In this solo Indonesian monologue, Gobind Vashdev argues that no one can truly hurt or heal our hearts; only we can, because the heart resides within us and we assign meaning to events and words. He illustrates this with examples of insults (e.g., “goblok,” “otak isinya sampah”) and explains how media (Hollywood, Bollywood, Drakor) conditions us to interpret such language as humiliation. Vashdev stresses that the reaction to any comment—positive or negative—reflects the listener’s own perspective, not the speaker’s identity. Consequently, we hold the power to decide whether an incident wounds us by the meaning we give it. If we label it negatively, we feel hurt; if we label it positively, we remain unscathed. He concludes that the only person capable of healing our heart is ourselves, and likewise, we are the only ones who can wound it.
Chapters
Mana ada orang bisa menyakiti hati kita? Enggak mungkin. Orang bisa menyakiti kita secara fisik ya, menyakiti secara ekonomi ya, tapi secara hati itu kan enggak mungkin. Hati itu ada di dalam diri kita. Ya enggak mungkin, karena kita yang milih sendiri respon-respon itu. Contoh ada seseorang menghina. Misalnya kamu bodoh, kamu miskin, kamu... Goblok, pebel, whatever gitu ya. Kalau ada orang yang mengatakan pada saya, Goblin goblok, otak isinya sampah, begitu. Contoh seperti itu. Selama ini kan kata-kata itu diartikan. Diartikan bahwa itu penghinaan, penistaan, direndahkan dan sebagainya. So, ketika orang mendapatkan kata-kata itu, ketika orang mengatakan itu, kita terprogram untuk mengartikan kata-kata itu penghinaan. Waktu lagu-lagu sinetron Hollywood, Bollywood, Drakor, itu membentuk kita untuk mengartikan bahwa kata-kata itu artinya penghinaan. Betul? Itu dulu. Sekarang, kalau ada yang mengatakan Gobin goblok, otaknya isinya sampah gitu. Saya nggak sakit hati. Kenapa? Karena apapun yang dikatakan orang lain pada saya itu tidak mencerminkan siapa diri saya. Hanya mencerminkan siapa dirinya. Kalau ada orang mendengarkan podcast ini dan kemudian dia setuju, maka dia katakan bagus, keren, Pak. Saya sering kali bikin status atau konten gitu ya. Kemudian beberapa orang bilang, wah keren, Pak. Percerakan luar biasa pak, edukasinya. Terima kasih ya pak, berkas selalu, bla bla bla. Tapi beberapa orang bilang tolol, goblot, tau dan sebagainya. Content is content. Apakah itu baik atau buruk tergantung dari orang yang melihat. So saya adalah saya, saya gak baik, saya gak buruk. Kalau apa yang saya katakan cocok dengan anda, anda katakan saya bagus. Kalau apa yang saya katakan gak cocok, anda katakan saya jelek, betul? So baik dan jelek itu bukan mencerminkan siapa diri saya, tapi mencerminkan orang lain. Sehingga apakah saya sakit hati? Ya tidak lah. Tergantung kita itu punya kuasa, kita itu setiap kali ada kejadian, kita ditanya oleh dunia. Hai Gobind, ini ada kejadian ini, kamu mau ngasih makna apa kejadian itu? Kita loh yang punya kuasa untuk memberikan makna. Kalau saya kasih makna jelek, otomatis saya sakit hati. Kalau saya kasih makna baik, saya nggak sakit hati. So, kitalah yang membuat sakit hati. Saya mau tanya, siatu-satunya orang di dunia yang bisa menyembuhkan hati kita, siapa? Kalau satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan hati kita sendiri adalah diri kita sendiri, satu-satunya orang yang bisa menyakiti hati kita adalah diri kita sendiri.