In this Indonesian monologue, Gobind Vashdev recounts a story from the book Happiness Insight about a king plagued by chronic headaches. After trying various doctors and remedies, the king summons a wandering sage. The sage advises the king to simply look at the color green. The king paints his throne room green, then the entire palace, and his headache disappears. When the king later asks why the whole palace must be green, the sage explains that the king can see the world through a green‑tinted lens, meaning perception shapes experience. Vashdev expands the allegory, arguing that a "dirty" mental lens—filled with fear, greed, hatred, and selfishness—makes the world appear corrupt, and that true problems stem from internal programming, not external circumstances. He urges listeners to turn inward, adjust their inner programs, and recognize that happiness is an internal state. The talk concludes with a call to read Happiness Insight via a caption link.
Chapters
Satu lagi cerita bermakna yang saya ambil dari buku Happiness Insight. Cerita tentang seorang raja yang dimana sakit kepala terus. Dia mencari cara untuk bagaimana supaya sembuh dari sakit kepala. Namanya raja udah manggil macem-macem nih, tabib, dan menggunakan begitu banyak ramuan. Tiba-tiba, Dia mendengar ada seorang petapa yang melewati daerahnya. Dan kemudian dia meminta si pengawal itu memanggil si petapa tersebut. Dan petapa itu datang dengan santanya, nggak pakai sandal, nggak pakai sepatu seperti saya. Dan kemudian petapa itu bertanya, apa yang terjadi Pak Ginda? Saya ini sakit kepala terus, tolong dong, tolongin, apa yang saya harus lakukan? Kemudian Petapa itu dengan santai bilang, Baginda tidak perlu macam-macam. Baginda perlu cuma satu hal, yaitu melihat yang warna hijau-hijau. Semakin sering Baginda melihat warna hijau, niscaya Baginda akan sembuh. Masa? Tapi kemudian Petapa itu pergi. Sebelum Baginda itu mengatakan terima kasih. Dan baginda berpikir, ah mungkin nggak ada salahnya dicoba. Dia panggil, pengawal sini, cat ruangan ini warna hijau. Dan dia duduk di sana, setelah beberapa jam, dia melihat, dia merasakan bahwa, eh iya loh, beneran loh, si kepala ini kok rasanya lebih enak lagi ya, lebih enak ya. Kemudian apa yang terjadi? Dia minta si pengawal untuk mengecat seluruh istana warna hijau. Bahkan namanya permaisuri, dayang-dayang, pengawal, semua pakai baju warna hijau. Wah, apa yang terjadi? Raja sembuh. Rajanya sih sembuh. Permaisurinya stress. Pakai bajunya hijau terus. Nggak bercanda. Nah, apa yang terjadi setelah beberapa lama kemudian, bagi nemen dengar bahwa Petapa itu lewat daerahnya lagi atau dimana dia berkuasa. Disitulah kemudian dia panggil pengawal. Pengawal, sini tolong panggil si Petapa itu datang. Dan Petapa itu datang sekali lagi ke istana. Dan kemudian si Petapa itu bertanya, begini, apa yang terjadi ini? Maksudnya, apa yang terjadi? Kenapa ini kok semua istana ini kok tadinya bagus kok sekarang jadi warnanya hijau gitu? Loh, bukannya kamu yang menasehatin saya untuk melihat yang warna hijau-hijau? Iya sih, tapi kenapa harus dicat? Lah terus bagaimana? Baginda, baginda, baginda itu bisa melihat seluruh alam semesta ini warna hijau dengan pakai kacamata lensanya warna hijau. Jadi, inilah kehidupan kita. Kalau kita menggunakan lensa yang kotor, maka kita akan melihat semua hal di dunia ini kotor. Anda akan melihat benda itu kotor, Anda coba bersihkan benda itu berkali-kali, tapi tetap kotor. Anda melihat orang lain salah, Anda melihat pencipta nggak adil. Semua di luar salah. Kenapa itu bisa terjadi? Ya karena lensa yang digunakan kotor. Artinya apa? Bahwa Kehidupan di dunia ini sangat tergantung bagaimana kita memandangnya. Cara kita melihat itulah mungkin masalahnya. Dan cara kita melihat tergantung dari program-program yang tertanam di dalam diri kita. Maka ketika kita punya masalah, ketika kita melihat dunia ini terus tidak baik, semua salah dan sebagainya. Mungkin ada program di dalam diri kita yang perlu untuk diubah sehingga kita melihatnya jauh lebih baik. Manusia tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Kita bermasalah dengan ketakutan, keserakahan, kebencian, pertamakan, dan semua yang ada di dalam diri kita. So, ketika kita punya masalah, jangan cari jalan keluar. Tapi cari jalan ke dalam. Begitu pula, happiness itu selalu ada di dalam. Oke? So, bila ingin mendapatkan buku Happiness Insight, Anda bisa baca caption atau klik link yang ada. Salam bagi dari saya. Go be fast ya!