In this motivational talk, Gobind Vashdev thanks those who call his life "ribet" (complicated) and frames that label as a compliment indicating he is on the right path. He argues that problems arise when our abilities are lower than the challenge, and as our capabilities grow, the same problems become trivial. Using examples like an expensive handbag that worries most people but not the financially capable, he illustrates this principle. Vashdev stresses that true growth comes from confronting early hardships—learning, physical exercise, and breath control—because these difficulties strengthen our mental and physical muscles, enabling us to handle heavier loads later. He critiques modern reliance on shortcuts such as AI, calculators, and smartphones, warning that avoiding effort hampers skill development. By consistently practicing uncomfortable activities (e.g., daily exercise, mastering breathing), we expand our comfort zone, making life easier over time. He concludes with a call to embrace challenging tasks, stating that as we mature, problems shrink, and taking bold actions leads to a more fulfilling, “young” life.
Chapters
Bagi teman-teman yang mengatakan bahwa hidup saya ribet, terima kasih. Karena seringkali itu menjadi pujian atau komplimen bagi saya. Bahkan motivasi atau dorongan bagi saya bahwa saya kemungkinan besar sudah berada di on track. Nah, orang sukses itu jumlahnya sedikit uang. Dan orang sukses itu kemampuannya selalu tinggi. Saya percaya bahwa ketika kita punya masalah, artinya bahwa kemampuan kita itu lebih rendah daripada Masalah tersebut, ketika kemampuan itu tinggi, maka itu tidak masalah lagi. Kalau kita jalan-jalan ke mal melihat tas yang harganya 300 juta, masalah bagi sebagian besar orang. Tapi bagi orang yang punya kemampuan finansial tinggi, itu tentu enggak masalah. Lalu bagaimana kita bisa meningkatkan kemampuan kalau kita tidak melewati masa-masa sulit atau keributan-keributan tersebut? Kita ini sekarang jaman EA, ya kan? Pernah enggak orang tua bilang, Kamu gak usah belajar matematika.
Tuh ada AI, ada kalkulator, mana-mana handphone. Kamu tuh bisa ngecek semuanya. Kamu gak usah belajar nulis, nak. Tuh, kamu cuma ngomong, kemudian dicapetin, disummarize oleh AI. Ngapain juga nulis?
Tapi kita tahu bahwa semua keributan yang kita lewati di masa-masa kecil kita, di sekolah dipaksa untuk belajar olah pikir, itu semua akan membuat kemampuan kita menjadi lebih tinggi. Setiap hari saya melakukan olahraga, ribet, gak enak. Tapi apa yang terjadi? Itu yang membuat otot kita menjadi lebih kuat. Dan ketika ada beban yang berat itu datang, kita bisa ngangkat. Orang tanya, apa yang ribet-ribet? Belajar nafas, tau nafas semua orang juga sudah bisa. Nah, kebanyakan orang nggak sadar tentang hal tersebut. Nah, ketika dia sadar bahwa kita itu makan cuma 1-2 kg per hari, tapi kita nafas 10-20 kg per hari. So, ketika kita salah nafas, maka energi kita juga rendah, pikiran kita kemana-mana, tidur juga terganggu. So, kenapa? Kenapa saya harus atur? Ribet kelihatannya. Tapi semua keribetan itu hanya terjadi di awal-awal. Ketika kita sudah terbiasa, maka kita sudah memaster atau menguasainya. Dan kemudian hidup kita menjadi lebih gampang. Selalu ingat, ketika kita kecil, masalah jadi besar. Tapi ketika kita besar, masalah jadi kecil. Jadi jangan fokus untuk mengecilkan masalah, tapi fokus untuk menghadapi keributan-keributan dalam hidup kita. Dan sehingga sona kenyaman kita, yang tadi yang sempit menjadi lebih luas, lebih luas, lebih luas. Berani melakukan sesuatu yang berbeda, kemampuan kita meningkat. Maka teribetan-teribetan atau masalah-masalah yang selama ini ada dalam hidup kita, itu menjadi tidak masalah lagi. Harinya itu kita menjadi mulia. So, selalu ingat bahwa Ketika kita kecil, masalah besar. Dan ketika kita besar, masalah kecil. So kalau kita ingin hidup kita muda, maka beranilah mengambil tantangan-tantangan yang berat dalam hidup ini. Salam bagi dari saya, Robin Paul.