In this Indonesian video, former inmate Gobind Vashdev, now free from Kerobokan prison, explains the regular training sessions he conducts for current prisoners. He argues that criminal behavior and drug addiction are largely driven by unresolved trauma, not inherent evil, and that each inmate retains a noble side that is blocked by emotional wounds. Rather than traditional counseling, he teaches a somatic method called TRE (Tension and Trauma Releasing Exercises) along with specific breathing techniques that stimulate the body’s natural endocannabinoid system, helping participants release stored tension and trauma. He connects trauma to substance abuse, describing how unhealed wounds lead individuals to seek external escapes such as narcotics. An inmate (Speaker B) briefly interjects, expressing deep longing for his child, underscoring the human side of those incarcerated. The excerpt highlights a trauma‑focused, body‑based rehabilitation approach within the prison environment.
Chapters
Saya baru keluar dari penjara kerobokan dan ini secara berkala saya melakukan satu kegiatan di sini, yaitu membuat pelatihan atau berbagi teknik-teknik yang saya pelajarin untuk mereka-mereka yang ada di lapas. kita selalu berpikir bahwa mereka-mereka itu adalah orang-orang jahat sementara saya selalu berkata bahwa manusia pada dasarnya punya sisi-sisi mulia dan sisi-sisi mulia ini terhalang dan terhalangnya karena apa? karena trauma sebagian besar ketika kita melihat orang-orang yang ada di penjara selalu berpikir tentang bahwa mereka mempunyai perilaku yang kurang baik tapi kita mesti tahu bahwa di balik perilaku itu ada emosi mereka mungkin adalah seseorang bapak yang baik pada anaknya Mereka mungkin seorang suami yang baik pada istrinya dan keluarganya. Tapi karena sebuah tindakan kemudian dia tidak bisa mengontrol tubuhnya dan kemudian melakukan tindakan-tindakan yang disebut kriminal dan akhirnya harus di sini selama bertahun-tahun. Tapi kita mesti tahu, emosi itu adalah dibalik tindakan. Dan Anda tahu bahwa sebagian besar emosi ini didrive oleh trauma-trauma atau luka batin yang ada di dalam diri seseorang tersebut. So, apa yang saya lakukan adalah fokus pada traumanya, yaitu mengajarkan satu teknik untuk melepaskan ketegangan dan trauma, tidak pakai counseling, tidak pakai seperti sesuatu yang harus menggali dan sebagainya, tapi melepaskan dengan teknik namanya teknik TRE, Tension and Trauma Releasing Exercise. Jadi mereka terlentang dan tubuhnya bergetar sendiri karena emosi atau trauma terletak di dalam tubuh kita. Well, kita tahu bahwa sebagian besar dari narapidana atau warga binaan di sini itu adalah mereka punya kasus narkoba. Nah, narkoba kan kecanduan dan sebenarnya kalau kita mau mencari akar lebih dalam hampir semua orang yang kecanduan itu mempunyai trauma. Karena apa? Trauma itu luka batin. Jadi, contoh kita kalau punya luka di dalam tubuh kita, kita kan nggak nyaman. Kita cari pengalihan. Karena kita tidak tahu bagaimana menyembuhkan luka batin kita. Kita mencari pengalihan-pengalihan keluar. Dan pencarian pengalihan keluar bisa ke narkoba dan mereka harusnya ketangkap. Jadi apa yang harus dilakukan adalah saya juga memberikan teknik nafas untuk melepaskan si emosi dan juga meningkatkan si endokannabinoid atau sejenis ganja yang bisa diproduksi oleh otak kita. Sehingga lepas traumanya dan mereka juga bisa mendapatkan sebuah Agak besar sedikit. Ya. Apa yang dirasakan tadi waktu tadi menaklukannya?
Saya merasa kangen sekali sama anak saya. Sama kangen anak.
Kangen anak? Rasaan kangen?
Kangen sekali. Terima kasih, Mr. Gopi. Sudah-sudah mengajarkan kami pengalaman yang sangat luar biasa.