Indonesian discussion on extreme heat and UV index 8 in Indonesia. Speakers explain why sunscreen matters more for fair skin, why sunny European regions paradoxically have higher skin cancer rates than tropical areas, and how sunlight affects mental health. They introduce Buteyko breathing, a technique of nasal breathing and slower exhales, to reduce fluid loss and improve tolerance to extreme temperatures.
Chapters
Mereka ini, orang-orang ini nggak pakai sunscreen atau gimana sih? Ini kan panas banget ya, suhunya sampai 36-38.
Terus saya kalau lihat jam saya itu
UV-nya 8, ini kan bahaya banget.
Nah kalau saya ini kan kulitnya udah
gelap, jadi ada pelindungnya SPF alami.
Nah mereka ini kan nggak ada pigmennya, pigmennya sedikit, jadi kan bahaya. Terus kok malah gak nyari tempat yang rimbun, malah tempat yang sangat-sangat panas dicari.
Kalau duduk di kafe, di luar itu lebih banyak orang daripada di dalam.
Padahal di dalam kosong, ada AC lagi. Kalau di Indonesia kan gak begitu. Bahkan di dalam rumah itu katanya harus pakai sunscreen supaya tidak menghinari penuhan dini dan juga kanker. Terus kalau saya lihat peta-peta kanker di
dunia itu, di Eropa terutama, yang bagian-bagian
yang jarang kena matahari, kankernya lebih banyak
daripada yang kena matahari seperti Spanyol atau Portugal.
Tapi kalau di Indonesia ini katanya bisa penuaan dini.
Jadi memang produk skincare itu luar biasa di Indonesia ini.
Tapi lepas dari itu, Saya ingin mau
mengatakan bahwa matahari itu terlepas dari apapun yang dikatakan orang tentang bahayanya. Bahwa kita mesti tahu, salah satu penyebab depresi adalah karena kita kurang outdoor, matahari. Membuat berbagai hormon di dalam tubuh kita menjadi lebih seimbang. Kemudian membuat tidur kita menjadi lebih nginyak.
Dan banyak hal.
Satu hal lagi mungkin yang ingin saya sampaikan disini karena kalau tidak ada pelajarannya percuma konten ini, yaitu pertanyaan-pertanyaan para netizen bagaimana caranya menghadapi kondisi yang panas. Yang pertama adalah jangan terlalu banyak ngomong seperti saya sekarang ini ngomong karena itu akan membuat uap air dalam tubuh Anda keluar banyak. So, lakukan nafas hidung selalu. Dan yang kedua adalah lambatkan nafas Anda. Kalau Anda sudah ikut pelajaran yang saya berikan seperti Buteko, Anda akan otomatis mampu untuk bertahan di kondisi cuaca yang cukup ekstrim, dingin atau panas. Kenapa? Karena dengan melambatkan nafas sepanjang hari, itu akan membuat tubuh kita tidak gampang digerasi,
tapi juga syaraf-syaraf kita menjadi lebih tenang. Dan itu akan membuat Tubuh kita akan
merasa bahwa ini aman dan tidak stres. Dan ketika stres itu biasanya jadi masalah kan, tubuh kita menjadi panik dan seterusnya. So, lambatkan nafas Anda, bernafas dengan hidung, itu adalah salah satu cara bagaimana kita menghadapi cuaca-cuaca yang ekstrim seperti sekarang ini. Dalam bahagia dari saya, Gobind Basdar.