aja, diikutin aja mau kemana hidup ini. Ya, bersyukur aja. Nah, dibalik kata-kata bersyukur, pasrah, itu kita menyelipkan suatu pembenaran. Nah, itu sebenarnya bukan pasrah. Itu adalah putus asa. Pasrah itu harus dibangun lewat kekuatan. Sama seperti Anda tahu yoga, yoga itu kan fleksibel. Tapi fleksibelnya harus dibangun lewat kekuatan. Anda tahu lenturnya si balet, itu lenturnya nggak boleh loyo, ngelemprek nggak boleh. Lenturnya harus dibangun lewat yang namanya kekuatan itu sendiri. Boleh dibilang antara kekuatan dan kelembutan itu saling mengikat. Sama seperti yin dan yang, hitam dan putih itu bukan dipotong garis tegas, tapi mereka saling berpelukan. Di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam. So, apa yang saya mau katakan bahwa kalau kita ingin benar-benar pasrah, kita harus membangun kekuatan kita. Karena ketika kita lemah, kita itu nggak punya kemampuan. Sama seperti kalau kita uangnya sedikit kehilangan, ya otomatis kita akan merasakan perasaan yang kacau, susah untuk namanya ikhlas. Tapi kalau kita kemampuannya banyak, uangnya hilang sebagian, kita masih punya kekuatan. So, itulah yang perlu kita bangun. Nah, sama seperti otot-otot yang lain, otot pasra ini juga harus dibangun. Kita nggak bisa melihat barbel dan kemudian otot kita bisa membesar, nggak bisa. Kita harus berlatih. Nah, kalau dalam diri saya, latihan yang saya lakukan, salah satunya adalah yaitu di buku saya, Happiness Insight. Ini ada huruf C kebalik. Nah, C kebalik ini artinya kopi live. Jadi artinya apa? Setiap orang, itu boleh mengkopi sebagian atau seluruh buku ini, kemudian mengganti nama saya, kemudian mengedarkan lagi. Tidak ada tuntutan. Dan kalau ada orang yang mendapatkan keuntungan secara materi atau non-materi, saya pun ikut bahagia. So, ini adalah latihan saya ketika buku saya dibaca dan kemudian saya melihat bagaimana perasaan. Mungkin awalnya nggak enak, tapi kemudian karena saya berlatih dengan perasaan tersebut, lama-lama saya punya kemampuan untuk melihat itu dan saya bahagia kalau ada orang yang bisa mengambil keuntungan dari situ. So, setiap orang pasti punya cara berbeda-beda, gak harus mengikuti saya. Tapi, saya mau bilang sekali lagi bahwa kita gak bisa ikhlas hanya dengan drama, mendengarkan podcast, gitu, gak bisa. Kita gak bisa sabar dengan hanya baca kitab suci, gak bisa. Kita harus berpraktek kesabaran, berpraktek ikhlas, baru kita bisa mempunyai kemampuan-kemampuan untuk ikhlas dan pasrah tersebut. Semoga Anda menemukan cara untuk bagaimana meningkatkan kemampuan atau menguatkan otot-otot ikhlas Anda. Salam sejahtera dari saya, Gopin Vasdeh.











