In this Indonesian monologue, Gobind Vashdev responds to the mixed reactions his recent barefoot‑in‑snow video received. He thanks commenters who warned about frostbite, rebuts critics who called the act foolish, and emphasizes that his practice is the result of nearly twelve years of disciplined training under mentorship. Vashdev explains that he relies on a breath‑based metric rather than heart rate to assess his body’s readiness before attempting extreme activities, and he stresses the importance of a step‑by‑step progression. He argues that personal development requires pushing beyond one’s comfort zone, using the analogy of school challenges, and that this growth mindset should be applied to all areas of life—health, finances, language learning, etc. He urges viewers to seek experienced guidance, adopt incremental steps, and maintain a lifelong growth mindset. The video ends with his sign‑off as Gopin Fazdef.
Chapters
Terkait postingan saya kemarin di Salju yang mengundang begitu banyak komentar yang ada yang mengatakan bahwa hati-hati pak, nanti terkena frostbite. Terima kasih, saya mengapresiasi itu. Namun ada juga yang mencelainya, bodohan, penyesatan, berbahaya dan sebagainya seperti itu. Sebenarnya saya sudah menulis di caption bahwa ini saya lakukan melalui bimbingan atau latihan dan bila Anda ingin melakukannya, Anda perlu bimbingan atau Mentor yang mengawasin Anda. Seperti itu kurang lebihnya. Dan bagi teman-teman yang tidak mengenal saya, saya sudah melakukan nyekir ini sudah hampir 12 tahun. Kenapa saya tidak menggunakan alas kaki? Alasannya Anda bisa nonton di video saya bersama Nas Deli yang satu menit itu. Nanti kalau sebentar lagi saya posting deh supaya Anda nggak cari-cari lagi. Satu hal lagi, bahwa yes, karena saya sudah melatihnya cukup lama, saya punya patokan-patokan mana yang berbahaya, mana yang tidak. Dan saya melakukan dengan step by step. Setiap orang punya patokan, biasanya detak jantung. Tapi saya adalah nafas sebagai patokan saya. Sebelum saya olahraga, sebelum saya melakukan kegiatan-kegiatan yang bagi banyak orang dikatakan ekstrim, saya berlatih nafas dulu. Dan di situ skor nafas saya bagaimana? Kalau skor nafas saya kurang, berarti Tubuh saya nggak fit, dan pada saat itu saya nggak nge-push. Tapi ketika skor saya bagus, tentu saya boleh nge-push sampai limit tertentu. Tapi lagi-lagi, ini step by step. Tapi kenapa sih kita harus nge-push? Ya karena kita itu, manusia itu berkembang ketika dia melewati zona kenyamanan yang ada di dalam dirinya. Kalau kita stop di situ, dan ya kita nggak akan berkembang, Sewaktu kita kecil, kita kan kelas 1 nih. Apa yang terjadi? Kita dikasih soal PR, ujian, dan sebagainya. Itu kan nge-push limit kita, kan? Nah, apa yang terjadi? Ketika kita kelas 1, pelajaran kelas 1 susah. Tapi ketika kita hadapin, maka kita naik kelas 2, pelajaran kelas 1 jadi gampang. Jadi fokus saya itu tidak mengecilkan masalah. Tapi fokusnya adalah meningkatkan kemampuan dalam diri kita. Karena ketika kita dewasa, kita sebenarnya seringkali lupa terhadap meningkatkan kemampuan diri ini. Saya terlena bertahun-tahun tidak ngurusin kesehatan saya, saya makan ngaco, tidur ngaco dan sebagainya. Dan sekarang saya ingin berbagi kepada teman-teman tentang apa yang saya ketahuin dan meningkatkan kemampuan diri. Jadi, lagi-lagi, lakukan langkah demi langkah. Kalau bisa, perlu bimbingan, perlu seseorang yang menemani Anda, yang tahu, berpengalaman tentang hal-hal yang Anda ingin capai ke depan. Dan satu hal lagi bahwa penting banget dalam hidup kita itu selalu punya mindset untuk bertumbuh. Ini bukan masalah di salju atau di sauna. Tapi apapun dalam penghasilan kita, finansial kita, dalam kemampuan untuk mengingat bahasa, apapun. Yang penting adalah kita terus bertumbuh. Bertumbuh walaupun kita sudah usianya tidak muda lagi. Saya Gopin Fazdef. Salam bahagia.