In this Indonesian‑language monologue, Gobind Vashdev visits a barefoot‑shoe store for the first time in over twelve years of living completely shoeless. He explains the concept of barefoot shoes—thin, toe‑spreading designs that mimic walking on natural ground—and reflects on the heavy emotional weight of potentially abandoning the identity he built around being constantly barefoot. He references an earlier interview with Deddy Cobuser where he discussed this identity, and he recounts a conversation with the store owner who warned him against breaking his long‑term record. Throughout, Gobind balances feelings of sadness, relief, and ego‑detachment, noting that even if he purchases shoes he may not wear them 100 % of the time. He also ties the potential purchase to his ongoing commitment to raise funds for homeless children in Indonesia, positioning the act as both a personal transition and a charitable pledge. The store’s “Less is more” slogan mirrors Gobind’s own mantra, reinforcing the thematic link between minimalism, personal growth, and social responsibility.
Chapters
Ini sesuatu yang berat. Tapi ya, sepertinya saya harus lakukan. Ayo! Ayo! Ayo! Ayo! Well, akhirnya nyampe ke sebuah toko sepatu barefoot. Apa itu toko sepatu barefoot? Nanti saya jelaskan di dalam. Kalau seandainya saya menjadi beli sepatu di sini, artinya saya memutuskan untuk melepaskan identitas saya sebagai seseorang yang 12,5 tahun kemana pun tanpa menggunakan sepatu. Ini sesuatu yang berat. Tentu bagi saya untuk melepaskan itu. Di wawancara dengan Deddy Cobuser, saya sempat sampaikan hal tersebut. Bahwa saya ingin melepaskan identitas kemelhatan saya pada Gobin yang... Tidak menggunakan sepatu. Lagi membulatkan tengkat untuk pakai sepatu dan sandal. Untuk menghancurkan si ego identitas itu. Ternyata jauh lebih susah untuk menggunakan sepatu lagi daripada waktu 12,5 tahun lalu untuk melepaskan sepatu tersebut. Ayo kita masuk. Oh ya, yang menarik adalah disini ada tulisan Less is more. Sama seperti apa yang saya tulis disini. Dan ya, kalau sekarang ini saya beli sepatu disini, artinya hari ini, di bulan Desember 2024, saya sudah tidak menggunakan identitas sebagai manusia yang 24 jam ngeker. Ayo kita masuk. So, ini adalah toko sepatu. Dan ini coba perhatikan, sepatunya ini lebat. Ini sepatu yang dimana bisa membuat jari kita buka. Karena sebagian besar sepatu yang dipasaran jarinya itu seperti ini. Dan itu tidak bagus untuk kaki kita. Dan ini adalah sepatu barefoot, Anda lihat. lurus sehingga sangat menapak seperti kita berjalan di tanah dan ini modelnya keren saya akan coba sebentar lagi dan kalau ini cocok ya mungkin kalau hati saya juga oke, saya akan beli setelah lihat-lihat yang ada, ada dua pasang yang menarik perhatian saya dan ini sesuatu yang sangat berat saya hampir menangis karena melepaskan kemlekatan ini tadi sempat saya ngobrol sama pemilik toko bahkan dia menyarankan untuk saya tidak melakukan untuk membeli sepatu karena itu melepaskan rekor yang sudah saya lakukan selama 12,5 tahun. Ini sesuatu yang berat. Tapi ya, sepertinya saya harus lakukan. Walaupun nantinya saya tidak akan 100% menggunakan alas kaki. Lebih banyak yang tidak menggunakan alas kaki. Tapi, kelihatannya saya akan membeli. Namun, Dana yang saya kumpulkan untuk anak-anak terlantar karena dari alasan kenapa saya dan menolak sepatu, itu tetap saya lakukan sebagai komitmen saya untuk membantu anak-anak terlantar di Indonesia. Mari kita coba. Ada perasaan lega, sedih, tapi lega. Kayak ngelepas sesuatu gitu. Dan itu sedih, tapi ya lega. Ego itu harus pergi. Untuk kehidupan yang... Salam bahagia dari saya. Doping, makasih.