In this Indonesian‑language monologue, Gobind Vashdev argues that men should learn from women to handle stress more effectively. He begins by describing biological differences: women’s brains process information 7‑8 times faster and have a thicker corpus callosum, which links the hemispheres more tightly, leading to higher perceived stress. He then notes the intense internal pressure women face to be perfect in multiple social roles. Despite women’s greater stress, statistics show that men dominate harmful coping outcomes—two‑thirds of alcohol users, 80% of drug users, four‑fifths of suicides, and 90% of participants in community‑based courses are male. Vashdev asks why this paradox exists and points to three coping mechanisms women employ: (1) sharing stories without needing solutions, (2) allowing themselves to cry, and (3) embracing others, which triggers oxytocin release. He cites family therapist Virginia Satir’s recommendation of multiple daily hugs for health and happiness. The speaker concludes that men can reduce their own stress by adopting these practices—talking, crying, and hugging—drawing on insights from his book Happiness Insight.
Chapters
Saya sebagai laki-laki, tapi saya selalu menyarankan setiap laki-laki itu belajar pada wanita dalam menghadapi stres. Nah, di buku ini saya tulis tentang saatnya belajar pada wanita. Kenapa seperti itu? Begini, susunan otak pria dan wanita itu berbeda. Kalau kita mau ditanya stres, stresnya siapa? Wanita itu lebih stres daripada pria. Ketika masalahnya sama nih, punya masalah sama, otak wanita itu bekerja 7-8 kali lipat lebih cepat daripada pria. Sehingga kalau kecepatan itu diletakkan di kepala pria, pria nggak akan sanggup. Jadi stresnya jauh lebih banyak di wanita. Yang kedua, di antara otak kanan dan otak kiri, di tengah-tengah itu ada korpus kalasum. Jembatan antara otak kanan dan kiri. Dan di situ, jembatannya wanita itu lebih tebal daripada pria. Dan itu membuat wanita masalah itu dihubungkan satu dengan yang lainnya itu lebih rapat, lebih berkembang. Yang nggak ada hubungannya dihubung-hubungkan. Nah, itu wanita itu ya. Dan itu membuat wanita jauh lebih stres daripada pria. Kemudian yang ketiga, bahwa ada tekanan di wanita dewasa untuk menjadi sosok yang sempurna. Ibu yang mulas asik, bos yang berwibawa, menjadi tetangga yang baik, tubuh yang menggairahkan, dan begitu banyak hal. Jadi tekanan ini bukan dari orang lain, tapi tekanan itu dari dalam dirinya sendiri. Dan itu membuat wanita jauh lebih stres daripada pria. Namun anehnya, anehnya nih ya, bahwa 2 per 3 yang menggunakan alkohol, itu adalah pria. 80% yang menggunakan narkoba, itu pria. 4 dari 5 yang bunuh diri, itu pria. 90% yang kursus di lembaga permasyarakatan, itu juga pria. Loh kok aneh. Yang stres cewek, yang bunuh diri pria. Yang masalah cewek, tapi kok yang narkoba minum-minum pria. Nah kenapa? Apa yang terjadi di wanita? Sehingga dia mampu untuk menahan stresnya. Nah paling tidak ada tiga yang saya tulis di sini. Yang pertama adalah, karena wanita itu berbagi. Dia cerita. Nggak penting solusi. Yang penting cerita. Kalau udah keluar itu dia merasa lega. Kapan-kapan masalahnya sama bos, ceritanya sama skuripi. Masalahnya sama pasangannya, ceritanya sama teman atau siapapun yang nggak ahli dalam urusan hubungan yang sebaik. Pokoknya dia lepas. Pokoknya udah keluar. Dan itu membuat lega. Yang kedua wanita boleh nangis, sementara cowok nggak boleh nangis. Kita menahan. Padahal cowok sama cewek itu sama-sama punya kelenjar air mata. Yang di mana, ya nggak apa-apa dong. Tapi... sementara kita dididik untuk tidak boleh nangis. Kemudian yang ketiga, wanita boleh berpelukan. Sementara cowok kalau pelukan, omongannya macam-macam seperti itu. Padahal di bawah kulit kita, ketika kita sentuh, hormon oksitosin muncul. Dan hormon itu adalah hormon yang menyebabkan kita merasakan cinta damai, self love dan sebagainya. hormon Ada seorang terapis keluarga yang sangat terkenal namanya Virginia Satir mengatakan bahwa oksitosin. untuk bertahan hidup kita perlu 4 pelukan sehari, untuk kesehatan kita butuh 8 pelukan sehari, dan untuk kebahagiaan kita perlu 12 pelukan dalam sehari. So, bila kita ingin Lepas dari stres kita, paling tidak kita perlu untuk berbagi, berpelukan, dan menangis. Itulah cerita yang saya dapat atau yang saya tulis di buku Happiness Insight. Semoga kita juga belajar untuk bisa melepaskan stres kita melalui cerita atau tulisan ini. Salam bagi dari saya, Gobind Basdev.