Perbedaan Orang Baik & Lemah

Jovian Vasdev talks to a gokar driver earning 15 million rupiah monthly but saving nothing because he gives it all away. The driver acts from discomfort, not abundance. Vasdev argues many Indonesians called good are actually weak, helping to escape guilt rather than from genuine generosity.
Chapters
Kemarin saya ke bandara dan diantar oleh seorang pengmudi gokar dan yang paling menarik adalah dulunya dia adalah pengmudi pribadi dan penghasilannya cuma 3 juta, tapi sekarang penghasilannya 15 juta. Tapi yang paling menarik bukan penghasilan tersebut, tapi dia tidak punya tabungan apapun. Kemudian Orang selalu berpikir bahwa mungkin dia foya-foya menghabiskan uang untuk beli baju. Enggak, enggak. Orang ini sederhana. Makan juga sedikit dan sangat-sangat sederhana. Tapi uangnya habis. Kemudian setelah saya ngobrol, kemana uang itu habis? Ternyata untuk membantu orang. Kemudian saya tanya, kenapa membantu orang?
Ya Pak, kan saya ini memang susah. Tapi lebih banyak orang yang susah datang ke saya dan kemudian saya melihat dia susah, kemudian saya bantu.
Nah, setelah saya menggali, saya mengatakan, Bapak, Bapak itu bukan orang baik, tapi orang lemah. Bedakan, Pak, antara orang baik dan orang lemah. Jadi, sebagian besar orang di Indonesia yang dianggap orang baik, mungkin bukan baik, tapi lemah. Kenapa begitu? Karena begini, Kalau kita baik berarti apa? Kita itu merasa berkecukupan, kita merasa berkelimpahan, kemudian kita membantu. Soal punya uang atau tidak, beda lagi. Tapi si Bapak ini, itu membantu orang bukan karena hal tersebut, tapi karena dia merasa tidak nyaman. Dia merasa bersalah kalau dia tidak membantu orang. Jadi kalau ada orang datang dan kemudian dia menolak, permintaan orang tersebut, hatinya kacau. Sehingga dia membantu, dia memberikan, bukan karena dia merasa berkecukupan atau berkeliban, tapi sebaliknya dia menghindari rasa bersalah yang muncul ketika dia tidak memberikan pada orang lain. So, ini banyak sekali. Sebenarnya ketika kita melakukan pada orang lain, membantu orang lain dan sebagainya, sebenarnya kita mesti jujur, apakah kita memang benar-benar ingin membantu dia atau kita ingin sebenarnya menghindari rasa yang tidak nyaman di dalam diri kita, sehingga kita memberikannya. Pada akhirnya nyesel, tapi seringkali penyesalan itu dibalut lagi dengan, oh itu kan saya
orang baik, saya itu membantu.
Akhirnya sirnalah rasa yang tidak nyaman tersebut karena Sebenarnya saya nggak tau pingin, tapi ya gimana. Yaudahlah, kemudian dibalutlah dengan kata-kata, oh ya, saya orang baik. Walaupun dia tidak membutuhkan pengakuan dari online, tapi sebenarnya dia membutuhkan pengakuan dari dirinya sendiri. Dan dia merasa bangga, merasa nyaman, dan sebagainya. Tapi lagi-lagi, hal yang paling penting bukan masalah membantu atau tidak, tapi kita jujur pada diri kita. Sebenarnya kita ingin membantu atau ingin menghindari rasa bersalah. Kalau Anda menghindari rasa bersalah, sebenarnya Anda bukan orang baik, tapi lemah. Salam bagia dari saya, Jovin Vasdev.











