Gobind Vashdev draws on Islamic, Sufi, and Christian teachings to argue that true peace comes from eliminating inner negativity. He cites Professor Komarudinu Dayat's reading of the Qur'an and Rumi's teaching that humans are already love itself, but must remove anger and hatred to realize it. The greatest jihad, he says, is the internal struggle against ego and negative traits.
Chapters
Ingat saya, Profesor Komarudinu Dayat pernah mengatakan bahwa Al-Quran itu kalau disarikan jadi Al-Fatiha. Disarikan jadi satu kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Satu kata, Al-Rahman. Artinya orang Islam adalah orang yang sudah hilang kebenciannya. Anda gak punya kebencian lagi. Anda gak bisa sayang dari... Bencinya udah hilang. Gawat, Rish! Anak aja cinta itu sendiri. Rumi mengatakan, Tugas kita bukan mencari cinta. Karena kita itu adalah cinta itu sendiri. Tugas kita adalah menghilangkan halangan-halangan yang menghalangi diri kita terhadap cinta itu sendiri. Apa itu kemarahan, kebencian dan sebagainya. Maka itu yang perlu dihilangkan. Sehingga kita ketemu dengan cinta itu sendiri. Kalau Yesus ngomong, kalau kamu cuma baik sama orang yang baik sama kamu, apa bedanya kamu dengan pemungucuka itu? Bukannya orang yang tidak mengenal Tuhan. Tidak mengenal Tuhan juga melakukan hal yang sama. Tapi karena kamu adalah muridku, maka kasihlah musuhmu. Dan musuh terbesar siapa, Mas? Diri kita. Jihad terbesar pada siapa? Diri kita. Kemarahan, kebencian, dan ego, dan semua yang ada dalam diri kita. Maka itu saya bilang, kalau punya masalah, tolong jangan cari jalan keluar. Karena kemarahan, kebencian ada di dalam, ya cari jalan ke dalam. Beresin di dalam.