In this reflective monologue, Gobind Vashdev likens life to a school where daily homework and periodic exams represent small problems and larger crises. He argues that avoiding minor challenges makes major ones feel heavier, and that the current global situation is a collective exam where each person must rely on inner abilities. The speaker emphasizes that neither teachers nor the universe are hostile; they are shaping individuals into stronger, more fertile beings, much like a branch that sprouts new growth after being broken. He urges listeners to stop condemning difficulties and instead view problems as pressure that pushes them to see new perspectives. Vashdev shares an etymological insight that the English word “problem” derives from Greek roots meaning “to move forward,” reinforcing the idea that challenges propel growth. He illustrates his point with historical examples—Gandhi, Mother Teresa, and Nelson Mandela—who became great through confronting adversity. Rather than asking God to remove problems, he advises asking for strength to face them. The talk concludes with a hopeful vision that after the exam of hardship ends, humanity will reconvene in a higher state of consciousness, and he signs off with a blessing of happiness.
Chapters
Hidup ini mirip seperti sekolah. Di sekolah setiap hari ada PR dan setiap berapa bulan sekali ada ujian. Begitu pula di kehidupan ini, setiap hari ada saja masalah kecil dan setiap beberapa bulan atau beberapa tahun hadir masalah yang lebih besar. Ketika malas mengerjakan pekerjaan rumah, ujian akan terasa sulit. Begitu pula, ketika kita tidak mau menghadapi masalah-masalah kecil, tak kalah masalah besar datang, akan terasa sekali beratnya. Hari ini, kita semua di seluruh dunia sedang menghadapi ujian bersama. Layaknya seperti di kelas, ketika ujian kita dipisahkan satu dengan yang lainnya. Begitulah kondisi kita saat ini. Kita bekerja sendiri-sendiri, dipaksa mengandalkan kemampuan yang ada di dalam diri. Mereka yang siap akan merasa nyaman walau duduk sendiri. Sementara mereka yang tidak siap akan merasa gelisah. Guru yang memberi tes tidaklah jahat, begitu pula semesta tidak pernah marah. Mereka sedang membentuk kita menjadi lebih baik. Seperti dahan yang tertembang akan memunculkan dahan dan ranting yang baru, yang lebih subur dan kuat. Begitu pula, dengan setiap kesulitan yang hadir akan membuat kita jauh lebih baik. Jika selalu ada keindahan dalam suka, maka pasti ada keindahan dalam kehadiran duka. Stop menghujat kesulitan, sebaliknya sadari setiap masalah adalah tekanan yang sedang menggeser kita untuk melihat dunia dari sisi yang sebelumnya bukan kita lihat. Taukah Anda bahwa masalah dalam bahasa Inggrisnya adalah problem yang berasal dari bahasa Yunani pro-bellen Pro artinya maju, sementara bellen artinya menggerakkan Jadi setiap masalah itu menggerakkan kita untuk maju Ketika kita kelas 1, pelajaran kelas 1 sulit sekali Namun setelah kita melalui ujian dan naik kelas 2, pelajaran kelas 1 menjadi gampang. Ketika kita kecil, masalah itu besar. Namun ketika kita besar, masalah itu jadi kecil. Jadi jangan meminta guru untuk memberikan soal yang lebih gampang. Namun, miliki kemampuan dan siapkan diri pada apapun yang terjadi. Begitu pula, daripada memohon Tuhan menghilangkan semua masalah yang ada, lebih baik meminta kekuatan darinya agar mampu menghadapi ujian yang berat ini. Liatlah, orang biasa tumbuh menjadi orang hebat karena masalah yang menghadangnya. Gandhi dibesarkan oleh kemampuan menghadapi kekacauan di India. Mother Teresa diperhalus welas asinya ketika ia berhadapan dengan kemiskinan akut di Kalkuta. Ceruji penjara selama 27 tahun menempa Nelson Mandela dari anak muda yang kerasnan kasar menjadi manusia yang sangat bijak. Sekali lagi, masalah, duka, kesulitan dan semua ketidaknyamanan adalah tekanan yang sedang menggeser kita layaknya geseran lempengan bumi yang pada akhirnya menghasilkan gunung yang menjulang tinggi. Semua di alam ini ada masanya, termasuk masa ujian seperti saat ini. Begitu ujian selesai, kita semua akan berkumpul kembali, merayakan kehidupan di kesadaran yang lebih tinggi. Saya Gobind Fazdef, salam bahagia.