In this reflective monologue, Govind explores the story of the "Adam Apple"—the biblical fruit eaten by Adam and Eve—and connects it to the modern Apple brand, asserting that Steve Jobs designed the Apple logo to inspire perpetual curiosity. He argues that curiosity is the fundamental driver of human progress, urging people to continuously seek knowledge. Govind then critiques the traditional moral teaching that blames external forces (the serpent, Eve, or a salesman) for poor choices, proposing instead that individuals must take responsibility for their own decisions. Using the example of a salesman offering a product, he illustrates how feeling deceived does not absolve personal accountability. The talk concludes with a warm greeting, encouraging listeners to reflect on these reinterpretations of familiar narratives.
Chapters
Cerita tentang Apple Kroa atau Apple yang dimakan oleh si Adam itu makanya disebut Adam Apple. Ada dua cerita menarik sekali dibalik itu semua yang kemungkinan gak banyak orang tahu bahwa Apple, Apple komputer atau iPhone itu yang ada Apple Kroanya itu diciptakan oleh Steve Jobs karena sebenarnya ingin memberi tau pada kita untuk supaya kita terus-terusan penasaran, keinginan tau yang besar. Maka itu kemudian ini bagaimana ya, ini gak boleh tapi saya ingin tau apa yang terjadi kalau saya makan ini. Jadi filosofinya adalah sebenarnya adalah keinginan tauan atau rasa penasaran. Sehingga manusia itu bisa maju didorong oleh rasa penasaran itu sendiri. Dan yang kedua adalah yang menarik adalah sewaktu saya kecil saya diajarkan bahwa ada seekor ular yang kemudian membohongin atau membujuk si Hawa kemudian Hawa akhirnya makan si Apple itu. Tetapi kemudian saya berpikir lebih dalam lagi. Sebenarnya harusnya kita kok diajarin menyalahkan pihak lain. Pada pilihan kita, bukannya kita diminta untuk bertanggung jawab. Ketika saya makan apel tersebut atau saya diberitahu bahwa eh apel ini bisa membuat kita menjadi superior gitu dan kemudian saya makan gitu ya. Maka saya harusnya bertanggung jawab pada pilihan saya. Saya kan didorong oleh keserakan-keserakan di dalam diri saya. Sehingga saya kepengen menjadi yang lebih superior. Atau sejenisnya. Tapi cerita itu seolah-olah memberikan narasi bahwa yang salah adalah pihak lain. Tapi kalau saya mau melihat bahwa harusnya narasi yang dibuat atau sebaiknya adalah bahwa kita didorong oleh keserahan kita dan sebenarnya di situ ada pilihan apakah kita mau atau tidak. Dan ketika kita mengambil pilihan tersebut, apakah kita sadar dan bertanggung jawab? dan sehingga tidak menyalahkan pihak lain. Kalau ada seorang salesman menawarin saya dan kemudian saya mengambil, saya bilang iya, ya kemudian saya merasa tertipu, sebenarnya saya juga harus mengambil porsi tanggung jawab saya, tidak serta-merta menyalahkan pihak lain atas semua hal yang diberikan pada saya. Menarik sekali bukan, bahwa Adam Apple adalah sebuah cerita yang kita tahu. Tapi sebenarnya di sisi lain kita bisa membuat narasi yang lain dan kemudian mempunyai arti yang berbeda dan kita belajar dari situ. Salam bahagia dari saya, Govind.