In this motivational talk, Gobind Vashdev explains that while people are always "consistent"—often in unproductive ways—true consistency toward one’s dreams can be cultivated through three concrete strategies. First, develop an exceptionally strong personal reason for the goal, illustrated by his own experience quitting smoking and rating his motivation beyond the typical 0‑10 scale. Second, gather supportive resources such as books, podcasts, research, and videos that reinforce that reason; he cites reading about the health benefits of walking barefoot (earthing.com) to strengthen his resolve to live more freely. Third, join a community of like‑minded individuals who share the desired habit, exemplified by his participation in a vegetarian community. He concludes with an additional mindset shift: replacing the old proverb “suffer now, enjoy later” with Jim Rohn’s insight that we face two pains—discipline versus regret—where the pain of discipline is far cheaper than the weight of regret. By remembering this, one can stay motivated when energy wanes. The talk ends with a cheerful sign‑off.
Chapters
Tiga hal ini akan membuat anda jauh lebih konsisten untuk melakukan sesuatu dalam pencapaian kehidupan anda atau impian-impian anda. Namun sebelumnya saya ingin memberitahu bahwa kita semua sebenarnya selalu konsisten. Yes, selalu konsisten. Sudah selalu konsisten. Namun konsistennya Konsisten scrolling media sosial, konsisten nunda-nunda, konsisten ngerokok, makan gorengan, dan semua konsisten yang malah menjauhkan diri kita dari apa yang kita inginkan. Tiga hal ini selalu ingat. Yang pertama, yaitu punya alasan yang sangat-sangat kuat. Bukan hanya kuat, tapi sangat-sangat kuat. untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Waktu saya ingin menghentikan kebiasaan saya untuk merokok, pada saat itu saya bertanya pada diri saya, dari skala 0 sampai 10, kira-kira saya berada di mana ini? Kalau 0 itu tidak termotivasi, soalnya 10 itu kayak seperti orang jatuh cinta, 7 gunung, 7 lautan akan kudaki, akan kuseberangi. Saya waktu itu bertanya pada diri saya dan jawabannya adalah 12. Kok saya sangat-sangat kuat ingin menghentikan kebiasaan merokok. Jadi yang pertama, punya alasan yang kuat. Yang kedua, miliki sumber-sumber pendukung. Cari apa-apa saja yang membuat alasan Anda yang sudah kuat itu menjadi lebih kuat. Anda bisa baca buku, Anda bisa mendengarkan podcast, atau menonton video yang dimana sehingga alasan Anda yang sudah kuat menjadi jauh lebih kuat. Contoh, waktu saya ingin melepaskan sandal dan sepatu saya dan hidup nyeker kemana-mana. Pada saat itu pasti banyak ketakutan, keraguan, kecemasan dalam diri saya. Saat itu apa yang saya lakukan adalah meresearch, membaca buku, dan melakukan banyak hal yang dimana membuat saya semakin yakin pada tekad saya. Saya membaca salah satunya penelitian yang ditulis di satu website namanya earthing.com. Di situ dijelaskan manfaat yang luar biasa untuk kesehatan fisik dan mental saya kalau kita itu sering-sering nyeker. Dan yang ketiga, ini penting banget, yaitu miliki komunitas. Cari dan bergabunglah dengan komunitas-komunitas dimana yang mempunyai pemikiran sealiran atau sudah mempunyai kebiasaan yang Anda ingin harapkan, Anda ingin capai. Contoh waktu 30 tahun lalu saya ingin menjadi vegetarian. Nah, saya bergabung dengan komunitas vegetarian dimana saya mendapatkan support, semangat, tambahan-tambahan ilmu yang membuat saya menjadi semakin konsisten dalam melakukan itu. Itu adalah 3 tips untuk membuat kita jauh lebih konsisten dan saya ingin memberikan 1 tambahan yang menurut saya ini yang membum diri saya menjadi tetap konsisten dalam melakukan apapun. Dulu saya percaya ada sebuah kata-kata bijak, berakit-akit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Itu dulu, tapi sekarang saya tidak percaya itu. Saya menggantikan dengan sebuah kata-kata yang dari Jim Rohn. Dia mengatakan bahwa di dunia ini kita menghadapi dua kesakitan. Dua kesakitan. Satu adalah sakit karena disiplin, dan yang kedua adalah sakit karena penyesalan. Dan harga sakit disiplin itu berapa kilo, namun harga sakit penyesalan itu ratusan ton. Jadi ketika saya mulai loyo, ketika saya mulai tidak punya energi, saya selalu ingat kata-kata itu, bahwa kita dihadapkan dua kesakitan, sakit karena disiplin dan sakit karena penyesalan. Dan selalu ingat, harga disiplin memang gak enak, Tapi itu jauh lebih murah daripada harga penyesalan yang suatu hari kita dapatkan. Saya Gobind Fazdef, salam bahagia.