In this conversational video, Gobind Vashdev and Risa Gopin discuss why learning proper breathing techniques is essential for traveling in extreme environments, especially high‑altitude deserts. While standing in one of the world’s driest deserts at 3,500‑4,200 m, they explain that nasal breathing conserves roughly 43 % of water vapor, reducing dehydration risk in low‑humidity conditions. They introduce the Buteyko method—“less is more”—which trains the body to breathe less deeply, improving oxygen utilization and helping the brain adapt to thin air. The hosts share personal experiences of how breath training eases altitude acclimatization, prevents dizziness, and enhances daily life: smoother stair climbing, deeper sleep, controlled appetite, and better athletic performance. Risa emphasizes that these practices allow her to skip meals until noon without feeling hungry. The dialogue ends with a light‑hearted affirmation that anyone can benefit from breath training, illustrated by Gobind’s successful desert trek.
Chapters
Kalau Anda ingin menikmati traveling Anda, apalagi di daerah-daerah ekstrim, eksotik seperti saya saat ini sekarang, Anda wajib untuk belajar nafas. Saat ini saya sedang berada di sebuah gurun yang paling kering di dunia. Kelembapannya itu rendah sekali. Dan manusia gampang sekali dihidrasi di kondisi ini. Dan ketinggiannya 3500 meter itu... udara tipis nanti kita akan berangkat ke 4200 meter dan selama ini kita berpikir bahwa gurun itu kan panas tapi disini winter dan sangat dingin tadi sebelum sunrise saya melihat flamingo itu suhunya minus 7 derajat dan ya saya pasti pakai baju yang seperti ini dan nyeker karena saya tidak berencana untuk ke daerah-daerah dingin sebenarnya ini diluar apa yang saya pikirkan sih tapi Saya beruntung sekali karena saya belajar nafas. Yang pertama adalah karena kalau kita itu nafasnya boros, maka kita gampang dehydrasi. Maka itu penting banget selalu nafas dengan hidung karena itu akan menghemat sekitar 43% dari uap air.
Keluar masuknya udara itu lebih sedikit sehingga kita bisa menahan air dalam tubuh kita. Satu hal lagi, saya tuh belajar Buteko. Dan Buteko itu konsepnya adalah Less is More. Jadi kita melatih diri kita untuk bernafas lebih sedikit dan lebih sedikit untuk meningkatkan oksigen level dalam tubuh kita. Itu mirip seperti para atlet yang diletakkan
di dataran tinggi waktu berlatih agar dia
terbiasa dengan udara tipis.
Nah, dengan kebiasaan saya yang berlatih nafas
itu, maka otak saya sudah terbiasa untuk bernafas sedikit. Sehingga ketika sekarang berada di dataran tinggi, ini tidak Gampang berpengaruh, masih bisa menikmati pemandangan tanpa harus pusing, bahkan ada yang sampai pinsan. Jadi, menurut saya, latihan nafas bukan hanya bagus untuk olahraga, naik turun tangga nggak ngos-ngosan, tidur lebih nyenyak, makan lebih terkontrol. Karena mereka itu pada sarapan disitu, saya sendiri cuma minum saja.
Karena udah kebiasaan juga makan baru selepas
siang hari, gak lapar.
Kenapa?
Karena belajar nafas. Jadi saya pikir, setiap orang perlu untuk belajar nafas untuk membuat kehidupannya jadi lebih baik. Oke. Dan ya, teman-teman yang dulu sempat bilang, Pak Gobind pergi ke gurun kalau berani. Nyeker. Ya, udah saya buktikan nih. Saya nyeker.