Jovlin Fass walks through a rainy airport explaining why obsessing over what you cannot control—weather, gossip, other people's opinions—wastes your life. Instead, build physical resilience through exercise and cold exposure, grow intellectually by studying mathematics, and develop mental discipline to ignore external judgment. Strengthen your body and mind to handle whatever comes.
Chapters
Ketika saya jalan kaki seperti sekarang ini di airport atau dimanapun, dan kemudian orang bisik-bisik cerita ini, apa yang diomongin orang lain di luar sana, saya nggak tahu. Jalan pagi terus hujan seperti ini, terus gimana? Ya udah, gimana lagi? Ya nggak apa-apa toh ya. Loh Pak, bisa berteduh? Ya bisa aja sih, tapi di sini kebetulan nggak ada. Terus bagaimana dong? Nanti kan masuk angin, nanti kan sakit kepala. Ya bisa saja, beberapa orang mungkin merasakan itu, tapi saya enggak. Mungkin saja itu karena diprogram waktu kecil. Kalau hujan itu sakit kepala, kalau hujan itu nanti masuk angin dan sebagainya. Kemudian kita tersuggesti dengan itu. Apa yang saya mau bilang, ini adalah rahasia kehidupan untuk menjadi bahagia. Bahwa kita tidak bisa mengontrol alam ini. Tadi itu panas, tiba-tiba hujan. Ya kita enggak tahu. Itu di luar kontrol kita. So, apa yang kita bisa kontrol? Saya olahraga setiap hari, saya olah nafas setiap hari, saya melakukan sauna, mandi es, atau apapun. Untuk semuanya tujuannya satu, untuk meningkatkan kekebalan tubuh. So, yang bisa saya kontrol adalah meningkatkan kekebalan tubuh untuk menghadapi sesuatu yang tidak bisa dikontrol. Saya belajar matematian setiap hari untuk menghadapi perubahan zaman yang ada AI, ada robot, atau yang lainnya. So, itu yang saya bisa kontrol. Saya nggak bisa kontrol semuanya. So, saya pikir, wah inilah cara bagaimana kita bisa hidup lebih sehat, lebih berbahagia, dan lebih bijak. Yaitu kontrol apa yang kita bisa kontrol. Ketika saya jalan kaki seperti sekarang ini di airport atau dimanapun, dan kemudian orang bisik-bisik cerita ini, apa yang diomongin orang lain di luar sana, saya nggak tahu. Apa yang Anda persepsikan tentang diri saya, saya juga nggak tahu. Tapi itu kan tidak bisa saya kontrol. Kalau setiap hari saya mikirin netizen, mikirin orang-orang tersebut, maka hidup saya hancur. Yang bisa saya kontrol adalah apa yang ada di dalam kepala saya, apa yang ada dalam tubuh saya, apa-apa yang di sekitar saya yang saya bisa kontrol. So itulah yang kita perlu fokuskan energinya untuk bagaimana kita bisa meningkatkan kehidupan kita. Oke? Jadi daripada ketakutan terlalu hujan, mari kita menari dalam hujan dengan Rian. Salam bahagia dari saya, Jovlin Fass.