Rahasia Hidup Tenang: Melepaskan Ego dan Kemelekatan | Gobind Vashdev. E36 A

In this extended interview, wellness teacher Gobind Vashdev shares his philosophy and practices for living a calm, detached, and joyful life. He explains how over‑thinking is heavier than actually doing, recounts his 13‑year barefoot charity walk (nyeker) that began from a foreign fundraising trek, and describes the health benefits he attributes to grounding—daily contact with earth, stone, sand, or grass—to balance the body’s positive ions. Vashdev also challenges conventional hygiene, preferring water, salt, and oil‑pulling over soap, shampoo, and toothpaste, and urges people to question habits inherited from family. He discusses the concept of ownership, advocating a copy‑left approach where ideas are freely shared, and explains why he refuses commercial endorsements that conflict with his values. The conversation delves into ego, attachment, and love, proposing that love is the absence of hatred and that societal status symbols (luxury items, titles) are illusory. He offers practical steps to cultivate ikhlas (sincere surrender), respect everyone without deference, and respond calmly to criticism. Throughout, Gobind blends personal anecdotes, references to research on grounding, and spiritual reflections to illustrate a life centered on giving, self‑awareness, and inner peace.
Chapters
Omongan orang nggak pernah mengganggu manusia. Tidak pernah. Kita tidak pernah terganggu oleh omongan orang. Yang mengganggu adalah pikiran kita sendiri, yang mikirin orang lain, yang sedang ngomongin kita. Jadi sebenarnya gangguannya di kita, bukan di dia. Ih, kelas ini bagaimana? Kenapa susah? Iya kan? Kita selalu cuma diajarin kata-kata. Kita gak bisa sabar dengan hanya baca kitab suci. Gak bisa. Kita gak bisa ikhlas dengan dengar ceramah podcast begini. Gak bisa. Kita harus berpraktek keikhlasan. Satu tahun nih. Satu tahun mikirin itu untuk bisa benar-benar lepas patuh. Tapi yang menarik, Rodi, setelah satu tahun ada ratusan ketakutan itu, setelah dijalanin, ternyata semuanya tidak terbukti. Artinya bahwa di dunia ini yang paling berat itu bukan menjalanin, tapi mikirin sesuatu yang belum dijalanin.
Tadi Bapak mengatakan nggak pakai sabun, nggak pakai shampoo, nggak pakai pasta gigi, itu juga baca. Apa yang Bapak pakai dan kenapa?
Air.
Air aja?
Saya bukan anti sabun, shampoo, dan sebagainya. Boleh, kita boleh lakukan apapun. Tapi pertanyaannya, kita berpikir nggak sebelum melakukannya? Atau kita cuma ikut-ikutan, karena bapak saya pakai sabun, ibu saya pakai sabun, kakek nenek saya pakai sabun, maka saya harus pakai sabun? Kita nggak mempertanyakan sesuatu yang normal. Jihad terbesar atau jihad pada diri kita sendiri, pada kemarahan, kebencian, dan sebagainya, itu yang kita hilangkan sampai kita ketemu dengan cinta itu sendiri.
Ada satu cara gratis dan gampang banget buat support channel ini terus berkembang dan sharing hal-hal yang bermanfaat buat kita semua, yakni dengan subscribe. So please hit that subscribe button dan yuk kita tumbuh dan belajar bareng dengan Room for Improvement. Thank you. Episode kali ini spesial banget karena kita akan belajar soal hidup tenang, hidup ikhlas, hidup bahagia, dan juga grounded. Dan tidak ada orang yang lebih tepat untuk ngajarin kita, untuk ngasih kita masukan, insight daripada Pak Gobind Vashdev. Pak Gobind, apa kabar?
Kabarnya bahagia.
Pak Gobind ini adalah hard worker, inspirator, tapi kalau saya boleh menyebutnya juga merupakan wellness guru. Welcome to Room for Improvement, Pak Gobind.
Terima kasih untuk ngundang saya. Senang sekali. Thank you, Ori.
My pleasure. Dan satu hal yang pasti kalau teman-teman coba browsing atau google atau cari di Youtube yang namanya Pak Gobind, beliau selalu kemana-mana nyeker. Jadi saya pun senang banget, lega banget akhirnya karena Narsum nyeker, saya juga harus nyeker. Tapi ini menjadi pertanyaan one million dollar question, Pak Gobind. Dan saya yakin sudah dibahas di banyak podcast. Tapi nanti saya pengen tahu lebih dalam. Why Nyeker itu penting untuk Pak Gobind? Dan ini sudah dilakukan selama 13 tahun. Why Nyeker, Pak?
Kenapa Nyeker? Awalnya adalah karena saya ingin terinspirasi oleh gerakan-gerakan orang asing yang ada di Bali. Mereka mengumpulkan dana untuk anak-anak terlantar. Jadi mereka itu awalnya berkeliling 500 km, kemudian mereka fundraising untuk dapat anak-anak terlantar, dan sebagai solidaritasnya mereka nyeker juga begitu. Awalnya saya cuma tahu sekilas aja, kemudian setelah 500 km mereka berkeliling itu, mereka bikin selebrasi kecil di situ, dan kemudian saya diundang, dan saya datang ke sana saya main sulap, karena saya suka main sulap, dan kemudian kenal dengan mereka. Setelah beberapa bulan kemudian, saya ketemu dengan orang asing itu, namanya Robert. Dia bilang gini, Hai Gobind, apa kabar? Aku baik-baik saja. Apakah kamu masih ingat aku? Aku bilang, ya ya ya, kita pernah ketemu, tapi saya nggak ingat siapa nama kamu. Maaf. Aku seorang manusia. Suleman itu kan yang acara itu, yang nyeker itu. Kemudian saya lihat ke bawah, loh kamu kok masih nyeker? Bukannya acara itu udah selesai gitu ya. Sampai kapan? Nah jawaban sampai kapan inilah kemudian menonjok diri saya. Dia bilang, sampai tidak ada satu anak pun di Indonesia yang terlantar. Saya bilang, loh tunggu dulu. Ini mungkin program seumur hidup. Ya mungkin aja dia bilang seperti itu. Terus saya berpikir, dia orang asing datang ke Indonesia mau mengumpulkan dana untuk anak terlantar. Sementara saya lahir di Indonesia, besar di Indonesia, makan makanan Indonesia dan menghidup udara Indonesia. Terus apa yang saya bisa lakukan untuk kehidupan ini? Apa yang saya lakukan selama setahun, saya mikir, mikir, mikir, mikir. Sampai akhirnya suatu saat saya bilang, saya kepingin mendukung gerakan ini. Walaupun saya tidak dalam organisasinya, tapi apa yang saya bisa munculkan. Kemudian saya melepas sandal dan sepatu, dan kemudian membawa slide soulman itu kemana-mana. Dan kemudian berharap orang untuk terinspirasi, untuk melakukan gerakan-gerakan sejenisnya. Apakah kalau kita suka dengan lingkungannya, lakukan untuk lingkungan, untuk hewan, untuk manusia, atau apapun. Yang penting, Kita mesti tahu bahwa kita ini beruntung sekali hidup di dunia ini, menjadi manusia dan punya begitu banyak hal. Lakukan sesuatu untuk kehidupan lebih baik.
Awalnya dari charity berarti, charity program. Tapi kemudian berlanjut dan bahkan jauh lebih itu, soal grounding, soal Bapak percaya lebih sehat. Tapi efeknya gimana Pak, setelah Bapak selama 13 tahun nyeker ke mana-mana?
Yang pertama adalah saya harus berhadapan dengan pikiran saya sendiri ketika orang melihat saya nyeker dan sebagainya. Pelajaran besarnya selain itu semua adalah bahwa selama setahun itu mikir, bisa nggak ya, boleh nggak ya, nanti ke airport bagaimana, nanti kalau orang bilang bagaimana, keluarga bilang apa, penghasilan bisa tetap atau tidak. Satu tahun nih, satu tahun mikirin itu untuk bisa benar-benar lepas patuh. Tapi yang menarik, Rodi, setelah satu tahun ada ratusan ketakutan itu, setelah dijalanin, ternyata semuanya tidak terbukti. Artinya bahwa di dunia ini yang paling berat itu bukan menjalanin, tapi mikirin sesuatu yang belum dijalanin. Kalau orang Jawa bilang kafir, keakhian pikiran.
Kita overthinking dulu, takut dulu.
Betul. Tapi ketika dijalanin ternyata nggak ada. Kalaupun terjadi sesuatu pun itu sangat-sangat kecil dan lebih-lebih sengsara bayangannya daripada kejadiannya. Seperti itu.
Kenapa aku? Kenapa Link?
Iya itu orang semua bilang gitu, ternyata nggak begitu.
Tapi fisiknya apa yang Bapak rasakan dengan yang kayak ini Pak?
Nah kemudian tahun 2011 itu, itu ada sebuah penelitian yang cukup dapat award cukup tinggi, dikatakan grounding. Grounding ini dikatakan bahwa kita itu dapat banyak ion positif dari matahari, tapi kita nggak dapat elektron negatif dari bumi. Ketidakseimbangan magnetik di dalam tubuh kita itu menyebabkan masalah kesehatan. Ada yang mengatakan bahwa strok itu terjadi di lantai 2 lebih banyak daripada lantai 1. Sehingga semakin tinggi kita tinggal, semakin nggak sehat. Apalagi lantai 2-6.
Lantai 26 ya. Nggak apa-apa kok, saya sering-sering ke bawah kok Pak.
Tapi orang nggak harus nyekir seperti saya. 24 jam itu kan misi pribadi sendiri, misi sosial kan. Tapi paling tidak dalam hidup kita itu satu hari, 30 menit aja lah hubungkan diri kita dengan batu, pasir, tanah, rumput. Keempat media ini mengeluarkan elektronegatif di mana itu akan membuat kita tidur kita lebih nyenyak. mood lebih baik, kemudian kita juga mendapatkan, kalau ada inflamasi itu lebih cepat sembuh, imunitas meningkat, penelitian terakhir, heart rate stabil, gula darah lebih stabil, bahkan tekanan darah juga lebih stabil. Ada sekitar 20 jurnal yang mendukung penelitian-penelitian tentang grounding ini sendiri.
Bapak mengalami sendiri?
Iya, saya mengalami bahwa moodnya lebih baik, lebih enak dan sebagainya. Cuma saya nggak pernah ngecek, karena ya baik-baik aja begitu loh.
But you're physically very fit, Pak.
Iya, iya. Saya pikir banyak sekali manfaatnya.
Oke, ada mungkin murid atau teman yang mengikuti pola hidup Bapak dengan nyeker dimana-mana? Atau at least dengan menjalankan sehari 30 menit itu dan ada perubahan?
Iya, banyak sekali yang melakukannya. Teman-teman itu paling tidak 30 menit sehari mereka melakukan nyeker. Dan mereka tesimoni kepada saya bahwa itu jauh lebih baik. Apalagi sekarang, Rory, di mana-mana kan Wifi ya. Kemudian handphone nggak pernah lepas dari tubuh kita. Semua radiasi itu kalau kita nggak grounding, maka kita akan paling tidak terkena efek dari situ. Di sini ya, grounding di sini tidak harus jalan. Tapi menghubungkan diri. Jadi bagi orang yang mungkin nggak punya tempat atau mungkin berbahaya, takut dengan batu dan beling itu, paling tidak hubungkan diri kita dengan batu, pasir, tanah, rumput, 30 menit dan rasakan itu.
Berarti duduk boleh, berdiri juga nggak apa-apa, nggak harus jalan ya Pak. Cuman kebanyakan orang bukan takut nggak ada ruangnya atau takut belingnya Pak, takut omongan orang. By the way, Pak Gobin, pernah diomongin orang, ibarat Jawanya, dirahsani nggak ketika Bapak misalnya di bandaranya ker atau di hotelnya ker, ini orang ngapain sih cari perhatian atau apa? Pernah nggak, Pak?
Pernah. Jadi gini, sebenarnya orang Indonesia ini baik. Kenapa? Karena kalau dia ngerahsani itu bisik-bisik. Tapi kalau muji berani langsung. Tapi kalau ngomong kan pasti di belakang. Suatu hari saya di bandara Taiwan kalau nggak salah. Ya, suatu hari saya transit di situ, saya jalan, kemudian ada pekerja migran di situ. Dan pada saat itu, dia ngomong bahasa Jawa. Liat-liat orang ini nggak pakai sepatu, segitu-gitu ya.
Liat-liat orang ini nggak pakai sepatu.
Anda dikatakan apa, Pak? Dikatakan, kok gitu sih? Gitu lah, aneh-aneh ya. Seperti orang ngerasain gitu sama temennya. Dikirain saya bule gitu ya. Terus habis itu saya langsung nyaut, nggak apa-apa, Bapak, biasa. Dia kaget, lu kok bisa ngomong Jawa? Terus dia responnya gimana, Pak? Dia malu. Dia ngamuntin, Pak. Itu kejadian real di Banara Taiwan. Saya ingat sekali itu terjadi. Jadi ya, pada dasarnya begini, Rory. Di dalam kehidupan ini saya selalu percaya bahwa kita nggak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar diri kita. Kita merasakan ketakutan kita, keserakan kita, kebencian kita, dan semua ada di dalam diri kita. Omongan orang nggak pernah mengganggu manusia. Oke. Kita tidak pernah terganggu oleh omongan orang. Yang mengganggu adalah pikiran kita sendiri, yang mikirin orang lain yang sedang ngomongin kita. Jadi sebenarnya gangguannya di kita, bukan di dia. Saat ini kita seperti ini, mungkin ada ribuan orang ngomongin kita di belakang. Tapi kan baik-baik saja. Tapi kemudian pikiran kita yang mikirin dia ngomongin kita, itulah yang bermasalah. So, harusnya kita bermasalah dengan diri kita sendiri, bukan sama orang lain. So, itu kita perlu sadari.
Ini kayak Mbak Rathi Ibrahim, seorang sekolah klinis yang pernah bilang, pernah saya wawancara juga, pernah bilang bahwa kita tuh nggak bisa mengontrol apa yang orang lain sampaikan atau pikirkan soal kita. Yang bisa kita kontrol adalah diri kita sendiri. So, ada hal yang bisa kita kontrol, yakni diri kita sendiri. Sementara di luar itu, let it be.
Dan itu rahasia bahagia.
Tapi gini, ini masih karena saya penasaran banget. Oke ada Mbak-Mbak pekerjaan pengegaran Indonesia yang ngerasain Bapak, ngomongin Bapak di belakang. Tapi ketika dalam forum-forum resmi, misalnya di acara besar, di hotel, atau di convention center gitu. Mata langsung akan tertuju kepada orang, kok nggak pake sepatu sih? Bapak gimana meregulasi itu? Meregulasi diri Anda?
Yang pertama adalah, ada 3 respon dalam kehidupan normalnya. Yang pertama adalah cuek. Dan ini yang paling rendah. Jadi kalau ada orang ngomong gitu, emang gue pikirin? Dia mau mikir apa? Aku ini punya misi sosial, urusanku dong. Banyak orang bilang, emang gue pikirin, emang gue... Ini adalah, menurut saya adalah sebuah kesadarannya yang paling rendah. Cuek. Ini berbahaya banget sih sebenarnya. Yang kedua adalah kesadarannya fight or flight. Fight itu berarti, apa lu? Lu tau gak gue ini melakukan ini untuk sosial. Tau gak? Kita ingin meyakinkan orang bahwa saya ini melakukan ini, ada kebenarannya, ada ininya.
Social justice warrior.
Kemudian yang ketiga adalah menyadari. Bahwa saya sadar bahwa setiap orang itu di program bahwa orang itu harus pakai sepatu, orang itu harus pakai sandal, keluar itu kalau gak pakai sepatu jorok, apa ini itu. Dan kalau dia memikirkan gitu, saya menyadari. Jadi saya gak kepikiran fight, saya juga gak cuek. Saya menyadari pikiran-pikiran orang tersebut. Sehingga ya baik-baik aja. Orang itu tanya, ya saya jawab. Kalau gak tanya, ya gak apa-apa. Saya sadar dengan itu. Itu saja. Jadi ya, nggak terganggu.
Padahal ini signifikan sekali untuk tidak memakai sepatu kemana-mana, tapi Bapak bisa meregulasi pikiran itu. Dan Bapak membeli yang ketiga.
Itu pada semua hal kalau bisa seperti itu.
Tapi masalahnya orang kemudian jadi overthinking dan jadi berpikir ini sepatu apa. Tapi ada orang yang berpikir bagaimana dengan bentuk tubuh saya, bagaimana dengan warna rambut saya, bagaimana dengan tinggi badan saya, bagaimana dengan penampilan saya, baju yang saya pakai. Yang akhirnya orang harus kadang-kadang menyesuaikan dengan orang lain padahal itu bukan dia. Atau misalnya kalau dalam konteks kehidupan di kota besar, kamu harus punya sesuatu dulu agar bisa masuk ke sosialitas tertentu. Punya tes Hermes, misalnya. Punya jam Rolex, misalnya. Untuk diterima dalam sosialitas tertentu dan merasa menjadi bagian dari itu.
Bapak melihatnya gimana?
Orang-orang yang harus menyesuaikan dirinya dia untuk mengikuti standar hidup orang lain, Pak.
Betul sekali, nggak ada salahnya. Maksud saya begini, setiap orang punya kesadaran masing-masing, kalau kesadarannya di sana, nggak ada salah juga. Pada dasarnya kita mesti tahu bahwa sebelum kita bisa menerima diri kita sendiri, kita butuh penerimaan orang lain. Sebelum kita bisa mencintai diri sendiri, kita perlu cinta dari orang lain. Jadi pada dasarnya karena kita kurang di situ, kita kurang itu maka kita perlu hal tersebut. Karena apa? Waktu dari kecil kita disuntik begitu banyak narkoba, yaitu Persetujuan, penerimaan, pujian, penghargaan, dan sebagainya. Waktu kita besar, kita nggak dapat mendapatkan itu semua. Sehingga kita butuh itu semua. Maka itu kenapa kita ingin jadi juara. Karena juara dihargai, diterima, gitu ya. Kemudian kenapa kalau kita ingin jadi kaya. Orang kaya mobilnya parkir, boleh di depan, di lobi, dibukain pintunya, diterima. Kenapa ingin cantik? Kenapa kalau cantik dipuji, dihargai, dan sebagainya. Jadi kita butuh itu semua untuk mendapatkan itu. Maka itu... Kita ingin memunculkan diri kita untuk mendapatkan narkoba-narkoba itu. Apakah itu salah? Tidak. Setiap kali kita beli rumah, beli mobil, beli baju, beli apa. Kita ada motif-motif untuk mendapatkan narkoba itu, betul? Apakah itu salah? Tidak. Itulah ego. Ego tidak salah. Ego hanya tidak sadar. Jadi, mau nggak kita menyadarin itu semua? Pada dasarnya kalau saya pergi ke pesta, saya pakai batik, tujuannya apa? Supaya saya diterima. Karena kita akan batik semua supaya saya diterima. Nah, padahal ya itu kan Persepsi kita diterima atau tidak gitu. Padahal kalau kita punya nilai harga diri sendiri yang tinggi, kita sebenarnya nggak butuh penerimaan orang. Kita perlu menerima diri kita sendiri dulu. Kalau saya menilai diri saya tinggi, maka orang akan otomatis suka bersama saya, begitu. Tapi lepas dari itu, yang satu hal yang saya ingin sampaikan di luar itu adalah menariknya dalam kaum-kaum seperti itu adalah walaupun kita butuh penerimaan, kita butuh signifikan. Para sosialita itu ngumpul dengan sosialita, berarti kan sama kan? Mereka sama. Tapi mereka butuh signifikan. Mereka ketemu tasku Ermi, tasku Elvi, tasku yang lebih mahal. Jadi mereka itu bersaing pada persamaan. Dia butuh persamaan, tapi dia butuh persaingan. Seperti itu. Jadi paradoks sih sebenarnya.
Butuh persamaan, tapi di sisi lain juga butuh persaingan.
Mereka ingin bersaing dengan kelompok yang sama.
Apa yang sebenarnya digapakan dengan bersaing?
Kalau saya bawa tas yang lebih mahal, saya pasti dapat dianggap. Ingat ya, dianggap loh ya. Bukan belum tentu orang uji kita, tapi kita merasa bahwa orang akan melihat saya dan kemudian melihat tasku mahal, berarti aku sukses dan sebagainya. Dia senang, dia merasakan hormon dopamine atau apapun itu yang membuat dirinya bahagia. Nah, selama orang bisa mengatur hormon-hormon di dalam dirinya dengan cara-cara yang lain, contohnya nafas, meditasi, dan sebagainya, maka hal itu nggak begitu signifikan lagi.
Tunggu Pak Gobind, saya pengen sekarang bertanya dari perspektif orang yang melihat. Saya membayangkan misalnya Pak Gobind bawa mobil mewah. McLaren misalnya, atau Porsche. Apakah ketika orang lain melihat itu, orang lain melihat mobilnya keren atau melihat Pak Gobindnya yang keren? Atau orang itu melihat mobil itu dan bagaimana kalau mobil itu saya yang memiliki? Wah saya pasti akan keren banget. Atau wah saya nggak punya mobil itu berarti saya orang gagal. Ketika orang lain melihat Pak Gobind dengan mobil keren itu, di antara tiga ini Pak. Sebenarnya mana yang mereka pikirkan?
Mereka nggak akan mikirin, yang pasti mereka nggak akan mikirin orang di dalamnya.
Mereka nggak akan mikirin, Pak Gobind keren. Mereka nggak akan mikirin itu.
Nggak, tapi kita mikirin bahwa orang lain akan mikirin kita sukses. Padahal kalau kita lihat mobil keren, keren ya mobilnya ya. Nggak mikir, siapa yang punya, hebat. Nggak, nggak, nggak. Mobil keren, saya ingin punya mobil seperti itu, bahkan dianggap keren. Padahal kita... Sebagian besar apa yang dipikirkan orang dan apa yang kita pikirkan itu berbeda. Persepsi-persepsi kita itu berbeda. Dan sebagian besar orang memikirkan, nanti kalau aku bawa ini, orang akan mikir saya keren. Tapi sebenarnya orang lebih tertarik pada mobilnya daripada orangnya sebenarnya.
Wow, ini mindset shift yang penting banget sih. Seperti apapun barang yang kita punya, barang yang kita bawa, orang mungkin akan memuji barangnya bukan kitanya ya. Tapi pikiran kita menganggap orang lain memuji kita.
Betul sekali.
Wow, namparan banget.
Jadi begini, kita itu kan punya persepsi, brand-brand besar itu kan mempersepsikan sesuatu, wow, kalau Anda pakai ini, Anda bisa seperti artis ini atau ini dan sebagainya. Dan kemudian ketika kita punya barang itu, kita itu mengidentifikasi diri kita dengan barang tersebut. Identifikasi idem and fasere. Idem itu sama, menjadi sama dengan barang tersebut. Oke. Sehingga kita seolah-olah, oh aku ada di kelompok yang sama seperti artis ini atau para celebrity ini dan sebagainya. Dia merasa seperti itu. Dan ketika barangnya hilang, dia merasa bagian dari dirinya yang hilang. Sehingga dia kesedih itu sebenarnya mencari bagian dirinya yang telah di... Tempel di barang tersebut. Seperti itu.
Pak Gobind, sekarang saya ingin membahas soal kemelekatan dan juga ambisi. Banyak orang yang ingin menjadi yang terbaik atau paling kaya, paling terkenal, paling ganteng, paling cantik, paling sukses. Saya ingin tanya dulu, Pak Gobind sebagai guru kesehatan, sebagai guru banyak orang, Nggak pengen, Pak. Jadi wellness guru yang paling dikenal, paling populer, paling kaya, paling berpengaruh.
Saya percaya bahwa di dunia ini nggak ada ruang hampah. Apapun yang kita lempar kembali ke kita. Jadi fokus saya adalah bukan dapetin, tapi apa yang saya bisa berikan. Jadi dalam otak saya ketika saya bangun pagi, apa yang saya berikan. Apakah itu melalui konten, melalui edukasi, melalui apapun dan sebagainya. So fokusnya disana dan saya percaya bahwa apapun yang kita lempar itu kembali ke kita. Jadi efek dari kemudian nanti saya jadi kaya, kemudian saya jadi terkenal atau apapun itu karena efek-efek dari apa yang saya sudah berikan kepada kehidupan ini sehingga saya mendapatkan hal tersebut. Ya seperti itu, jadi fokusnya bukan saya harus nanti jadi juara satu dari wellness, semuanya kalah, bagaimana caranya dan sebagainya. Enggak, enggak fokus di sana. Tapi ngasih edukasi sebanyak mungkin, itu sudah saya lakukan berpuluh-puluh tahun. Dulu belum ada media sosial, saya keliling-keliling daerah konflik, daerah bencana, rumah sakit, pantai asuhan, dan sebagainya. Sebagian besar dari hidup saya adalah untuk masyarakat, seperti itu.
Tapi secara realistik, Pak Gobind, kalau misalnya kita hanya memberi-memberi, lantas gimana kita bisa hidup? Gimana kita bisa hidup nyaman, hidup layak? Padahal itu juga keinginan semua orang kan, Pak. Lalu bagaimana Anda menyeimbangkan antara memberi dengan Bapak juga menerima?
Iya. Oke. Jadi... Apa yang saya lakukan ini, ini bukan cuma teori saja, tapi sejak tahun 2003, itu kan saya mulai mengajar. Dan pada saat itu saya 100% adalah sosial. Kemudian 2007, berarti 4 tahun kemudian, saya itu mengatakan saya ingin menjadi profesional. Artinya apa? Kalau ada orang tanya, berarti saya akan memberikan harga. Kalau ada yang minta, perusahaan yang minta. Jadi apa yang terjadi? Setiap hari saya berbicara lebih dari 30 kali. Tanpa iklan, tanpa apapun. Nah 20% atau 10, 15% sampai 20% itu perusahaan yang minta. Jadi 80% saya lari ke sosial-sosial itu dan sebagainya. sosial jadi ke rumah sakit, pantai asuhan, dan sebagainya. Kemudian 20% perusahaan yang manggil saya, Pak Gobind, bisa nggak berbicara di sini? Nah di situ, saya tahu nilai saya. Saya tahu bahwa harga saya itu sangat-sangat tinggi. Dalam arti nilai bukan uang dulu. Jadi kalau diuangkan itu Sekali saya bicara, mungkin saya bisa hidup waktu itu berapa bulan atau berapa tahun. Jadi saya hanya perlu dalam satu tahun beberapa kali ngisi, saya bisa hidup seperti itu. Itu jaman tahun 2007-2017 kurang lebih. Jadi 10 tahun saya hidup seperti itu dan baik-baik saja. Dan saya bisa keliling dunia dan sebagainya. Kemudian di 2017, disitulah saya mencabar diri saya untuk menjual kelas. Dan sampai sekarang baik-baik saja, menurut saya kelas saya selalu rame, dan kemudian fokus saya adalah memberi dan memberi. Jadi kalau seandainya orang menjual kelas itu nilainya segini, saya kasih nilainya yang sangat lebih dan bahkan komitmen saya seumur hidup di situ. Jadi orang bayar satu kali, contohnya kelas Buteko gitu. Apa yang terjadi? Saya ada gathering, ada namanya aplikasi yang seumur hidup, ada namanya grup WhatsApp yang dimana mereka bisa bertanya. Jadi boleh dibilang nilai yang saya berikan. sama nilai yang saya dapat, saya percaya apa yang saya berikan jauh lebih besar daripada itu. Disitulah kemudian biasanya perusahaan-perusahaan mulai menggil saya dan sebagainya. Dan sampai sekarang saya belum terima endorse apapun.
Bapak nggak terima endorse? Belum. Kenapa?
Belum terima endorse, satu karena... Sebagian endorse nggak cocok dengan saya, kalau saya dikasih endorse skincare lah, saya tuh nggak pakai sabun, nggak pakai sampul, terus gimana? Iya kan? Itu satu. Terus yang kedua adalah banyak produk-produk yang lain yang emang saya nggak pernah gunakan. Jadi seolah-olah saya berbohong dong, inilah bagus lah, tapi sebenarnya ini... Belum pernah saya gunakan. Gimana saya bisa meng-endorse? Nah, kalau saya selalu bilang, kalau produk itu saya gunakan dan saya suka, dan saya suka nilai-nilai yang ada di perusahaan tersebut, orangnya dan sebagainya, dengan senang hati saya akan bilang, saya pakai ini dan silahkan, Anda nggak perlu bayar, begitu. Tapi sampai sekarang hati saya untuk terima uang karena endorse, itu belum satu rupiah pun.
Tadi Bapak mengatakan nggak pakai sabun, nggak pakai shampoong, nggak pakai pasta gigi, saya juga baca. Apa yang Bapak pakai dan kenapa?
Air.
Air aja? Sikat gigi pakai air, shampoo air?
Oke, shampoo dan sabun itu air. Kalau waktu sikat gigi saya pakai garam. Atau saya kumur-kumur sama oil pooling namanya pakai minyak wijen atau minyak kelapa. Itu saya kumur-kumur, kemudian saya buang, kemudian saya sikat pakai garam. Udah. Atau air saja cukup.
Kenapa dengan tiga produk itu?
Pertanyaannya bukan kenapa, kenapa harus pakai sementara di seluruh alam semesta ini nggak ada yang pakai. Maksud saya begini, saya bukan anti sabun, sampo dan sebagainya. Boleh, kita boleh lakukan apapun. Tapi pertanyaannya, kita berpikir nggak sebelum melakukannya? Atau kita cuma ikut-ikutan, karena bapak saya pakai sabun, ibu saya pakai sabun, kakek nenek saya pakai sabun, maka saya harus pakai sabun. Kita nggak mempertanyakan sesuatu yang normal. Boleh aja, kalau kita udah dapat sesuatu yang benar-benar kita tahu, kita pertanyakan, kita kritis, ya lakukan, nggak apa-apa. Tapi kan sebagian besar kan nggak melakukan itu. Ngikut aja, ngikut arus aja gitu. Nah penting banget, saya bukan anti sabun, tapi saya berpikir, eh saya ini nggak pake dan baik-baik saja, dan orang bilang keringet bau. Nggak keringet, pada dasarnya nggak ada di dunia ini keringet bau seperti itu. Kita nggak pernah berpikir sampai di situ, nggak mempertanyakan sesuatu yang benar-benar normal dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seandainya kita nih ganti baju setiap hari, loh kalau bajunya itu tidak bau, bajunya masih bersih seharian kita di ruangan ini, lalu ngapain mesti ganti lagi? Kan bisa dipakai lagi, contohnya seperti itu. Dan banyak hal di dunia ini yang perlu sebenarnya kita pertanyakan. Sampai kita tahu fondasinya itu baru kemudian kita melangkah itu karena ada fondasi berpikir. Belum tentu saya benar. Ketika saya mendapatkan pelajaran baru, mungkin saya akan berganti. Itu oke, improvement. Tapi sampai sekarang, saya nggak pakai sabun. Sabun baik-baik aja, saya oke dengan ini semua dan nggak kelihatan jorok-jorok juga kan, nggak bau juga. Jadi saya pikir ngapain saya harus beli sesuatu yang... Nggak diperlukan. Dan di sisi lain, sabun itu kan sedikit banyak akan mempengaruhi lingkungan. Yang kedua adalah mempengaruhi bakteri di dalam kulit kita. Dan kemudian menggerus minyak yang harusnya melindungi kulit kita. Ya, dan ada banyak sekali hal-hal yang menurut saya lebih baik nggak pakai daripada pakai. Ya saya putuskan untuk tidak pakai.
Sudah berapa tahun berarti, Pak?
18-19 tahun.
Dan Bapak baik-baik saja?
Keliatannya?
Ya, seperti yang saya tadi bilang, you look so fit, you look so youthful. Wow. Tanpa sabun, tanpa shampo, tanpa pasta lagi. Alright, sekarang saya pengen balik lagi ke Bapak yang memberi. Memberi, memberi, memberi. Termasuk buku yang judulnya adalah Happiness Inside ini. Dan Bapak disini, saya sempat ketawa ngakak dan nggak percaya bahwa ada orang seperti Pak Gobind. Orang biasanya berlomba-lomba untuk menyelamatkan hak penulis mereka, properti intelektual mereka, makanya orang buru-buru daftarin IP, gitu kan? Dan mereka juga akan menuntut tuh, yang kemarin artis-artis penyanyi-penyanyi rame banget, ya kan? Kita nggak bisa nyanyiin lagu atau muterin musik mereka sembarangan, termasuk buku. Penulis akan marah banget kalau kita misalnya mencuri hak kekayaan intelektual tanpa atribusi, tanpa kredit yang proper, gitu. Sementara Bapak, membebaskan orang untuk ngopi ini, untuk ngopi dan ngejual lagi, sharing, bahkan tanpa mencantumkan nama Pak Gobind di sana. Bahkan orang juga mengeksploitasi ngopi-boki ini, jual, diganti judulnya tanpa ada nama Pak Gobind di sini, seolah-olah dia yang menulis dan jual di marketplace ataupun secara online. Kok gak marah? Kok gak protes?
Kenapa Pak?
Ini adalah intisari Anda.
Konsep kepemilikan itu baru saja ada di dunia ini. Selama ratusan ribu tahun manusia tidak punya konsep kepemilikan. Seperti yang binatang atau hewan yang lain dan sebagainya. Konsep itu baru ada beberapa ratusan atau beberapa ribu tahun terakhir ini. Kalau kita mau melihat suku-suku yang ada di dunia ini, yang di perdalaman dan sebagainya, mereka contohnya menanam rame-rame gitu ya. Atau sendiri mereka menanam sana-sini. Begitu mereka panen, panen itu dibagi semua rata. mereka memasang jebakan untuk binatang berburu gitu ya. Kalau satu dapat, semua dibagi rata. Itu di suku-suku yang ada sampai sekarang juga ada di yang lain. Nah, ketika orang-orang Indian di Amerika sana, ketika orang-orang Eropa itu datang ke sana, mereka kemudian datang dan kemudian mereka meminta suku, kepala suku itu menandatanganin atau cap jempol, apapun itu, dan kemudian dia bilang, sekarang ini tanah milikku. Dia bingung. Tanah kok dimiliki? Ini loh ada begitu banyak tanah. Kamu bisa tinggal di sana, di sana tinggal pilih aja begitu. Kenapa kok bisa dimiliki? Jadi di dalam otaknya kok kepemilikan itu nggak masuk akal begitu loh. Nah, kita mengembangkan nilai ini. Dan akhirnya kita berpikir bahwa ini milikku, itu dan sebagainya. Jadi, ini nggak salah. Ini bukan salah atau benar. Tapi itu adalah nilai yang ditanamkan dalam kehidupan ini. Oke. Terus kemudian kalau saya punya dan kemudian saya mau bagikan ke semua orang, itu kan ya nggak ada masalah gitu. Maksud saya begini, saya itu ngajarin kebahagiaan. Dan di buku itu adalah konsep adalah memberi ikhlas, pasrah. Tapi coba bayangkan kalau kita membeli buku yang mengajarkan kita ikhlas, pasrah, dan sebagainya. Dan halaman pertama, bagi siapa yang akan mendapat penghukuman? Itu nggak masuk akal menurut saya. Masuk akal nggak sih? Aneh-aneh diajarin di buku itu tentang bagaimana ikhlas. Tapi kemudian kalau kamu melakukan ini, aku nggak ikhlas.
Kan?
Tapi itulah bisnisnya, Pak. Iya nggak sih, Pak? Kan aneh, kan?
Iya sih.
Jadi saya pikir... Ini kok nggak masuk akal ya? Yaudah, itu yang pertama. Itu hal pertama. Yang kedua adalah, di dunia ini kita tahu bahwa kita ingin sukses. Sukses itu berarti mencapai, menggapai, meraih apa yang kita inginkan. Tapi kita nggak boleh berhenti di situ. Kita juga ingin satu hal yang lain, yaitu bahagia. Dan bahagia itu kan melepas ikhlas, pasrah, berserah. Nah ketika orang bertanya pada saya, Ini Pak yang susah, melepas itu Pak. Meriklas itu bagaimana susah? Saya bilang, kenapa kok susah? Saya selalu ngasih sebuah analogi nih, begini ya. Contoh benda ini, saya mau tanya. Ini saya lepaskan, kemudian saya ambil. Saya lepaskan lagi, kemudian saya ambil. Lebih gampang mana? Melepas atau mengambil? Melepas lebih gampang. Tapi kenapa kok melepas itu susah? Karena kita nggak pernah praktek. Dari kecil kita diajarin bagaimana mencapai, menggapai, meraih. Nah kamu harus juara 1, kamu harus nilainya bagus, masuk 10 besar. So kita dipaksa untuk bagaimana mencapai, menggapai, meraih. Kalau seandainya seseorang menantang, tahun depan YouTube ini naik 10% target audiensi atau subscribernya, kita tahu langkah-langkahnya. Kita mesti pakai ini, pakai ini, pakai ini, kita tahu langkahnya. Tapi ketika hari ini saham jatuh contohnya, atau Bitcoin kita hancur, atau investasi kita lenyap dan sebagainya. Pertanyaannya kekacauan itu mau diapain? Perasaan yang kacau itu gimana? Paling kita curhat. Dan teman kita bilang, ya sudah ikhlasin aja. Iya, semua orang tahu ikhlas. Tapi pertanyaan bagaimana caranya ngikhlas? Nah kemudian saya bertanya bagaimana caranya supaya ikhlas dalam hidup kita? Kita itu di Indonesia itu suka dengan kata-kata spiritual. Ikhlas berserah, pasrah, guru, pendeta, orang tua pejabat selalu berbicara tentang itu. Tapi coba sekali-sekali datang ke orang tersebut, tanya, saya mau ikhlas. Bagaimana realnya? Step by step-nya bagaimana? Seperti saya step by step untuk mendapatkan uang itu kan saya tahu step-step-nya. Meningkatkan omset saya tahu step-step-nya. Tapi ikhlas ini bagaimana? Kenapa susah? Ya-ya karena kita Iya kan? Kita selalu cuma diajarin kata-kata. Kita gak bisa sabar dengan hanya baca kitab suci. Gak bisa. Kita gak bisa ikhlas dengan dengar ceramah podcast begini. Gak bisa. Kita harus berpraktek keikhlasan. Jadi, ini adalah praktek keikhlasan saya. Ketika saya melihat buku saya dibaca, perasaan saya kacau kan. Lah bagaimana saya berhadapan dengan perasaan tersebut? Ketika saya punya Wisdom Shop, Wisdom Shop itu sebuah toko online yang jual produk-produk yang natural begitu. Jadi setiap orang boleh belanja dan setelah barang dikirim baru dikasih nomor keningnya. Jadi sebenarnya orang itu bayar atau nggak nggak tahu. Seperti itu. Jadi, saya berpikir bahwa kalau kita ingin bahagia, kita ingin ikhlas, kita nggak bisa baca kitab suci dan dengar podcast aja atau ceramah. Kita harus berpraktek. Nah, salah satu praktek yang saya lakukan adalah ini.
Yang menulis dan menjual ulang biasanya jual berapa, Pak?
Saya nggak tahu, tapi saya... Agak kesel, karena keselnya ini masalahnya gini. Mereka membacak softcopy-nya dijual seribu rupiah. Saya tuh bukan keselnya gini, kenapa lu nggak jual 10 ribu? Kan lebih kaya, lebih... Mau-mau saya kontak gitu, saya bilang jual 10 ribu. Orang kalau beli buku seribu itu mana ada yang mau baca gitu loh. Kan nggak menghargai artinya. Orang itu, alah seribu, nanti-nanti aja lah. Jadi saya pikir, saya ke pingin DM mereka, jual 10 ribu, 100 ribu, lebih untung kamu daripada...
Lebih kaya. Dan Bapak juga disini menuliskan instead of
copyright, Bapak menulis copy left. Apa maknanya? Ya itu copy left itu sebaliknya dari copy right. Jadi copy right harus, nggak boleh di copy, kalau ini boleh di copy. Jadi... Mau diganti nama saya boleh, mau dikopi boleh, dan... anytime.
Tapi nanti pengetahuannya bukan untuk Pak Gobind
dong, untuk penulis lain yang membajak ini dong. Yang penting adalah pesannya nyampe, bukan orang yang nulis menurut saya. Kalau orang itu baca itu dan berimpak menurut saya itu udah sesuatu. Saya percaya alam semesta, alam semesta nggak ada ruang hampa itu sendiri. Dan setiap buku yang terceta saya menanam sebuah pohon untuk mengembalikan kebaikan alam.
Karena Bapak ibarannya kayak beli buku berarti kita menembang pohon, Bapak kembalikan. Apa nggak pengen jadi penulis terkenal Pak Gobind? Ini passive income lho Pak.
Maksud saya begini, saya itu nggak kepikiran menulis. Dulu itu tulisan karena dipaksa. Karena dipaksa. Jadi saya itu suatu hari saya datang ke Jogja waktu itu, gempa Jogja tahun itu. Dan kemudian ada seorang, saya sudah tulis disitu, ada seorang wartawan datang dan wartawan itu nanya ke saya, saya bilang ada keindahan dalam bencana ini.
Oh, apa itu?
Kemudian dia wawancarain. Setelah 5 menit dimatikan. Bin, tolong kamu tulis itu. Minggu depan saya akan merbitkan sebuah majalah dan saya ingin tulisan itu masuk. Saya bilang, saya nggak bisa nulis. No, kamu harus nulis. Satu minggu. Wah, setengah mati. Saya nggak bisa nulis. Saya dipaksa untuk nulis. Eh, saya pikir sekali aja. Kemudian dia telpon lagi. Tulisan kamu bagus, Bin. Keren banget. Bagus. Saya suka sekali. Akhir-akhir ini ada bunuh diri. Kemudian saya cerita. Eh, kamu tahu nggak bunuh diri itu menular, blablabla. Oh, bagus banget. Tulis dong, gitu terus dipaksa terus seperti itu. Nah akhirnya ngumpul lah beberapa tulisan, sampai 20-30 tulisan. Nah disitulah kemudian saya dipanggil Delta FM, talk show dengan Ida Arimurti, ada seorang penerbit yang mendengar Omongan saya itu, apa cerita saya, dan kemudian setelah saya setiaran itu di telpon, Pak, kami dari penerbit ini, Pak. Saya kepengen apa yang Bapak tuliskan. Saya bilang, saya sudah punya tulisan-tulisan itu, yaudah kalau gitu kasih ke saya, kami terbitkan. Saya pertamanya agak-agak nggak mau. Akhirnya dia bilang, Pak kalau Bapak nggak mau sekarang juga saya terbitkan. Ya udah lah, terbitin aja saya bilang. Jadi bukan saya yang pingin gitu. Jadi dipaksa oleh keadaan untuk begitu. Dan sampai sekarang juga saya nggak pernah jualan dalam arti jualan ke perusahaan-perusahaan, ke podcast atau apa untuk saya diwawancarain dan sebagainya. Semua mengalir secara organik sih.
Artinya sekarang lagi pertanyaan saya, Bapak nggak pengen jadi penulis terkenal?
Gak kepikiran.
Apa arti attachment atau kemelekatan bagi seseorang yang tadi Bapak sudah menjelaskan kita selalu pengen meraih, mencapai, berpunya-punya, dapet gitu. Tapi apa sih sebenarnya makna itu Pak?
Ya kebalikan dari ikhlas itu sendiri bahwa kemelekatan adalah satu, kita memberikan nilai diri kita pada melekat pada satu hal dalam hidup kita, identifikasi itu. So, apakah salah? Ya nggak salah, cuma nggak sadar aja. Dan saya pun penuh dengan kemelekatan-kemelekatan itu sendiri. Kalau dalam bahasa yang lain adalah cinta itu sendiri. Sebenarnya cinta itu adalah kemelekatan itu sendiri, kemelekatan pada sesuatu yang Tidak abadi itu sendiri. Ya, apakah cinta pada siapapun itu, termasuk anak kita, pasangan kita, dan sebagainya seperti itu. Dan itu adalah kemelekatan. Jadi sebenarnya, ya, cinta yang selama ini kita pikir cinta adalah berkebalikan dengan cinta yang sebenarnya cinta itu sendiri.
Maksudnya gimana, Pak?
Maksudnya begini. Ini cukup berat sih. Tapi saya mau mengatakan begini, bahwa kita semua gini, kita sama-sama cowok, cowok itu pasti punya, kalau saya tanya apakah kita cinta dengan pasangan kita, semua orang bilang, oh iya saya cinta. Cinta pada anak? Iya. Orang tua? Iya. Semua bilang gitu kan. Tapi sebenarnya enggak, kita enggak pernah mencintai mereka. Kita nggak pernah mencintai pasangan kita, kita nggak pernah mencintai anak kita, kita nggak pernah mencintai orang tua kita. Kita hanya mencintai konsep-konsep atau syarat-syarat yang ada di dalam diri kita. Contohnya cowok, itu kan pasti punya sosok ideal di dalam pikirannya. Cewek itu harusnya bodinya begini. Kepinteranya begini, dia punya wajah yang seperti ini, kita punya sosok-sosok ideal begitu. Ketika kita ketemu dengan sosok ideal itu, kemudian kita muncul rasa cinta itu sendiri, ya kan? Tapi ketika kita ajak ngobrol gak nyambung, kemudian kita ngedate tiba-tiba kok dia senggawa, kemudian dia makannya banyak, terus kentut, tiba-tiba ill-feel. Sebenarnya kita cinta dia atau cinta dengan pikiran-pikiran kira?
Selama ini kita cinta pada konsep yang ada dalam pikiran kita.
Kalau kamu kawin dengan dia nak, kalau kamu pindah agama nak, seumur hidup mama gak akan akuin kamu anak. Sebenarnya ini cinta atau dagam sebenarnya? Apakah itu cinta? So, cinta menurut saya adalah hilangnya kebencian. Kita nggak bisa melihat benci apapun. Yang ada cinta itu sendiri. Dan cinta itu berarti Anda nggak bisa cinta dengan kaum tertentu dan membenci kaum tertentu. Nggak ada. Cinta itu esensi dari diri kita. Saya teringat Komarudin Hidayat pernah mengatakan begini. Al-Quran itu disarikan jadi Al-Fatihah. Dijadikan satu kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Satu kata itu adalah Ar-Rahman. Artinya orang Islam adalah orang yang sudah hilang kebenciannya. Dia nggak punya benci. Rumi pernah mengatakan bahwa esensi dari diri kita adalah cinta itu sendiri. Jadi tugas kita bukan cari cinta, karena esensi kita cinta. Jadi tugas kita adalah menghilangkan sekat-sekat diri kita. Yang menghalangi diri kita dengan cinta itu sendiri. Yaitu apa? Ya kemarahan, kebencian, dan sebagainya itu sendiri. So kita perlu menghilangkan. Kalau Yesus mengatakan kalau kamu cuma baik sama orang yang baik dengan kamu, apa bedanya kamu dengan pemucukah itu? Bukannya orang yang tidak mengenal Tuhan juga melakukan hal yang sama. Tapi karena kamu adalah muridku, maka kasihilah musuhmu. So musuh itu, musuh itu yaitu kemarahan, kebencian itu yang perlu kita hilangkan. Jadi jihad terbesar atau jihad pada diri kita sendiri. Pada kemarahan, kebencian dan sebagainya. Itu yang kita hilangkan sampai kita ketemu dengan cinta itu sendiri. Jadi itulah cinta. Bukan saya mencintai kamu dan kemudian saya mengignore yang lain. Saya mencintai negara ini dan kemudian kita membenci negara ini. So itu kan konsep yang ditanamkan. Kalau waktu saya kecil saya ditanamkan tentang kelompok ini jahat, kelompok ini gini. Akhirnya ada kebencian di dalam diri saya. So tugas saya adalah menghilangkan kebencian itu sehingga melihat bahwa semuanya adalah bagian dari diri saya. Ketika seseorang terluka, sebenarnya dia, saya yang terluka juga. So itulah cinta menurut saya. Oke.
Kita sering, Pak Gobind, memberikan rasa hormat yang berlebihan kepada orang lain. Kepada pejabat, kepada orang kaya, kepada tokoh publik. Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang misalnya kayak sebagian anggota DPR, yang ketika rapat buat rakyat aja, pengennya dipanggil yang terhormat. Dan kalau nggak dipanggil yang terhormat, marah-marah dia. Pelayan rakyat, tapi pengennya dipanggil yang terhormat. Tapi di sisi lain kita aduh nunduk-nunduk banget, kita sopan santun gitu kan di depan pejabat, di depan orang yang kaya, di depan mungkin toko publik gitu. Bagaimana Anda melihat dua flip coin ini? Yang satu kita cenderung ngasih hormat yang lebay, di sisi lain orang gila hormat Pak. Nggak paham posisinya bahwa dia pelayan rakyat.
Ya, bagi saya sih, saya nggak bisa mengomentari apapun tentang orang lain karena pada dasarnya setiap orang egois, setiap orang pasti memikirkan dirinya sendiri. Ketika dia ada di posisi tersebut, pasti ya kepentingannya ada semua Semua orang itu kan mikirin kepentingan dirinya sendiri kan. Jadi kalau seandainya saya mungkin ada kepentingan tertentu, ya mungkin saya akan bersikap lain. Tapi kalau saya kepentingan yang lain, akan bersikap lain. Seperti itulah yang kehidupan ini sendiri. Sehingga mengomentarin bahwa dia salah, dia benar itu adalah dilema sekali bagi saya juga sih. Ya bagi saya sih menurut saya, ya kesadarannya di mana. Kalau di depan saya ada ada uang satu triliun begitu. Apakah saya ambil, apakah saya akan kembalikan ke negara? Contohnya begitu. Saya nggak bisa ngomong sekarang. Karena kesadaran saat itu, apa yang terjadi pada saat itu? Iya kan? Kalau ada seseorang kemudian semalem orang tuanya meninggal, orang tuanya sakit, anaknya sakit, dan kemudian diberdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan rezeki atau sesuatu untuk ini, dan kemudian tiba-tiba di depannya ada uang jatuh atau uang punya orang gitu. Mungkin aja dia bilang, ya Tuhan terima kasih kamu memberikan saya. So pada saat itu gimana? Pada saat itu apa? Apa kesadaran saat itu? Jadi sekarang saya nggak bisa komentarin juga gitu. Apakah saya akan melakukan seperti apa? Nggak bisa.
Tapi menurut Bapak, rule of thumb-nya, rasa hormat itu harusnya ditujukan ke siapa, Pak?
Rasa hormat adalah pada setiap orang sih harusnya. Tapi menghormatin seseorang itu bukan menunduk-nunduk, mengatakan kamu yang mulia, kamu yang ini dan sebagainya. Menurut saya sih semua orang harus kita hormatin. Setiap orang. Nggak harus dia punya cabatan tertentu dan sebagainya. Kita bisa melihat, karena pada dasarnya kalau kita percaya bahwa kita ini satu saudara, ya lagi-lagi. Kalau kita menghormatin diri kita sendiri, kita akan menghormatin orang lain.
Kalau orang bilang Pak Gobin orang aneh, Anda responnya gimana?
Ya nggak apa-apa, semua orang pada dasarnya awalnya aneh. Nggak, menurut saya emosi adalah sesuatu yang penting untuk dipelajarin semua orang. Kita belajar fisika, kimia, matematika, integral, turunan, kotangan, sinus dan sebagainya ribuan jam dan kita lupakan. Sementara emosi yang dari lahir sampai akhir hidup kita, kita bawa, kita nggak pernah belajar.











