Inilah Masa Depan Kesehatan! Rahasia Mencapai Usia 120 Tahun

In this Indonesian‑language YouTube interview, host Gobind Vashdev talks with Prof. Dr. Dr. Agung Putra, founder of Stem Cell Cancer Research (SCCR) in Gunung Pati, Semarang. The conversation begins with Prof. Agung’s modest upbringing in Bandar Lampung, his early strategic mindset developed while harvesting clove, and the personal experience of caring for a seriously ill sibling that sparked his desire to become a doctor. After years of clinical practice, he became disillusioned with the limits of conventional medicine and turned to research, focusing on stem cells as the smallest unit of life capable of regenerating damaged organs. He explains what stem cells are, the three main sources (umbilical cord, adipose tissue, bone marrow), and why SCCR exclusively uses umbilical‑cord‑derived cells – they are younger, have higher potency markers (CD105, CD90, etc.), and lower rejection potential. The interview delves into SCCR’s laboratory standards: flow‑cytometry with 12‑color analysis, stringent potency (>95 % positive) and rejection (<0.3 %) thresholds, cryopreservation techniques, and controlled hypoxia and stress conditioning that raise cell “power” via heat‑shock proteins. Prof. Agung discusses cellular aging, telomere shortening, and the hypothesis that extending telomeres through stem‑cell therapy could push human lifespan toward 120 years. Lifestyle interventions—intermittent fasting, hypoxia breathing, and exercise—are presented as ways to stimulate endogenous stem cells. The conversation also covers the secretome (e.g., VEGF, IL‑10) released by stem cells, its role in modulating inflammation, and its application in treating COVID‑19 cytokine storms. Cancer is framed as mutated, rapidly dividing cells; SCCR’s approach includes studying cancer cell lines, leveraging adaptive immunity (CTL, CAR‑T) and modulating the tumor micro‑environment (pH, metabolic stress) to enhance immune killing. Prof. Agung shares the ambitious vision for SCCR: an 11‑hectare “science civilization” comprising a hospital, university, genomics lab, resort, and wellness center, aiming to create a self‑sustaining hub for research, education, and health promotion. He ties scientific pursuit to spiritual values, emphasizing that caring for the body is a form of worship. The interview ends with hopes for global recognition (Nobel), legacy building, and encouragement for the audience to consider stem‑cell therapy as an investment in health.
Chapters
Selamat malam semuanya, Bapak-Ibu semua. Hari ini kita bahagia sekali karena bintang tamu kita hari ini gathering full course dan TRI adalah Prof. Dr. Dr. Agung MSC. Saya rasa masih kurang satu lagi, mohon maaf. Beliau adalah founder dari SCCR, yaitu Stem Cell Cancer Research, yang ada di Gunung Pati, Semarang Saya berkesempatan untuk datang dan berkeliling ke laboratorium dan tempat yang luasnya itu sangat besar, yaitu 11 hektare kalau nggak salah dan dimana disitu akan dibangun hospital, universitas, laboratorium, genomi dan ada hotel, ada resort, dan sebagainya, ini kayak sebuah peradaban yang luar biasa yang akan muncul di tengah-tengah kota di Semarang, tapi agak minggir seperti itu, tempatnya enak sekali Dan saya ingin tahu lebih dalam, kita pasti belajar banyak dari Profesor Dr. Dr. Agung Putra ini. Prof, boleh sedikit cerita? Saya pernah mendengar Profesor, masa kecil Profesor, dengan ceritanya di waktu ada di podcast-nya Bang Helmy. Tapi teman-teman di sini mungkin penasaran, sebenarnya Profesor ini asalnya dari mana? Apakah emang lahir dengan keluarga dari orang kaya sehingga bisa jadi profesor atau dokter? Menjadi dokter itu kan nggak gampang untuk sekarang ini katanya perlu biaya yang cukup tinggi dan sebagainya. Boleh cerita sedikit, Prof, sebelum kita masuk ke STEMSEL?
Ya, terima kasih atas waktunya. Bismillah. Saya berasal dari daerah dari Bandar Lampung, kota Lampung. Kita dari keluarga yang cukupan saja, cenderung serba kurang gitu ya. Karena ayah itu hanya lulusan SMP, kerja sebagai di bidang sepeda pendidikan. Sementara ibu, kami menyebutnya emak ya. Itu hanya lulus SD yang sehari-hari hanya berpikir supaya gimana anaknya bisa sehat, bisa adem, bisa rukun, bisa ayem. Tidak pernah berpikir yang kalau sekarang harus ibu-ibu sekarang anaknya harus fight di internasional, harus kursus ini, kursus ini. Saya sebagai anak biasa, sehari-hari saya habiskan dengan, kecil ya dulu, main di sungai ya. Di akar itu. Karena jaraknya, jalan itu hampir 2 jam dari rumah. Dan itu bagi terhiburan yang sangat indah ya. Jalan, Hampir dua jalan jalan kaki, lewat-lewat semak, bukar, malah cenderung hutan gitu. Itu kita ketemu kali dan berenang. Itu kami lakukan ya setiap ada momen hibur gitu ya.
Oke. Dua jalan lumayan banget jalannya, kalau orang sekarang dua jalan gak ada yang mau.
Karena gak harus jalan jauh menuju ke...
Oke.
Lepas sungainya itu.
Tapi Prof, apakah dari kecil itu memang sudah punya keinginan besar untuk menjadi dokter, atau munculnya kapan, atau bagaimana? Memang punya cita-cita besar, atau visi besar, atau hanya mengalir kemudian sampai di satu titik, baru kemudian, oh ya, saya ingin seperti itu?
Jujur saja, saya memang agak unik di antara keluarga, kami itu punya kebun ya kalau di daerah itu punya cengkeh dulu ya jadi kalau cengkeh itu mestinya kita sebagai pemilik metik cengkeh itu sudah kita petik kemudian kita taruh gitu ya sama ayah ya di gudang itu namun saya tidak pernah terpikir untuk mengambil cengkeh yang di gudang Itu saya ingat sekali SD kelas 3, kelas 4, kelas 5 itu, saya tidak ingin ngambil yang di gudang, namun saya memungut di bawah itu berebutan dengan tetangga-tetangga. Jadi saya sudah punya strategi, kalau tetangga itu bangunnya subuh, jam 6 mereka sudah bergerak, Maka saya harus bangun lebih dari mereka. Jadi saya bangun jam 5. Saya pakai obor begitu, saya center gitu. Itu cengkeh-cengkeh saya, cengkeh orang tua gitu. Namun saya tidak ingin ngambil yang sudah ada, namun saya harus mengut begitu. Dan itu bagi saya, wah sekali ketika saya melakukan sesuatu secara, mungkin sekarang mandiri gitu ya, secara berjuang ya, meskipun itu punya orang tua, bersama-sama tetangga, dan punya strategi bagaimana saya harus mendapatkan lebih banyak begitu tanpa menyakiti mereka, karena kalau kita barengan rebutan, itu kan enggak, saya hanya bagaimana saya lebih dulu nyampe. Itu karakter yang terbangun tanpa sadar itu, saya juga enggak ngerti kok. Dan itu menurun ke keluarga adik-adik saya, adik-adik saya akhirnya ngikut saya, dokter, dokterita, dokterus, apotekar, Jadi kita tiap pagi itu sebelum sekolah, kita coba hunting dulu, mencari dulu. Jadi lutut cuk, terus kita kumpulkan, kita jemur sendiri. Setelah itu nanti ada yang keliling kan dulu yang jual cengkeh, nah kita jual. Begitu mendapatkan uang nggak seberapa, tapi begitu senang sekali.
Oke, jadi dari kecil sudah punya strategic thinking-nya yang akhir-akhir seperti itu ya?
tanpa sadar, kalau ayah pekerja keras, memang ayah mendidik anaknya untuk mengajari kami matematika dan sebagainya, keras sekali ayah, sangat keras. Kita khawatir juga ya, kalau sekarang nggak ada orang tua. Karena ayah menginginkan anaknya pandai, sementara waktu lebih cenderung mudah, tenang, dipeluk, jadi kita senang sekali Ini orang tua saya, dua-duanya sudah meninggal. Pak itu senang sekali kalau kita tidur di perutnya gitu. Ayem.
Ini kayak kombinasi yin dan yang ya. Satu masculine, yang satunya feminine begitu ya?
Ya. Jadi Pak itu mengayemkan kita gitu. Bisa mengajarkan harus berjuang, membuat ayam tenang. Unik. Itu kira-kira masih kecil, dan saya pengen jadi dokter karena adik saya waktu itu, dokter Rita, itu sakit, berat, typhus, type 2. Kalau dulu kalau sakit lama sekali di rumah sakit, hampir setengah bulan. Dan saya orang yang karena suka sama emak gitu ya, kemana-mana, jadi mendampingi. Saya melihat adik saya kok lama sekali sakit. Dokter begitu kita butuhkan untuk bisa ngobati. Nah di situ saya, oh ternyata mungkin ini yang Pilihan hidup untuk saya tepuni ke depan. Jadi itu satu bulan merawat adik. Kalau dulu ke rumah sakit itu kayak kita jalan jauh. Kan kita harus tidur di emper gitu ya. Dulu kan bangsal ya, jadi kita tidur di emperan itu. Diker, ngerawat, terus bawa air panas, bawa makanan, itu kayak bener-bener perjuangan. Ki harus pulang, harus berangkat ke sekolah, dan seterusnya. Merawat adik itu. Satu bulan di situ saya berkesan, mungkin kedokteran ini yang bisa menyelamatkan nyawa ya, ini menjadi tarik saya.
Jadi terpicunya karena duka ya?
Karena luka, luka. Adek saya kok sakit, susah sembuh. Padahal sekarang taipes mudah sekali kita ubatin. Lama sekali, sampai rontok adek saya tuh, aduh kok nggak sembuh-sembuh, kita tungguin itu nggak sembuh-sembuh. Mungkin nggak ingat dia sakit, kita nungguin. Saya selisih 2-3 tahun.
Jadi saya juga teringat bahwa semua orang-orang hebat di dunia ini juga lahir bukan karena suka cinta, karena duka cinta. Seperti Mother Teresa itu karena kesusahan atau kemiskinan yang ada di Calcutta. Gandhi dengan kekacauan di India. Nabi Muhammad dengan Jahiliya yang di Arab Nelson Mandela, kekacauan dengan Arab apartheidnya yang dulu di penjara 27 tahun. di India. Saya berpikir semua kedukaan-kedukaan itu bisa mengasah orang, bisa menjadi seseorang yang sangat luar biasa dalam hidup ini. Sementara kehidupan kita mencari suka, tapi sebenarnya di balik itu yang mendorong kita menjadi orang luar biasa seringkali oleh cahaya yang namanya Dukacita itu sendiri.
Kemudian
dokter mengambil dokternya di mana, di Universitas Indonesia?
Saya sekolah S1 di SMA saya di SD Persit, di Kampung juga, jalan jauh. W, deket rumah, SMP 5, terus SMA di SMA 4, kemudian Nah disitu saya harus melanjut ke Jawa ya, nah disitu pertarungan hidup pertama di keluarga kami karena di keluarga kami itu kalau menyeberang pulau itu kayak orang hilang gitu, rumah itu gak menginginkan gitu loh, oh sudah disini saja itu loh Namanya ayah yang berjuang, ayah yang mendorong, ayah yang berdekat. Karena kita harus berkalkulasi, ayah hampir pensiun waktu itu. Kalau saya sekolah, bagaimana biayanya? Kalau itu kayak kita dari Lampung ke sana kan perjalanan jauh, panjang, naik bus yang lama. Jadi kayak panjang, kayak hilang. ke Jawa itu nangis-nangisan.
Karena waktu itu nggak seenak sekarang, bisa telepon.
23 jam bisa nyampe.
Di universitas mana, dok?
Saya di Semarang, di Munsulah. Dokteran di situ, terus saya melanjut S2 di UNIP, Kemudian S3 di kedokteran biomedik juga di Undiep. Di situ saya mikir, sebenarnya cara berpikir saya setelah saya jadi dokter, kok saya nggak bangga lagi jadi dokter. Itu hampir 17 tahun yang lalu, 15-17 tahun, saya nggak bangga kok jadi dokter. Lucu ya, dulu saya bangga, sekarang kok nggak bangga ya. Karena saya melihat banyak kasus stroke, pecah pembedaran otak atau sumbatan tidak bisa diselesaikan. Banyak yang cacat. Dulu kami cacat. Kalau renal failure, gagal ginjal, cuci darah. Terus kalau serangan jantung atau jantung sudah masalah itu kan grade 1, 2 akhirnya berdampak kepada beban keluarga, beban segalanya, dan tidak ada harapan juga. Jadi saya mikir, saya kok nggak bangga jadi dokter ya, karena para spesialis kok tidak bisa mengambil peran optimal di situ. Ada sesuatu yang salah. Jadi saya mikir, apa yang terjadi? Ini ada sesuatu yang kita harus meneliti, meneliti, sesuatu. Saya mikir, apa ini ya? Nah setelah itu saya lihat, saya menganalisis ada kesenjangan di situ, di kurikulum kami, di kedokteran. Kita di kedokteran itu, di kurikulum kita diminta untuk menjadikan dokter yang menggunakan produk. Jadi menggunakan suatu diagnostik, suatu alat, suatu produk. Namun sang pencipta produk, sang pencipta teknologi, siapa? Itu yang menjadi tanda tanya saya. Andai saya bisa menciptakan produk, andai saya bisa menciptakan teknologi, Tentu masalah ini bisa kita atasi. Di sini yang membuat produk, mencipta teknologi tentu teman-teman biologi, bioteknologi, biotech, teman-teman parmasi, dsb. Tapi teman-teman di sini juga nggak fokus. Terlalu banyak yang dia pelajarin. Biologi belajar kupu-kupu, belajar animal-animal lain, gitu ya. Tapi yang konsisten tentang manusia, seluler, itu nggak dapet gitu. Ada gap di sini yang tidak bisa mengantarkan antara dunia eksplorasi sains di level seluler, ke aplikasi klinis di hospital. Sehingga, Kita selalu menjadi marketing, jadi saya sudah berpikir kita akan jadi agent marketer internasional. Kita akan menggunakan produk-produk mereka semua. Nah, di situ. Saya nggak bangga, saya harus mengambil pilihan sebagai seorang penyelidikan, saya mengambil S2, S3, saya cari sampai diselesaikan culture, kebetulan stem cell yang saya lihat, saya di Calgary, Kanada, di situ saya perdalam sampai sekarang.
Dan memang pilihannya di seluler dan spesialisnya di stem cell itu sendiri?
Ya. Mengapa seluler? The unit, the smallest unit life itu sel itu sendiri. Jadi kita kalau bicara tentang our body ini adalah komponen dari kesatuan atau unit tersusun atas unit sel. Maka ketika saya bicara sel, ya saya bicara makhluk hidup, saya bicara our body. Nah itu yang kita tidak pahami, satu unit yang kecil ini yang bisa membangun, kalau bahasanya kita dibangun hasil pertemuan antara satu sel ayah, sepem, dan satu sel ibu, zygote, itu menyatu menjadi satu sel. Dari satu sel itu kan membelah menjadi kita. Itu menarik sehingga saya terus mengeksplor tentang sel-sel itu. Saya menarik sekali, dan saya sangat mencintai dunia ini.
Banyak orang yang masih nggak tahu apa itu stem-sel. Sel semua orang tahu. sekolah, mungkin SMP, SMA itu kan selalu diceritakan tentang sel yang membentuk tubuh kita kalau kita punya lego itu, bagian kecil yang ditempel-tempel kemudian menjadi satu bagian besar itu, itu anggap saja sel itu sendiri, sementara ini kan kita ngomong stem sel, apa sih stem sel itu, Prof?
betul ya, pertanyaannya menarik ya, jadi ini baru sebagian kecil tabir Allah sabir Tuhan yang dibukakan, disingkapkan pada kita dulu saya berpikir, kita berpikir tadi kasus kalau otak saya rusak, damage, kena pecah pemberdarah katakan sebesar kelereng begini Kalau saya ilustrasikan, ini kan damage rusak, hilang. Kalau saya ilustrasikan di sawah, ini satu coupling sawah ini, nggak ada padinya, nggak ada tanamanya, hilang semua. So what should we do? Apa yang harus kita lakuin? Kalau kita selama ini kan di dunia kami kan dikasih petamin otak, dikasih ini. Ya kita ke sawah, sawahnya nggak ada. pohon padiknya, kita kasih pupuk sambil kita berdoa, ya mungkin kalau malaikatnya bisa ngasih tau kita juga bingung lah kan gak ada benihnya kan kalau benihnya disiram-siram aja yang tumbuh nanti malah alang-alang nah sehingga saya berpikir untuk menggantikan maluk sel-sel yang hilang tadi di otak, di jantung karena kita serangan jantung atau di ginjal karena kita Renal failure, gagal ginjal. Maka ada dua rumusnya. Yang pertama, transplantasi. Kita ganti dengan sawah lain kita pindahkan, atau dalam hal ini ginjal yang sehat kita pindahkan. Complicated. Butuh tim besar, dokter banyak, dan butuh kecocokan. Dari ratusan ribuan orang belum tentu cocok. Kalaupun sudah cocok, belum tentu dicangkok gitu nanti nyambung. Yang berikutnya adalah Kalau yang rusaknya otak, siapa yang mau donor otak? Siapa yang mau donor otak? Kalau jantung, dsb. Jadi saya kira ini harus ada bagaimana kita menumbuhkan otak, menumbuhkan jantung, dsb. Itulah muncul SEMCELL. SEMCELL adalah suatu sel yang punya kemampuan diprinsip, yang punya kemampuan berbeda-beda ke dalam sel untuk spesifik, dia berubah, transform menjadi sel-sel spesifik, sel target, dalam hal ini, kita drive menjadi sel otak, kita drive menjadi sel jantung, kita drive menjadi sel ginjal, dari sel ini, itulah sel yang punya kemampuan untuk berbeda-beda ke dalam sel
spesifik,
di dalam lab, saya selalu bikin tulang, sel tulang, sel sarap, itu mudah, 30 hari saya jadi, kalau mau ikut bikin tulang, bikin sarap, kita bisa ke lab, nanti 30 hari kita jadikan tulang, jadikan sarap, dan sebagainya.
Jadi stem cell itu bisa membentuk jadi tulang, jadi jantung, jadi pinjal, jadi apapun yang ada.
Yes. Itu penarik kan? Kok bisa? Kalau ditanya gitu, yang pertama saya jawab, ya itu yang hebat Allah. Karena cell ini desainnya adalah hasil pertemuan antara opum, cell telur ibu dan cell sperma ayah ketemu yang kita sebut zygote, terus dia membelah ya, membelah-membelah menjadi 150 sel plastokis itu, kemudian disitu nanti jadilah kita makhluk jadi manusia, mulai kuping, rambut, muka, badan, dan airnya, jadilah satu manusia utuh kan dia membelah-membelah itu atas izin Tuhan, Allah yang memerintahkan untuk membelahnya itu, sunatullahnya Hanya yang jadi pertanyaan adalah, ketika sel ini sudah, bayi ini sudah lahir, nah Tuhan punya skenario lain, jadi sel ini tetap dilahirkan juga, distorit di tali pusar bayi. Ada di abil kalkon. Kita udah cek ada di placenta, ada di kulit ari-ari, dan seterusnya. Namun lebih banyak di tali pusar bayi. Dan ada juga di sisi jentulah, bahkan ada di selemak dan ada di tempat sel kita lain. Namun sel-sel yang ada di kita ini kan selnya sudah semakin tua-semakin tua. Sedangkan yang baik itu kilometernya masih nol, jadi masih sangat mudah dia membelah apapun. Karena dia bisa membelah apapun, saya kira itu karena memang itu ditakdirkan Tuhan, memang didesain untuk membangun suatu kehidupan.
Jadi ini kayak kalau printer tiga dimensi itu bahan untuk membuat bendanya itu, kalau dia mau jadi buat apa itu benda-benda yang sebelum jadi tiga dimensinya itu, cairan itulah kurang lebih stem cell itu sendiri, dia bisa membentuk berbagai hal, dan ketika kita lahir, sebenarnya stem cell di dalam tubuh kita, saya dengar masih cukup banyak, tapi menjelang usia 30 ke atas, stem cell di dalam tubuh kita itu semakin dari berkurang. Maka dari itu muncullah, maka kita tidak bisa seperti look younger lagi karena hal tersebut. Atau waktu kita kecil kita luka, itu gampang sekali sembuh, tapi ketika kita sudah senior, agak susah sembuh kalau kena luka dan sebagainya.
Betul sekali, itu luar biasa. Jadi ketika risetnya di artikel jurnal, disebutkan kalau masih younger itu bisa 100% setel sistem sel di dalam tubuhnya, menurun-menurun, kira-kira memang lebih parah ketika di usia mulai menginjak 50-60, 60 itu hampir plat. Mulai 60-70 plat. maka ketika sudah 60-70, telomere DNA kita pun semakin shorten. Sebenarnya kalau kita bicara tentang kematian seluler, didasarkan pada telomere DNA kita tadi yang terus memendek, terus memendek, kalau sudah pada batasnya, maka dia tidak bisa lagi melakukan replikasi, maka akan memicu program cell death. Jadi kita tuh nggak usah sakit, nggak usah kecelakaan, ya kita akan expired, akan mati kita. Karena program sel death itu seiring dengan setiap nafas kita, setiap ulang tahun kita, dia shorten, shorten, shorten, and then death. Satu sisi, kalau saya bisa mengextend telomere pendek tadi, dengan cara apapun, maka kematian. tanda petik ya kematian saya akan kita extend tiket saya yang harusnya saya pesan berangkat sore ini ke Jakarta karena saya delay, maka saya bisa Panjang 80 tahun, 90 tahun, 100 tahun, itu bukan magic, kita bisa mengekstentasikan usia sel kita secara sains, bisa. Dan stem cell di antara salah satunya untuk mengekstentasikan telomere.
Jadi panjang telomere yang setiap tahunnya kemudian membelah, membelah, membelah, dan kemudian sampai akhirnya habis itu sendiri.
Iya, sampai habis.
Saya dengar katanya membelahnya sekitar 55 kali, apakah itu adalah angka yang pasti, atau sebenarnya cuma kira-kira saja, atau bagaimana?
Betul. Mr. Heflick, diabadikan beliau sebagai seorang risetor, ya kami pun di lab, saya juga selalu membelahkan diri. Memang kapasitas sel itu semakin saya belakan, kalau kami sebut PC1, PC2, PC3, semakin lama semakin turun. Beliau mengkalkulasi, tadi di pembelahan sekitar itu sel kita sudah sehingga beliau menjuluki namanya time o'clock, lonceng kematian. Kita punya lonceng kematian, kita ini sudah pesan coupling semua. Coupling kematian kita, kalau WHO kan in general kita 75 tahun, kita siap-siap. ikhtiar untuk mengextend sel itu yang berimplikasi pada usia kita panjang, kami berikhtiar di 100-120 tahun misalnya. Itu bukan magic, itu science. Kita sedang selalu selakukan riset-riset juga, dan saya tertarik dengan Pak Gobril di antaranya lifestyle itu sangat mempercepat akserasi, perpendekan, atau prematur untuk kematian tadi. Maka sekarang kasus-kasus muda, kena setruk, gagal-gagal, dan penyakit degresi sekarang jauh lebih mengenai kita-kita yang lebih muda-muda. Nah itu lifestyle itu, karena radikal bebas harus kita lawan dengan hidup sehat. Maka ketika ketemu Pak Gobind, ini luar biasa. Back to nature, saya sangat concern dengan pola-pola Nenek Moyang. Ibu-ibu kita, para imam kita, para rosul, para dan sebagainya itu hidup seimbangan, hidup yang seaja alamnya itu lebih baik.
Tadi sempat saya kembali ke situ sebelum kita ngomongin soal bagaimana meningkatkan stem cell secara alami. Tadi kan disebutkan ada paling tidak tiga jenis stem cell. Maksudnya stem cell itu diambil dari mana? Talipusar, kemudian ada satu lagi dari lemak, adipose kalau nggak salah. Kemudian yang ketiga adalah dari bone marrow. Tiga ini, sebenarnya mengambil stem cell itu, ke dokteran sekarang itu mempunyai key blood di tiga tempat ini. Kemudian SCCR sendiri mengambilnya dari tali pusar bayi. Kenapa itu yang dipilih, bukan yang dua yang lainnya?
Sejak awal saya di Calgary, di Kanada, dengan teman-teman, dan saya kira pandangan kami sama juga dengan mereka di sana. Kenapa nggak kita ngambil dari, kalau yang dua tadi, dari sum-sum tulang saya, atau dari daringan lemak ini, kita sebut autologis. Aman sih dari lemak semidiri, untuk dipakai sendiri, sum-sum tulang sendiri, dipakai sendiri. Ini kan tergantung dari usia saya. Kalau sum-sum tulang saya usia 50 tahun, di kapasitas semsel saya sudah 50 tahun. Kilometernya sudah 50 tahun. Dan juga dengan lemak. Belum lagi kalau saya banyak masalah, ada gangguan metabolik, makan banyak kolesterol, hidupnya kacau, merokok. makanan-makanan semikel dan sebagainya, itu akan terpengaruh besar pada semikel yang ada dalam tubuh kita. Maka kita mencari riset yang masih original, yang masih bagus, kilometernya masih kosong, yaitu bayi yang baru lahir tadi. Dari tali pusarnya, seperti yang mendekati, kita sudah riset yang dari placenta, yang dari kulit. dan ambil kalkodnya itu yang dari dekat ibu yang tengah-tengah dan ke arah bayi, kita dapat yang lebih maksimal yang diarah ke bayi. Jadi dasarnya begini sebenarnya. Dasarnya adalah merujuk pada international standard Jadi international standard itu menunjukkan bahwa the power of the cell itu harus memenuhi standar mereka, standar yang ditentukan oleh teman-teman di dunia. Ada 8 parameter yang CD105, CD90, dan seterusnya, banyak itu, dengan alat flow sitometri terbaca nilainya 95%. Saya dengan mengambil kalkot itu, kita bisa mendapatkan nilainya sampai dengan 99%. Karena itu pun kita engineer juga, jadi setelah dia jadi, kita engineer lagi menjadi power-nya naik. Itu kira-kira jadi ada standarnya untuk menunjukkan bahwa ini poten, ini kuat atau tidak.
Pertanyaan orang selalu begini, kalau adipose atau dari bone marrow kita kan itu boleh dibilang aman, sementara kalau dari tolipusar orang lain itu nggak aman.
Karena dunia sudah menganalisis ke arah itu. Maka ada rejection potential yang harus dipenuhi oleh siapapun yang membuat SEMCELL ini sebagai resortnya. Jadi nggak sembarangan, karena kekhawatiran itu menghantui semua orang yang akan mendapatkan SEMCELL. Rejection potential itu bisa menyebabkan kematian kita. maka ada lagi sembilan parameter yang kita sebut lineage itu di dunia harus nilainya di bawah 3% rata-rata teman-teman luar kalau kita lihat di publikasi mereka 1, 2 koma yang terkenal adalah HLA contoh kalau kita mau transplantasi, eh HLA-nya cocok gak? berapa persen? Dunia untuk stem cell mengatur harus di bawah 2 persen. Di bawah 3, teman-teman luar itu biasanya 2-1. Punya kami SCCR 0,3-0,2. Kita punya teknik yang kita patentkan untuk membuat rejection potensialnya tidak terbaca. Sehingga kekhawatiran itu akan tereliminir. Maka nggak boleh sensor itu di sembarang tempat, di sembarang klinik, karena alat flow cytometry itu hanya bisa dirunning oleh orang-orang yang ahli. Apalagi kalau kita pakai sampai color, untuk membaca itu ada berapa color, kalau dunia mintanya sampai 8-9 color, harus ada alat itu, alat itu miliaran. Kami SCCR, bahkan kita punya yang 12 color.
12 color, yang kemarin sempat saya lihat. Terus terang sebelum saya ke SCCR itu, saya pergi ke beberapa negara, karena tertarik dengan stem cell, kemudian saya pergi ke beberapa klinik, setiap kali saya pergi ke klinik sana sini, dia bilang, Kalau mau stem cell, tunggu dulu ya. Dua hari lagi, tiga hari lagi. Nanti datang sini baru. Saya bilang, nggak bisa. Saya di kota ini hanya cuma dua hari. Jadi nggak memungkinkan, saya bilang gitu. Akhirnya saya berpikir, kenapa kok ternyata klinik-klinik itu nggak mempunyai stem cell. Mereka mengambil dari tempat yang lain. Saya lagi berpikir tadinya stem cell itu ya udah lah, ditaruh di kulkas. Udah paling nanti kalau mau diambil, ya diambil. Kemudian disuntikan. Tapi ternyata nggak se... tidak sesederhana orang ambil terus disimpan di kulkas, besok kalau mau dipakai disuntik.
Misalnya itu mahal hidup, sama seperti kita, maka di dalam lab, kami alirin oksigen selama 24 jam, itu harus mengalir oksigen. Kalau saya mati lampu itu, saya selalu ngitung 1, 2, 3, itu kalau sampai 7 ya, kalau di kami standar, 1, 2, 7, nggak mati, nggak hidup itu, itu udah panik saya. Artinya, sama seperti kita, kita tidak pernah bisa hidup tanpa ada oksigen. Coba kita nggak nafas itu. Tapi ada caranya, nanti kita bikin yang hipoksia sama ada, nanti kalau kita bahas teknik hipoksia itu sama, itu kami kembangkan, itu jadi core resep kami yang membuat power-nya naik. Yang pertama, jadi ada oksigen yang harus dialirin untuk dia bisa bernafas. Jadi tidak mungkin taruh di kulkas, taruh di mana aja. Yang kedua, karena dia maluk hidup yang membelah, berkembang biak. Saya selalu melihat seperti anak-anak saya ya, tumbuh gitu. Ya harus kita kasih makan. Ada paitin, ada karbohidrat, ada lipid, protein, kita kasih makan. Jadi nggak mungkin kita seperti taruh, ini bukan makhluk mati, jadi kayak kita punya ayam, kan kita kasih makan. Berarti bukan semsel, semsel adalah makhluk hidup. Memang bisa kita, kadang-kadang saya mau ke luar negeri, saya mau simpan, saya mau tidurkan, saya mau diamkan dia, kita bisa mati surikan, kita taruh di minus 100, 90, 100, minus 194, 195 derajat. Jadi kita mati suprikan di situ. Jadi dia beku. Jadi kalau tangan kita masukkan, hancur tangan kita. Karena itu minusnya 100. Kalau kulkas, minus 20 ya kulkas kita. Itu bisa 194, 95. Jadi kalau di situ, di Al-Quran disebutkan ya, jadi sahabat rosul ditidurkan di dalam suatu, nah itu kita bisa ditidurkan, nanti kalau mau saya pulang, itu bisa setahun, dua tahun, bisa tiga puluh tahun juga, asal liquidnya ada.
Jangan lampu mati aja ya?
Asal lampu mati aja, nanti kita bangkitkan kembali, kita towing kembali, hidup kembali. Nah yang belum kita coba, maluk hidup manusia. Mungkin suatu saat bisa ya ditidurkan. Karena Al-Qurannya ada itu, ditidurkan di gua, terus 300 tahun dia dibangkitkan kembali. Kami bisa untuk level sel, level organ kita bisa. Untuk level kitanya ini, ya mungkin suatu hari bisa ditidurkan sekian puluh tahun.
Tadi saya tertarik, karena saya pernah masuk ke chamber, Prof, namanya krioterapi yang minusnya 110 derajat. Tapi itu nggak lama, satu menit saja, kemudian pindah ke minus 60, untuk membuat shock ke tubuh kita, dan kemudian memunculkan si kolagen dan sebagainya. Tapi tadi saya tertarik sekali dengan kata-kata prof dengan hipoksia, karena teman-teman yang di sini itu semuanya berlatih teknik nafas butaiko, dan teknik butaiko itu adalah teknik hypoventilation, tujuannya memberi hipoksia supaya karbondioksida meningkat, dan akhirnya oksigennya bisa masuk ke dalam sel, dan buat energi lebih bagus di situ, dan itu yang kami pelajari. Apakah itu juga dilakukan di sel juga?
Itu saya patentkan teknologi itu. Itu membuat kami nilainya, dunia power of the cell-nya 95, kami bisa 99 persen. Rejection potensial dunia 2 persen, 1 persen, kami bisa 0 pomah. Karena kami melakukan teknik yang sama tadi. Jadi saya ini senang berbagi ya. Kadang-kadang ga usah dibuka-buka. Enggak, harus kita buka. Kita uji keadaan prosentasinya. Kemudian kita uji juga limit time-nya. Berapa menit, satu jam, dua jam, dan seterusnya. Jadi kita uji, kita uji, kita uji. Prinsip dasarnya akhirnya kita ketemu ya, pada kadar sekian persen dan sekian jam itu. Kita mendapatkan dos yang dibutuhkan oleh sel untuk, rumus dasarnya adalah stress sel. Yaitu kita mengalami stress. Kalau kita mau sukses, kita harus diuji. Stress itu adalah bagian Tuhan, cara Tuhan untuk memulihakan kita, di uji kita Masuk ke level molekuler, ternyata disitu dilepas namanya high shock protein, HSP Dalam beberapa artikel disebut sepron molekul Yang hanya terekspresi dalam keadaan stress under control Kalau kita diuji, ujian pagi, ujian berjam-jam sampai siang, ya kita gagal. Tapi kalau kita diuji dalam hanya 1-2 jam, maka kita naik kelas. Kalau kita sudah tahu. Jadi, hypoxia yang terkontrol itu melepas sepron, sepron itu semua protein kita yang fungsional, yang berfungsi secara aktif itu, kalau ada yang melakukan folding nah dalam folding terlipat itu melakukan folding itu melukul sepron atau hisoprotein saya uji banget itu ya, saya uji benar-benar sepron itu meningkat dasyat pada hypoxia yang terkontrol kalau nggak terkontrol, failure jadi kalau mau belajar begini, betul harus dengan ahlinya ya Pak Gobind, jangan kita kasih tau epoxy aja, karena resikonya paler, terjadi damage. Sebenarnya harus kembalikan kepada ahlinya, sebagaimana perintahan sunatullah. Karena kita uji Pak Gobind, kalau dia over, maka akan damage, tapi kalau dia kurang, not release, molekulnya tidak ada efek.
Jadi seperti kita kelas 1 SD, dapet pelajaran kelas 1 SD itu yang boleh dibilang menantang, ketika kita hadapi, kemudian kita naik kelas 2. Kalau kelas 1 SD dikasih pelajaran SMP, training, Kalau kelas 1 dikasih pelajaran TK, nggak maju. Maka itu buat stres yang terkontrol untuk meningkatkan kemampuan kita itu sendiri. Dan sebenarnya itu persis banget apa yang kita lakukan di buteko atau di tempat-tempat. kita perlu melatih semakin hari semakin naik, seperti itu. Wah ini terima kasih banget. Ini sangat-sangat membantu saya sendiri untuk berbagi lebih semangat, karena ini prinsipnya sesuai dengan apa yang terjadi pada sel kita. Kalau itu sudah ada di sel, maka di seluruh bagian kehidupan kita bisa diterapkan, menurut saya seperti itu. Prof, saya mau tanya, Kan begitu banyak tuh, saya ke Singapura atau kemana kemudian ada obat-obat gitu atau suplemen gitu. Dia bilang, ini stem cell, ini stem cell, stem cell. Nah, saya juga bingung, tadi kan Prof bilang kalau ini kan makhluk hidup, lalu kita dijadikan sebagai suplemen, apakah itu stem cell benar atau cuma prekursor atau itu marketing gimmick-gimmick aja?
Sebenarnya, maaf, kalau saya, kalau kami sebagai seorang researcher, kita harus jujur. Kalau kita menggunakan terminologi stem cell, this is alive, this is malu hidup, maka kita harus secara gentle, harus ada oksigen, harus ada makanannya, dan sebagainya. Tapi kalau kita memang mau mengatakan ini, suatu protein, atau precursor, atau whatever, ya sebaiknya sebutkan saja kalau ini kita minum, kalau ini kita suntikan, maka dia akan mendorong sel-sel kita juga akan punya sel-sel, sel-sel tubuh kita aktif, dan sebagainya Mungkin harganya kalau dia hanya vitamin kan nggak bisa jutaan. Mungkin konsekuensinya kalau kita hanya cerita vitamin, cerita cuma precursor, tentu lebih itu. Jadi menurut saya harus dibedakan terminologinya. Kalau bicara sel, kita harus jujur ini sel. Memang prosesnya begitu kalau protein yang kita sebut ini adalah protein, ini adalah vitamin, dan seterusnya. Atau supplement tadi, supplement itu ya saya kok lebih cenderung itu adalah suatu prekursor-prekursor ya.
Tapi itu memungkinkah, Kap, satu zat tertentu yang kemudian sebagai prekursor supaya stem cell kita meningkat begitu?
Ya. Pak Gobind, kita juga bisa kok meningkatkan semsel tubuh kita dengan apa yang dilakukan Pak Gobind dan teman-teman. Kita bisa melakukan hypoxia tadi, itu adalah upaya untuk mencoba membangkitkan semsel dalam tubuh kita. Fasting intermittent adalah juga teknik untuk mendorong semsel kita untuk rilis. Kenapa saat kita fasting, tidak dapat makanan, maka saat itu sel-sel yang memang tidak punya potensi atau tidak strong, kita punya anak 10, anak-anak kita yang gak strong, kita gak ngasih makan, maka yang gak sel akan mati-mati. Nah sel-sel yang kuat akan tetap hidup, nah yang mati ini kan harus diganti dengan sel yang baru. Siapa yang mengganti? Ya semsel itulah. Maka semsel dengan dilakukan intermasing fasting, dia akan lebih bangkit itulah kenapa puasa itu bagus, itu ajaran agama kita harus dilakukan puasa puasa bagus, tapi puasa yang harus dengan benar cuma tadi Pak Gobind yang kita bangkitkan semsel dalam tubuh kita yang apakah semsel kita sudah mulai tua apakah tubuh kita juga masalah jadi kalau tubuh kita memang Pak Gobind bisa mengontrol, bisa menjaga terus dengan teman-teman yang nggak ada masalah. Namun tetap, stem cell dalam tubuh kita juga akan mengalami proses degenerasi, akan mengalami proses decrease neurona. That's why we need another resource from the baby, from the umbilical cord baby, untuk membangkitkan, untuk meregenerate cell-cell yang sudah mulai decrease tadi.
Prof kemarin itu saya kan ke SCCR, dan kemudian saya itu punya kemarin abis latihan olahraga loncat dan salah, dan kulu saya sakit, dan kemudian sini saya juga ada angkat beban salah, dan kemudian sakit, dan kemudian kemarin dokter Agus memberikan sekretum di atlasma, dan sekretum itu adalah apa sebenarnya hasil dari stem cell itu, stem cell memang bisa mengeluarkan sesuatu yang disebut sekretum atau apa penjelasan tentang apa itu sekretum?
luar biasa Pak Gobind, inside pengetahuan saya ini juga baik jadi sekretum adalah suatu protein Molekul yang dilepas di sintesis atau dilepas oleh semsel untuk sebagai signaling communication. Jadi antar sel kita ini bisa bicara. Saya di dalam lab itu, kalau saya temukan sel itu dekat-dekat begini, saya senang hati. Karena pasti nanti dia tumbuh. Karena sel ini jauh-jauh, kita nggak pernah berhubungan. Maka nanti akan mengalami apoptosis, program seliat mati. Silaturahim itu penting untuk menguatkan signaling communication kita. Itu terjadi pada level sel. Pertanyaannya, kalau kita komunikasikan pakai WA, pakai telpon. Kalau sel, komunikasinya lewat molekul. Namun, molekul yang dilepas oleh SEM cell itu sebagai signal communication, itu tergantung dari maunya sel tadi. Kalau sel itu berkomunikasi mau membangun suatu aliran darah, karena jalan-jalan toli kurang, kita bikin jalan kanan, jalan kiri, maka SEM cell melepas molekul 3GF, vascular endothelial grid vector. Kalau VJ itu dilepas, disuntikan, katakan molekulnya bisa kita pegang, di SCCR kita bisa capture, teknik yang kita punya, kemudian kita suntikan ke tubuh kita, dan di tubuh kita ketemu endotel, maka saat itu, perintah Tuhan ini, ini perintah sain, sunat Tuhan, ketika ketemu endotel, maka endotel itu diperintahkan untuk membentuk angiogenesis. kalau saya lepas VDGF maka sel yang saya temukan ini harus membelah kalau saya lepas molekul interagen 10 yang sedang berada, yang sedang panas dingin, pada saat COVID-19, badan lagi nyusak, nggak bisa nafas, paru-paru kita putih semua Ketika dilepas IL-10 tadi, maka peradangan meredah semua. Kenapa molekul itu menjadi penting dan bisa kita custom, kita tangkap sebagai molekul yang bisa mengenhance, meningkatkan atau mensupresi berdasarkan kepada molekul tadi. Itu yang kita sebut sekretom. Kalau di level DNA-nya ada yang bisa mengandung material genetik, kita sebut esosom.
Pantesan setelah melakukan itu beberapa hari kemudian kok sakitnya itu meredah karena peradangannya juga meredah itu sendiri. Jadi dulu saya dengar sekretum ini dulu tidak dianggap, dianggap sebuah buangan atau bagaimana kemudian setelah COVID baru muncul penelitian dan ternyata sekretum ini bisa membantu mereka-mereka yang terkena COVID, kena badai sitokin itu dan kemudian nama sekretum ini menjadi lebih populer
gitu sekarang Pak Gobind Saya 2015 berpikir karena same cell form to regenerate, to restore it. Otak kita yang rusak ini cell-cellnya digantikan. Jantung kita yang damaged ini digantikan, direpair. Padahal proses repair, proses regenerate tidak pernah terjadi without controlling inflammation. Karena tahapan pertama imprimision dulu, panas dingin pokoknya yang nggak enak-enak badan, baru move to the healing, move to the proliferation. Tahap 2015 saya berpikir, mestinya SEMCELL ini punya ruang untuk controlling imprimision. Maka 2015 saya uji di dalam lab, saya orangnya sangat penasaran, pengen cari sesuatu. Sehingga saya bikin suasana badai. Jadi badai COVID-19 2020 itu sudah saya kerjakan di dalam lab. Bukan saya yang bikin COVID-19, namun saya terbayang menciptakan badai itu di 2015. Di dalam cawan, saya eksposur dengan berbagai molekul implemasi. Jadi di dalam cawan itu flare, evok begitu ya. Terus saya jatuhkan stem cell, saya uji menit per menit, jam per jam. Terus saya ikuti, ternyata stem cell betul kelengar pada awal-awal. Namun di tengah-tengah stem cell established, dia bisa ngelepas molekul-molekulnya untuk mengontrol semua peradangan itu dengan cara dia melepas intellekin 10. Saya publis di dunia, di 2017 saya selesai, saya tulis. saya rilis ke dunia, di Eropa, di Skopos G2, jurnal yang terbaik, jurnal yang baik, saya kira, di dunia. Sampai sekarang disitasi ratusan peneliti luar negeri. Dengan kesempulannya, SEMCELL mampu mengontrol peradangan autoimun, kasus sepsis, kasus badai sitokin, melalui inteligen 10. Nah, 2020 masuk COVID-19, kok sama persis. Sama mekanisme yang kita meninggal-meninggal itu kan karena badai, karena muncul. Sehingga itulah saya, kalau gitu saya ambil inteligen 10 yang sudah saya ciptakan itu, untuk saya berikan ke, saya isolasi, saya berikan ke pasien, dan alhamdulillah ada banyak ribuan yang sudah bisa kita bantu. Bukan kita yang menciptakan COVID-19, namun kita hampir mirip cara kerjanya.
Saya merinding, Prof, dengar ini. Maksudnya ada peneliti yang langsung berhadapan dengan saya dan itu mempunyai impak besar pada kehidupan manusia. Itu 2020-2022 bagaimana kita menghadapi COVID-19. Salah satu penelitian Prof itu sangat berguna untuk membantu banyak orang.
Alhamdulillah.
Susah untuk ngomong. Sekarang saya mau tanya tentang SCCR. SCCR itu kan Stem Cell Cancer Research. Kansernya di mana? Ini kan dari tadi kita ngomong stem cell, kementerian...
Jadi, saya itu mencintai dunia culture ya, menghidupkan sel-sel. mengeksposur, melihat bagaimana sel bergerak, tumbuh. Sampai kayak kita anak, ternyata ada anak kita yang nakal. Kemudian dia mutasi menjadi kanker. Jadi sesungguhnya dalam dunia sains, kita mempelajari kanser itu sesungguhnya mempelajari satu bentuk pola kehidupan. kenapa? untuk menjadi kanker kan dia jadi anak baik dulu kanker itu adalah suatu keterpaksaan karena faktor genetik yang diturunkan orang tua itu kecil sekali mostly 95, 97 bahkan 99 persen itu adalah dari kita-kita yang benar, yang baik-baik ini menjadi jahat menjadi mutan, menjadi mutasi karena pengaruh dari behavior nah ini mungkin banyak kalau ada para ilmuwan lain mungkin bisa debat, bisa diskusi panjang tapi saya bisa mempertanggapkan secara sayang Kangker ada sesuatu keterpaksaan dia untuk menjadi anak nakal karena mahkhamahnya yang membuat dia
untuk menjadi nakal atau kalau saya berpikir Apakah sel kanker itu sel jenius? Karena keterpaksaan itu, kemudian dia pintar, atau kondisi yang kepepet, kemudian kalau saya tidak membelah lebih cepat, maka saya akan mati. Jadi, mekanisme untuk bertahan hidup adalah caranya dengan membelah dengan cepat, seperti itu.
Sel jenius itu saya setuju. Anak nakal itu kan anak suguhnya anak jenius. Banyak anak-anak yang yang hebat-hebat itu kan sesungguhnya, ya kayak saya kan nakalnya bersrategi nyari cengkeh gitu ya, itu kan kalau dimaknai dari sisi lain, orang-orang kampung kok nakal ya, bangun lebih awal Jadi saya kira karena dia dipaksa untuk adaptasi dalam keadaan yang keras, maka dia harus mutasikan dirinya untuk melangsungkan kehidupannya. Kanker itu karena ada teori terkini metabolisme disease, Karena kita diciptakan Allah itu ada mesin energi keabadian kita, mitokondria kita, untuk melahirkan begitu besar energi ATP. Ini cocok nih sama Pak Gobind. Karena kita jarang sekali menggunakan mesin kita, mesin mitokondria kita. Kita menggunakan mesin secara kecil kita, lebih banyak menggunakan mesin kilikolisis kita. Karena kita selalu menggunakan, mengkonsumsi gula, gula, gula, gula. Mesin ini bergeraknya karena gula. Makan gula, makan manis-manis yang seterusnya. Namun, begitu mesin kecil ini masuk, dan produknya adalah piropat, harusnya diberikan ke mesin besar untuk mengelayakan energi. Namun ternyata kita tidak bergerak. kita nggak gerak-gerak ini, santai, makannya enak-enak, kita tidak mau gerak makan enak-enak, tidak mau gerak makan enak-enak, tidak mau gerak maka akibatnya kalau tidak bergerak, mesin besar tidak kita pakai kita lebih menggunakan mesin kecil mesin kecil ini kan tidak didesain Tuhan untuk melahirkan suatu atau suatu kehidupan nggak boleh, nggak boleh sering dipakai dia harus perantara saja, glycolysis, dan terus masuk ke cycle clap. Nah karena kita pakai, maka end product-nya adalah pairupat tidak masuk ke mesin besar, namun berubah menjadi laktat. Saat dia laktat itu, maka suasana esit. Nah suasana esit itu membuat peradangan muncul radikal bebas yang terus-menerus masuk ke level DNA, muncullah mutasi. Nah saat mutasi, kan sel itu harus beradaptasi. Maka yang kuat-kuat mutasi, yang Pak Gopin bilang jenius-jenius tadi, dia berubah untuk beradaptasi, untuk menyambut kehidupan yang keras. Karena kehidupannya keras tuh. Kita kan tidak menginginkan adanya suasana chaos di dalam tubuh kita, yang kita tidak sadari. Orang yang kecil itu, saya miyak gini, tubuh dia selalu tidak merasa sehat. Ayo berikan, dilatih Pak Gobind supaya badannya sehat. Gerakan semuanya. Kalau tidak, maka nanti radikal bebas akan muncul, terus kemudian masuk ke DNA mutasi, sebagian tubuh akan berubah. Tadi yang jenius Jadi, kita harus berhati-hati, berhati-hati, kita harus berhati-hati, berhati-hati. akan mengambil cara lain, sehingga dia menjadi mahluk yang lain. Nah, saat dia mutasi, menjadi cancer, yang kita sebut cancer, maka dia sudah under control. Ini sudah membangun suatu monster. Begerak dia terus dan terus. Nah, saya mempelajari ini banget. Bahkan saya punya banyak koleksi kanker. Ada kanker otak, kanker paru, breast kanker. Punya dua kanker. Punya banyak saya kanker. Dan semuanya hidup semua, sebagian saya tidurkan, kalau ada untuk pendidikan saya hidupkan kembali, banyak saya kanker.
Prof, maksudnya pasien-pasien yang di SCCR itu sendiri?
Koleksi kanker sel.
Oh, koleksi sel kanker. Selama ini kan kemo, radiasi, dan sejenisnya, tapi kalau nggak salah kalau di SCCR CTL begitu?
Karena kita mempelajari secara, maaf ya, mungkin kalau ada teman-teman yang dokter, saya mengajar S3, murid-murid saya, Onkologi juga ada ya, beberapa onkologi dan kita sudah mulai rang terbuka di internasional. Jadi, satu-satunya yang kita harapkan untuk membunuh kanker adalah our body itu sendiri. Anak jenis itu yang tahunya tetap ibunya. kan gak mungkin kalau kita di satu kampung ini ada anak nakal yang jenius kemudian dia berulah, yang nangkep orang Amerika yang tahu persis kan adalah orang kampung itu sendiri kalau kita lebih dalam imunitas kita yang bisa nangkep itu namanya sel imunitas ada dua imunitas kita ada innate imunitas ada adaptive imunitas, imunitas itu Tentara-tentara yang champion. Ya, sekali lagi kita ilustrasinya biar gampang ya. Jadi tentara-tentara kampu, polisi-polisi yang babinsa, yang baik sama rakyat ya. Kenapa? Karena dia tidak punya memory, tidak ada ability untuk mememory. Jadi kalau lawan kanker, hari ini berantem lawan kanker, besok atau ntar sore lupa. Ntar sore lagi lupa. Nah, maka kita bergantung pada yang adaptive immunity. Adaptive memory itu dibagi dua, yaitu B-cell yang menghasilkan antibody. Itulah kalau kita dipaksin, antibody kita berapa? Karena kita berharap pada cell memory yang B ini. Nah B ini punya kakak, kakaknya namanya Cell T. Kakaknya lebih sakti, karena kalau dia bukan menghasilkan antibody aja, namun dia bisa menghancurkan secara presisi, melobangi, membolongi, dan dia bisa milih, bisa tahu, Bahkan dengan sensor aja dia tahu, ini sel ganas, ini nyumput, dimana dia bisa di-uber, bisa di-tracking, bisa dihancurkan. Kalo kemoterapi, karakternya menghancurkan, jadi kita satu kampung, malingnya nyumput di rumah saya misalnya ya, ini satu kampung nih, dihancurkan semua. ya terutama yang karakternya mitosis yang membelahnya cepat wah habis semua nah cancer itu mother of the cancer karakternya dia slowly dia menempati posisi silent nah sehingga akan kebunuh udah dihancurkan semua, rambut kita rontok, kuping, segala macam habis semua itu kita munculkan CTL karena CTL satu-satunya yang diperintahkan Tuhan, yang memang mampu untuk mendetect, untuk menghancurkan cancer secara presisi. Pak Gobind, di luar negeri, di Amerika ini sudah dikembangkan, disebut namanya CAR-T, nilai 4 miliar, one spot, 3-4 miliar. Begitu dunia menghargai di Amerika, dunia itu sekarang menggunakan teknologi itu untuk meng-engineer itu supaya menjadi, kalau saya sebut tentara kopaksus. Bapak Binsa ini kopaksus, dia bisa menghancurkan secara presisi. Cuman masalahnya, kami juga melakukan treatment, ada juga yang failure. Kenapa? Karena tentara ini kan melakukan direct contact untuk menghancurkan. Nah cancer sendiri sudah punya barier. Barier itu untuk melumpuhkan si CTL ini dengan cara dia melepas PDL program. Di program di lockdown. Nah caranya dia melockdown adalah dengan suasana AC. Dengan sebuah soalan metabolik. Maka, pada saya, cancer, stadium 3B, ada 5 titik penyebaran. Saya bilang ke adek saya, dek, bolsa khawatir. Yang meninggal banyak, yang sakit lagi ngobrol gini meninggal juga banyak kok. Yang lagi rapat meninggal juga banyak, bolsa mikir, saya bilang. Tapi yang satu yang presisi, saya katakan kita cek, pH-nya rendah, saya bilang harus dibikin alkali, karena supaya suasananya bariernya kebuka, setelah itu kita serang dengan CTL. Saya isolasi dari darahnya dia, saya ambil induknya, Karena CTL itu produk yang kita desain. Jadi saya memang punya sedikit kemampuan membuat macam-macam, karena saya senang. Jadi dari Mothers itu saya ciptakan CTL-CTL. Saya ambil generalnya, saya ciptakan kopasus-kopasus, selebanyak saya suntikan KD saya. Alhamdulillah, sampai sekarang sudah hampir dua tahun, Dua tahun, tiga tahun ini adik saya ya alhamdulillah tidak ada penyebaran dan selesai berhenti. Tapi sekali lagi saya katakan ini bukan karena SITEL, namun karena Allah, karena Tuhan berkendang.
Ini satu harapan besar, karena selama ini kan kanker itu momo ya. Kalaupun seandainya, terkadang apa itu namanya, perawatan dari kanker karena kemo dan sebagainya itu lebih membuat menderita daripada sakit kankernya itu sendiri.
Betul sekali, sedih.
Nangis. Betul. Saya lalu berpikir, kenapa ya HIV itu dalam berapa puluh tahun selesai, sementara kanker yang ratusan tahun kok nggak ketemu-ketemu beresinya bagaimana, tapi semakin hari semakin banyak kalau zaman dahulu kita dengar kanker, tapi kita jarang melihat tetangga atau teman-teman kita atau saudara kita kena kanker tapi sekarang itu seolah-olah dia kena kanker, sana kena kanker, semakin banyak sekali begitu dan saya percaya sih bahwa lifestyle sangat-sangat mempengaruhi banyak orang selalu bilang genetik, yes, tapi lifestyle itu
dan Indonesia Saya mau mengatakan, Allah, Tuhan itu tidak sejahat bayangan kita. Bahkan, genetik ibu saya, misalnya, katakan kita harus menerima takdir bahwa nenek moyang atau bagian dari ibu kita yang cacat, misalnya. Genetik. selalu mengekspresikan yang cacat, maka akan mengekspresikan gen cacat. That's clear. Tetap 10 tahun, 15 tahun terakhir ini dunia digoncangkan oleh perubahan takdir. Yang kita kenal adalah genetik yang cacat tadi tidak mesti melahirkan phenotype atau produk-produk cacat. itu bisa kita rubah, kita bisa modifikasi kalau di level DNA dengan namanya metodologisme, dan asistonisisme, posternisisme, ada teknik-tekniknya yang semuanya berdasarkan memodifikasi microenvironment. Jadi, meskipun kita cacat nenek moyang orang tua kita, namun kita diberikan Allah untuk merubah takdir kita, agar kita tidak melahirkan gen-gen cacat tadi itulah yang dikenal dengan mekanisme epigenetis dan itu teori itu menguat sampai sekarang banyak pasien-pasien kanker juga yang tidak banyak ditemukan mutasi pada level DNA namun dia muncul menjadi mahluk-mahluk jahat maka Itu sesuaikan dengan ajaran agama-agama. Kalau dekat dengan orang baik, menjadi orang baik. Dekat dengan orang bau minyak, jadi haru. Dekat dengan mabuk, jadi pemabuk. Maka kita disenakan untuk mendekati orang-orang baik agar, menurut agama kan keberkahan. Kalau dalam self, Kalau kita bisa meng-create kita yang baik-baik, Pak Gobind bisa meng-create dengan teknik yang baik-baik, maka semua sel-sel yang mungkin nenek mau ada sel yang calon jahat, dia tidak terekspresi. Itu teori epigenetik. Banyak orang nggak paham. Ini sains lho. Siapa pun yang membantah ini, mungkin bisa di-klik sekarang, epigenetik mekanisme, Bagi saya itu adalah upaya Tuhan Allah untuk merubah takdir, karena kita merubah diri kita untuk menjadi lebih baik lagi, karena genetik kita mungkin cacat. Itulah sifat sayang dan rahman dan rahim Tuhan ya. Semakin belajar itu, semakin kita, kok begini, kok mirip dengan manusia, dengan kehidupan. Jadi seru.
Prof, nggak terasa udah sejam lebih, sebelum saya mau mengakhiri, kemarin saya ke SSCR itu, ada satu bangunan yang laboratoriumnya sangat luar biasa, sampai di lantai tiga itu ada, apa itu namanya, pengaturan dari udara, kemudian lab-labnya sendiri ada ABCD, kalau nggak salah, kalau masuk pakai satu layer, kemudian masuk yang kedua pakai dua layer, tiga layer, dan empat layer. Itu baru sekecil itu, tapi sekompleks itu. Luar biasa, tapi kemudian saya melihat sekelilingnya ada 11 hektare tanah yang sedang dalam proses pembangunan, ada hutannya, saya kemarin jalan-jalan yang mau dibangun, dan kata Dr. Salsa juga akan ada hotel, universitas, hospital, laboratorium genomik, dan lain-lainnya. Ini apa sih, Dok? Mimpi besarnya atau visi besarnya bagaimana?
Saya ingin membangun suatu peradaban sains di tempat kami berpijak. Melakukan penguatan ilmu itu perintah Tuhan, karena Tuhan memuliakan orang-orang berilmu. Itu sejak saya meyakini firman atau ayat tersebut, karena kami kelompok kecil dari manusia yang ada di gunung pati itu, Kami mencoba membangun kekuatan sain. Maka sain itu harus ada riset yang kuat. Maka di situ ada lab yang, ya tadi yang tiga layer masuk ya. Kalau kita lab sekali, kita enggak ganti lagi, ganti lagi. Ada filter yang begitu firm ya, memastikan zero particle, zero organism di situ ya. Dan semua ini harus ada manusianya, maka kita bangun universiti. Kita sudah ada universiti, institut yang kita mau ubah ke universiti. Setelah itu, kita akan melakukan, tadi karena konsep kami adalah sama seperti Pak Gobind, kami mencoba membangun desain 120 tahun hidup kita, mengembalikan kepada nenek moyang kita, Merendah, menghilang, mengurangi bahan-bahan sinopiotik, bahan-bahan radikal yang masuk tubuh kita. Makanya kita menggunakan alam, ada hutan, ada herb di situ, ada Yoga nanti dilatih sama Pak Gobind, karena saya kira itu karipan nenek moyang kita yang harus kita eksplorasi, itu menjadi kekuatan kita dan itu sejalan dengan ilmu kami. Maka di situ ada resort yang nanti wellness. nanti kita harapkan ada meditasi di situ, kita bisa berdoa bersama, Mongolia Islam bisa sholat bersama, yang lain bisa beribadah sesuai dengan percayaan masing-masing, kemudian bisa yoga, makan sehat kita, terus kita uji besok paginya darahnya, radikal bebasnya seperti apa, Kalau kemudian semuanya membaik, secara sains mesinnya, tubuh mesin ini bisa berjalan jauh, bisa berjalan 100 tahun, bisa berjalan 100 sekian tahun, tanpa selang-selang. Kalau kita jalan 70 tahun selang semua, kena stroke, ini kan susah. Itu yang mengharapkan kami di situ adalah nanti pusat peradaban pusat sains, dan kita berharap nanti para putra-putra terbaik bangsa hadir di situ. Kami punya mimpi meraih Nobel. Di mana di situ ya. Kita sudah invite juga ada beberapa orang luar ya, orang bule yang hadir di sana. Ini kita menarik dari Jepang ya. Dan itu kita, kita mandiri Pak Gobind, kita biayai. Alhamdulillah kita tidak Kita mampu, dan memang kami membatasi diri dari campur tangan yang lain, karena kami khawatir visi-visi kita akan bisa bias, sehingga kami Bismillah, kami masih diberikan kemampuan untuk menghimpun kekuatan, sehingga nanti itu menjadi rujukan dunia.
Ini sangat-sangat jarang terjadi di kehidupan manapun, bukan di Indonesia saja, apalagi di Indonesia, bahwa seorang peneliti biasanya fokusnya ngeliti aja gitu, sementara dapat Nobel karena penelitian seperti itu, hanya fokus di sana, dan kemudian kalau orang bisnismen, bisnismen ngembangin rumah sakit, ngembangin laboratorium dan sebagainya, itu otaknya otak yang berbeda, begitu biasanya tapi Prof Agung ini bisa menjangkau keduanya seperti itu dan bahkan ketika saya tadi sempat disebutkan bahwa ini adalah sendiri padahal saya percaya bahwa ada begitu banyak orang yang ingin sebenarnya meletakkan sahamnya di situ tapi kemudian tadi dibilang takut campur tangan dan sebagainya ini sesuatu yang nggak gampang sih Prof, maksud saya Bahkan di luar negeri pun akan sulit hal ini terwujud, tapi apa yang sudah Prof lakukan sekarang itu sudah luar biasa udah menjalankan hal ini, dan saya pikir menunggu waktu sehingga peradaban itu muncul, dan sangat-sangat berdoa, sangat-sangat berharap sekali ada seseorang di Indonesia ini yang mendapatkan Nobel dalam bidang kesehatan atau apa, karena ini akan meningkatkan kepercayaan bangsa kita Karena saya pernah cerita juga bahwa ketika Presiden Obama itu mendapat dilantik hari itu, ada penelitian rata-rata IQ orang-orang Afro Amerika di Amerika itu meningkat Tidak ada penambahan apapun, tapi dia merasa bahwa ternyata kelompok saya bisa menjadi presiden. Sehingga dia merasa lebih percaya diri. Dan saya melihat orang Indonesia ini kualitasnya enggak kurang, tapi karena mental yang yang mungkin tertekan atau situasi, kondisi, atau apapun yang membuat kita merasa rendah kalau melihat orang bule Semoga Prof itu mendapatkan Nobel atau penghargaan dunia lainnya, sehingga ini akan membuat kepercayaan bangsa kita menjadi lebih baik, dan saya percaya ketika telur yang pertama itu pecah akan kemungkinan beberapa orang juga akan berusaha untuk melakukan hal yang sama untuk membuat Indonesia dan dunia ini menjadi lebih baik Semoga Amin Bapak Bin, kami
pada akhirnya saya tertarik walaupun di luar, jadi bagaimana masing-masing dari anak bangsa itu meninggalkan legasi Jadi kalau kita di Kanada, dulu kita di kebun atau di tempat wisata, banyak itu tulisan Pemilih di tempat kursinya, di bawah ada tulisan Pemilih-Pemilih. Mengapa mereka dengan senang hati mendedekahkan, kalau kita kan sedekah sebenarnya, memberikan sesuatu kepada orang lain. Bukankah itu ajaran kita ya, yang kok kita terlupakan. Nah karena mereka ingin meninggalkan legasi. Apa sih yang bisa dia berikan untuk bangsa ini, untuk rakyatnya, dan sebagainya. Nah, kami ingin mengambil jalur itu saja. Kita tidak pengen yang besar-besar. Kami ingin meninggalkan legasi di bidang sains dan teknologi. Maka, saat nanti kami mati, meninggal, itu kami dan semua kita, Maka paling nggak kita ada rekam jejak legasi yang saya ingin kita bikin dan tadi ya kemudian bisa men-enhance teman-teman kita, oh kita percaya diri, oh kita bisa. Maka kami senang ketika ada teman-teman dari universitas, kemarin dari UGM rektor datang, senang. Dari Lampung juga ada, Unila dari rektornya datang. Kita senang, ayo. Kami akan share, bahkan saya dengan senang hati, ayo dibikin S3 di sana, kita akan bangun bersama-sama, karena sayan ini milik kita, bukan milik SCR, milik kita, milik umat untuk kita kembangkan kebaikan kita bersama.
Ya, amin. Semoga tercapai. Saya setiap kali mendengar profesor cerita ini saya merinding, dan saya berpikir ini sesuatu jalan yang luar biasa, yang mulia untuk kehidupan, agar kita punya bukan hanya hidup yang panjang, tapi kualitas hidup yang jauh lebih baik, sehingga kalau kualitas hidup lebih baik, otomatis kita bisa berbagi atau bersama-sama menikmati kehidupan ini lebih baik juga. Terima kasih, Prof. Kepengen ngobrol banyak lagi, tapi semoga ada kesempatan lain untuk ngobrol dan bertemu dengan Prof waktu itu cuma sebentar, jadi kurang ngobrolnya. Minggu depan saya ada rencana ke Semarang dan mampir ke SCCR, kalau kesempatannya cocok. Terima kasih, Prof. Ini pada semuanya bilang terima kasih pada Prof. Semoga teman-teman juga kalau seandainya ingin lebih tahu, bisa langsung ke SCCR. DM aja di Instagramnya dan kemudian untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang SCCR Saya percaya Setelah berkeliling-keliling itu, kualitasnya memang enggak usah diragukan, dan soal harga, kalau dibandingkan di luar negeri, SCCR ini masih sangat terjangkau dibandingkan kalau kita harus pergi ke luar negeri, atau paling tidak, kenapa saya juga melakukan stem cell, karena saya tahu bahwa salah satu investasi kehidupan kita agar lebih baik adalah kita merawat tubuh kita. kita bisa investasi di tanah, gol, dan sebagainya. Tapi apa arti itu semua kalau kita nggak sehat? Maka saya pikir investasi untuk tubuh kita ini itu sangat-sangat penting.
Ini satu, Pak Lubien saya tadi ketemu dengan ulama, itu baik sekali. Dia mengatakan, kita harus olahraga, harus sehat. Kita harus dilatih. kan banyak kita berpikir untuk apa sih antar dullah ya, antara niat dan males itu kan tipis, mengatakan begini, ini kebetulan di agama kami kan muslim, sebenarnya biadab kami itu banyak ibadah fisik, ibadah haji itu ya fisik, sholat pun fisik, jadi kalau kita tidak menjaga fisik kita, tidak menjaga badan kita, maka ya ibadah kita jadi masalahnya. Jadi beliau mengatakan, jadi menjaga badan, investasi tadi itu bagian dari ibadah. Wah, saya luar biasa. Karena tanpa itu kita tidak susah kaji nanti kita. Kaji itu perjalanan yang panjang, yang keras, yang jalan. Luar biasa. Sehingga saya kira, wah ini bagus, ini harus dikembangkan orang-orang yang bisa merawat dirinya Pak Gobind dan terusnya agar tetap buga, tetap sehat. Karena pada akhirnya kita ini akan meninggal dengan amal ibadah kita. Salah satu di antaranya adalah ibadah kita yang tadi bisik itu sudah seberapa banyak kita kerjakan. Sehingga menjaga badan. Saya senang orang-orang Pak Gobind dan seluruh saya bisa sharing untuk membuat kita sehat. Karena tadi nggak ngeluk-ngeluk kalau kita Bagaimana untuk bisa melangsungkan ibadah kita secara lebih baik itu jauh lebih penting.
Betul, saya setuju. Semoga kita semua mendapatkan kesehatan fisik dan mental yang baik untuk berbagi kepada dunia ini. Yang sudah terlalu baik pada kita semua.
Amin.
Thank you, Prof. Saya mewakilin teman-teman dari Buteko dan TRI, mengucapkan banyak terima kasih atas waktu Prof untuk berbagi di sesuatu yang luar biasa, ilmu yang sangat dalam dan misi yang luar biasa. Semoga cita-citanya semuanya terwujud.
Alhamdulillah. Makasih semuanya. Assalamualaikum Wr. Wb.











