Cara Menghadapi Anak Yang Malas

Gobind Vashdev shows how to tackle laziness by breaking it down into smaller problems. He traces "lazy about school" to specific math struggles, and dislike of sports to breathing issues. Learning to breathe better made exercise comfortable and improved his sleep and energy.
Chapters
Saat ini, saya akan berbagi tentang bagaimana menghadapi anak yang malas atau diri kita yang sedang malas. Malas sekolah, malas olahraga, malas melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan. Yaitu caranya adalah breakdown masalah Anda menjadi lebih kecil. Gimana contohnya? Begini, kalau ada anak Anda pulang sekolah dan berkata, aku gak mau sekolah lagi, aku malas sekolah, sekolah gak enak. Oke, coba Anda breakdown. Apakah yang gak enak itu temennya? Atau pelajarannya? Pelajarannya, temennya gak enak. Oke, kalau temennya enak, pelajarannya, pelajaran itu semua pelajaran gak enak? Atau pelajaran tertentu? Apakah IPA, matematika, atau fisika, atau kimia? Matematika yang gak enak. Oke, matematika yang gak enak. Yang lainnya? Yang lainnya oke. Oke, matematika kan banyak, ada persamaan, ada aljabar, algoritma, apalah, macem-macem. Nah, dari situ, saya nggak suka persamaan. Oke. So, yang masalahnya di persamaan. Jadi bayangkan ya, ketika kita tahu ini, maka kita akan bisa fokus untuk membereskan yang masalah ini. Tapi kalau seandainya kita mengira, sekolah nggak enak, aku nggak mau sekolah, kita akan berusaha mati-matian untuk kamu harus sekolah. Sekolah itu penting. Sekolah itu buat masa depan kamu, dan sebagainya. Kita sebenarnya... nggak tau masalahnya apa, maka kita penting banget untuk mencari akarnya, mencari apa sih yang dia tidak suka. Biasanya manusia itu begitu, nggak sukanya satu, kemudian digeneralisasi menjadi semuanya dan mengatakan bahwa, ya emang aku nggak suka sekolah. Sama lah ketika saya waktu dulu olahraga, nggak suka olahraga. Dan saya bilang olahraga nggak suka, tapi ketika saya breakdown, apakah ketika angkat beban itu saya nggak suka? Nggak. Apakah ketika saya olahraga sambil sama teman-teman bergabung, bukan temannya, bukan angkat bebannya. Tapi pada saat itu, saya menyadari yang paling saya nggak suka adalah nafas ketika olahraga. Ketika saya lari, ketika saya angkat beban atau apa, nafas saya terengah-engah. Dan itu seperti orang mati, seperti orang nggak nyaman. Dan itulah yang membuat saya nggak suka olahraga. Jadi, terus bagaimana caranya? Ya kemudian saya belajar nafas. Dan ketika saya belajar nafas, maka nafas saya menjadi nyaman banget. Dan kemudian olahraga jadi nyaman. Dan menariknya, ketika nafas kita atur, maka apa yang terjadi? Energinya meningkat luar biasa. Maka saya terkontrol tidurnya nyak, inflamasi berkurang, dan banyak hal terjadi. Jadi tadinya saya berpikir bahwa nafas itu cuma begitu saja. Tapi ketika saya mendalami tentang nafas, nyata efeknya luar biasa. penting banget ketika kita gak suka dengan sesuatu Anda break down menjadi lebih kecil-kecil-kecil dan cari apa sih yang Anda gak suka, bereskan di situ. Karena sering kali kita keluar dan kemudian mengatakan saya gak suka dengan olahraga, saya gak suka dengan belajar, saya gak suka dengan sekolah dan sebagainya, ternyata masalahnya cuma sedikit. Tapi kita generalisasi. Oke? So, cari itu dan bereskan di situ. Salam bahagia dari saya, Gobien Fasih.











