cara jitu ikhlas dan sabar

Gobind Vashdev argues that acceptance and patience aren't abstract concepts but physical practices. He teaches controlled stress through ice baths, intense exercise, and breathing work to build mental resilience, and says facing emotions directly through breath control, not avoiding them, is how you truly let go.
Chapters
Oke, jadi kali ini saya akan berbicara tentang bagaimana caranya atau cara yang jitu untuk ikhlas, sabar, pasrah, menerima, dan sebagainya. Bapak-Ibu, ini menarik sekali. Saya sudah sering kali berbicara di pelatihan saya di IG Live atau di mana-mana tentang bahwa di Indonesia ini kita itu punya masalah besar, yaitu hampir semua orang kelas menerima, bersyukur, dan sebagainya itu selalu diucapkan berkali-kali, beribu-ribu kali tapi yang menarik adalah bahwa semua itu adalah kata-kata yang abstrak kata-kata yang susah untuk dimengerti tindakannya bagaimana jadi kalau seandainya orang mengatakan ikhlasin saja detilnya bagaimana? step by stepnya bagaimana? kita Bapak Ibu kesulitan banget. Sekarang saya tanya, ya ikhlasin aja. Terus gimana rasa kacau hati saya ini mau diapain? Dilupakan. Ini ini ini ini ini suatu hal yang sangat menurut saya sangat penting sekali dan sangat sudah masif dikerjakan oleh setiap orang, oleh pendakwa, guru, orang tua, pejabat, atau apapun selalu berbicara tentang ikhlas, sabar, menerima, pasrah, dan sebagainya tapi kita gak dikasih tau caranya bagaimana oke, ini adalah kata-kata abstract kalau seandainya saya bilang ambil sepidol itu, anda tau bahwa apa yang anda lakukan adalah mengambil, menggerakkan kemudian mengambilnya, meletakkan tangan, menggegam, ini, mengambil. So, kita tahu step-stepnya. Kalau saya bilang sesuatu, contohnya, oke, tahun depan, omset perusahaan harus naik 20%. Anda dapat gambaran tuh. Walaupun itu kata-kata abstrak ya, tapi Anda dapat gambaran. Oke, berarti tahun depan saya buka cakam yang di sini, kemudian saya pakai iklan di Facebook, kemudian saya akan melakukan endorse, untuk menaikkan omset 20% oke saya pake marketplace, saya buka toko baru lagi saya begini, saya begitu Anda tau step-step nya oke, walaupun Anda kerjakan atau tidak itu lain lagi tapi Anda tau step-step nya tapi ketika Anda marah kemudian Anda dikatakan ikhlasin, menerima, ya sudahlah terus kita tanya sama temen kita gitu maksud kamu ikhlasin gimana? ya sudah, lupain aja Maksudnya melupakan itu bagaimana coba? Apakah pikiran saya ini yang ada ini kemudian saya mengalihkan perhatian saya kepada orang lain? Ataukah saya nggak fokus ke sana, nggak mikirin itu? Tapi baik, oke. Nggak mikirin itu bagaimana cara nggak mikirin itu? Apakah saya lari pergi ngerokok? Apakah ke alkohol? Apakah ke perjudian? Atau yang lain? Tapi itu menjadi sebuah pertanyaan juga pada diri saya sendiri. Kenapa itu bisa terjadi? Dan saya menulis dua buku, Bapak Ibu, Happiness Inside dan 99 Wisdom. Dan saya nggak pungkiri bahwa di buku ini banyak kata-kata upstart yang ikhlas berserah dan sebagainya. mindset tentang cara pandang dan sebagainya seperti itu. Sampai akhirnya, bagaimana seharusnya? Apa yang harus arti yang kita lakukan sendiri dengan itu semua? Ada yang mengatakan fokus kembangin diri sendiri. Oke, it's kandang merubah fokus dari yang sesuatu yang menyebalkan ada berubah. sesuatu itu tidak akan bisa hilang begitu saja. Anda rasa marah, kesal, benci dan sebagainya itu tidak akan tiba-tiba hilang begitu saja ketika Anda membiarkan. Ingat, time never heals. Waktu itu tidak pernah menyembuhkan. Anda bisa trauma 40 tahun lalu waktu Anda tidak ingat kejadian itu, waktu Anda umur 5 tahun, 4 tahun dan sebagainya. Tapi reaksi dari trauma itu masih orang rasakan sampai sekarang walaupun dia tidak ingat. Jadi kalau dibilang bahwa waktu itu menyembuhkan, no. Itu kata-kata yang indah, betul kata-kata yang indah gitu ya. Tapi, no, times never heal. Seperti itu ya. Dan curhat, apakah curhat juga akan membuat Anda menjadi ilang? dengan dukungan dari temen Anda. Anda merasa bahwa Anda tidak sendiri. Anda merasa bahwa ada orang-orang yang ada di sebelah Anda dan mendengarkan Anda selalu seperti itu. Jadi, perasaan pengganti daripada rasa yang tidak nyaman itu. Oke? Tapi apakah itu menyelesaikan juga masalahnya? Enggak kan? Seringkali. Oke. So, kali ini saya akan membicarakan beberapa hal. Tapi, Prinsip-prinsipnya Anda harus tahu sendiri dan bagaimana caranya nanti saya akan beritahu juga. Begini, Anda perlu tahu bahwa selama ini banyak orang berpikir bahwa emosi dan fisik adalah dua hal yang berbeda. Ada juga yang mengatakan bahwa lahir dan batin, ada yang mengatakan body and mind adalah sesuatu yang dua hal yang berbeda. apa itu namanya, berbeda. Begitu. Nah, dulu saya juga berpikir begitu. Tubuh nanti dulu, urusan pikiran. Namanya stres itu pikiran. Namanya trauma itu pikiran. Namanya masalah-masalah, apa itu namanya, kemarahan, kebencian dan sebagainya semua itu urusan pikiran. Seperti itu. Jadi gak ada urusannya dengan tubuh. Ternyata saya salah total. Saya salah tau bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin bisa dipisahkan. Jadi, saran saya adalah ketika kita sulit mengatur pikiran kita, maka apa yang kita bisa lakukan adalah kita memperkuat tubuh kita. untuk menghadapinya dibandingkan Anda punya energi atau fisik yang prima. Jadi olahraga, melakukan kegiatan-kegiatan yang aktif, aktivitas yang kuat memperkuat otot kita, memperkuat tulang, memperkuat raga kita itu adalah sesuatu yang sangat-sangat penting untuk menghadapi semua masalah kita. setiap hari, kemudian mandi dengan air es, melakukan sauna, melakukan olah pernafasan yang tidak. Ya mungkin bagi beberapa orang itu tidak nyaman, Bapak Ibu, menahan nafas dan sebagainya seperti itu. Semuanya tujuannya adalah untuk memperkuat tubuh. Tapi di sisi lain adalah bagaimana saya menciptakan stres yang saya kontrol sendiri. Apa yang terjadi Bapak Ibu? Maka yang terjadi adalah kemampuan tubuh Anda yang sudah diberikan stres ini semakin meningkat. Oke, ingat bahwa ketika tubuh Anda merasa gak nyaman ketika di es seperti itu atau di sauna atau ketika saya olahraga, itu kan nyaman. Yang gak nyaman apa sih sebenarnya? Apakah tubuh Anda? Dia akan bikin fight or flight, tapi kita bertahan disitu. Akhirnya apa ya? Kita menciptakan stres tapi kita kontrol. Kalau kita nggak bisa menciptakan stres, maka apa? Tubuh kita nggak punya kekebaran. Ini mirip seperti vaksin. Anda diberikan vaksin, dan kemudian apa yang terjadi? Tubuh Anda dikasih stres, kan? Dan kemudian memunculkan kekebaran yang baru. Itu yang pertama. Jadi saran saya yang pertama adalah sebelum kita ngomongin soal Benar-benar yang fisik, yang bisa dilakukan. Angkat beban itu. Ayo lari. Ayo olah nafas Anda. Olah raga, olah nafas. Ayo sauna. Kalau ada tempat di gym Anda, ada saunanya. Atau mandi air es. Kalau itu ada yang terjadi. Tentu semua ada ilmunya. ketahap ada yang bing-bing itu akan jauh lebih aman apalagi kalau kita sudah usia apalagi yang kedua adalah kalau kita punya komorbid atau penyakit-penyakit tertentu ya, jadi kalau Anda fit, healthy, young itu ya boleh dibilang hampir gak ada resiko hampir ya, tapi tetap ini bukan saran kesehatan oke, nah itu yang pertama oke, jadi sangat penting nah sekarang Fondasi fisik kita kuatkan. Kemudian yang kedua adalah fondasi mental kita. Fisik akan mempengaruhi mental. Seperti tadi kita bikin stres. Tapi yang kedua, ini menarik sekali Bapak Ibu. Buah kita selalu berpikir tentang ikhlas. Itu sesuatu hal yang melepaskan emosi itu. Tapi, Bapak Ibu, ini penting banget. Di dunia ini ada sebuah hukum, dan ini hukumnya berkebalikan. Apapun yang kita lawan, itu semakin kuat. Seperti hama, kita lawan. Apa yang terjadi? Semakin dia sengempes di sida, semakin kuat, semakin kuat, semakin kuat. Yang kedua adalah, apapun yang kita pola, manusia itu tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya kita bermasalah dengan ketakutan kita, keserakaan kita, kebencian kita, ego kita semua yang ada di dalam diri kita kalau anda marah dengan seseorang atau keadaan atau situasi atau apapun ingat bahwa semua kemarahan itu bukan di luar tapi ada di dalam diri kita betul? bahwa ini masalahnya di dalam sini maka itu ketika kita punya masalah tolong jangan cari jalan keluar tapi cari jalan ke dalam karena masalah ini Nah, ngomong ikhlasi itu kan berarti melepas kemarahan itu. Oke, melepas kemarahan itu. Artinya bahwa yang bikin kita nggak enak, itu kan emosi yang sedang mengganjal di dalam tubuh kita. Contoh, Bitcoin anda turun. Oke, yang ada itu. Anda merasa sedih. Anda merasakan bahwa merasa bersalah mungkin karena itu pakai uangnya Anda merasakan kecewa dengan diri Anda sendiri atau teman Anda yang memberikan advice dan Anda percaya pada teman Anda. Intinya bahwa ada emosi yang ada di dalam diri kita. emosi yang tidak nyaman di dalam tubuh Anda. Anda merasa tidak nyaman dengan itu semua. Dan Anda ingin menghilangkan itu. So, tujuan ikhlas adalah bagaimana saya bisa melepaskan emosi itu. Membiarkan atau membuat si emosi itu tidak ada lagi. Nah, selama ini, selama ini Bitcoin-nya. Udah biarin aja. Jadi, perasaan marah itu diapain? Atau kesel itu diapain? Udah dilupain aja. Udahlah. Gak usah dipikirin dia lah. Wanita mah masa banyak. Putusin satu. Masih banyak. Ntar aku cariin lagi lah. Ntar aku kenalin lah sama temenku. Itu kan advice-advice yang populer di diri kita. Udahlah. Gak usah dipikirin kopi aja. Ayo-ayo makan. Seperti itu. Itu yang Itu yang masalah, itu sebenarnya adalah cara yang selama ini dilakukan begitu banyak orang dan berpikir bahwa setelah beberapa lama kita akan bisa mengikhlaskan. Jadi, lagi-lagi, hukumnya mengatakan apapun yang kita lawan, makin besar. Apapun yang kita tolak, kembali ke kita. So, sebaliknya, akan hilang, akan lenyap. Artinya bahwa apa? Mengikhlaskan. Itu artinya adalah kita perlu untuk menghadapi, bukan hanya menerima, tapi menghadapi, merasakan, perasaan itu sampai Apapun yang kita bawa kembali ke kita, tapi sebaliknya mengikhlaskan artinya. Bukan menghilangkan, tapi merasakan. Sampai rasa itu tidak mengganggu kita. Artinya apa? Kita bersahabat dengan rasa itu. Jadi dirasakan. Hal itu dirasakan. Anda yang mengeluh terhadap suatu kondisi diri Anda, contohnya Anda habis diputus pacar gitu seperti itu, dan temen Anda akan menghibur Anda. Temen Anda akan berusaha untuk mengatakan, ya dia kalau kita dicuruh hati temen kita dan temen kita nangis-nangis, merasa gak nyaman. Apa yang terjadi? Otomatis kita juga gak merasa nyaman. Ketika dia merasa nyaman, dia udah mulai senyum. Kita pun senyum. Sebenarnya hiburan itu bukan untuk orang lain. Tapi hiburan itu untuk diri kita sendiri. Dan itu membantu. Untuk begitu banyak orang berpikir bahwa itu adalah bantuan yang perlu diperlukan. Terima kasih ya kamu sudah menghiburku, kamu sudah melakukan sesuatu bagi saya sehingga saya merasa nyaman. No, Bapak Ibu. Betul memang untuk mengasihkan rasa pahit di mulut itu dikasih gula nyaman. Ada pahit lagi, kasih gula lagi, nyaman. Yes! Itu gak bisa dipungkirin, itu akan merasakan, Anda merasa nyaman. Tapi apakah itu menyembuhkan? Tidak sama sekali. Anda akan lupa kejadian itu, Anda mungkin akan ketemu cowok lain atau cewek lain, dan kemudian ya sudah. Seperti itu. So, mengikhlaskan. Menerima. Mengikhlaskan. Bukan kejadian, bukan solusi. Kita gak perlu solusi, tapi kita perlu untuk berani. Berani. Itu yang paling diperlukan untuk berhadapan dengan kejadian itu. Rasa yang tidak nyaman. To feel the feeling until the feeling is flat. The flat ini artinya bukan berarti hilang, tapi Anda sudah tidak menganggu. The feeling sudah tidak disturbed lagi. Jadi, ini adalah sesuatu semua orang, kebanyakan orang. Jadi kita merasakan, berhadapan. So tadi kenapa saya mengatakan soal sauna, kenapa saya berhadap, saya mengatakan soal ice bath, kenapa saya mengatakan soal olahraga, olah nafas, yang ketidaknyamanan semua. Tujuannya itu, bahwa saya mentreng diri saya untuk berada di kedinginan air yang minus suhu itu, ketidaknyamanan, saya berusaha Bagaimana saya bisa menerima keadaan yang tidak nyaman itu? Pikiran, ayo keluar, kamu mati, kamu ini, kamu itu. Tidak. Kamu harus tetap di tengah. Rasakan. Ya, memang tidak nyaman. Tapi kamu harus hadapi. Bukan malah nyari handphone atau apa dan sebagainya. Tidak. Rasa itu diterima, dirasakan. Tubuh kita, sistem saraf kita mengatakan, it's okay, dulu saya pernah mengalami ini, dan gak apa-apa kok. Fine? Nah ini, Bapak Ibu, kita coba lihat doa-doa kita dalam kehidupan kita. Selalu kita diajarkan doa untuk menghilangkan masalah. Ya Tuhan, berikan saya ilangkan masalah saya. Tuhan, berikan saya jalan, menyiapkan masalah saya, dan sebagainya seperti itu. tidak berwenang untuk mengatakan, bukan ahli agama yang berwenang mengatakan ini benar atau salah Bapak Ibu. Tapi menurut saya, bagi saya, ketika kita kecil, masalah itu kelihatan besar Bapak Ibu. Tapi ketika kita besar, maka masalah menjadi lebih kecil. Jadi fokusnya bukan menghilangkan masalah, fokusnya adalah meningkatkan kemampuan kita. Sehingga apa yang terjadi? Kemampuan naik, masalah jadi Dan dulunya kita kecil kan, masalahnya jadi besar kan? Oh gimana ini caranya? Bukan inginnya diturunkan, bukan masalahnya diturunkan. Tapi kita mulai menguatkan diri kita. Kuat, kuat, kuat, kuat, kuat, kuat. Lama-lama apa yang terjadi? Masalahnya tetap ada. Oh tapi kecil dia, nggak mengganggu kita. Kayak seperti ginilah, waktu kita kecil kehilangan uang seribu rupiah Bapak Ibu. Waduh kita nangis sedihnya bisa berani-berani. Sekarang Bapak Ibu kehilangan seribu rupiah. itu yang penting banget dalam kehidupan kita bagaimana kita menghadapi sehingga Oh ya, Anda baca kitab suci kemudian bisa ikhlas. Nggak bisa. Anda bisa sabar dengan cara ikut kelas motivasi. Ya nggak bisa, Bapak Ibu. Buat semua itu latihan. Latihannya bagaimana? Menghadapin itu. Merasakan, berhadapan face to face dengan rasa tidak nyaman itu. Dengan sadar. Dengan sadar. Seperti itu. Jadi, itu step-stepnya. Fisik, dikuatin. Menghadapi masalah-masalah yang tidak enak itu dengan fisik. Kemudian yang kedua, ketika ada masalah, rasa tidak nyaman itu dihadapi. Di face to face. Nah, masalah dalam bahasa Inggris itu berapa? Bahasa Inggris itu kan problem, ya masalah. Dan problem itu bahasa aslinya, pro and bad. Pro artinya maju. Baling itu artinya to drive atau mendorong kita untuk maju, jadi masalah itu sebenarnya Tapi seperti itu, ingat sekali lagi saya tekankan, manusia tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Kita bermasalah dengan kemarahan kita, kebencian kita, keserakaan kita, ketakutan kita, ego kita, dan semua hal yang ada di dalam diri kita. Maka itu ketika kita punya masalah, jangan cari jalan keluar, tapi cari jalan ke dalam. Bagaimana Anda bisa berdoa pada Ayah Maha Rahim untuk menghukum pihak tertentu yang juga diciptakan oleh mereka. Diciptakan oleh tangan yang sama maksud saya. Atau pencipta yang sama. So, sabar ini Bapak Ibu adalah sesuatu yang juga perlu dilatih. Nah, tapi sekarang saya akan berbicara tentang sabar. Ada caranya. Nah, tadi saya udah ngomong soal Fisik. Saya sudah ngomong soal emosi atau mental kita. Lah jembatan antara fisik dan emosi ini itulah nafas kita. Itulah nafas kita. Jadi kalau Anda ingin tidak senggol baco, nyolot, langsung itu. Hal yang paling penting adalah Anda harus kuasai nafas Anda. Karena tidak ada satu orang pun di dunia. yang bisa marah-marah, emosi tinggi dengan nafas yang lambat itu tidak mungkin Anda masih seperti ini dan nafas ini sangat berpengaruh apakah dari mulut, apakah dari hidung itu sangat berpengaruh perbedaan untuk mengontrol emosi Anda besok teman-teman yang ikut Buteko Gathering pastikan Anda ikut Gathering Buteko, saya akan jelaskan tentang Nafas dengan emosi lebih detail. Jadi pastikan Anda ikut juga. Jadi kita punya tools. Jadi olahraga kita tools. Kemudian tayu hacking seperti ice bath, sauna, dan yang lainnya. Satu lagi tools kita yang sangat luar biasa sebenarnya olah nafas. Selain olahraga, olah nafas. Jadi kita kuat nafas kita. bagian otak yang ngurusin emosi, jadi kalau kita susah mengurusin emosi, kalau kita emosi tinggi, kita bilang hayo tenang, tenang, tenang, gak boleh, gak boleh, hayo ingat Tuhan dan sebagainya seperti itu, ya mungkin aja, tapi apakah emosi ini beres, biasanya malah ditekan kan, karena kita takut, karena ada emosi yang lain, jadi kita marah sama seseorang, kemudian kita diingatin sama temen, eh nanti Tuhan nanti menghukum kamu, akhirnya ada takut So, apa yang harus dilakukan adalah sebenarnya, oke saya gak bisa menguasain emosi saya. Yang saya bisa kuasain apa? Nafas saya. Maka saya merubah nafas saya. Supaya emosinya lebih terkontrol. Ketika emosinya lebih terkontrol, maka yang terjadi kemudian kita baru bisa mengambil tindakan. Jadi bapak, kalau kita seringkali berbicara kepada banyak orang, wah Tuhan itu yang luar biasa memberikan kita kemampuan, ya luar biasa Tuhan itu Pertanyaannya, apakah kita mau untuk menganfaatkan semua kapasitas yang diberikan seperti itu? Apakah kita berpikir, ah udahlah emang dari sananya saya seperti itu, ya emang semuanya nasib seperti itu. Saya punya sebuah kata yang sangat bagus sekali, bukan pepatah tapi sebuah perumpamaan atau analogi. Analogi itu mengatakan bahwa burung itu hingga di ujung rantik. Yang paling ujung, rantik yang tipis banget, paling ujung. Pohonnya tinggi banget. Dan burung itu tidak pernah takut jatuh. Kenapa dia tidak takut jatuh? Padahal rantiknya tipis. Padahal itu tinggi banget. Dia tidak takut jatuh, karena dia tidak menggantungkan dirinya pada ranting itu. Tapi dia mempunyai kemampuan dalam sayapnya. Saya tidak takut jatuh, karena saya punya sayap yang kuat. Ranting ini jatuh, saya masih bisa terbang. Dia tidak menggantungkan sesuatu. banyak sekali tokoh-tokoh mungkin spiritual atau agama atau apa bapak ibu yang memberikan kita janji-janji dogma-dogma dan dikatakan bahwa kita percaya aja tentu ya ini bukan salah atau benar tapi bagi saya pengenalan terhadap diri sendiri pengenalan terhadap Tuhan atau yang mahesa atau apapun yang anda sebut itu jauh lebih penting dan itu yang harusnya ditekankan untuk latihan-latihan daripada hanya berbicara tentang ya kamu percaya kamu akan selamat seperti itu Namanya kesabaran, ikhlas, pasrah atau apapun itu tidak bisa datang begitu saja. Anda perlu melatihnya. Sama seperti saya melatih nulis, berbicara, kemampuan mengangkat beban, semuanya satu, yaitu latih. Latihan. So, menurut saya itu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Ikhlas, pasrah, berserap, bersyukur, apapun itu. Latihan. Saya berharap tadi itu, yang sudah saya berikan ini, Saya akan terus lanjut dengan beberapa pertanyaan Bapak Ibu ya. Materinya udah selesai. Sampai ketemu di kesempatan lain, tapi saya akan masih terus untuk











