In this Indonesian monologue, Gobind Vashdev recounts a past friend who seemed "sakti" because he could predict which of the building's eight elevators would open first. Gobind initially thought the friend possessed a spiritual or supernatural power, but after testing, discovered the friend has exceptionally acute auditory sensitivity. By hearing the subtle increase in motor noise from the elevator that is closest to arriving, the friend could anticipate the opening. Gobind reflects that many people perceived as having special powers may simply have heightened senses, and invites viewers to share similar stories in the comments, ending with a warm "Salam bahagia".
Chapters
Itu 8 lift dia udah tau nih lift mana yang mau buka, punya orang luar biasa, punya kemampuan spiritual atau apapun lah itu. Saya mau cerita tentang seorang teman yang menurut saya waktu itu, saya pikir dia itu sakti banget. Kenapa? Karena kalau dia berada di lift, dia itu tau lift mana yang mau buka duluan. Kan kalau sekarang ada angkanya itu, zaman dulu kan gak ada. Itu dia tau mana lift yang mau buka duluan. Walaupun ini kan liftnya dua, itu delapan lift dia udah tau nih lift mana yang mau buka. Dulu saya pikir ini orang luar biasa, punya kemampuan spiritual atau apapun lah itu. Nah ternyata setelah lama saya ngobrol, saya punya alat tes ternyata dia itu adalah orang yang sangat auditory. Artinya apa? Dia punya kemampuan mendengar lebih daripada kebanyakan orang yang ada sehingga ketika dia berada di lift dia tau nih lift mana yang ada suaranya yang lebih semakin besar ya suaranya sehingga dia mendekat ke tempat dimana suara yang paling besar itu karena mesinnya itu kan semakin dekat suaranya semakin besar. Kebanyakan orang itu gak bisa mendengar itu dia adalah orang yang bisa mendengar lebih daripada banyak orang. Nah dan ternyata kejawab lah kenapa saktinya begitu. Dan menurut saya begitu banyak orang di sekitar kita yang bisa menebak, bisa melihat ini, melihat itu dan sebagainya. Menurut saya adalah karena dia punya sesuatu sensitivitas yang lebih tinggi daripada kebanyakan orang. Nah disitulah terjawab ternyata teman saya atau banyak orang yang kita pikir sakti sebenarnya hanya dia punya sensitivitas atau kepekaan. Dan kalau menurut Anda, Anda pernah nggak punya teman yang seperti itu? Boleh cerita di kolom komen. Salam bahagia dari saya, Gobind.