Dobin Fasna explains that body odor comes from bacteria on skin, not sweat itself. Apocrine glands in armpits create the perfect environment for bacterial growth, and your diet shapes which bacteria live on your skin. To reduce odor, target bacterial hotspots with natural products instead of harsh commercial treatments.
Kemarin ada yang nyamperin saya. Saya bilang, maksudnya gimana?
Ya silahkan,
saya bilang. Ya iyalah.
Tapi kan keringet itu kan biasanya bau.
Eh tunggu dulu, nggak ada namanya keringet bau. Keringet itu nggak bau.
Coba
kita kalau keringetan di wajah atau di tangan gitu, coba dicium. Pasti kan nggak bau.
Lalu yang bau itu apa, Pak?
Yang bau adalah bakteri. Dan bakteri yang nempel di kulit. Ada yang kulit yang disukai bakteri, ada yang tidak disukai bakteri. Nah, tapi itu pun juga di tempat-tempat tertentu. Seperti di ketia. Karena apa? Di ketia itu ada kelenjar keringat yang mengeluarkan bukan hanya keringat, tapi ada lemak, juga ada protein. Nah, di situ biasanya si bakteri itu berkembang lebih cepat. Nah yang menarik adalah bahwa bakteri yang di kulit itu identik dengan bakteri yang ada di usus. Dan bakteri di usus itu sangat ditentukan oleh apa yang kita makan juga. Jadi kalau Anda tahu bahwa orang bule kok bau keju ya, orang Chinese ada khasnya orang Indonesia ada khasnya orang India juga begitu kan. Ada jenis-jenis bau tertentu di ras-ras tertentu. Nah itu sangat terkait dengan bakteri yang ada di ususnya dan apa yang dia makan. So, kalau seandainya kita ingin tidak bau, sebenarnya hanya membereskan bagian-bagian yang di mana bakteri itu berkembang. Ya Anda bisa gunakan beberapa benda yang lebih natural dibandingkan produk-produk yang beredar di pasaran seperti itu, itu untuk apa? Untuk kita lebih menjaga kesehatan kita. Karena apa? Karena kalau apapun yang kita tempelkan di kulit kita, itu akan terserah. Jadi pastikan Anda menempelkan itu dengan produk-produk yang lebih natural dan aman. Oke? Jadi selalu ingat, keringat, tidak bau, yang bau bakteri. Beresin di situ saja. Salam bagi dari saya, Dobin Fasna.