In this Indonesian‑language monologue, Gobind Vashdev (signed as Gobind Basif) laments the negative connotation that tempe has in Indonesia while highlighting its celebrated status as a superfood in Europe. He notes that European restaurants label tempe as a premium plant‑based protein and that tofu there boasts a high protein content (about 19 g per 100 g). Vashdev contrasts this with the low‑quality, soft tofu common in Indonesia and praises the firm, protein‑rich tofu and tempe he encounters abroad. He emphasizes the vast variety of tempe made from many legumes—black beans, green beans, even 18‑bean mixes—showing that tempe is not limited to soy (kedel). He explains that fermentation increases nutrient availability and makes proteins more digestible. He also debunks the myth that soy’s hormones are harmful, clarifying that soy contains phytoestrogens, not estrogen, and that they are not hormonally disruptive. Vashdev calls for Indonesia to take pride in its invention of tempe, to invest in deeper research, and to incorporate tempe into public‑health initiatives such as free‑meal programs, arguing that its low cost, high nutrition, and versatility can improve population health while reducing expenses. The talk ends with a hopeful salute encouraging national pride and action.
Chapters
Yang menyedihkan itu kalau kita mendengar kata tempe di Indonesia selalu asosiasinya negatif. Nah, sementara di Eropa itu tempe menjadi sesuatu yang luar biasa. Bahkan di beberapa restoran yang saya samperin itu ada sebuah tambahan add superfood, salah satunya tempe jadi kalau ada menu ada tulisan add superfood nah superfoodnya itu salah satunya tempe luar biasa kali, disini sangat dihargai sebagai seorang vegetarian dan kemudian menjadi vegan Sejak lebih dari 33 tahun lalu, saya kemana-mana carinya tahu dan tempe. Selain rasanya udah cocok dengan lidah saya, saya juga ingin mendapatkan protein yang tinggi. Lah ternyata, tahu dan tempe disini proteinnya luar biasa. Terutama tahu, yang selama ini kalau di Indonesia itu proteinnya kurang. Sementara disini tahunya itu tinggi. kenyalnya keras gitu ya, dan rasanya enak banget. Saya berharap di Indonesia juga melakukan hal ini. Kalau di Indonesia kan tahu kopong. Tahu itu cenderung seperti, apalagi jauh bilang itu gudir gitu ya, atau terlalu lembut begitu ya. Sementara di sini itu keras banget. Dan putihnya saya lihat itu 19 gram per 100 gram. Tempe juga seperti itu. Dan yang menarik adalah bahwa mereka punya variasi yang sangat-sangat banyak jenisnya. Tahu itu campur spinach, ada yang pake olive, pake bumbu-bumbu, macem-macem. Bumbunya itu nggak karuan banyaknya. Begitu pula tempe. Nah tempe selama ini di otak kita adalah tempe yang dari kacang kedele. Dan seringkali kan orang mengaikan kacang kedele dengan GMO atau dengan hal-hal yang katanya itu merusak hormon. Padahal itu tidak terbukti. Yang ada hormon yang ada di kacang kedele itu bukan estrogen, tapi pytoestrogen. Dua hal yang berbeda dan tidak berbahaya atau mengganggu hormon dan yang seringkali kita dengar di pemberitaan-pemberitaan yang viral itu. Nah, yang menarik adalah bahwa mereka bisa membuat tempe dengan berbagai jenis kacang. Sebenarnya ini bukan hal yang baru. Di Indonesia juga ada tempe dari kacang hijau. Di sini ada yang pakai black bean. Saya juga mendengar di Indonesia juga ada seorang ibu yang pernah membuat tempe yang dari 18 jenis kacang-kacangan. Jadi tempe itu bukan hanya kedele yang kemudian dijadikan tempe itu, tapi sebenarnya proses fermentasi yang dimana ketika kacang itu terfermentasi, itu akan mempunyai kandergisi yang meningkat dan lebih gampang proteinnya dicekna oleh tubuh kita karena itu sudah terhidrolisasi atau terpecah itu sendiri jadi menurut saya, bangsa Indonesia harusnya bangga dan juga punya sesuatu hal yang sangat-sangat perlu untuk diteliti lebih dalam Bangsa Indonesia lah yang menciptakan si tempe ini sendiri. Karena dengan tempe itu sendiri, maka harga sendiri murah. Tapi apa yang terjadi? Kita punya kualitas tangan yang lebih baik. Dan menurut saya, nggak ada salahnya juga proyek-proyek seperti Makan Gratis itu juga jadinya diselipkan, tapi tentu variasinya banyak dan kemudian juga mempunyai kualitas yang bagus. Sehingga protein dapat, gizi juga dapat, dan harganya juga bisa ditekan sehingga kesehatan masyarakat di Indonesia menjadi lebih baik. Salam dari saya, Gobind Basif.