Cara Mengelola Emosi, Sakit Hati, dan Ego | Gobind Vashdev. E36 B

In this Indonesian‑language interview, Gobind Vashdev, founder of Emotional Release and breathwork workshops across Indonesia, discusses why emotional education is as essential as academic subjects and how to cultivate ikhlas (acceptance) through personal strength rather than resignation. He stresses taking responsibility for one’s choices, reframing anger and hurt, and viewing failure as a learning opportunity. Gobind explains the physiology of breathing, highlighting that 84 % of weight loss occurs via exhaled CO₂, and warns against hyperventilation (20+ breaths/min) which lowers CO₂, reduces oxygen delivery, and triggers stress. He outlines a practical breathing method: slow (12–14 breaths per minute), nasal, diaphragmatic (horizontal) breathing with reduced volume, which improves CO₂ tolerance, activates the parasympathetic system, supports metabolism, hydration, hormone balance, and sleep quality. He also touches on the importance of nose breathing for filtration, nitric oxide production, and vasopressin‑mediated water retention. Gobind shares personal anecdotes of dealing with fraud, insults, and being called “homeless” or “goblok,” illustrating how re‑assigning meaning prevents emotional injury. He recommends daily routines—exercise, breath practice, probiotic‑rich diet, high fiber, sauna, cold showers—and stresses discipline and consistency to counteract entropy and build resilience.
Chapters
Menurut saya, emosi adalah sesuatu yang penting untuk dipelajarin semua orang. Kita belajar fisika, kimia, matematika, integral, turunan, kotangan, sinus dan sebagainya ribuan jam dan kita lupakan. Sementara emosi yang dari lahir sampai akhir hidup kita, kita bawa, kita gak pernah belajar. Ketika ada marah, fokus untuk Beresin kemarahan. Karena kemarahan ada di dalam diri kita. Jangan nyalain orang lain. Karena begini, pada dasarnya lagi-lagi, manusia tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Kita bermasalah dengan ketakutan, kita keserakan, kita kebencian, dan sebagainya. Seperti itu. Kita selalu mesti ingat begini, ketika kita kecil, masalah besar. Ketika kita besar, masalah jadi kecil. Fokus dalam hidup kita, jangan pernah fokus mengecilkan masalah. Tapi fokusnya meningkatkan kemampuan kita. Ketika kita kehilangan 10 kg berat badan kita, pernah kepikiran nggak, lemak ini hilang nih 10 kg, hilangnya ke mana?
Keluar dari cairan, keringat.
Itu cuma 14-16 persen.
Oke, yang lainnya?
84 persen lewat napas kita.
Ada satu cara gratis dan gampang banget buat support channel ini terus berkembang dan sharing hal-hal pengmanfaat buat kita semua, yakni dengan subscribe. So please hit that subscribe button dan yuk kita tumbuh dan belajar bareng dengan Room for Improvement. Thank you. Lantas Pak Gobind, hidup tenang dan ikhlas itu menurut Bapak kayak gimana?
Ya, hidup tenang dan ikhlas itu perlu untuk diciptakan, diusahakan. Jadi selama ini ada sesuatu pandangan menurut saya, itu yang berpikir bahwa hidup ikhlas itu yaudah dijalanin aja lah, ya sudah lah. Mau diapain lah, pokoknya dapet rejeki segini ya, sudah diambil. Itu bukan pasrah, itu putus asa. Bedakan antara putus asa dan pasrah. So pasrah itu ada satu kekuatan, ikhlas itu kekuatan, ketenangan itu kekuatan. Ini mirip seperti yin dan yang. Yin dan yang itu kan hitam dan putih. Tapi mereka bukan dipotong garis tegas. Mereka saling berpelukan. Jadi di dalam kekuatan harus ada kelembutan. Di dalam kelembutan ada kekuatan. Yoga itu kan fleksibel. Tapi fleksibelnya harus dibangun lewat kekuatan. Nggak boleh yang loyo. Lenturnya balet, balet kan lentur, tapi kan harus kuat, bukan yang lemah. So itulah, ikhlas itu harus dibangun dengan kekuatan itu sendiri. Bukan yang yaudahlah, terserah lah mau diapain lah, mah santai aja diambil ya sudah. No, no, no. Harus kita kuatkan diri kita sendiri. Kuatkan diri kita sendiri itu dalam arti fisik kita mesti kuat, napas kita mesti kuat, tubuh kita mesti semua kuat, pikiran kuat, semua kuat, baru kemudian kita bisa ikhlas. Jadi contoh kalau saya punya uang 1 juta kehilangan 200 ribu contohnya, saya sakit hati. Kenapa? Karena kemampuan saya kecil. Tapi kalau saya punya kemampuan yang besar, maka ketika kita anggan berapa ratus juta pun, saya oke, yaudah nggak apa-apa. Kita punya kemampuan-kemampuan. Kemarin itu saya... Ya ceritanya begini, saya tuh sempat kaget juga, karena ditanya, waktu saya ke mal, satu mal, ada sebuah, dia lihat, Pak Gobind pernah sakit hati nggak? Nah pada saat itu, saya tuh baru beli produk, di mana saya pernah investasi ke perusahaan tersebut, dan ternyata ada fraud di situ. Ada fraud, dan itu nilainya super besar. Jadi saya investasi, kemudian ada fraud perusahaan tersebut. Dan saya masih datang ke perusahaan itu untuk membeli produknya dan memakai produk itu. Bayangkan ya. Padahal kan seringkali kan kita benci. Lu yang nipu, lu yang buat gue begini, gini, gini. No, saya tetap lakukan itu. Karena saya sadar bahwa ketika saya investasi, saya tuh sadar bahwa ada kemungkinan bahwa saya salah. Kebanyakan orang kan gak mau seperti itu kan. Mereka ketika milih pasangan, ketika dia investasi, ketika apa, mereka maunya Ya untung dan sebagainya, dan kemudian mereka nggak nyadarin bahwa ada peluang untuk salah. Yang salah adalah saya sebenarnya. Bahwa penilaian saya terhadap perusahaan itu yang salah. Oke, bukan dia yang salah, saya yang salah. Nah, seringkali itu. Nah, ketika kita punya kemampuan-kemampuan seperti itu, ya otomatis ya Anda nggak punya kebencian sebenarnya pada orang lain, dan Anda nggak akan sakit hati. Karena ketika itu, kita yang memilih. Sadar nggak kita sedang memilih itu? Dan resiko-resikonya. Ya kan? Kamu mengkhianatiku, nggak ada orang nggak mengkhianati. Memang dia begitu, tapi kita sendiri yang salah memilih. Tapi kita nggak enak kan, ngomong, saya ini goblok, milih dia. Enggak. Kamu mengkhianatiku, itu lebih elegan kelihatannya.
Berarti memang, tapi ini susah banget ya Pak. Ya, kita nggak mau dan nggak mungkin menyalahkan diri kita sendiri ketika hal tidak sesuai dengan plan kita atau kemauan kita. Padahal dia yang melakukan kesalahan itu.
Itu yang berat banget. Tunggu dulu, ini bukan menyalahkan diri sendiri. Bertanggung jawab pada pilihan kita. Bertanggung jawab enggak kita. Pada pilihan saya memberikan kepercayaan pada Anda, gitu. Kemudian Anda datang terlambat. Kita marah. Oke, tapi kita tahu nggak ada peran kita mempercayain hal tersebut. Ada nggak peran kita?
Yes.
Bukan menyalahkan diri sendiri, tapi kita berperan. Sehingga kita menyadarin seperti itu.
Tapi kenapa hidup ikhlas itu susah banget sih?
Lagi-lagi nggak pernah praktek.
Ini salah satu prakteknya tadi ya buku ini.
Lagi-lagi kan Indonesia itu jangan buang sampah sembarangan jutaan kali. Kenapa kok begitu banyak orang? Karena cuma ngomong toh, kita harus berpraktek ikhlas baru bisa ikhlas. Kita harus berpraktek melepas baru punya kemampuan seperti itu.
Contoh mudah untuk bisa diikuti apa Pak Gopin?
Contoh muda adalah mulai bertanggung jawab pada setiap pilihan kita. Jadi begini, setiap kali kita mau memilih, dan terjadi tidak sesuai harapan, Anda tanya pada diri kita sendiri. Bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut, tidak langsung menyalahkan. Tapi tanggung jawab, ada peran saya di situ untuk Dan kemudian mulailah belajar-belajar untuk melakukan suatu gerakan-gerakan yang dimana Anda belajar untuk ikhlas. Dan satu hal yang paling sering saya katakan, sering saya bagi juga di media sosial adalah memeluk emosi. Jadi ketika ada marah, fokus untuk beresin kemarahan. Karena kemarahan ada di dalam diri kita. Jangan nyalain orang lain. Karena begini, pada dasarnya lagi-lagi, manusia tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Kita bermasalah dengan ketakutan, kita keserakan, kita kebencian dan sebagainya. Seperti itu. Jadi seringkali saya kasih contoh seperti ada seorang ibu yang bilang, dia menyakitiku, dia membuat saya sakit, ini kanker, ini gara-gara dia pak. Kemudian saya cubit badannya. Ibu benar, dia menyakiti ibu seperti saya menyakiti ibu. Atau ibu yang setiap hari di dalam kepala ibu memunculkan sosok dia. Dan ibu benci setiap hari. dan kemudian memunculkan kekacauan yang luar biasa pada hormon ibu, dan muncul kanker itu. Mana yang benar? Selama kita terus-terusan fokus pada menyalahkan pihak lain, kita akan kehilangan waktu untuk sembuh. So, ambil tanggung jawab terhadap apapun yang kita putuskan. Atau kita pilih. Itu adalah langkah pertama untuk menjadi sadar. Saya jauh dari itu. Maksud saya, nggak selalu saya bisa seperti itu. Tapi selalu ingat bahwa ketika ada sakit hati, sakit itu nggak pernah di luar. Nggak ada orang yang bisa. Mana ada orang yang bisa menyakiti hati kita? Nggak mungkin, orang bisa menyakitkan kita secara fisik, menyakitkan secara ekonomi, tapi secara hati itu kan nggak mungkin. Karena kita yang milih sendiri respon-respon itu. Contoh ada seseorang menghina, misalnya kamu bodoh, kamu miskin, kamu... Goblok, whatever. Kalau ada orang yang mengatakan pada saya, Gobin goblok, otak isinya sampah. Contoh seperti itu. Selama ini kan kata-kata itu diartikan. Diartikan bahwa itu penghinaan, penistaan, direndahkan dan sebagainya. So, ketika orang mendapatkan kata-kata itu, ketika orang mengatakan itu, kita terprogram untuk mengartikan kata-kata itu penghinaan. Waktu lagu-lagu sinetron Hollywood, Bollywood, Drakor, itu membentuk kita untuk mengartikan bahwa kata-kata itu artinya penghinaan.
Betul?
Itu dulu. Sekarang, kalau ada yang mengatakan Gobin goblok, otaknya isinya sampah gitu. Saya nggak sakit hati. Kenapa? Karena apapun yang dikatakan orang lain pada saya, itu tidak mencerminkan siapa diri saya. Hanya mencerminkan siapa dirinya. Kalau ada orang yang mendengarkan podcast ini, dan kemudian dia setuju, maka dia katakan, bagus, keren, Pak. Saya seringkali bikin status atau konten gitu ya. Kemudian beberapa orang bilang, wah keren, Pak. Percerakan luar biasa Pak, edukasinya. Terima kasih ya Pak, berkah selalu, bla bla bla. Tapi beberapa orang bilang tolol, goblot, tau dan sebagainya. Konten adalah konten. Apakah itu baik atau buruk tergantung dari orang yang melihat. Jadi saya adalah saya, saya nggak baik, saya nggak buruk. Kalau apa yang saya katakan cocok dengan Anda, Anda katakan saya bagus. Kalau apa yang saya katakan jelek. Apa yang saya katakan gak cocok, Anda katakan saya jelek, betul? Jadi baik dan jelek itu bukan mencerminkan siapa diri saya, tapi mencerminkan orang lain. Sehingga apakah saya sakit hati? Ya tidak lah. Tergantung kita itu punya kuasa, kita itu setiap kali ada kejadian, kita ditanya oleh dunia. Hai Gobind, ini ada kejadian ini, kamu mau ngasih makna apa kejadian itu? Kita loh yang punya kuasa untuk memberikan makna. Kalau saya kasih makna jelek, otomatis saya sakit hati. Kalau saya kasih makna baik, saya nggak sakit hati. So, kitalah yang membuat sakit hati. Saya mau tanya, siatu-satunya orang di dunia yang bisa menyembuhkan hati kita, siapa? Kalau satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan diri kita sendiri, satu-satunya orang yang bisa menyakiti hati kita Ya diri kita sendiri. So, itu lah.
Tapi kalau nyampe level itu kok kayaknya berat banget, jauh banget ya Pak Kobi? Harus latihan ya Pak ya? Jadi ini nggak kayak kalau misalnya saya bisa ngangkat beban 50 kilo, kita latihannya kan latihan beban, harus rajin. Tapi ini latihan untuk meregulasi diri. Latihan untuk kita mendapatkan ejekan, cemoohan, serangan verbal, bukan serangan fisik ya, tapi serangan verbal untuk tidak... Mengambil hati itu kok kayaknya susah.
Tunggu dulu, tadi karena pertama Anda sudah mengatakan omongan, ejekan, cemohan, serangan. Jadi ini sudah mengartikan. Kata-kata dia, jadi begini, ketika ada orang yang bilang goblok, sebenarnya saya malah simpati sama dia. Berarti dia ada, coba bayangkan ya, kalau kita lihat media sosial gitu, ada seseorang yang lihat goblok, dia scroll lagi, tolol. Kasihan lu, dia terpicu terus. Dia lukanya itu ada dalam dirinya dan terpicu terus. Dia melihat orang lain, dia terpicu. Dia melihat orang lain, terpicu. Ini kasihan dong dia. Karena dia begitu banyak luka di dalam dirinya. Sama seperti kata-kata kalau seseorang itu Aroma mulutnya kurang sedap, pasti ada banyak luka di gusinya atau radang tenggorokan gitu. Sama ketika orang kata-katanya jahat, kata-katanya keras, kejam, kasar gitu. Pasti banyak luka di dalam hatinya, sehingga dia gampang sekali tersulut gitu. Dan saya kasihan, sebenarnya bukan kasihan, lebih empati sih. Apa yang saya bisa lakukan untuk orang tersebut? Malah saya nggak sakit hati, malah saya tergerak untuk membantu dia gitu. Saya kasih satu contoh lagi ya. Ada seorang ibu mengeluh tentang suaminya. Dia mengeluh pada guru spiritualnya. Suamiku begini, suamiku begini, suamiku begini. Guru itu mendengar saja. Setengah jam kemudian guru itu bilang apa? Anjing!
Si suaminya atau si istrinya, Pak?
Ke istrinya. Dia cuma bilang, anjing. Ini cerita antara si istri dan guru spiritnya berdua. Dia curhat. Gurunya cuma ngatain satu, anjing. Tapi apa yang terjadi? Si murid ini... Ini guru spiritual, dia bukan menghina saya. Ini adalah petunjuk bagi saya harus belajar dari anjing. Dia mengartikan begitu, dan dia melihat anjing. Oh caranya anjing begini, oh begini. Dan akhirnya dia berdiri di depan pintu rumahnya itu, seperti anjing sedang menunggu tuannya. Ketika suaminya datang, dia dengan gembiranya masuk, dia dengerin dan hidupnya berubah. Anjing adalah anjing, Rory. Tapi apakah itu penghinaan? Apakah itu petunjuk agar saya belajar? Siapa yang menentukan? Siapa yang menentukan? Kita kan. Jadi ketika ada sesuatu terjadi pada diri kita, kita ditanya. Eh Gobin, ini ada orang bilang lo goblok, kolol. Kamu mau kasih makna apa dari kejadian ini? Saya lo punya kuasa, dan dari kuasa itu saya memberikan, saya dihina, saya sakit hati. Saya kasih kuasa, ah ini orang ini kasihan kelihatannya.
Tapi tunggu Pak Gobin, untung yang dikatakan anjing, saya nggak kebayang kalau yang dikatakan setan, terus dia jadi menghantui suami-suami.
Kita punya kemampuan untuk memberikan makna.
Berarti semuanya kembali ke bagaimana kita memaknai. Walaupun dikatakan goblok, tolol, tidak profesional, tidak mampu. Tergantung bagaimana mereka memaknai.
Ini kejadian nyata, saya jalan-jalan di Brazil atau Chile. Namanya tempat-tempat wisata, jalan-jalan kemudian di situ ada restoran-restoran bagus. Di depan itu ada waiters yang nawarin. Saya jalan, kemudian waiters nawarin, come on sir, please come, blablabla. Kemudian dia melihat, saya nggak pakai sepatu. Terus dia bilang, hai, you are homeless ya? Gitu, gelandangan lu ya? Saya ketawa senyum gitu. Anak saya kemudian ngomong, papa, papa dibilang gelandangan. Kemudian saya ketawa. Terus kenapa? Gimana papa? Ya gak apa-apa, kita kan tau diri kita sendiri siapa. Anda tau gak? Rikpa saya bilang, sekarang itu jam sama Bali itu 12 jam, berarti kita sudah keliling setengah dunia. Kita sudah bisa pergi ke hampir semua dunia, seluruh negara. Kita sudah pergi ke banyak negara. Belum tentu dia pernah pergi ke negara kita. Kita kan tau diri kita siapa gitu. Apakah saya butuh pengakuan dia? Ya enggak lah, terserah dia lah. Saya pernah juga jalan-jalan kemudian dibilang, anjing gitu. Tunggu dulu. Saya tuh punya tes DNA, pernah tes DNA. Dan DNA saya tuh manusia loh. Jadi kalau dia bilang saya ini anjing, sebenarnya yang bermasalah siapa sih? Apakah sakit hati? Ya enggak lah.
Oke, oke. Wow. Menarik, menarik. Oke, selanjutnya adalah soal kegagalan, Pak Gobind. Ini masih berkaitan dengan kemelekatan dan juga ambisi. Soal kegagalan. Bagaimana Pak Gobind mengatur diri untuk menerima kegagalan?
Ya, dalam hidup ini mungkin kehidupan kita ini lebih banyak hal-hal yang kita tidak inginkan terjadi daripada yang kita inginkan terjadi. Betul, ya kan? Saya kepingin gak macet, saya kepingin udara gak terlalu panas, saya kepingin begitu banyak hal yang kita gak inginkan itu terjadi daripada. Lagi-lagi, kalau kita punya hati yang luas, hati yang dilatih menjadi luas, maka penerimaan kita menjadi lebih luas. Ketika penerimaan kita luas, otomatis lebih gampang tentunya. Tapi ini kan latihan, latihan dari kegagalan-kegagalan dalam hidup saya. Waktu saya kecil, saya adalah anak yang paling goblok, anak yang paling emosinya kacau, saya juga nilainya selalu jelek. Dan kemudian ada ribuan jutaan kegagalan. Masalahnya kita mau memanfaatkan gak momen-momen yang kita sebut kegagalan itu. Lagi-lagi dulu saya mengartikan kegagalan, kekacauan hati saya itu muncul. Tapi sekarang saya gak mengartikan kegagalan.
Apa yang Bapak artikan?
Yaitu kejadian yang saya inginkan ingini ketika saya mau mengiklankan produk saya. Kemudian saya berharap dari iklan 1 juta ini saya akan mendapatkan 2 atau 5 orang. Kemudian tidak dapat orang, berarti saya kehilangan uang 1 juta. Berarti apa yang terjadi? Apa yang saya harapkan tidak terjadi. Ya sudah, saya bertanggung jawab pada apa yang Terjadi, ya itu adalah ongkos belajar saya, coba-coba saya. Which is saya nggak mengertikan itu kegagalan, berarti saya, berarti yang ini nggak berhasil, ya saya akan coba cari sesuatu.
Proses belajar, bukan kegagalan.
Tapi pertanyaannya ketika kita mengertikan kegagalan dan ada kekacauan kan di dalam diri kita, sedih atau marah atau apa. Kita perlu untuk bereskan rasa tersebut. rasa tersebut kita bereskan. Cara membereskannya macam-macam tentu, yaitu yang saya pelajarin di Emotional Release, melalui napas, melalui tubuh, dan sebagainya seperti itu.
Dan ini kelas ini ada terus? Sebulan sekali?
Oh, setiap minggu saya berkeliling ke seluruh Indonesia, kemudian juga ada online-nya, setiap 2 minggu atau berapa hari sekali ada kelas online juga. Jadi itu yang saya lakukan.
Siap. Oke. Oke, kita sekarang akan ke pertanyaan cepat, jawabannya juga cepat. Sebelum nanti di segmen terakhir kita akan bahas dan praktek soal teknik bernafas menurut Pak Gopin. Saya akan tanya dulu, Bapak menjawab dengan cepat. Jalan kaki tanpa alat kaki sama dengan cari masalah.
Jalan kaki tanpa alat kaki. Nggak masalah.
Kenapa? Kan ada taku, ada berling, ada...
Selama 13 tahun melakukannya ternyata semua ketakutan itu tidak terbukti.
Nggak pernah kena taku, nggak pernah kena berling?
Kalau dibilang pernah, dalam 13 tahun mungkin 1 atau 2 kali. Jadi sangat-sangat sedikit.
Next, kalau orang bilang Pak Gobind orang aneh, Anda responnya gimana?
Ya nggak apa-apa, semua orang pada dasarnya awalnya aneh. Semua orang hebat awalnya aneh. Bukan saya bilang saya orang hebat. Kalau zaman dahulu orang mungkin nggak ada yang pakai celana, semua pakai sarung. Satu orang pakai celana dibilang aneh. Tapi sekarang semua orang pakai celana. Jadi menurut saya dulu juga nggak ada orang pelester mulut, dikatakan pelester mulut aneh dan macam-macam. Sekarang begitu banyak orang pakai pelester mulut. Nggak apa-apa, saya cuma punya sesuatu yang berbeda aja.
Albert Einstein dulu juga dikatakan aneh.
Iya, semua orang.
Bernafas pelan bisa menurunkan berat badan, Pak.
Iya, itu betul. Betul? Betul.
Wow, nanti kita praktek ya Pak ya. Next, belajar kitab suci cukup untuk membuat seseorang bijaksana.
Nggak cukup. Kita harus berpraktek seperti itu. Karena baca aja, kalau semua orang pembaca itu bisa, maka mereka-mereka yang biasa baca kitab suci, mereka akan bijaksana semua. Nggak bisa.
Bapak tadi mengatakan bahwa seminggu sekali ada kelas Emotional Release, dan ini keliling ke seluruh kota-kota di Indonesia. Ini kelas, Hanya untuk mereka yang punya masalah mental dan emosi yang tidak terselesaikan?
Enggak, menurut saya emosi adalah sesuatu yang penting untuk dipelajarin semua orang. Kita belajar fisika, kimia, matematika, integral, turunan, kotangan, sinus dan sebagainya ribuan jam dan kita lupakan. Sementara emosi yang dari lahir sampai akhir hidup kita, kita bawa, kita nggak pernah belajar. Aneh banget. Menurut saya emosi itu adalah sesuatu yang sangat-sangat penting dan sebagian besar orang memutuskan sesuatu ketika emosinya lagi kacau. Dan kenapa kita nggak berpikir sebaliknya? Bahwa kita perbaresin emosi kita baru ngambil keputusan. Kita itu homo sapiens, artinya makhluk yang berpikir. Artinya sebelum mengambil keputusan kita harus emosinya rendah dulu agar kita bisa berpikir logis dan rasional.
Satu pelajaran yang seharusnya pemerintah masukkan dalam kurikulum anak-anak kita, generasi kita, dan pemerintah, masyarakat juga harus praktekkan. Pelajaran apa itu?
Pelajaran bernafas.
Pelajaran bernafas. Pak Gobien, Bapak memberikan kelas pernafasan juga, selain emotional release. Mungkin ini salah satu metode. Please enlighten me, kenapa kita harus memperbaiki teknik bernafas kita, cara bernafas kita untuk memperbaiki hidup.
Iya, karena bernafas itu adalah satu yang pertama kita lakukan di kehidupan kita pertama kali adalah bernafas. Dan di akhir kehidupan kita itu juga bernafas. Akhir dari hidup kita kan, nafas terakhir gitu. Jadi boleh dibilang satu-satunya pola yang kita lakukan sepanjang hidup kita itu adalah bernafas yang kita nggak pernah berhenti. Makan kita berhenti, kemudian kita nggak berpikir setiap saat, karena ketika tidur nggak berpikir, olahraga nggak setiap, tapi nafas setiap saat kita lakukan. Tapi anehnya kita nggak pernah belajar tentang nafas itu sendiri. Mungkin orang berpikir, nafas ngapain diajarin? Normalnya seperti itu, nggak begitu. Ternyata begini, bahwa ketika kita mau melihat data yang ada, bahwa sekarang ini kalau normalnya manusia itu harusnya bernafas 6-7 liter per menit. Jadi boleh dibilang sekitar 12-14 kali per menitnya. Tapi hari ini kita banyak per menit. 14-16 kali per menit. Tapi kemudian, 12-14 kali. Tapi sekarang itu begitu banyak yang di atas 20. Artinya ini hyperventilation, nafas berlebih, nafas yang cepat seperti itu. Ketika nafas kita cepat, otomatis karbon dioksida turun dalam tubuh kita. Kalau karbon dioksida turun, terjadi masalah. Oksigen susah masuk ke dalam sel, energi kita menjadi rendah. Dan kemudian penyempitan pembuluh darah. Kemudian terjadi gula lebih susah masuk ke dalam sel. Dan kemudian hormon-hormon kita juga terganggu dan sebagainya. Ada begitu banyak masalah ketika kita salah bernafas. Kalau kita salah makan, itu kita salah 3 kali sehari. Tapi kalau kita salah nafas, itu kita salah 25 ribu kali sehari. Nah, banyak orang kepingin sabar, orang kepingin punya energi, dan sebagainya. Kita lupa bahwa antara tubuh dan pikiran, antara fisik dan mental, badan dan emosi, lahir dan batin, sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat, ini adalah sebuah jembatan. Dan jembatan ini namanya nafas. Sehingga ketika kita memperbaiki nafas, kita akan memperbaiki 2 pilar dalam hidup kita, yaitu tubuh dan pikiran kita. Kalau kita bisa melambatkan nafas kita, maka kita akan menjadi lebih sabar. Nggak ada orang marah-marah di dunia ini yang dengan nafas lambat.
Nggak ada.
Jadi ketika kita bisa melambatkan nafas kita, maka kita akan membuat emosi kita menjadi lebih tenang. Jadi kalau kita stres, otak kita berdiri cepat sekali. Otomatis itu membuat detak jantung juga cepat. Kita nggak bisa mengintervensi otak dengan mengatakan sabar, tenang, karena itu dikendalikan oleh sistem syaraf yang berfungsi secara otomatis. Otak terhubung dengan jantung, jantung juga cepat sekali. Kita nggak bisa bilang sama jantung, jantung tenang dong, nggak bisa. Untungnya jantung terhubung dengan nafas. Nah, nafas kita bisa intervensi. Ketika kita bisa intervensi nafas kita, detak jantung kita akan turun, otak kita juga akan tenang. Maka kemudian kita akan menjadi lebih kalem. Sehingga kita bisa berpikir dengan jernih pada saat itu. Itu hubungan antara nafas dan emosi. Bagaimana nafas dengan fisik? Kita tahu bahwa apapun yang kita makan itu jadikan molekul gula. Dan molekul gula ini dibakar kemudian jadi energi. Nah, kalau kita... makannya udah bagus, tapi kemudian pembakaran yang kurang oke. Itu sama seperti kalau kita punya dua mobil, sama-sama pakai Pertamax, isi bensinnya bagus, tapi kemudian yang satu pembakarannya kurang bagus, satu pembakarannya bagus. Otomatis yang satu irit, satu tidak. Satu energi, satu tidak. Satu asapnya banyak, satunya tidak. Semua tergantung dari proses pembakarannya. Proses pembakaran sangat tergantung oksigenisasi dalam tubuh kita. Kalau kita nafasnya salah, oksigenisasi kurang, maka otomatis energi kita juga rendah. Soal tidur, Mayo Clinic juga pernah mengatakan bahwa masalah insomnia itu lebih terkait masalah pernafasan daripada masalah psikologi. Jadi kalau kita nafasnya bagus, tidur pun akan nyenyak. Belum lagi soal banyak orang berpikir bahwa makan, soal makan. Makan kita akan sangat terkontrol kalau kita itu napasnya benar. Maksud saya begini, ketika kita kehilangan 10 kg berat badan kita, pernah kepikir nggak, lemak ini hilang nih 10 kg, hilangnya ke mana?
Keluar dari cairan, keringat.
Itu cuma 14-16%. 84% lewat nafas kita. Maka itu disebut karbohidrat, karbon dan hidrat. Karena 84% keluar lewat nafas, kalau kita membakar sesuatu kan jadi asap. Sama seperti apa yang kita makan, jadikan molekul gula, molekul gula ini dibakar jadi asap. Asap itu lewat nafas kita. Berarti kemudian orang berpikir, Pak, kalau begitu Pak, kita nafas cepat-cepat aja.
Biar turut berat badan. Biar langsing.
Teorinya mungkin berpikir begitu. Tapi ketika kita menafas cepat, kita akan menjadi stres. Dan ketika stres, biasanya malah nyamilnya banyak. Jadi apa yang harus kita lakukan adalah melambatkan nafas kita. Ketika kita melambatkan nafas kita, maka emosi kita akan turun, kita akan relax. Kita akan tidak kering lagi. Dan salah satu hal lagi yang penting adalah banyak orang tidak sadar bahwa ketika kita lapar, sebenarnya kita bukan kekurangan makan, tapi kekurangan cairan. Dan ketika kita bernafas menggunakan hidung bukan mulut, maka kita akan menghemat 43% uap air. Belum lagi kalau kita nafasnya lambat, maka lebih banyak yang terhemat. Kalau tubuhnya otomatis terhidrasi, maka rasa lapar itu akan bisa berkurang. Maka otomatis kita akan nggak makan banyak.
Ini makanya Bapak ketika tidur pun menutup mulut dengan tape.
Yes, betul. Itu satu adalah untuk supaya tidak bernafas dengan mulut. Yang kedua adalah ketika kita bernafas dengan hidung, otak kita memproduksi vasopressin. Vasopressin adalah sebuah zat yang dimana dia menahan air dalam tubuh kita. Sehingga satu kulit kita jadi lembab dan tidur malam nggak kencing-kencing di malam hari. Sehingga kita bisa tidur lebih nyenyak. Kalau tidurnya nyenyak, maka hormon rasa lapar tidak keluar. Kalau nggak salah, ghrelin itu nggak keluar, sehingga kita nggak craving.
Artinya nafas yang benar itu, tadi Bapak mengatakan lambat salah satunya, seperti apa Pak?
Jadi nafas lambat adalah kalau bisa dalam satu menit, itu tanpa sadar ya. Seperti kalau kita dalam kondisi relax, tidak jalan, tidak bergerak gitu, santai gitu, nonton seperti itu. Nafas kita adalah menggunakan hidung full, jadi tarik dan lepas dengan hidung dengan respiratory rate itu sekitar 12-14 kali per menit. Kurang lebih 6-7 liter. Kalau satu kali kita tarik itu 500 mili, kurang lebih 6-7 liter. Itu ideal. Kita ngomong idealnya sekitu. Tapi sebagian besar orang ketika saya naik pesawat gitu kan sering kali orang ketiduran dan kemudian nafas kan. Dia menafas pakai mulut, kemudian nafas pakai dada, dan mungkin 22 kali, kapan 24 kali. Jadi menurut saya perlu untuk dilambatkan. Yang kedua dia mesti lebih baik pakai diakfragma, dan kemudian dia bernafas dengan hidung. Menurut saya itu adalah hal yang paling simpel yang kita bisa lakukan.
Oke, boleh diajarin nggak? Nafas pelan dan tenang, dan tadi Bapak aja mengatakan juga pendek. Kan selama ini kita nafas kan...
Bukan pendek, sedikit. Volumenya lebih di sedikit.
Gitu kan, Pak. Biasanya kita nafas diajarin seperti itu, kan? Memang yang bener seperti apa?
Itu kan nggak normal. Maksud saya begini, nggak ada orang... Itu kan nggak normal. Nggak ada orang seperti itu. Itu biasanya orang kalau grogi aja. Harusnya gimana? Tarik dan lepas dari mulut. Hidung untuk nafas, mulut ini untuk makan dan bicara.
Tarik dan lepas dari hidung?
Harus dengan hidung. Kenapa? Hidung kita itu melembabkan, menyaring, mengkondisikan. Dia juga antivirus, antibakteri, mengeluarkan nitrate oxide, dan macam-macam. Jadi hidung kita yang selama ini kita pikir hidung ini, itu hanya 20% dari bagian hidung. 80% bagian hidung kita ada di dalam. Dia punya begitu banyak, saya sebut organ paling dipelekan yang selama ini kita nggak anggap. Padahal hidung kita penting banget.
Biasanya orang concern sama hidung karena dioperasi Pak, jadi pengen pancung biasanya concernnya itu.
Tapi hidung ini punya banyak sekali hal yang kalau saya jelaskan panjang sekali. Jadi yang pertama adalah tarik dan lepas menggunakan hidung. Kemudian? Kita akan sulit sebenarnya untuk membuat napas kita lambat sepanjang hari. Jadi apa yang kita bisa lakukan adalah memprogram otak kita agar napas kita lambat sepanjang hari. Suatu hari di sebuah podcast, penanyanya bilang gini, tapi Bin, napas kan nggak bisa diatur. Napas kan otomatis. Kita sadar cuma 1-2 menit, setelah itu kita lupa. Tidak. Sebenarnya kita bisa mengatur napasnya, yaitu dengan memprogram bagian otak yang ngurusin nafas tersebut. Jadi bagian otak yang ngurusin nafas itu di medula oblongata namanya respiratory center, pusat pernafasan. Nah pusat pernafasan itu punya reseptor. Saya mau tanya Rory, ini menarik sekali. Kita ini bernafas, fungsi nafas kita, ini untuk apa?
Ya, untuk hidup, untuk aktivitas.
Ya, hidup, hidup, hidup semua. Maksudnya gini, lebih spesifik. Kita itu melakukan ini untuk apa? Maksudnya apa yang mendorong itu? Kita ini bernafas itu apa?
Mengisi paru-paru dengan oksigen?
Ya, kebanyakan kan kita berpikir begitu ya. Bahwa signal utama bernafas itu adalah kita ingin mendapatkan oksigen. Tidak. Manusia bernafas, signal utamanya bukan oksigen, tapi karbon dioksida. Malahan, jadi boleh dibilang reseptor di otak kita itu ngecek kadar karbon dioksida dalam tubuh kita. Kalau dia reseptor ini toleransinya rendah, maka orang itu gampang ngos-ngosan. Jadi ketika kita mengatur nafas kita, memprogram otak kita agar toleransi karbondioksida ini menjadi tinggi, maka otomatis nafas kita akan lambat sepanjang hari. Itu yang dilakukan Guteko. Jadi kita memprogram otak kita agar bernafas lambat sepanjang hari. Dan yang menarik, ini bukan sains ya. Ini... Ini adalah sebuah kepercayaan. Bahwa selama ini kita kan berpikir bahwa manusia itu kan diciptakan oleh Tuhan. Dan asumsi kita, Tuhan itu memberikan jatah umur kita berdasarkan waktu. Asumsi kan? Kita nggak tahu ya. Apa ini? Ini Indonesia begitu. Kalau Gobind nanti umur 87 tahun, 3 bulan, 6 hari, 3 detik meninggal. Udah, itu kayak kita itu ada titik di mana kita meninggal. Yang nggak salah namanya juga asumsi, kita nggak tahu. Di beberapa negara, orang percaya waktu itu relatif. Jadi bisa maju, bisa mundur. Apalagi kalau kita berangkat ke luar angkasa. Mereka percaya bahwa manusia itu... Diciptakan Tuhan, dan Tuhan memberikan umur manusia berdasarkan nafas. Jadi jatahnya itu nafas. Nah kalau kita mau lihat rata-rata kehidupan dunia sekarang, manusia itu 660 juta nafas sepanjang kehidupan. Kalau kita kasih jatah 660 juta, kamu mau irit atau tidak? Kurang lebih gitu. Kalau boros cepat mati berarti ya. Tapi kan kalau kita mau cocok logi dengan binatang yang ada, contohnya tikus itu jantungnya 500 kali, napasnya 200 kali per menit, matinya setahun mati. Anjing, kucing juga napasnya. Binatang atau mamalia apa yang paling lama hidupnya? Ternyata ikan paus. Nafasnya hemat. Masuk 2-3 menit baru ngambil. Harapan hidupnya tinggi.
Teman-teman, berarti sekarang jangan hemat hanya uang, tapi hemat nafas.
Boros cepat mati. Kalau nafasnya hemat sabar pasti. Nafas hemat makan terkontrol. Nafas hemat energi kita meningkat. Less is more, you know. Less is more itu yang saya pakai ini, less itu less bernafas, kita akan dapat oksigen lebih banyak.
Oke. Ajari saya, Pak. Ajari teman-teman semua sekarang, cara bernafas secara deep, tapi sedikit. Iya, nafasnya sedikit. Tapi terus kita tetap bisa mindful. Dan kita bisa mencapai 12-14 nafas per menit itu gimana caranya?
Oke. Yang pertama adalah kita perlu untuk mempunyai waktu untuk latihan dulu. Kasih waktu 5 atau 10 menit gitu. Kemudian kita bernafas full pakai hidung. Nah ketika kita bernafas dengan hidung, itu apa yang kita lakukan adalah kita ingat bahwa hidung kita itu bukan lubangnya naik ke atas gini, tapi ke dalam. Ke bawah, ke dalam. Jadi penting banget ketika kita tarik nafas, itu bayangkan dia horizontal.
Oke, bukan vertikal ke atas.
Kalau kita, kebanyakan orang suruh tarik nafas dalam-dalam, dia akan... Coba, kalau kita tarik nafas dalam-dalam, otomatis ini akan naik. Berarti nafas dada. Ketika nafas dada, si perut ini masuk ke dalam. Iya, otomatis oksigen akan di sini. Ketika oksigen cuma di sini, penyerapannya nggak maksimal.
Harusnya.
Nah, kalau di sini penyerapannya jauh lebih bagus.
Ini kayak diafragma breathing. Betul.
Jadi, ketika kita bernafas horizontal, otomatis siang perut yang mengembang. Oh iya.
Betul ya.
Jadi, ingat bahwa saya pesulap. Jadi, pesulap itu kalau mau masukkan paku itu, dia nggak masukin ke atas, pasti rusak. Dia masukin ke sana. Karena lubangnya ke sana, bukan ke atas. Ini menarik, Pak Gobind.
Aku pengen cerita dulu. Jadi, biasanya ketika Saya ngajar public speaking, salah satu yang saya ajarin adalah untuk diafragma breathing. Yang berarti perut yang harusnya ngembang ketika kita nafas. Itu buat klien-klien murid-murid saya susah banget. Mereka, mas ini saya nggak nafas aja udah ngembang karena lemak nih misalnya kayak gitu. Enggak-enggak, coba dulu bayangin-bayangin dulu. Tapi masukkan nafasnya masukkan ke perut. Mas nggak bisa. Dengan penjelasan Pak Gubin, saya jadi tahu. Karena itu soal bayangan, soal mindset. Karena selama ini saya nggak pernah ngajarin orang untuk nafas secara horizontal, Pak. Ternyata selama ini orang-orang tuh nafasnya vertikal, makanya ngembangnya di dadang. Dan ketika perut mereka udah ngembang sebelum nafas, ya itu karena lemak. Tapi sekarang saya akan bilang, coba nafas secara horizontal. Itu gampang banget ya.
Itu kan ilmu ya. Makanya orang selalu menyepelekan tentang nafas. Tapi ngajarin nafas, semua orang juga nafas bisa, ngapain juga diajarin. Padahal ketika kita bisa mengubah dari dada ke perut, penyerapan oksigen bisa naik sampai 7 kali lipat. walaupun dengan volume yang sama. Jadi itu pun energi kita bagus, apalagi diafragma kita itu akan membuat tulang belakang kita menjadi lebih stabil. Kemudian kalau ada punya masalah-masalah seperti low back pain, scoliosis, itu akan terbantu.
Jadi mungkin kita bisa praktek ya Pak. Jadi kalau misalnya secara horizontal, harusnya perut yang mengembang kan?
Iya. Sebenarnya perut ini bukan naik ke atas saja, tapi juga menyamping juga sebenarnya kalau kita mau lihat. Dan sebenarnya diafragma paling besar itu bukan di depan, tapi di belakang. Maka itu kan seperti sabuk, bayangkan sabuknya lebih lebar di belakang daripada di depan.
Posisi diafragma itu di bawah rusuk.
Tapi juga dia memijat organ-organ di sekitar abdomen kita. Dan dia juga membantu proses detoksifikasi. Ada banyak lagi penjelasan tentang hal tersebut. Jadi ini hal-hal yang kecil yang kita nggak tahu yang sebenarnya untuk membuat kita sehat. Saya sendiri naik tingginya naik 2 cm karena latihan nafas.
Berarti kita sekarang nafas jangan berpegang atau bergantung pada paru-paru. Nafas dada, tapi coba nafas pelan-pelan menggunakan diafragma. Horizontal, udaranya masuk ke perut gitu ya Pak ya?
Kemudian kalau kita mengurangi volume nafas kita untuk sementara, maka karbon dioksida akan meningkat. Nah pada saat itu kita akan jadi relax. Jadi merelaxkan manusia adalah dengan mengurangi sebenarnya. Nafas. Less is more itu seperti itu.
Tentu bertahap.
Dalam kehidupan ini adalah bertahap itu sendiri. Bahkan kalau kita punya sampai bisa sedikit, itu otomatis menginduksi sistem syaraf parasimpatik itu aktif. Itu terbukti kok. Jadi gini. Kalau bikin pelatihan itu kan orang itu seringkali, berapa lama Pak bisa merasakan hasilnya? Saya bilang saat itu juga, ketika latihan LSD Breathing contohnya, itu saat itu semua coba pakai jam, coba cek apa itu namanya, tubuhnya, detak jantungnya, suhu tubuhnya, itu langsung instan kok. Pada saat itu lebih hangat, lebih rileks, detak jantung turun, air liur keluar. Berarti apa? Sistem syaraf kita berubah, sistem detak jantung kita berubah, suhu tubuh kita berubah, hormon kita berubah. Begitu banyak berubah ketika kita mengubah nafas 2-3 menit saja.
LSG tadi apa?
Light Slow and Deep Breathing.
Wow. Ini saya juga udah ngerasa rileks sih. Jadi ngantuk saya, Pak. Wow menarik ya Pak ya, ternyata sesimpel itu tapi buat orang yang nggak terbiasa. Ini saya juga perhatikan dengan kawan-kawan saya, susah banget untuk mereka diafragmatik breathing ini.
Nanti di luar podcast ini saya ajarkan satu lain lagi. Siap, siap.
Oke, oke. Sekarang pertanyaan benar-benar terakhir, Pak Gobind. Ini wrap up all of our discussion today. Saran Bapak, tips untuk orang-orang biar hidup tenang, biar hidup happy, biar hidup tidak memendam dendam atau rasa sakit hati. Apa yang ingin Bapak sarankan? Tips untuk kita semua.
Kita selalu mesti ingat begini, ketika kita kecil, masalah besar. Ketika kita besar, masalah jadi kecil. Fokus dalam hidup kita jangan pernah fokus mengecilkan masalah. Tapi fokusnya meningkatkan kemampuan kita. Bagaimana kita meningkatkan kemampuan hadapin si masalah tersebut? Dalam arti ketika kita kelas 1, pelajaran kelas 1 kan susah. Ketika kita hadapin ujian, kita naik kelas 2. Pelajaran kelas 1 jadi gampang. Jadi fokusnya adalah meningkatkan hal tersebut. Sampai kemampuan itu tinggi. Untuk meningkatkan itu tentu kita perlu olahraga supaya otot kita kuat. Dan otot yang kuat otomatis energi kita bagus dan kemudian kita mampu menghadapinya. Olah nafas supaya ketenangan kita menjadi lebih bagus. Olah makan, kita mesti tahu bahwa sebagian besar hormon yang ada dalam tubuh kita diproduksi oleh bakteri-bakteri dalam tubuh kita. Jadi sekarang itu begitu banyak proses makanan, makanan-makanan yang mengandung antibiotik dan sebagainya. Itu kalau bisa dikurangin, kemudian makan makanan yang lebih probiotik, real food, dan satu hal yang underrated sekarang adalah serat. Begitu banyak influencer yang berbicara soal protein, semua orang bicara soal protein. Tapi kalau mau dilihat bahwa sebagian besar orang atau mungkin di banyak negara maju atau negara-negara bagus itu protein lebih dari cukup. Tapi yang kurang adalah serat. Kita mesti tahu bahwa serat ini sangat-sangat penting. Dan di Indonesia itu nggak kurang sebenarnya sayur dan buah itu sendiri. Tapi kita nggak melakukan itu. Dan itu, kita mesti tahu, nggak ada zaman dahulu orang mengatakan bahwa 15 tahun depresi sama bakteri itu nggak ada. Tapi sekarang sudah jelas banget bahwa depresi sangat tergantung dari si bakteri di dalam usus kita. Otak mempengaruhi... Pencernaan itu benar. Tapi yang lebih parah sebenarnya pencernaan mempengaruhi pikiran kita. So mental health itu masalah bakteri sekarang itu sangat terhubung. Sehingga saya sarankan untuk penting banget untuk memperhatikan itu. Jadi kemampuan-kemampuan olah-olah ini, olah pikir dan sebagainya itu yang kita perlu lakukan dalam hidup ini supaya kita punya kekuatan. Nah ketika kita kuat, maka masalah jadi kecil. So itulah caranya untuk ikhlas atau apapun, naikkan hal ini.
Gedein mesin kita untuk mengesahkan masalah-masalah yang lebih besar.
Nah satu hal, mungkin kita mau mulai dari mana? Mana aja oke, tapi yang penting konsisten. Hal-hal kecil dengan konsistensi besar, itu jauh lebih bagus daripada kita ngambil suatu hal yang besar dan kemudian nggak konsisten. Nah untuk itu diperlukan DC. Untuk disiplin, saya punya satu rumus yang luar biasa, menurut saya. Yang pertama adalah semua mesti coret apa yang udah tertanam di dalam diri kita, narasi yang luar biasa, narasi yang tertanam yaitu sebuah pantun yang luar biasa, berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang ke tepian. Itu tolong dicoret. Gak ada namanya bersenang-senang kemudian itu tidak ada. Gak ada. Di dunia ini kita mengalami apa yang disebut entropi. Jadi kita tahu bahwa dalam hidup kita ini kita dapat karunia tubuh manusia, tapi kita juga mengalami entropi, yaitu kalau otot ini gak dipakai maka dia akan Mengecil. Otak kalau nggak dipakai jadi lemot. Kemudian kalau rumah ini bagus tapi kemudian nggak dipakai juga hancur. Jadi artinya kita perlu untuk melakukan sesuatu untuk menahan laju entropi tersebut. Kalau enggak akan gerus-gerus tersebut. Maka itu kita perlu untuk menahannya. Dan menahannya itu adalah disiplin itu sendiri. Untuk disiplin, Tolong diganti kata-kata berenang-renang ketepian itu. Yaitu kita di dunia punya dua sakit. Cuma dua sakit dan kita nggak bisa milih yang lain. Dua sakit ini salah satunya harus pilih. Satu sakit karena disiplin, dan satu lagi sakit karena penyesalan.
Wow. Lebih baik sakit karena disiplin ya Pak.
Disiplin emang mahal. Gak enak. Setiap hari saya olah raga, olah nafas, olah pikir, makan sehat, sauna, mandi air es, itu saya lakukan. Emang enak? Gak enak. Tapi saya tahu, se-enggak enak-enggak enaknya si disiplin itu, itu jauh lebih murah daripada suatu hari saya menyesal.
Oke, jadi kita sudah tidak main rakit-rakit lagi. Kita udah bersenang-senang di akhir. Tapi lebih baik sakit disiplin daripada sakit menyesal. Pak Gobind, terima kasih banyak untuk waktunya dan juga ilmu-munya. Terima kasih terus-terus, Pak. Kita ketemu lagi di lain kesempatan, teman-teman. I'll see you in the next video. Bye-bye.











