Self Love, Berlatih Menjadi Sahabat Diri Sendiri | Podcast Gobind Vashdev & Dr Salma Kyana MRes

In this Indonesian‑language podcast hosted by Gobind Vashdev, Dr Salma Kyana (MRes) shares her personal journey from a childhood of bullying and a later vitiligo diagnosis to a practice of self‑love. Salma explains that self‑love is "training to become a friend to oneself" and distinguishes it from superficial confidence. She introduces a simple daily framework called L.O.V.E. (Look, Observe, Value, Explore) and describes inner‑dialogue techniques such as naming the inner bully ("Salmeng") and the wise self. Salma emphasizes the importance of knowing one’s values as a compass for decisions, setting boundaries, and not letting others’ opinions define self‑worth. She discusses how her experience led to the creation of the "Mengenal Diri" foundation, a journal‑style guidebook, coaching, and community groups that support mental‑health and self‑love. The conversation also touches on applying self‑love concepts to children, the role of supportive families, and integrating self‑love with TRE (Tension and Trauma Releasing Exercise). Throughout, Gobind and Salma field audience questions about avoiding pitfalls, handling external judgment, and making choices when trauma is present. The session ends with gratitude, wishes for Salma’s upcoming birth, and an invitation to join the community.
Chapters
Selamat malam semuanya, saya nyapa teman-teman dulu Selamat malam semuanya, semoga kabarnya bahagia, selamat datang di Butteko Full Course Gathering dan TRE, Tension and Trauma Releasing Exercise Gathering, di mana biasanya kita melakukan setiap 1-2 bulan sekali dan pasti ada pembicaraan dan hari ini Ini spesial karena ini adalah seseorang yang sebenarnya baru saya kenal, saya kenal dengan bapaknya lebih dulu udah lama dan kenalnya gara-gara suka kopi dan terinspirasi akhirnya beli mesin kopi gara-gara diracun oleh bapaknya si Dr. Salma ini dan kemudian ngobrol-ngobrol dan baru tahu kalau Anaknya ini mempunyai sesuatu ilmu yang luar biasa, yang dimana selama ini kebanyakan orang di kita selalu berbicara soal self love, tapi kemudian, apa sih self love itu saya juga ingin belajar Jadi akhirnya saya todong lah si Salma ini untuk berbagi tentang self-love ini, karena ketika saya lihat IG-nya, teman-teman juga semuanya udah pada lihat IG-nya saya rasa, karena ada link di situ, dan kemudian mereka tertarik dan join hari ini. Selamat malam Salma, apa kabar hari ini?
Sangat baik, Alhamdulillah, agak lagi pegal-pegal punggung sih, ya, karena Lagi hamil dan ini kayak anaknya nombah beratnya lumayan ya. Jadi ya sepertinya wajar untuk mulai pegel-pegel punggung.
Ini dia udah minggu keberapa, Kak?
31.
Wow, jadi nggak lama lagi nih ya.
Sebentar lagi launching.
Sebentar lagi launching. Jadi ini anak pertama ya?
Iya, anak pertama. Cucu pertamanya Pak Leo.
Cucu pertamanya Pak Leo, dan Pak Leo ada di grup full course, tapi jarang sekali muncul, tapi mengamati. Boleh cerita sedikit nggak sih, kenapa ngomongin self love ini? Silahkan.
Nanti aku ada PPT, Pak Gobind, tapi kita ngobrol dulu aja ya. kenapa akhirnya aku seneng banget sharing tentang self love, karena mungkin perjalanan hidup aku yang kelihatannya kayak masih anak kecil gitu, masih 27 tahun, tapi sepertinya kalau aku refleksikan, pengalaman hidup aku justru membentuk aku untuk kenalan sama diri sendiri gitu, karena banyak banget pengalaman-pengalaman yang bikin aku jadi sadar, oh selama ini aku nggak kenal sama diri aku sendiri, aku nggak tahu apa artinya itu self love, sampai mungkin salah satu titik baliknya, kalau kakak-kakak lihat di kulit aku saat ini, ini ada putih-putih di kulit, banyak yang orang ngira, Salma nih kayaknya pede-pede aja karena udah dari lahir punya putih-putih kayak gini. Tidak, ini baru 5 tahun yang lalu. Jadi baru sekitar 2020 mulai muncul. Jadi ini namanya vitiligo, ini kondisi autoimun yang memang sampai saat ini belum ada pengobatan untuk benar-benar full bisa reverse autoimunnya, tapi bisa kita kontrol, bisa remisi segala macam. Ya intinya si vitiligo ini nggak bisa ditutupin lah, udah seluruh tubuh gue banget. Dan ini yang menjadi salah satu titik balik aku untuk kenalan sama diri aku sendiri. Nggak bisa lari lagi dari diri sendiri. Akhirnya, dari mungkin proses diri sendiri, kayaknya aku percaya Tuhan tuh ngasih ini bukan cuma untuk diri aku sendiri, tapi lessonnya untuk dibagi ke orang lain juga. That's why akhirnya mulai sharing tentang self love. dimulai dari teman-teman terdekat, kemudian berbagi di media sosial, dan bentuk komunitas juga.
Saya itu kalau ngomong vitiligo, yang pertama teringat adalah Michael Jackson, dan pada saat itu, saya tidak tahu apakah dia mengatakan itu vitiligo yang sama atau tidak, tapi ketika dia bawa wancara dengan Oprah Winfrey bertahun-tahun lalu ketika itu dia nangis, dia ditanya kenapa kok kulitnya sekarang jadi putih padahal dia hitam, dia bilang saya kena vitiligo tapi pada saat itu saya lihat kok maksudnya putihnya semuanya jadi putih, jadi bagus saya berpikir bahwa apakah ada obat atau sesuatu yang dimana bisa membuatnya menjadi lebih cepat sehingga semuanya jadi sewarna Saya punya teman juga, Viti Ligo, tapi habis 10 tahun juga masih bercaknya kecil-kecil aja,
nggak sebesar ini Ya, ini pertanyaan menarik sih. Jadi vitiligo itu memang progresifitasnya beda-beda, Pak Gobind. Ada juga, aku punya teman yang udah full putih semua, jadi kayak Michael Jackson. Ada juga yang udah 30 tahun, 40 tahun dengan vitiligo tetap bercak-bercak. Tapi, that's why aku selalu katakan ke orang, obatnya vitiligo itu bukan ketika putihnya menyeluruh atau ketika putihnya hilang menjadi warna kulit normal lagi, tapi obatnya ketika kita bisa menerima dan mencintai diri seutuhnya.
Itu quote bagus banget. Ketika kita bisa menerima diri kita seutuhnya. Saya lebih baik memberikan waktu supaya Salma untuk bisa memberikan PPT-nya. Setelah itu mungkin teman-teman kalau ada yang mau bertanya, saya juga penasaran ada beberapa pertanyaan, tapi saya tahan dulu, saya ingin dengerin Salma untuk menjelaskan apa itu konsep self love itu sendiri. Silahkan.
Terima kasih, Pak Gobind. Oke deh, aku juga mau menyampaikan semuanya di sini. Halo, selamat malam yang udah chat juga. Selamat malam, maaf nggak dibalas satu-satu. Selamat malam, aku panggila kakak-kakak di sini. Aku sepertinya beragam ya isinya di grup ini. Ada temen aku yang satu umuran, ada papa aku, gitu kan. Jadi kayaknya beragam banget. supaya semuanya kita terasa mudah, jadi aku panggila Kakak-Kakak ya. Boleh panggil aku Salma aja. Hari ini aku hadir tidak sebagai dokter banget gitu ya, tapi ya sebagai fasilitator aja. Jadi aku akan share screen, udah siapin sedikit materi nih buat sharing. Oke. Jadi hari ini judulnya adalah self-love, berlatih menjadi sahabat bagi diri sendiri. Benar banget nih kata Pak Gobind, udah banyak ya orang-orang yang ngomongin tentang self-love, sekarang tuh self-love itu jadi semacam trend gitu ya. Everyone is talking about it, jadi kayak trendy gitu. Sampai mungkin jadi banyak yang salah artikan juga, dan jadi ada yang bingung juga sebenarnya definisi self-love itu apa. Untuk memudahkan kita ada di pengertian yang sama, definisi self-love kalau buat aku sederhana sih, yaitu berlatih menjadi sahabat bagi diri sendiri. Udah, itu aja titik. Hari ini mungkin aku akan lebih sharing santai aja, bukan untuk menggurui ataupun aku bukan motivator juga. Sekali lagi, aku di sini mungkin menempatkan diri sebagai fasilitator untuk menyampaikan pesan aku kepada orang-orang yang mungkin membutuhkan pesanku. Cuma memang kadang pesan aku itu nggak bisa diterima oleh semua orang juga. Menarik ya, self-love itu kan kesannya kayaknya gampang gitu. Maksudnya kesannya trendy dan yaudah easy, gen Z gitu ya. Tapi ternyata ketika aku benar-benar ngomongin self-love, yang menurut aku ini self-love yang sesungguhnya gitu, ternyata itu bisa menjadi ideologi radikal gitu, atau kayak ide yang terlalu ekstrim buat beberapa orang. Sebagai contoh, misalnya aku share nih di social media tentang kulit aku gitu ya. Orang itu akan nanya, jadi gimana caranya vitiligonya, gimana cara nutupin vitiligonya, gitu. Dan aku tuh selalu bilang, nggak perlu disembuhin, nggak perlu diobatin, cukup perlu untuk belajar self-love aja. Nah, ketika aku ngomong kayak gitu, itu ternyata banyak yang trigger. banyak orang-orang yang kayak, ya kamu mah bisa, orang lain kan belum tentu bisa gitu. Dan dari situ aku sadar kayak, oh mungkin pesan aku emang belum tentu untuk semua orang dan belum tentu semua orang siap sebenarnya untuk menerima pesan self love ini. Karena ternyata kita hidup di dunia yang secara mungkin kita nggak sadar, itu memaksa kita untuk fit in ke standar kecantikan yang ada, ke standar apapun yang ada. Kalau kita mau sukses, mau dicintai, mau dihargai, mau bisa blend in, kita tuh harus fit in ke standar kecantikan. Mungkin kalau orang Indonesia, Standar cantikannya gampang ya. Kulit mulus, rambut lurus, badan kurus. Biasanya itu. Kalau nyeleweng dari itu, biasanya mulai banyak iklan-iklan dari industri kecantikan. Yang tadinya mungkin kita nggak sadar, kayaknya kita biasa-biasa aja sama hal itu, tapi mereka membakar kelemahan kita, akhirnya kita jadi Beli. Jadi rasanya harus mengubah diri. Jadi ternyata idea self-love itu nggak bisa diterima sama semua orang ternyata. Dan buat aku itu oke. Tapi sekali lagi, aku di sini mau menjadi fasilitator untuk orang-orang yang butuh mendengarkan pesan aku. It's okay kalau ada yang mungkin nggak terima, nggak suka, nggak apa-apa. Tapi semoga teman-teman, kakak-kakak yang hadir hari ini, malam ini, udah luangin waktu, mau membuka sedikit celah di hati dan pikirannya untuk dengerin sedikit sharing aku. Oke, ini sedikit kenalan yang belum kenal. Aku Salma. Aku punya misi. Jadi tadi kan aku ngomong pesan. Pesannya apa sih? Pesan aku adalah aku pengen bantu orang-orang sebanyak mungkin untuk jadi sahabat bagi dirinya sendiri. Nah, dengan misi itu, Aku tuh punya yayasan sekarang, namanya Mengenal Diri. Kalau di Instagram, mengenaldiri.id. Di situ aku bantuin orang-orang untuk kenal sama dirinya sendiri. Aku juga coaching clients one-on-one, tapi lagi cuti karena udah mau ngelahirin. Tapi aku akan buka lagi, biasanya memang perlu bantu orang tuh perlu kenal ya, maksudnya perlu ngobrol intens gitu, jadi makanya aku tetap buka one on one clients juga, kadang ada grup coaching juga, aku juga nulis buku namanya The Book of Dreams gitu. Tapi semua ini tuh aku lakuin kenapa? Karena justru dulu aku adalah orang yang sangat jauh dari kenal sama diri sendiri, boro-boro jadi sahabat buat diri sendiri, yang ada aku tuh musuh terbesar buat diriku sendiri. Dan mungkin banyak dari kita yang nggak sadar gitu, kalau sebenarnya selama ini kita itu justru jadi our biggest critic, jadi our biggest bully. Mungkin sedikit cerita, pas aku pertama kali vitiligo 5 tahun yang lalu itu, Sebenernya nggak ada orang yang bully aku sih. Tapi aku yang bully diri aku sendiri. Pikiran aku yang ngebully diri aku sendiri. Tapi tentu saja bully itu nggak tiba-tiba wujuk-wujuk muncul aja ya. Maksudnya ada perjalanan hidup juga. Nah, aku mau sharing. Semoga teman-teman nggak bosen bener sharing aku. Nanti aku sharing cerita aku. Habis itu mungkin aku bisa kayak sambungin sama beberapa lesen yang bisa dipraktis sama teman-teman juga. Oke. Dulu, pikiran ini menjadi percayaan aku. Aku akan mencintai diriku. Aku hanya pantas mencintai diriku ketika aku cantik. Ketika aku sesuai ke standar kecantikan yang ada. Nah, mungkin orang-orang melihatnya sekarang nih, yaudahlah selama-lamanya cantik-cantik aja misalnya gitu ya. Alhamdulillah kalau misalnya ada yang berpikir seperti itu. Tapi cerita aku adalah kenapa aku punya pikiran kayak gini, karena dulu pas SMP aku tuh dibully. Jadi SMP, ini Salma SMP, Salma dibully, dibilangnya dadanya tepos, triplek, rata, itu baik oleh perempuan maupun laki-laki. Jadi dulu saat sekolah itu ngebully aku, ini orang-orang yang ada di foto ini, Mereka lagi main di kamarku waktu itu, tapi minggu depannya mereka udah jadi pembuli aku. Dan dulu mama papaku tau banget, aku kalau pulang sekolah nangis-nangis, sampai mau pindah sekolah. Dan karena inipun, citra diri aku terhadap badan aku, body image aku tuh jelek banget. Jadi dari SMP aku udah pengen operasi plastik. Jadi bayangin, itu kan 2011. 2008 berarti aku SMP. Google itu belum mudah diakses, nggak kayak sekarang. Dulu aku nggak punya handphone yang bisa akses Google. Jadi aku harus pinjem handphone mamah. Dan ketika aku dapat pinjem handphone mamah, yang aku cari adalah, berapa sih harganya operasi plastik? Berapa sih harganya implan payudara? Itu yang bayangin anak SMP. Dan dulu target aku kalau gue udah kerja, punya uang, gue mau operasi plastik. Dan itu dulu, mungkin sumber daya tentang kebahagiaan diri, kesehatan mental itu nggak sebanyak sekarang ya. Jadi, pada zaman itu, aku pikir, yaudah aku tuh, aku berbeda. Kayaknya kalau ngelihat di media, dulu majalah, media mainstream, semua perempuan itu badannya kurus, tapi kurus gitu kan. Dan aku tidak seperti itu. Nah, akhirnya body image aku jelek, tapi apa yang aku lakukan? Ketika aku lulus, aku SMA, sampai awal kuliah itu, aku masih punya rasa marah sama pembuli aku. Jadi yang aku inginkan adalah I want to prove them wrong. Aku mau buktiin kalau, enggak kok, gue tuh cantik, gitu. Nah, tapi ternyata secaranya nggak sehat. Jadi, dulu aku diet ketat. Aku, pokoknya olahraga juga nggak sehatlah. Pokoknya olahraga berlebih, maksudnya. Dan aku dulu pengen banget jadi model. Supaya aku bisa buktiin ke pembuli aku kalau mereka tuh salah. Sebenarnya, aku berhasil. Jadi, di sini ada beberapa foto ketika aku SMA, awal kuliah. Aku jadi model, bisa jalan di runway, bahkan aku sempat menang beauty pageant. Mungkin bisa pada nebak ya, beauty pageant apa dari foto ini. Keliatannya dari luar, Salma udah sukses, keliatannya cantik, dan banyak yang bilang cantik. Tapi sebenarnya, ketika aku tidur setiap malam, aku tetap nangis. I still cry myself to sleep. Karena, aku tetap merasa, aku Salma yang gak pantes dicintai, aku selama yang jelek itu, aku selama yang loser itu I did all this untuk mendapatkan sekedar validasi eksternal It feels good in the moment tapi ketika gak ada yang muji, gak ada yang bilang aku cantik ya aku gak ngerasa cantik bahkan ketika orang lain bilang aku cantik, aku gak percaya gitu Ibaratnya aku kayak ada luka dalam hati aku, tapi cuman aku kasih Hansaplas aja, gak aku bener-bener obatin lukanya. Si Hansaplas ini ya dengan aku modeling, dengan aku ikut beauty pageant, segala macem. Tapi luka di dalamnya itu masih borok, gitu. Dan bahkan pada masa-masa ini, aku tuh harus selalu punya pasangan atau punya sahabat dekat lah. Karena kalau gak ada yang muji aku, gak ada yang validasi aku, gak ada yang bilang Salma tuh kayak bilang I love you, gitu. Aku nggak percaya kalau aku tuh pantes dicintai. Jadi, aku sangat bergantung dulu sama orang lain. Dan aku nggak kenal sama sekali sama diriku. Hal sederhana kayak, nanti malem mau makan apa, sampai potong rambut segimana, harus selalu nanya ke orang lain. Nah, jadi dari Pengalaman ini aku sadar, kalau bisa aja semua hal di keliling aku tuh berubah. Bisa aja tiba-tiba aku menang DT pageant, tiba-tiba aku punya pasangan, aku badannya bagus, segala macem. Tapi gak ada yang benar-benar berubah ketika aku tidak berubah dalam diri aku. Pada saat itu, sebenarnya banyak yang sayang sama aku. Tapi aku seperti tidak bisa menerima rasa sayang itu. Nah, analoginya kayak ada ember, terus kalau rasa cinta dari orang itu kayak air gitu ya, yang mandi si ember itu, ember aku tuh kebalik gitu. Jadi ember aku tuh kayak gak bisa menerima, mewadahi cinta boro-boro dari diri sendiri. Dari orang lain aja aku gak bisa terima. Nah, mungkin banyak dari kita, teman-teman, Kak Raka yang Nggak sadar juga gitu, embernya lagi kebalik. Jadi kok kayaknya sebenernya sekitar aku banyak yang sayang, kok hidup aku sebenernya baik-baik aja misalnya. Tapi kenapa aku masih ngerasa ada yang kurang, kenapa aku nggak bisa menerima cinta ya, kenapa aku harus bergantung terus sama orang lain untuk mencintai aku misalnya. Kenapa aku masih ngerasa kosong, kenapa aku masih ngerasa hampa gitu. mungkin embernya lagi kebalik dan kita gak sadar nah jadi salah satu titik balik aku adalah mengenali wah ember gue tuh kebalik gitu jadi aku gak bisa mewadahi rasa cinta itu gitu baik dari orang lain maupun dari diriku sendiri nah sampai akhirnya bayangin seorang perempuan yang sangat-sangat tidak percaya diri tadi yang bener-bener Aduh, apa ya? Body image-nya jelek banget gitu kan, dari SMP udah dibully segala macem. Sama Allah dikasih tambahan gitu, dikasih tambahan vitiligo. Ya jadi, kalau kakak-kakak lihat, ini tuh udah seluruh badannya. Sampai siku, sampai lutut, sampai perut, kaki. Itu udah vitiligo semua. Bahkan sekarang rambut aku ini udah ada beberapa lai uban juga. Jadi, kebayang, aku tuh bukan perempuan yang pede, terus pas kena vitiligo ya udah, pede aja. Enggak, tapi aku berasal dari perempuan yang udah body image-nya jelek banget, terus malah dikasih sama Allah vitiligo tambahan. Nah, awalnya pastinya itu mengguncang juga ya, gitu. Dulu, mungkin sebelum vitiligo, dengan insecurities aku adalah bentuk tubuh, masih bisa diatur lah. Masih bisa bela raga, masih bisa bentuk otot, masih bisa pakai baju yang gimana gitu bentuknya kan. Yang appealing. Tapi vitiligo ini karena udah seluruh tubuh banget, capek lama-lama nutupin ya. Dulu awal-awal aku tutupin kayak pakai Passion. Sekarang udah seluruh tubuh. Masa setiap hari aku keluar rumah, aku harus make up-in. Kan nggak mungkin capek ya. Jadi, dari punya vitiligo ini, aku sadar aku nggak bisa lari lagi dari diriku sendiri. Kalau dulu masih bisa cari validasi eksternal segala macam, itu pelarian. Dan aku juga Menyadari Tuhan itu kayaknya gak mungkin deh ngasih aku vitiligo atau ngasih coban apapun. Tapi yaudah, cuma buat dicoba doang iseng gitu. Pasti ada lesennya kan. Dan aku percaya lesen yang aku pelajari, walaupun usia aku masih 27 tahun sekarang, Tapi ternyata bisa menginspirasi banyak orang yang mungkin usianya udah jauh lebih tua dari aku. Bahkan aku juga pernah denger cerita ada seorang ibu dengan anak yang punya vitiligo dan setelah ngeliat aku dia jadi bisa menguatkan anaknya juga. Jadi ternyata vitiligonya aku ini pesan dan maknanya bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi bisa aku bagikan ke banyak orang juga. Ini dari bukunya Pak Gobind, judulnya Happiness Inside. Jadi, di buku Pak Gobind juga tertulis, sebenarnya dari 25 abad yang lalu saja, Socrates sudah bilang, kita perlu kenalan sama diri kita sendiri. Karena selama ini, kita terlalu berorientasi ke luar. Nah, itu yang aku lakuin dulu. Aku terlalu mencari validasi eksternal. Aku terlalu butuh Dibilang oke sama orang lain, tapi sebenarnya dalam diri aku sendiri, aku nggak pernah menggali gimana caranya aku bisa sayang sama diri aku sendiri. Aku bahkan nggak tahu Salma itu siapa. Dan padahal, setiap orang punya misi individu. Dari Fitiligo ini, aku sadar, this can be my mission. Mission aku adalah untuk kenalan sama diri aku sendiri, dan bantu orang untuk kenalan sama dirinya juga. Ini pertanyaan besar ya, misi hidup itu apa sih? Tapi kalau buat aku, gampangnya mungkin sedikit tips buat teman-teman, kakak-kakak. Your purpose itu bisa dilihat dari what's your pain? rasa sakit yang kamu alami di dunia ini rasa berat cobaan yang akhirnya kamu bisa laluin karena dengan itu kita bisa bantu orang lain yang punya pain yang sama bahkan jika kita hanya satu atau dua langkah di depan mereka ketika aku pertama kali vitiligo, aku kira aku adalah satu-satunya orang di Indonesia yang vitiligo karena gak pernah lihat lagi kayaknya gak pernah ada di sosial media, boro-boro di mainstream media siapa sih artis yang vitiligo di Indonesia gitu ya kayaknya belum, aku gak tau gitu akhirnya ketika aku mulai share di social media pelan-pelan nunjukin ada loh orang vitiligo kayak aku dan gak perlu ditutupin dan aku tetap bisa berdaya aku tetap bisa jadi dokter aku tetap bisa menggapai mimpi-mimpiku banyak banget yang komen, ah aku punya vitiligo juga ternyata aku gak sendiri Terus dia jadi berani untuk keluar rumah tanpa perlu nutupin vitiligo-nya. Dia jadi berani untuk mencapai mimpi-mimpinya juga. Ternyata sesimple aku show up as myself. itu jadi misi hidup aku, gitu. Tapi tentunya ada proses yang panjang juga ya untuk aku bisa ada di titik ini, gitu. Nah, mungkin yang salah satu yang mengubah banget nih perspektif aku adalah ketika aku menyadari my worth, nilai diri aku, itu nggak perlu dicari, nggak perlu diusahakan, tapi cuma perlu disadari. Worthiness. Ini yang kayak bener-bener ngubah perspektif hidup aku sih. Karena dulu aku pikir kan, aku harus begini-begini to be enough, to be loved. Ternyata self love itu, worthiness itu cukup diingat aja kalau kita semua tuh udah terlahir berharga. Aku pernah dengar analoginya, bayangkan kita diajak sama Tuhan untuk melihat bayi-bayi yang baru lahir, atau bayi-bayi yang akan dilahirkan ke dunia. Terus Tuhan bilang, coba kamu urutin dari yang paling berharga sampai ke yang paling tidak berharga. Nggak bisa kan? Namanya juga bayi, semuanya berharga. Semua equally worthy, ya kan? And that baby, Itu diri kita juga ketika kita terlahir di dunia ini, kita semua worthy as we are. We are so loved. Kalau aku dulu lahir, kata mamah, dulu aku tuh bayi yang annoying, yang sakit-sakitan lah, kolik. Aku belum ngapa-ngapain, belum punya achievement apa-apa, tapi orangtuaku udah sebegitu sayang sama aku. And it applies to all babies, gak harus orangtuanya, mungkin caregivernya, nenek-neneknya, atau siapapun itu, yang mencintai bayi itu, merawat bayi itu, sampai tumbuh jadi diri kita yang sekarang. Artinya, worthiness, love itu udah jadi birthright kita udah jadi hak kita sejak lahir tapi kita sering lupa aja karena seiring dengan dewasa mungkin kita ada gagal, ada rejection, ada pressure dari society dan lain-lain jadi kita lupa jadi ini yang mengubah perspektif aku menyadari everyone is worthy as we are gak perlu ditambah, gak perlu dikurangin, gak perlu ngapa-ngapain we are all worthy as we are Banyak orang yang suka menyamakan pede sama worthy, confidence and worth. Jadi orang suka nanya, Salma gimana caranya kamu bisa pede banget sama kulit vitiligo kamu? Kok kamu bisa sih nggak perlu tutupin? Gimana caranya bisa pede? Sebenarnya pede itu bagus, tapi Banyak orang yang kalau ngomongin self love itu superficial di confidence-nya aja, tapi lupa gitu sama elemen worth-nya. Bedanya apa sih? Confidence itu menurut aku gampang untuk dilatih. Confidence itu misalnya kita mau public speaking, terus kita latihan, mau ngomong, yaudah pasti pas di panggung kita pede lah karena udah latihan. Confidence itu bisa fake it till you make it. Dan dia tuh yaudah berubah-rubah seiring dengan situasi. Jadi, confidence itu berdasarkan apa yang kita tunjukin keluar, karena kita percaya, oh gue bisa nih, gue punya skill-nya, gitu. Bedanya sama worth, worth itu apa yang dirasakan di dalam diri, dan percaya you are enough as you are. Semua kelebihan dan kekurangan membuat kamu cukup apa adanya di saat ini. worth it to stable in any kind of condition. Artinya apa? Kalau misalnya suatu hari kulit aku bukan cuma vitiligo aja, aku berkerut, wrinkles, entah kulit aku tiba-tiba eksim, merah-merah, kemarin sempat ngalamin, atau bentuk badan aku berubah nih karena aku hamil ya, itu tidak mengubah harga diri aku. No matter what changes on my body, gak mengubah, I know I'm worthy as I am. Confidence itu bagus, dia ngasih dorongan untuk kita maju, untuk kita kayak, oke latihan, ayo kita bersiap gitu ya. Tapi lebih buruk, buat aku itu memberikan rasa damai. Jadi, aku nggak khawatir sih, misalnya sekarang aku lagi hamil, terus nanti gimana ya cara nurunin berat badannya biar kayak kembali seperti semula, blablabla. Kayak, itu adalah hal terkurang dari masalahku, gitu. Karena aku udah ngerasa damai apapun yang perubahan badan aku, apapun yang terjadi gitu. Aku tahu bahwa aku worthy as I am. Jadi ini mungkin aku share ini supaya ada gambaran aja sebenernya, when I talk about self love, itu bukan cuman tentang pede aja. Tapi tentang bener-bener dalam diri kita, itu kita percaya, kita tahu nilai diri kita. Pastinya nggak gampang, ada latihannya. Banyak latihannya. Bisa macem-macem banget. Tapi hari ini aku cuma mau share, very simple, yang really change my life. Aku bikin gimmick aja sih, disingkatnya jadi love. Look, observe, value, sama explore. Ini adalah praktis yang sangat sederhana, yang rasanya sangat mudah. Tapi percayalah kalau dilakuin, itu bisa mengubah kehidupanmu, karena itu mengubah pikiranmu. Yang pertama adalah cari tanda-tanda pertama. Ini sebenarnya, ya ampun, ini tuh kayak mungkin akan terdengar sangat bodoh dan sederhana ya. Tapi, pelatihan yang pertama Look for Science itu mencari, coba deh, teman-teman, ini PR ya buat besok-besok. Coba cari objek yang seperti simbol hati dalam keseharian kamu, tapi nggak harus bener-bener lauk gini ya. Jadi kayak misalnya, aku lagi mandi, terus aku ngeliat kayak di tembok aku nih kayak ada sedikit bopeng di temboknya, terus kayak bentuknya kayak hati. Atau aku lagi jalan di taman, aku melihat batu bentuknya kayak hati. Atau aku melihat di awan, awannya bentuknya kayak hati walaupun agak mencong-mencong. Kenapa sih hal ini itu mengubah otakku? Karena di otak kita, mungkin kakak-kakak sudah pernah dengar, ada filter namanya reticular activating system atau RAS. Jadi kalau misalnya kakak-kakak sekarang lagi dengerin aku ngomong, Mungkin fokus kalian ke laptop atau ke handphone, tapi kalian nggak sadar dari tadi ada sensasi kaki menyentuh tanah, misalnya, atau sensasi baju menyentuh perut atau dada. Banyak banget kan input-input dari sekitar kita. Kalau kita sadar semuanya, meledaklah otak kita. Makanya perlu ada si ras ini, dia berfungsi sebagai filter. Dia memilih apa yang penting untuk diproses. Ketika kita mencari simbol hati dalam keseharian kita, itu kayak nge-train, ngelatih otak kita, bahwa menemukan cinta adalah penting. Dan akhirnya, kita jadi semakin sadar dan semakin membawa banyak cinta ke dalam diri kita sendiri. Saya tahu ini terdengar sangat sederhana, tapi cobain deh. Ketika kakak-kakak melihat simbol cinta, kasih satu detik, dua detik aja buat bilang, Ini aku nemu karena semesta atau Tuhan mengingetin kalau aku pantas dicintai. Gitu. Ini latihan yang pertama. Sangat-sangat sederhana. Semoga bisa di... Kalau kakak-kakak nggak inget apapun yang aku share, semoga gini aja diinget, gitu. Aku lanjut observe. Observe your inner roommate. Seperti yang aku bilang tadi, aku itu dulu adalah pembuli terbesar untuk diriku sendiri. Walaupun orang lain nggak bully aku gitu ya, pas aku udah di Makassar. Tapi aku dulu nggak sadar gitu loh, kalau aku tuh ngebully diri aku sendiri. Jadi, akhirnya apa dampaknya? Akhirnya aku jadi menutup diri. Ketika aku vitiligo dulu, aku nggak pernah ikut casting-casting lagi. Karena aku pikir, ah siapa sih yang bakal nge-hire Salma jadi model kulitnya belang bentong gini. Karena aku nggak sadar sama inner voice itu. Akhirnya itu menghambat aku untuk berkembang, benar-benar menghambat hidup aku. Akhirnya aku ketemulah sama this practice. Practice untuk ngobrol sama diri sendiri. Ngobrol sama diri sendiri. Sebenarnya intinya itu sih. Nah, ketika kita mulai ngobrol sama diri sendiri, biasanya kalau kita sering ngebully diri sendiri, yang kedengeran itu suara yang tukang bully, ya kan? Suara-suara yang jahat, suara-suara yang negatif itu. Nah, dulu aku kira kalau self love, artinya aku nggak boleh dengerin sama sekali suara-suara yang negatif, kecilin volumenya, buang jauh-jauh, dengerin yang positif-positif aja. Tapi ternyata nggak bisa kayak gitu. Suara yang negatif dalam tanda kutip itu ya, si tukang buli itu, dia akan terus muncul. kenapa? karena dia juga punya pesan penting sebenernya buat kita kayak semua perasaan kita itu punya mesej buat kita jadi aku belajar, oh self love itu bukan cuman dengerin yang positif-positif aja bukan cuman kayak menyadari kelebihan aku aja tapi enggak, aku juga perlu dengerin nih ada pikiran-pikiran yang sebenarnya gak nyaman juga, yang susah untuk aku cintai. Nah, caranya gimana? Kalau aku, ini bisa jadi latihan buat kakak-kakak mungkin malam ini misalnya mau dicoba digambar Aku gambar sih, kira-kira nih suara Salma yang biasanya jahat itu kayak gimana sih? Gambarnya nggak usah bagus-bagus gitu, misalnya kayak gini. Terus dikasih nama. Aku kasih nama Salmeng. Terus aku gambar juga Salma yang lebih bijak yang mungkin ini sebenarnya Salman yang udah 80 tahun yang udah tau garam, madu, asam, manis kehidupan gitu ya oh dia nih yang aku perlu latihan untuk dengerin dia selama ini aku cuma dengerin si Salman tapi aku jarang dengerin si bijak ini ketika kita udah punya gambaran dan punya nama itu kita jadi bisa lebih punya jarak sama pikiran-pikiran kita. Misalnya, ketika aku ngerasa, aku pernah punya pikiran, aku tuh nggak pantas dicintai sama suami aku. Karena kekurangan-kekuranganku. Kalau aku nggak sadar ini tuh sebenernya rumit aja dalam pikiran aku. Aku akan percaya gitu aja kan, sama those thoughts. Tapi aku bisa kayak, ini Salmeng nih lagi ngomong. So listen to even the negative thoughts, tapi you don't have to obey it. Jadi aku suka bilang, yaudah soalnya mau ngomong apa, aku dengerin kamu. Tapi bukan berarti aku memvalidasi bahwa kamu yang kamu omongin itu fakta ya. Aku cuma mau dengerin aja. Setelah itu, aku panggil si bijak. Kalau menurut si bijak gimana? Awal-awal, pasti suara si Salman ini yang lebih kencang. Tapi seiring kita latihan, suara si bijak juga jadi kencang kok. Kalau aku latihan ngobrolnya, aku suka meditasi dan journaling biasanya. Jadi, boleh dicoba kalau kakak journaling, menulis, Free writing aja misalnya, tapi dengan menyadari ini tuh ada si rumit, pikiran aku tuh bukan aku, tapi memang ada suara-suara dalam pikiran aku. Ini adalah pengalaman universal menurut aku. Pasti semua orang punya pikiran yang konflik. Jadi coba latihan untuk ngobrol sama diri sendiri. Atau dulu aku, sebelum hamil ya, aku kan suka nyetir di mobil, itu aku ngobrol sama diri sendiri out loud aja, ngomong kayak, ya gimana Sal, gini, gini, gini, gitu. Banyak orang yang kayak, ih aneh banget nih orang gitu ya. Tapi itu yang bener-bener bantu aku sih untuk dengerin diri aku sendiri. Terus, V-nya values. Nah, apa sih yang aku maksud dengan values? Sebenernya kalau ngomongin values ini bisa jadi satu workshop sejam sendiri ya. Sederhananya aja deh, kita sering denger kan, yaudah kalau mau self love, yang penting lu jadi diri sendiri aja. Be yourself. Tapi artinya apa sih sebenarnya be yourself? Be yourself buat aku sederhananya adalah hidup sejalan sama nilai hidup atau value. Value tuh apa sebenarnya, yaudah apa yang menurut aku penting dalam hidup aku, gitu. Tapi banyak orang yang menjalani hidup nggak mempertanyakan apa yang sebenarnya saya hargai. Dulu, karena aku nggak pernah mempertanyakan ini, akhirnya saya hargai kecantikan. Dulu aku hargai kecantikan. Aku beauty treatment, aku diet, segala macam. Buat aku yang penting dalam hidup itu aku harus cantik gitu. Tapi ternyata setelah aku sekarang udah berkembang, aku mempertanyakan apa yang bener-bener penting buat aku. Sebagai contoh, aku sadar, I value inspiration. Setiap hari aku perlu terinspirasi dan menginspirasi orang lain, itu yang bikin hidup aku fulfilled. Gitu. Nah, ini aku mau kasih contoh nyata ya. Ketika aku udah tahu value aku adalah inspirasi, jadi lebih gampang loh buat aku bahkan menerima kesulitan atau kegagalan dalam hidup. Jadi, sebagai cerita aja, mungkin kalau teman-teman lihat gambar ini, oh kelihatannya ini Salma sukses nih, gitu. Aku, ini salah satu momen terbangga aku, aku jadi speaker di acara narasi, ketemu Banana juga, gitu kan. Nah, tapi yang gak banyak orang tau sebenernya dibalik itu, itu tuh awalnya dengan kegagalan aku tuh gagal sebenernya jadi putri Indonesia tadi di awal ada tulisan aku tuh putri Indonesia DKI Jakarta favorit gitu ya sebenernya putri Indonesia DKI Jakarta favorit itu artinya aku gak jadi finalis sebenernya gitu nah tapi ketika aku gagal itu ya pasti sedih awalnya cuman aku sadar kayak Aku ikut Putri Indonesia waktu itu bukan karena aku butuh mahkota, bukan karena aku butuh sesh, bukan karena aku butuh validasi orang lain, enggak. Tapi cuma karena aku mau menginspirasi orang lain dengan pesan aku bahwa kulit vitiligo juga bisa cantik kok. Ketika aku memilih untuk aku merasa cantik. Aku bisa berdaya kok, aku bisa mencapai mimpi-mimpi aku. Akhirnya, karena aku sadar, itu nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya nilainya aku bilang aja, eh, gue tuh Putri Indonesia DKI Jakarta favorit, lo mau nggak collab sama gue? nilainya n Salah satunya yang aku email adalah narasi. Dan ternyata narasi bales email itu, mereka tertarik mengundang aku jadi speaker. Dan itu juga sejalan sama aku kayak narolah di wallpaper laptop waktu itu, reminding myself of what I value. Ternyata sejalan. Jadi, when I know what I value, ternyata menghadapi kegagalan itu juga yaudah kan yang gue mau bukan seshnya, bukan mahkotanya yang gue mau kan jadi inspirasi buat banyak orang dan ternyata aku bisa jadi ini aku juga belajar kita mau jadi korban, mau kalah, atau jadi pejuang itu pilihan jadi itu pindah pikiran dan itu pilihan Yang terakhir, E adalah express. Expressing your love for others. Self-love itu nggak egois. Banyak yang kira ya kalau orang self-love itu berarti dia cuma mikirin dirinya sendiri. Padahal nggak. Aku percaya cinta itu kan energi ya. Semakin banyak kita ngasih, semakin banyak kita terima juga. Tapi dengan cara-cara yang nggak bisa kita prediksi. Makanya aku bikin komunitas mengenal diri. Dan itu ternyata bantu aku lho untuk jadi semakin sayang sama diri aku sendiri juga. Misalnya, dengan aku charity gitu ya. Menyadari yangpun orang lain banyak yang hidupnya juga lebih sulit. Dan mereka tetap bisa bahagia. Mereka tetap bisa menemukan kebahagiaan. Mereka tetap bisa berdaya bahkan. Ada orang yang punya disabilitas yang lebih nyata daripada aku yang mungkin hanya perubahan warna kulit aja. Tapi mereka bisa berdaya mencapai mimpi-mimpinya. Kenapa aku enggak? Jadi ternyata expressing my love for others itu juga bantu untuk semakin aku feed self-love juga. Dan ini juga dari bukunya Pak Gobind ya. Kalau kita bisa gali dan nemuin keunikan diri, terus kita pake untuk memberi. Itu akan memberi kepeluhan atau kepuasan. Jadi ekspresi dan memberi itu juga bagian besar dari self love sebenernya. Pada akhirnya, semua yang aku share hati ini, bukan berarti aku udah udah lulus, udah 100% deh sayang sama diri sendiri, kenal banget nih Salma sama dirinya sendiri enggak ya, karena self love itu perjalanan buat aku bukan akhir, bukan destinasi gitu so I'm gonna end with this self love is not a destination tapi latihan yang dilakuin setiap hari buat jadi sahabat bagi diri sendiri I know ini terlalu luas untuk aku ceritain dalam kurang dari sejam. Jadi kalau teman-teman mau untuk berkoneksi lebih lanjut sama aku, aku sebenarnya menciptakan komunitas WhatsApp. Jadi komunitas aja di WhatsApp, di mana aku bakal share weekly insights, prompts, buat refleksi masing-masing. Dan ketika nanti misalnya aku ada acara jadi speaker seperti ini, atau aku ada course, atau ada open for coaching slots, aku akan umumin di situ. Karena kalau dari Instagram, terima kasih yang udah follow aku di Instagram, Instagram itu kita bisa lost in. di seluruh dunia media sosial. Makanya aku juga senang banget yang hadir di sini adalah orang-orang yang tergabung di WhatsApp group-nya Pak Gobind. Dan semoga kita bisa tergabung di komunitas self-love juga. Oke, itu saja yang saya kongsikan. Terima kasih banyak. Aku kembalikan ke Pak Gobind. Wow,
terima kasih. Dan aku sudah bergabung. teman-teman saya berharap juga bisa join disini supaya bisa belajar banyak dari anak muda karena disini banyak yang lebih tua karena biasa yang ikut Buteko, yang ikut TRI itu biasanya 35 ke atas atau 40 bahkan lebih karena udah mulai capek-capek, mulai energinya turun, makanya itu belajar nafas bisa supaya lebih baik kalau ada yang mau bertanya sama gue ya silahkan, tapi ini menarik sekali bagaimana fokusnya bukan keluar, tapi fokusnya ke dalam seperti saya dulu selalu mengatakan bahwa kita manusia nggak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar diri kita kita bermasalah dengan ketakutan kita, kebencian kita, keserakan kita dan semua yang ada di dalam diri kita, termasuk ego kita maka itu ketika kita punya masalah, tolong jangan cari jalan keluar tapi cari jalan ke dalam Masalahnya di dalam Itu-itu pula yang mendasar saya bikin buku Happiness Insight, thank you very much sudah nge-quote dari beberapa tulisan itu sampai sekarang juga saya berpikir bahwa itu bukan saya yang nulis Tadi waktu saya baca, oh iya saya pernah nulis seperti itu, rasanya enggak gitu Thank you. Tapi itu menarik sekali, pain ya. Saya selalu menggarisbawahi bahwa dunia ini sangat-sangat, apa itu namanya, Salma, kalau kita mau melihat itu kan sangat mengagumkan yang namanya suka, sukses, jadi orang hebat dan sebagainya seperti itu. Tapi menurut saya orang itu bisa tercerahkan, enlightened, itu karena lewat jalan yang namanya duka itu sendiri. Kesulitan itulah yang membawa kita menjadi lebih luar biasa, seperti Mantri Teresa ketika datang ke Calcutta dan melihat kemiskinan di situ, Gandhi dengan kekacauan yang di India Kemudian kita lihat Buddha, bagaimana dia melihat berbagai duka dan kemudian dia menjadi tercerahkan Nelson Mandela 27 tahun di penjara dari orang yang kasar, keras menjadi orang yang sangat halus, pemaaf Nabi Muhammad jahiliya dengan jahiliya yang di Arab, atau Yesus yang disalim, semua orang hebat itu pasti melewati jalan yang namanya duka itu sendiri Karena ketika kita suka, ketika kita sukses, biasanya kepala kita rasnya bukan ke dalam, keluar terus seperti itu Kalau kita beli baju, dapat baju bagus, kita ingin pamer, keluar Kita punya rumah, kita sibuk dengan cicilan Kita punya mobil, kita ingin mendandani mobil, fokusnya di luar Dan kita itu ketika sakit gigi, baru kita sadar kalau kita punya gigi Kalau hati kita sakit, baru kita sadar bahwa kita ini punya jiwa yang lagi luka So, ya. Ada yang mau bertanya, silakan. Teman-teman, kalau ada yang mau, tapi kelihatannya udah pada terkagum-kagum jadinya pada lupa ini, bertanya. Ada yang tanya ini, apa hal-hal yang seharusnya dihindari untuk meningkatkan self love itu sendiri? Jadi, hal-hal yang harus dihindari.
Satu kali ya, kalau menurut aku, menaruh opini orang lain terlalu penting. Apalagi kita sekarang di sosial media, everyone's opinion. Aku saja serba salah. Aku tutupin VTLG-nya, dibilang, gimana sih, kok nggak konsisten misalnya. Tapi aku bilang, nggak perlu ditutupin, ada aja yang komen, Ah, cari sensasi nih, Salma, gitu. Ah, kontennya vitligo mulu, gitu. Ada aja orang mah, komen mah, ada aja, gitu kan ya. Tapi aku sadar, ya kita nggak bisa mengatur orang lain mau beropini apa, namanya juga manusia kan pasti punya opini. Ya terserah aja sih orang lu beropini, gitu, silahkan aja. Kemarin baca bukunya Mel Robbins, yang Let Them, Jadi, itu juga jadi boundaries ya. Let them, let people have opinions, let people judge. Tapi juga ada let me. Let me apa? Kalau aku, let me still show up as myself, as authentic as possible, tetap berdaya, tetap jadi diri aku sendiri, terserah orang lain mau bilang apa. Jadi, rasanya damai dan empowered ketika opini orang lain itu nggak terlalu penting tetap ada, nggak apa-apa nggak bisa kita paksain, nggak bisa kita block semua haters, nggak mungkin biarin aja tapi aku juga tau yang penting adalah opini aku tentang diri aku sendiri
yes, exactly tadi saya sempat sharing sebuah quote You must develop the ability to be disliked in order to free yourself from the prison of other people's opinion Itu yang saya sharing ke teman-teman di full course Karena lagi teman-teman ngumpulin suka setiap hari ngirim-ngirim quote Dan hari ini tiba-tiba saya dapat quote itu bagus banget dan kemudian saya share ke teman-teman yang lain yang menarik adalah sebenarnya lagi-lagi bahwa apapun yang dikatakan orang lain kan tidak mendefinisikan siapa diri kita hanya mendefinisikan siapa dirinya yang menceritakan itu Salma pernah posting sesuatu, beberapa orang merasa tercerahkan dan beberapa orang merasa apaan sih lu, begitu kan postingan is postingan, apakah itu bagus atau enggak sangat tergantung dari orang yang melihat, bukan dari postingan tersebut tapi apa yang ada di dalam diri orang tersebut, seperti itu Apa yang dikatakan orang itu sama sekali tidak mencerminkan diri orang yang dikatakan, tapi mencerminkan siapa dirinya. Menurut saya sih. Saya juga vitiligo, saya merasa tidak sendiri. Ada yang tanya begini, ini bagus sekali, dia bilang, apakah hal-hal, sebentar, ada yang bilang, kak, apakah ini bisa nggak hal ini diterapkan untuk anak usia dini? Maksud saya, saya tahu sebentar lagi Salma akan punya anak, anak pertama, jadi belum berpengalaman, tapi kira-kira sebagai dokter, sebagai orang yang sudah ketemu dengan banyak orang juga, Nah, kalau temen-temen disini udah punya anak gitu, terus bagaimana cara untuk supaya menanamkan konsep self-love ini pada anak usia dini? Aduh,
pertanyaannya berat nih. Anak aku masih dalam perut. Tapi mungkin aku bisa bilang kan anak itu Sepertinya ya, ini kesotoan Salma aja. Anak itu kan meniru orang tuanya ya. Jadi, ya pasti dimulai dari diri kita gimana kita bisa jadi contoh yang baik dulu. Misalnya, kalau misalnya kita sering ngomong nih ke diri kita sendiri, jangan-jangan foto mama, Gendut, kelihatan gendut, gitu. Itu kan menanamkan ke anak kita, oh berarti aku juga nggak boleh gendut nih nanti, gitu kan. Dan juga ya, aku juga merasa mungkin bagaimana keluarga aku Papa, Mama, ngetreat aku itu juga sangat membantu aku untuk bisa mencintai diriku. Karena ketika aku vitiligo, mungkin awalnya kita semua bingung dan panik. Kayak, ini kenapa nih? Dulu Mama, Papa bantu cari solusi ke dokter kulit, segala macam. Cuma setelah kita mengerti, ya udah lah vitiligo ini cuma gini doang kok, nggak berbahaya, cuma perubahan warna kulit aja. Keluarga aku itu tidak pernah terlalu berlebihan fokus pada penampilan aku. Jadi, bukan yang kayak, nggak apa-apa Salma, kamu cantik kok. Nggak juga, nggak usah dipuji-puji lebay gitu sebenarnya. Tapi mereka melihat aku itu lebih dari sekedar penampilan. Jadi, mungkin mereka lebih peduli sama karir aku atau apa yang aku suka, hobi-hobi aku. Jadi, melihat aku itu sebagai orang sendiri. Jadi mungkin sebagai orang tua, ketika kita bisa melihat anak lebih dari sekadar value yang superficial itu, penampilan atau segala macam, jadinya juga anak itu juga menyadari, oh aku tuh, I'm a holistic being, gitu loh. Aku juga punya banyak hal lain selain kulit aku, kalau aku gitu ya. Jadi support system aku itu bukan yang kayak berlebihan memuji-muji, Salma gak apa-apa, Salma kamu cantik, enggak. Tapi mereka biasa aja, gitu. Mereka melihat aku kayak manusia biasa aja membiarkan aku untuk tetap eksplor hidup, tetap be passionate dalam hal yang aku passionate about, gitu. Ini tuh ya yang aku bisa share. Karena belum praktek langsung jadi ibu, baru sebagai anak.
Support sistemnya melihat lebih esensinya, bukan hanya sekedar kulit atau penampilan itu sendiri, sehingga ketika penampilannya berubah, maka, dan nggak masalah, aku melihat kamu bukan karena penampilan, bukan karena fisik, tapi karena hal yang lebih dalam daripada sekedar
fisik itu sendiri. Iya, benar. Ini sekaligus menjawab kak Lori juga ya. Kayak apa sistem dukungan yang tepat gitu. Buat aku sih, ya orang-orang yang ya itu tadi melihat aku tuh lebih dari sekedar cuma penampilan. Jadi kayak aku punya temen aku, sahabat aku yang sampe bilang, iya, Ma, gue hampir lupa lo vitiligo, gitu. Karena ya udah aja, gitu loh. Kayak bukan itu yang hal yang paling penting atau hal yang paling menarik tentang aku, gitu.
Oke, oke. Itu menarik. Apakah dokter Salma juga melakukan terapi? Aku ke psikolog.
Dulu ke psikolog karena aku berjuang dengan imej tubuhku. Sampai sekarang, aku ke psikolog karena aku mau mempersiapkan diri sebagai ibu. Masih banyak hal yang perlu tetap aku gali. Aku sekarang lagi hamil 8 bulan, suami aku jauh di Bali. pernah ikut WSG bareng cuma sekali dua kali, pastinya ada tantangan tersendiri. Aku belajar untuk lebih intens nih ngobrol sama diri aku sendiri, bahkan sekarang ngobrol sama bayi aku. Banyak banget lah, pokoknya pelajaran mengenal diri dan self love sejak hamil juga. Jadi even at this point in my life, aku masih tetap ke psikolog juga. Dan ya, menurut aku itu juga hal yang aku gak
malu dan bahkan bangga. So, self love itu kan cinta pada diri sendiri. So, basically adalah apa yang kamu katakan pada dirimu sendiri itu jauh lebih penting daripada apa kata orang terhadap dirimu. Kurang lebih seperti itu kan. Dan tantangannya adalah kita dari kecil terprogram untuk Nanti orang bilang apa, itu kan sudah terpatri di dalam diri kita sehingga kita mencoba bagaimana fit terhadap kondisi keadaan Jadi itu seperti bahwa saya harus memaksa diri saya beli batik atau kebaya baru dan yang bagus untuk supaya saya bisa pergi ke kondangan dan kemudian supaya saya bisa diterima karena batik dan yang bagus atau kembayaan yang bagus inilah yang akan membuat orang-orang lain itu menerima diriku jadi lagi-lagi kalau kita fokusnya pada hal-hal tersebut berarti kita juga akan memancing orang-orang yang sejenis untuk datang dan kita akhirnya ke frekuensi-frekuensi yang dimana ketemu dengan orang-orang yang hanya fokus pada hal-hal yang di luar saja tapi kalau kita bisa lebih dalam, maka kita akan ketemu orang-orang yang berpandangan kurang lebih sama dengan kita dan kita juga gak terganggu dengan orang lain mau mengatakan apa pada kita seperti sekarang kita menyadari bahwa apapun yang dikatakan orang adalah benar-benar mencerminkan hanya dirinya sendiri, program di dalam dirinya sendiri dan ya, menurut saya Hal yang paling berat di dunia ini kan bukan jalaninnya, memikirkan sesuatu yang dijalaninnya Waktu pertama kali vitiligo itu muncul di dalam kepala macam-macam Tapi ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri, bagi saya sih, bagi semua orang pasti akan menjalani dengan lebih ringan seperti itu Kemudian ada yang bertanya, mungkin ada 2-3 orang lagi dan setelah itu, ini sudah jam 10 lebih disini, jadi kita mesti akhirin Berarti salah satu cara buat anak mungkin nggak melakukan labeling kali ya Pak Gopin dan Kak Salma, ya mungkin itu ya Tidak memberikan label itu ya Kalau
misalnya, aku paham sih, maksudnya Aku juga privilege ya dengan aku punya keluarga yang mendukung dan aku tau gak semua orang mungkin punya privilege itu atau bahkan kalau aku dengar komen dari orang-orang punya vitiligo di luar Jakarta gitu ya sampai susah nyari kerja, ditolak dari pekerjaan, dicek berkali-kali ini kamu menular atau enggak gitu kan. Jadi aku juga paham mungkin ada orang-orang yang kayak gak bisa semudah itu gitu untuk seperti aku yang cukup privilege hidup di kota dan orangtuaku bisa menerima aku apa adanya. Tapi ini kalau dari pandangan aku ya maksudnya pengalaman aku pribadi aja. Sebenarnya bukan berarti mungkin hidup aku semulus itu. Pasti tetap ada. Kok orang yang mempertanyakan tempat-tempat peserjaan atau keluarga yang udah lama gak ketemu, gitu misalnya. Kenapa? Kalau misalnya akunya itu masih insecure dan sangat-sangat memperlulikan apa kata mereka, dan aku juga tidak teredukasi apa itu vitiligo, it will get to me, kan? Pasti aku bakal kayak, Aduh, gue ditanyain lagi nih. Pasti mereka ngejudge gue. Jangan-jangan gue gak diterima lagi di pekerjaan ini. Jangan-jangan gini, gini, gini, gitu. Tapi, karena dimulai dari akunya sendiri dulu, akunya udah yakin kok pilih gue itu apa. Jadi aku bisa dengan mudah menjelaskan ke orang lain. Akunya juga percaya diri, dan akunya juga tau dalam diri aku, I'm worthy as I am. Jadi, energinya juga beda loh, gitu. Ketika kita ngomong sama orang, tanpa aku perlu kayak cut off orang atau gimana, gitu ya. Aku tampil dengan I'm worthy as I am, it's already a boundary. You cannot bully me, gitu. You bully me, itu gak ngaruh buat aku, gitu loh. Jadi, of course in life, mungkin ada hal-hal Momen-momen dimana kita perlu memotong orang. Tapi buat aku yang paling penting itu sebenarnya boundaries itu kan bukan tentang kita nyuruh orang lain ngelakuin apa ya, tapi lebih kayak kitanya tahu nih yang kita butuhkan itu apa. Jadi, menurut aku batas itu sebenarnya juga dalam kata-kata. Jadi, itu sih. Aku, ketika aku mengenal kata-kataku, itu sudah batas. Jadi, orang terserah mau ngomong apa, keluarga jauh itu mau ngomong apa, ada teman kantor yang mau ngomong apa, itu tidak terjadi pada aku.
Saya sih nangkepnya begini, bahwa Salma bukan cuek, tapi menyadari, lagi-lagi menyadari bahwa orang tersebut mungkin nggak mengerti tentang apa itu vitiligo, siapapun orang bisa melakukan itu, mungkin pandangannya karena mungkin pernah mendapatkan kata-kata bahwa itu adalah menular atau apa sehingga mereka takut dan seperti dia menyadari bahwa ya sudah kalau mereka memikirkan seperti itu, it's not me, pandangan-pandangan dia itu juga terjadi pada saya waktu ketika semua orang Nggak kenal saya, tapi ketika kelihatan Gobind nggak pake sandal, nggak pake sepatu, kemudian orang tau bahwa beberapa orang cuma denger-denger Gobind 17 tahun nggak pake sabun, sampo, dan sebagainya Terus kemudian berpikir bahwa pasti bau, pasti ini, pasti itu, dan sebagainya seperti itu Dan suatu hari, saya mau cerita sedikit, waktu saya lagi di Taiwan waktu itu, ketemu ada TKI TKI itu tenaga kerja Indonesia yang di mana berbahasa Jawa Dan saya nggak pakai sandal, sepatu, dan kemudian dia ngerasain saya pakai bahasa Jawa Saya kan ngerti bahasa Jawa, kemudian saya ketawa dalam hati, karena saya nggak merasa bahwa itu adalah sesuatu pengginaan atau apa, dan kemudian saya samperin, saya ajak ngobrol, dan kemudian dia kaget, karena saya bisa bahasa Jawa juga Ketika ada orang yang melihat saya dan sinis karena saya nggak pakai sandal, saya bukan cuek, saya juga nggak melawan dia, kamu tahu nggak saya melakukan ini untuk misi sosial, tapi saya menyadari bahwa setiap orang itu memang terprogram bahwa setiap orang harus pakai sandal, kalau nggak pakai sandal nanti kotor, nanti banyak bakteri, jadi saya tidak menentang Juga gak melawan, juga tidak cuek, tapi I understand Dan ya sudah, gak apa-apa juga begitu Ini diriku, ini pilihanku, saya tahu positifnya, negatifnya dan sebagainya Sudah saya pikirkan matang-matang, dan ya saya menerima diri saya seperti itu Mungkin itu adalah self love bagi saya juga, seperti itu Oke, so mungkin ini yang terakhir Salwa untuk menyayangi diri sendiri apabila saya mengalami sakit yang sebetulnya bisa disembuhkan dengan operasi tapi saya ada trauma dengan operasi dan di satu sisi ada juga banyak yang sembuh tanpa operasi bagaimana cara bisa berbicara dengan diri sendiri untuk menentukan pilihan yang terbaik buat diri sendiri sebagai bentuk sahwa Apakah ada cara latihannya? atau mesti gabuk, atau mesti baca bukunya Salma. By the way, buku itu tentang apa? Nanti mungkin bisa langsung dielaborate.
Oke, boleh. Ini Kak Sri Yulid, terima kasih untuk pertanyaannya. Sebenarnya intinya kita semua mungkin punya kegalauan-kegalauan hidup gitu kan, terus gimana sih cara membuat keputusan yang terbaik buat diri sendiri gitu. Banyak caranya, tapi mungkin kak Yuli dicoba dulu beberapa yang tadi aku share. Misalnya, yang mungkin bisa relate value gitu. What do you value dalam hidup ini? Karena buat aku value itu kayak kompas ya. Kayak Google Map deh. Kompas. Udah 2025 ya. Kayak Google Map gitu. Yang bantu kita mengarahkan untuk ketika kita mau membuat decision, yang paling terasa what feels right for me, it's based on my values. Karena kalau kita gak tau value kita kan jadinya kita ngikutin apa kata orang, apa kata society. Jadi ini mungkin jawaban aku jadi general ya, untuk siapapun yang lagi mengalami kegalauan kehidupan, get to know your values dulu, terus coba tanya ke diri sendiri, pilihan yang mana yang sejalan sama value aku. Tentunya pertanyaan Kak Sri Yuli aku tidak bisa menjawab dengan spesifik, karena kita juga nggak tahu ya, trauma operasimin seperti apa dan lain-lain. Karena trauma itu kan juga nyata, kalau memang ada trauma ya pastikan harus kita lebih dalam lagi, misalnya terapi dan lain-lain. Tapi secara general jawaban aku seperti itu. Terus tadi buku ini. Ini yang warna pink limited edition sebenarnya, tapi aslinya warna putih sama warna biru. Ada yang bahasa Indonesia sama bahasa Inggris. Ini tuh guide journal, jadi bukan buku untuk dibaca aja, tapi buku untuk ditulis-tulis. Nah, ini nih, values. Jadi, value tuh gimana sih cara tahunya? Kalau tadi aku cuma satu slide, tapi kalau di buku ini untuk mengetahui value aja tuh refleksinya ada 10 halaman kali. Jadi, ini juga guide journal sebenarnya. Kalau orang journaling, banyak banget yang suka bingung, kayak, aku harus nulis apa ya, gitu. Nah, di buku ini itu dipandu untuk kenalan sama diri sendiri. Ini ada di Shopee Tokopedia kok, kalau tertarik boleh banget. Dan ini uangnya yang kalau beli buku film bukan masuk ke aku, uangnya masuk ke yayasan mengenal diri. Jadi di mengenal diri itu aku punya beberapa relawan, kita ngasih counseling gratis, support grup gratis, untuk orang-orang yang butuh servis mental health. Jadi, buku ini yang membiayai mengenal diri. Jadi kalau mau support, boleh banget.
Saya coba cari di Shopee atau Tokopedia, kemudian nanti saya bagikan di grup Sehingga teman-teman kalau ingin belanja atau beli, bisa support
lewat grup yang ada Terima kasih banyak
Halmat, terima kasih banyak untuk inspirasinya hari ini Saya rasa teman-teman banyak sekali yang terinspirasi dan mulai lebih, bukan hanya pede, ini bukan masalah pede, tapi merasa worthy, itu yang lebih penting pede itu keluar, tapi worthy itu ke dalam dan ini saya belajar banget bahwa selama ini kita berpikir bahwa harus pede harus pede, tapi yang jauh lebih penting di dalamnya, worthy Anda bernilai, berharga dan kalau harga diri kita tinggi, maka otomatis menurut saya kesuksesan itu tinggal ngikut aja kok ya sukses ini bukan arti uang aja, tapi hal-hal yang lain yang kita impikan dalam hidup kita Well, thank you banget untuk hari ini, malam ini. Dan semoga semuanya lancar, termasuk proses kelahirannya nanti. Dan semuanya baik-baik. Salam untuk Bapak di rumah, Pak Leo. Yang selalu aktif ngopi kemana-mana.
Thank you. Terima kasih, Pak Gobind, untuk kesempatannya. Aku sangat terhormat. Terima kasih juga, teman-teman semua yang udah meluangkan waktunya malam ini, yang udah membuka hatinya untuk dengerin aku. Semoga kita bisa berkoneksi di tempat lain juga. Terima
kasih banyak. Terima kasih. Oke. Saya ijin, Lev.
Sampai ketemu. Terima kasih. Ditunggu kopi di rumah lagi, Pak Gobind. Jalan-jalan. Dengan senang hati. Selamat pagi, semuanya. Selamat malam.











