Saya Bertemu Orang Gila

Gobind Vasudev explains how self-talk shapes confidence more than external validation. A woman felt unattractive until moving to Bali, where admiration from others shifted her self-perception. The core message: what you repeatedly tell yourself about your worth matters more than what anyone else says.
Chapters
Ceritanya saya di base dan ketemu orang gila. Jadi di sebuah negara saya di base dan kemudian di depan saya, tepat di depan saya ada orang gila. Kenapa? Dia ngomong-ngomong sendiri. Jadi nggak ada temennya, nggak ada, dia komat-kamit, komat-kamit gitu ya. Terus habis gitu, dalam hati saya kemudian saya bilang, ini orang gila ya, kok
ngomong-ngomong sendiri, pitirnya komat-kamit.
Lalu saya sadar, loh... Saya ini juga ngomong sendiri loh. Cuma pipir saya nggak komat-komit. Tapi kan saya melakukan ngomong sendiri pada diri saya. Ngomong sendiri pada diri sendiri itu namanya self-talk. Atau adalah pembicaraan terpenting di dalam kehidupan siapapun orang tersebut. Apa yang Anda katakan pada diri Anda, itu yang paling penting. Mungkin Anda pernah ketemu orang yang keren, tapi kemudian dia nggak percaya diri. Ada orang yang badannya tambut, mungkin acak-acak dulu gituloh, tapi dia percaya diri. So, apa yang membedakan tersebut? Ketika saya bertanya pada orang-orang tersebut, dia bilang, enggak, saya keren kok, gaya saya
memang seperti ini, dan pasti ada orang yang tertarik dengan saya karena gaya saya seperti ini, enggak semua orang kok suka dengan yang perlenteh seperti itu.
Bayangkan ya, bahwa yang membuat orang tersebut menjadi pede, Bukan apa yang dikatakan orang lain, apa yang dikatakan dalam diri kita. Yang membuat kita pede itu kata-kata kita. Begitu pula yang membuat kita nggak pede adalah kata-kata kita. Apa yang Anda katakan pada diri Anda berulang-ulang itulah sangat penting dalam hidup Anda. Maka penting banget ketika kita punya masalah seperti nggak percaya diri atau kita merasa bahwa diri kita jelek dan sebagainya, harus selalu ingat. bahwa yang memberikan nilai itu adalah diri kita sendiri. Saya punya teman yang dimana di Indonesia itu cewek kulitnya lega banget dan merasa bahwa dia gak laku gitu gak ada cowok Indonesia yang suka dan kemudian dia pindah ke Bali ternyata Waduh, dia jadi rebutan dari begitu banyak pria bule. Dan kemudian ketemu saya setelah berapa tahun, dia percaya diri banget. Saya bilang, hebat banget.
Oh iya bilang, emang dulu saya mengatakan diri saya jelek. Tapi setelah saya berkumpul dengan mereka itu, ternyata mereka itu mengagumi kulit saya yang hitam ini. Dan ternyata saya baru sadar, ternyata pengaruh dari lingkungan saya itu penting. Tapi yang paling penting adalah bagaimana saya menangkap itu semua dan kemudian memberikan sugesti pada diri saya tentang bahwa saya ini
layak, saya ini baik, saya ini cantik, dan kemudian ya. Tentu nasibnya berbeda. So, selalu ingat bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan berulang-ulang. Apa yang kita katakan pada diri kita berulang-ulang. Jadi, penting banget untuk memberikan sesuatu yang bernilai pada diri anda. Pada dasarnya, setiap orang bernilai. Salam bahagia dari saya, Gobind Vasudev.











