Merdeka Dari Kemelekatan

Gobind Vashdev explores merdeka as freedom from personal attachments. True patience and sincerity require repeated practice, not just reading or listening. He shares how he wore an old hole-filled shirt for decades, then deliberately changed his image by putting on shoes after 12.5 years to break long-held habits.
Chapters
So, anda bisa melihat lubang-lubang. Sebenarnya baju ini sudah saya beli belasan tahun lalu. Kita nggak bisa sabar hanya dengan baca kitab suci. Kita juga nggak bisa ikhlas hanya dengan mendengar ceramah. Apakah itu ceramah keagamaan, spiritual, motivasi, konten edukasi, dan apapun itu. Artinya apa? Kita bisa ikhlas, kita bisa sabar hanya dengan praktik. praktek kesabaran atau praktek keikhlasan itu sendiri. Di Indonesia itu kita seringkali membaca jangan buang sampah sembarangan. Mendengarnya juga mungkin ribuan kali. Tapi kenapa begitu banyak orang yang tetap membuang sampah? Salah satunya karena kita dari kecil tidak diajarin cara langsung berkali-kali sehingga itu mendara daging dalam diri kita bagaimana membuang sampah. Menurut saya, kita perlu untuk melakukan ini berulang-ulang sampai akhirnya kita mempunyai hati yang luas untuk bisa menerima ikhlas, pasrah, dan juga sabar. So, ini adalah hari kemerdekaan Indonesia. Dan menurut saya, esensi dari merdeka adalah merdeka dari kemelekatan-kemelekatan yang kita sudah punya dalam hidup ini. Saya menggunakan baju ini. Baju ini adalah baju yang bersejarah bagi saya. So, anda bisa melihat lubang-lubang, sebenarnya baju ini sudah saya beli belasan tahun lalu. Kenapa? Pada saat itu, Gobin itu bajunya semuanya warnanya putih, rambutnya gondrong, celananya selalu coklat. Suatu hari saya berjalan di Ubud, dan pada saat itu saya melihat baju ini. Dan pada saat itu saya ingin membeli baju ini, tapi dalam bagian dari diri saya itu memberontak. Dia bilang, Gobi, kamu itu brandingnya selama bertahun-tahun. Itu bajunya putih, rambutnya gondro. Lah kamu kan mau pakai baju merah. Dimananya? Itu kan merusak citra yang sudah kamu bangun bertahun-tahun. Nah, disitulah kemudian saya berpikir bahwa saya melekat. Setelah beberapa bulan akhirnya saya memotong rambut saya dan kemudian saya membeli baju ini untuk menghancurkan kemelekatan tersebut. Sama seperti beberapa bulan lalu, saya itu menggunakan sepatu setelah 12,5 tahun tidak menggunakan sepatu kemanapun. So, tujuannya adalah untuk merdeka dari kemelekatan. Dan itulah cara untuk bagaimana kita bisa sukses dan bahagia dalam kehidupan ini. Yaitu kita belajar untuk melepas dengan praktek manusia. Ketika dia tergenggam, dia melakukan. Ingat, tangan yang tergenggam ini tidak bisa menerima. Tidak bisa memberhati. Dan dia bersahabat dengan ketegangan. Dan kalau kita mau melihat perjalanan kehidupan manusia, manusia itu waktu lahir tangannya tergenggam dan ketika dia meninggal tangannya terbuka so perjalanan kehidupan adalah perjalanan melepas kita perlu untuk belajar melepas dengan praktek-praktek so hari ini 17 Agustus saya ingin melepaskan si baju ini keluar dari lemari saya saya lepas sehingga saya bisa lebih merdeka bahwa saya sadar bahwa saya melekat pada baju ini selama bertahun-tahun. Dan ya, it's okay. Semua orang pasti punya kemelekatan pada satu hal dan yang lainnya. Tapi yang penting adalah proses untuk melepas agar kita bisa lebih ikhlas dan bahagia. Salam bahagia dari saya, Gobind Fazdef, di hari merdeka. Selamat ulang tahun Indonesia ke-80. Semoga kita semua berbahagia.











