The Art of Breathing Under Pressure

In a 30‑minute live‑stream on LinkedIn, host Andries Mamuwaya interviews stress‑management practitioner Gobind Vashdev. The conversation opens with a vivid description of performance anxiety and quickly pivots to the central claim that breath is the most accessible lever for regulating the nervous system under pressure. Gobind shares his personal backstory – a chaotic childhood, early trauma, a period of homelessness, and eventual training in trauma‑healing – to illustrate how he discovered breathing as a tool for self‑empowerment and built a career teaching it to CEOs, athletes, and disaster‑relief teams. He explains core techniques: nasal breathing, keeping the tongue pressed against the palate, and slow, rhythmic cycles (≈5‑5 seconds, 12 breaths per minute). He links these practices to physiological effects such as parasympathetic activation, vagus nerve stimulation, increased nitric oxide, and improved oxygen utilization. The interview also covers complementary practices: grounding/earthing (balancing positive/negative ions), polyvagal theory (fight, flight, freeze states), and the importance of movement (≈7,000 steps daily, citing global averages). Gobind answers audience questions about coffee vs. matcha metabolism, the “suiceless walking” minimalist lifestyle, and recommends a single high‑impact breathing habit for busy people. He promotes his regular offline workshops across Indonesian cities and online classes (LSD, Buteko Breathing), inviting listeners to follow his social media for further training.
Chapters
Sampai jumpa.
Selamat malam ketemu lagi, teman-teman. Apa kabar? Di live streaming dari saya, Andreas Mamuwaya. Yang sudah lama nggak live. Baru satu minggu yang lalu ya, teman-teman ya. Dan malam ini saya kedatangan tamu yang luar biasa. Yaitu... Mr. Gobind Vazdev. Pasti teman-teman sudah pernah mendengar. Kalau lihat fotonya. Dan malam ini sudah ada di studio. Sebentar lagi saya akan undang beliau ya. Baik, teman-teman sebelum kita mulai disini saya ingin buka dengan sebuah pembukaan. Oke, ya teman-teman ya. Baik, kita buka dulu. Judul atau topik hari ini yaitu saya tampilkan dulu ya teman-teman ya disini. Luar biasa ini. Yaitu seni bernapas di bawah tekanan atau the art of breathing under pressure, teman-teman ya. Nah, luar biasa malam ini. Coba teman-teman bayangin kalau kalian itu berada dalam suatu ruangan meeting dan semua mata tertuju di kalian ya. Semua mata pas apa meeting itu melihat anda. Dan pernah gak kejadian dalam kepala itu ribuan pikiran itu berputar-putar bingung ini mau ngomong apa ya. Apalagi di hadapan banyak orang. Jika Anda seorang profesional. Dan pada saat Anda mau fokus, nafas Anda sesat. Ya, nafasnya sesat. Padahal ada satu cara yaitu yang sangat sederhana untuk kembali tenang. Yaitu apa? Ya bernafas kembali. Teman-teman, kita saat ini hidup di Era di jaman dimana kecepatan itu jadi standar. Semua harus cepat. Standar ya. Dan standar ini itu adalah untuk mencapai sebuah kesuksesan yaitu kecepatan. Tapi sayangnya kita semua disini sering ya kehilangan ketenangan di tengah kecepatan tadi. Pada akhirnya banyak profesional, banyak CEO, banyak bisnis owner ya diam-diam merasa lelah. dan kehilangan sesuatu. Teman-teman, apakah pernah berada dalam masa seperti ini? Anda nggak sendirian. Malam ini saya akan mengajak seseorang yang sudah bantu ribuan orang, mulai dari karyawan, CEO, sampai atlet, buat mengerti ulang seni sederhana, yaitu bernafas. Teman-teman, Bagi kamu yang hidupnya sekarang seperti berlomba untuk mencapai garis finish. Stay disini sampai akhir, hanya 30 menit. Karena bersama Mr. Gobind Fazdev, kita akan bahas seni bernafas. Dalam tekanan, ya. Saya nggak lama-lama saya undang untuk ke atas panggung. Mr. Fazdev hari ini. Halo, Pak. Yes, selamat malam.
Selamat malam Pak Andries. Terima kasih sudah mengundang saya di sini. Senang sekali live. Dan ini pertama kali saya live di... Seperti ini, biasanya di Instagram, tapi ini di LinkedIn. Semoga banyak orang juga yang mendengar di sini.
Oke, baru pertama kali ya. Tapi saya melihat Pak Gobind ini sudah terbiasa, jadi tidak gerogi menghadapinya dengan tenang. Apa rahasianya Pak Gobind kalau boleh tahu?
Ya, seperti tadi sempat disebut, salah satu rahasia penting yang paling sering dilupakan orang adalah bernafas. Karena ketika kita stres, kita akan terpengaruh nafas kita. Nah kita nggak bisa mengendalikan otak kita ketika kita stres kan denyutan otaknya cepat sekali. Kita itu manusia tidak bisa atau sangat jarang sekali orang yang bisa bilang sama otak, hei otak tenang dong, susah. Nah otak itu terhubung dengan jantung, jantung juga akan detaknya cepat sekali. Kita juga nggak bisa bicara sama jantung, hei jantung tenang dong, karena kedua otak dan jantung ini terhubung dengan sistem syaraf yang bekerja secara otomatis. Nah untungnya, Jantung ini terhubung dengan nafas. Nah untungnya lagi, nafas kita itu kita bisa intervensi. Jadi kalau kita nggak bisa intervensi ketika dalam tekanan, dalam ketika kita stres itu nggak bisa intervensi otak, tidak bisa intervensi jantung, maka satu-satunya yang paling gampang untuk diintervensi adalah nafas. Ketika nafas itu diatur, maka otomatis detak jantung itu akan menjadi lebih pelan, otak pun jadi lebih pelan. Maka itu nggak ada sebenarnya orang yang bisa punya emosi tinggi ketika nafasnya lambat. Ada sebuah kata-kata, when you own your breath, nobody can steal your peace. Jadi kita punya sebuah, apa itu ya, kalau mobil itu boleh dibilang kendalinya itu ada di nafas kita. Nah yang kita bisa kendalikan itu kan sesuatu seperti rem, tangan, dan sebagainya. Dan ada rem, ada gas, ada setir, nah itulah nafas itu yang kita bisa kendalikan.
Baik, oke. Jawabannya kembali lagi ke nafas, oke. Pak Gobind, stay sebentar. Saya akan memperkenalkan kepada teman-teman yang lagi menonton di sini. Teman-teman selamat malam semua dan... Teman-teman boleh berkomentar di sini ya. Silahkan komentar sebentar saya tampilkan di sini. Oke. Baik. Silahkan berkomentar. Nama dan kota Anda. Komentar apapun, nama, tapi tampilkan juga nama dan kota Anda. Kemudian Anda juga bertanya nanti boleh, silakan langsung komentar, bertanya apapun itu. Ya, seperti ini. Ya, oke. Dari Fitri, Indriani, Malem Coach, dan Pak Gobind. Waduh, sudah siap disampai langsung. Luar biasa. Saya ingin memperkenalkan kepada teman-teman siapa Mr. Gobind Fazdev ya. Oke, saya akan tampilkan di sini. Iya, teman-teman saya akan membaca dan nanti kita langsung tanya langsung ke Pak Gobind ya. Teman-teman, beliau adalah seorang hard worker, stress management. dan pendiri 3PLUS juga Buteiko Indonesia. Saya yakin teman-teman sudah paham ya. Sudah lebih dari 30 tahun, Mr. Govind telah membantu ribuan profesional, para leader, bahkan juga atlet pelajar untuk mengubah stres itu jadi kekuatan ya, dengan bernafas. Beliau juga menulis dua buku bestseller, Happiness Insight dan 99 wisdom yang katanya gratis ya kemudian malam ini kita akan belajar langsung dari beliau tentang bagaimana bernapas yang kita anggap spilling tapi bisa jadi senjata ampuh untuk menghadapi tekanan di dunia kerja modern terutama teman-teman yang saat ini seorang profesional anda seorang leader di sebuah perusahaan pasti anda akan mengalami Baik, itu adalah perkenalan singkat yang bisa saya sampaikan dan kita lihat dulu. Wow, banyak yang komentar ini, Pak Gobind. Dari Abdurrahman Miladina Tangerang. Luar biasa. Selamat malam. Dari juga Fir, siapa ini? Nama Sulis. Fir Goaja. Iya. Dari Kendal. Malam, Pak Gobind.
Malam.
Ada juga dari Mercy Sitorus, dari Bogor. Teman-teman silakan ya. Anda bisa komentar di sini, undang teman-teman yang lain untuk 20 menit ke depan, 25 menit ke depan kita akan bercakap-cakap dengan Pak Gobind.
Ya?
Baik. Pak Gobind boleh dong ditambahin, ceritain sesingkat siapa sih Pak Gobind dan apa sih misi dan visi Pak Gobind ini? Silakan Pak Gobind.
Jadi kalau saya kembali ke masa lalu saya, saya adalah anak yang boleh dibilang paling goblok di kelas. Kemudian saya juga anak yang mempunyai emosi yang gak karuan. Jadi di rumah itu saya sangat-sangat brutal, waktu kecil itu bahkan beberapa orang di sekitar rumah saya itu mengatakan, keluarga bahkan mengatakan bahwa akhir dari hidup saya itu akan berakhir di penjara. Karena waktu kecil itu sangat-sangat emosi yang tidak bisa terjaga. Tapi kalau keluar dari rumah, saya jadi anak yang pemalu. Kemudian saya juga mempunyai energi yang sangat-sangat lemah begitu waktu saya kecil, bahkan lari kalau sama cewek pun kalah. Kemudian saya bertanya, apa yang terjadi pada diri saya? Sampai akhirnya saya bertanya-tanya, akhirnya saya mengatakan bahwa mungkin nasib saya. Mungkin ada orang yang dilahirkan kuat, pinter, dan punya emosi yang bagus, sementara saya sebaliknya. Saya ini nggak ada bagus-bagusnya. Seperti itulah narasi yang terbentuk di dalam kepala saya selama bertahun-tahun. Dan pada saat itu kemudian saya, bapak saya meninggal, waktu saya umur 19 tahun, dan disitulah kemudian pencarian saya itu terjadi karena duka yang sangat dalam. Pertama kali melihat orang meninggal, pertama kali melihat, memegang orang yang meninggal, jenazah gitu, dan pertama kali melihat orang di kremasi. Nah disitulah kemudian saya berpikir bahwa, wah gak bisa. Suatu hari saya juga akan seperti ini dan itu bisa kapan saja. So, saya ingin mengaptikan diri saya untuk melakukan sesuatu yang bagaimana memberdayakan diri. Nah, disitulah kemudian saya belajar tentang bagaimana cara makan yang benar, kemudian saya belajar berlaga, tapi agak sulit. Untuk olahraga pada saat itu, energi saya masih lemah. Makanan diatur, saya menjadi vegetarian. Kemudian emosi mungkin lebih baik, tapi ternyata energi masih di situ saja. Kemudian saya ngambil pelatihan-pelatihan seperti motivasi bahkan sampai yang Antoni Robin sekalipun pernah ikut pelatihan itu. Tapi setelah semangat gak lama kemudian ngedrop lagi. Mungkin saya pikir saya spiritual, ikutlah retret. Retret yang boleh dibilang yang tidak bicara itu ya, tidak melihat mata orang itu sampai bukan 1-2 kali, tapi puluhan kali mungkin saya ikut retret yang 10 hari nonstop itu tidak Tidak bicara, tidak megang handphone, tidak memandang wajah orang, makan juga sangat dibatesin, jalan pun harus lambat. Hal-hal seperti itu saya lakukan, tapi konsentrasi susah sekali. Setiap kali tutup mata yang muncul utang, yang muncul mantan. Kok susah banget? Di situ saya berpikir ada yang salah, ada yang kurang di situ. Nah di situlah kemudian saya mulai pencarian-pencarian sampai akhirnya Saya bangkrut berkali-kali dan akhirnya saya berangkat ke Bali dengan enggak ada duit, cuma uang bertahan cuma satu bulan, ternyata bom meledak. Dan kalau bom Bali itu meledak berapa menit setelahnya, mungkin saya adalah salah satu korban. Nah disitulah kemudian saya mulai mengangkat jenazah, membantu dokter otopsi dan sebagainya, dan belajar banyak hal, dan dipilih satu dari 20 orang di Indonesia yang dilatih secara khusus trauma healing, self healing, dan stress management. Nah disitu saya berkeliling ke daerah-daerah konflik, bencana, dan sebagainya, dan akhirnya mengajar sampai sekarang. Nah disitulah kemudian misi saya ketahuan, oh ternyata Saya ini suka sekali memberdayakan. Jadi saya mengajar orang untuk berbagi tentang sesuatu Sesuatu yang sebenarnya sudah ada di dalam orang tersebut, bahwa kita semua punya potensi yang luar biasa dalam menyembuhkan diri kita sendiri, dalam kemampuan kita, dalam mengingat, dalam kemampuan-kemampuan yang lain, ketenangan dan sebagainya. Nah itulah kemudian misi saya. Jadi semua teknik-teknik yang saya ajarkan adalah teknik yang dimana ketika orang itu pulang dari pelatihan-pelatihan yang saya lakukan, atau pelajaran saya berikan, itu pasti bisa melakukannya. Masalahnya bukan bisa atau tidak, masalahnya mau atau tidak. Not can you, but will you. Seperti itulah, kurang lebih kalau saya mengotakkan misi saya.
Wow, luar biasa. Dalam waktu kurang lebih 2 menit, menceritakan dari awal sampai akhir. Luar biasa. Thank you, Pak Gobind. Menampilkan beberapa pertanyaan dari teman-teman di sini. Ada yang menyapa juga dari Pak Cecep nih. Selamat malam, Mr. Gobind. Pertanyaan sambil treadmill ya, Pak, katanya. Iya, betul.
Saya habis makan malam jadi biasanya jalan. Jadi saya memanfaatkan waktu untuk live ini sambil jalan.
Oke, luar biasa ya. Oke, dan ada juga ini pertanyaan, Pak Gobind kalau nggak salah, beliau adalah praktisi suiceless walking. Apakah treatment tersebut juga salah satu hal yang bisa menjadi stress management? Di luar bernapas.
Betul banget, bahwa saya sudah 13 tahun tidak menggunakan las kaki dan saya juga nggak pakai sabun, nggak pakai sampo, nggak pakai pasta. Salah satunya adalah untuk memberdayakan diri sendiri bahwa tubuh kita punya kemampuan untuk melepaskan kotoran-kotoran tersebut. Tapi di sisi lain juga, yes, saya tidak menggunakan las kaki adalah tujuannya untuk mengumpulkan dana untuk anak-anak terlantar. Tapi tahun 2011 ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa manusia hari ini terlalu banyak mendapatkan ion positif tapi tidak mendapatkan elektronegatif. Ketidakseimbangan magnetik di dalam tubuh kita itu menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Dan kalau kita mau melihat bahwa handphone setiap hari menempel di diri kita, wifi di mana-mana, ini semua radiasi kalau kita nggak grounding maka kita akan mendapatkan efek-efeknya. Nah ketika kita bisa grounding paling tidak 30 menit terhubungkan batu, pasir, tanah, rumput maka keempat media ini akan mengeluarkan elektronegatif. Dan apa yang terjadi, maka mood kita menjadi lebih baik, tidur menjadi lebih nyenyak, inflamasi berkurang, kemudian heart rate menjadi lebih stabil, gula darah menjadi lebih stabil, tekanan darah lebih stabil, dan juga imunitas juga meningkat. So, ada banyak sekali, kurang lebih ada 20 jurnal yang mendukung tentang grounding atau earthing ini.
Oke, grounding atau earthing ya, menyatu ke bumi dengan tidak berawasan Wow.
Baik.
Teman-teman, saya ada tiga pertanyaan buat Pak Gobind. Tiga pertanyaan ini bisa nanti, waduh ya, kadang-kadang bisa panjang ya, teman-teman. Tapi teman-teman juga saya akan pastikan pertanyaan teman-teman akan dijawab juga di sini, ya. Oke, saya akan sebelum ke pertanyaan dari teman-teman audiens, ya. Tunggu sampai habis ya, teman-teman di sini, ya. Saya akan memberikan pertanyaan kepada Pak Gobind. Baik. Pertanyaan pertama adalah, ini saya baca ini. Pak Gobind, kenapa banyak profesional yang sukses justru merasa kosong di dalamnya? Bagaimana nafas itu bisa jadi jalan keluar?
Sewaktu saya kecil, kita diajarkan tentang bagaimana kita mencari jalan keluar atau solusi-solusi dalam hidup kita. Kalau kamu nilainya rendah, kamu harus belajar matematian dan kemudian supaya bisa sukses seperti C-A, C-B, C-C, dan seterusnya. Itu yang ditanamkan. Jadi kita selalu, orang tua kita memberikan contoh-contoh kepada orang-orang yang sukses di luar sana, seperti itu. Apakah salah? Tentu tidak salah. Tapi masalahnya, saya itu selalu percaya bahwa manusia itu tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Kita bermasalah dengan ketakutan kita, keserakan kita, kebencian kita, ketamakan kita, atau apapun yang ada di dalam diri kita. Maka ketika kita punya masalah, sebenarnya kita jangan cari jalan keluar, tapi cari jalan ke dalam. Oke. Nah, disitulah kemudian saya berpikir bahwa, hmm, kok nggak ada yang mengarahkan saya ke dalam begitu, kalau kita bermasalah dengan diri saya dalam. Ini cerita tentang kebencian saya dengan satu sosok namanya polisi. Bertahun-tahun saya itu sering berantem dengan polisi. Dan apa yang terjadi, selalu ketika itu otak saya selalu mengatakan ya emang dia kurang ajar, polisi itu begini, polisi itu begitu, dan sebagainya. Sampai akhirnya suatu hari saya berpikir, kalau saya membenci gitu terus, emang polisinya berubah? Enggak. Yang kena adalah saya, saya minum racunnya tapi berharap mereka mati. Itu nggak mungkin. Nah di situ kemudian saya bertanya ke dalam, ke dalam, ke dalam, dan kemudian saya bertanya. Pertanyaan yang paling penting adalah dari mana asal kebencian ini? Nah di situlah kemudian saya mendapatkan sebuah cerita. yang saya alami, saya teringat cerita bahwa Gobind kecil diantar oleh pengemudi, yang pengemudi ini adalah pengemudi yang saya sangat kagumin, dan pengemudi ini mempunyai kebencian pada polisi. Jadi setiap hari itu Gobind itu didoktrin, polis itu kurang ajar, polis itu bangsa, polis itu begini, polis itu begitu. Akhirnya Gobind kecil itu mempunyai gambaran sosok polisi yang perlu untuk patuh, untuk dibenci. Dan akhirnya ketika saya besar, apa yang terjadi? Ketika saya terhubung dengan polisi, ada tilang atau apa, tiba-tiba kebencian saya muncul dan kemarahan itu muncul. Dan akhirnya saya punya masalah terus dengan polisi. So, kebanyakan dari kita seperti itu. Kita dalam hidup kita, kita itu ingin mengejar sesuatu, apakah itu baik atau kebencian atau kesenangan dan sebagainya, itu fokusnya adalah pada hal-hal yang diluar sebut. Tapi kita lupa bahwa semua yang diluar adalah refleksi apa yang ada di dalam diri kita. So, kita perlu untuk mencari ke dalam. Misalnya kita orang yang selalu kejar-kejaran dengan pekerjaan, terus-terusan bekerja gitu ya. Orang berpikir, oh itu bagus, tapi beberapa orang bilang bahwa, oh itu dia kecanduan pekerjaan. Tapi kita nggak tahu bahwa dibalik kecanduan, atau kebencian, atau apapun itu, ada faktor trauma di situ. Nah trauma ini yang perlu dibereskan untuk kita menjadi utuh. Karena kalau enggak, itu seperti sebuah lubang yang terus-terusan pingin agar diperhatikan, seperti itu. So, protes pernah mengatakan begini, hidup yang tidak diperiksa itu tidak pantas dijalani. Jadi, menurut saya kita perlu untuk mencari jalan ke dalam, untuk memberikan keutuhan, karena lubangnya bukan di luar, tapi di dalam. Di buku saya Happiness Insight, itu saya menceritakan tentang seorang yang sedang mencari kuncinya. Dia mau darmandir di depan rumahnya, itu mencari kunci. Dan kemudian ada seorang datang, dikatakan, Kamu ngapain? Aku lagi mencari. Mencari apa? Kunci. Emang kunci kamu kemana? Hilang. Hilangnya di mana? Di dalam. Kenapa kamu cari di luar? Karena di luar lebih terang. Seperti itulah kehidupan kita. Kita punya masalah di dalam, tapi kita terus mencari di luar karena kita berpikir di luar itu terang, di luar itu enak. Jadi sampai kapanpun nggak akan ketemu, hilangnya di dalam, kita mencari di luar. Dan bagaimana nafas busa, apa hubungannya ini dengan nafas? Menurut saya adalah cara untuk membuat kita tenang. Bagaimana kita masuk ke dalam jembatannya, itu nafas. Jadi di antara fisik dan emosi, di antara lahir dan batin, itu ada sebuah jembatan. Dan jembatan itulah namanya nafas. Jadi kalau kita ingin masuk lebih dalam diri kita, cara yang tergampang adalah kita mengatur nafas kita.
Siap, oke. Masalah nafas, kita tunggu ya. Karena masih ada dua pertanyaan lagi. Jadi, teman-teman dapat insight ya, ternyata nafas ini adalah penghubung ya, antara tadi jiwa dan, apa, tubuh dan jiwa tadi ya. Baik, saya sebelum ke pertanyaan saya, nanti saya mau tampilkan ada beberapa pertanyaan di sini dari... Oke, sebentar. Dari ini. Pertanyaannya adalah Pak Gobind, apa benar kita harus melakukan 10.000 langkah kaki setiap hari? Boleh dijawab singkat Pak Gobind. Sebenarnya
penelitiannya nggak harus 10 ribu, 7 ribu udah cukup kalau kita mau melihat bahwa rata-rata manusia di dunia ini 5 ribu langka, dan negara yang paling panjang atau paling banyak melangka adalah Hong Kong yaitu 6.800 dan saya sendiri menargetkan 7 ribu setiap hari minimum tapi biasanya sih jauh di atas itu dan Sekarang itu negara yang panjang umur adalah si Hong Kong tersebut dan fakta yang paling-paling menyedihkan Pak Andrias adalah dari 111 negara yang diteliti dan nomor 111 adalah Indonesia tercinta ini. Manusia yang paling mager atau males bergerak di dunia adalah ternyata di Indonesia. Bahkan Arab Saudi yang katanya orangnya males itu masih di atas Indonesia.
Ini adalah sentilan buat kita untuk segera besok pagi, jalan pagi ya. 7.000 itu satu jam sudah tercapek loh ya, betul ya Pak Gobindnya? 7.500,
ya sekitar mungkin bisa seperti itu atau lebih sedikit. Tapi siapa ya, si Hippocrates, Bapak Kedokteran Modern pernah mengatakan kita ini punya dua dokter. Satu kaki kanan dan satu kaki kiri. Sayang
sekali kalau kita nggak pakai. Siap, oke ya. Kita tidak buka semuanya. Nanti teman-teman bisa terkoneksi dengan Pak Gobind. Dilinkin di Facebook dan juga di Instagram ya. Namanya sama semuanya, Gobind Fastgave. Pasti akan ketemu. Baik, oke. Saya stop dulu pertanyaan teman-teman. Nanti saya akan lanjut lagi. Saya masuk ke pertanyaan kedua. Oke, Pak Gobind, apa bedanya pemimpin yang kalem, kalem dasar Jawa ya, maksudnya ini bahasa Inggris ya, kalem yang tenang gitu ya, dengan yang cool, dan bagaimana cara melapih ketenangan tanpa kehilangan power?
Boleh Pak Gobind? Ketika saya mendengar pertanyaan ini, saya teringat sebuah teori yang di apa ya, diutarakan oleh Stephen Porges namanya polyvagal theory. Nah polyvagal theory itu membuat ada tiga bagian dalam hidup kita atau dalam pikiran atau dalam diri kita yang dibawa disebut social engagement. Nah orang-orang ini adalah orang-orang grounding, calm, mindful, open, compassion, seperti itu. Pada saat itu, orang-orang yang ada di social engagement yang paling bawah ini, itu disebut adalah sistem syaraf yang berfungsi adalah namanya parasympatik. Parasympatik itu sistem syaraf yang kita dalam kondisi relax, rest and digest, pokoknya kita sedang tenang, kalong, relax gitu ya. Nah, di atas itu, di tengah-tengah ini, itu ada namanya sistem syaraf simpatik. Artinya tubuh kita tegang. Kita nggak mungkin kalem terus di dalam kehidupan kapan cari duitnya, betul? Nah, ada sistem syaraf yang bikin tegang. Nah, ini adalah modenya adalah fight or flight. Kapan manusia itu fight, kapan manusia itu flight, itu tergantung emosi. Kalau emosinya kesel, marah, murka, maka kita akan fight. Tapi kalau takut, cemas, gelisah, panik, maka kita flight. Itulah yang kedua. Nah yang menarik adalah, Ketika kita itu punya masalah, dan kita nggak bisa mendorong, kita nggak bisa melawan, dan kita tidak bisa lari, maka terakumulasilah yang namanya si emosi tersebut. Emosi itu naik, naik, naik. Contoh nih, kita benci sama bos kita. Tapi kita mau melawan bos gimana? Nggak mungkin kita lawan bos. Tapi kalau kita keluar dari kerjaan juga nggak mungkin. Maka terakumulasilah emosi tersebut. Sampai titik tertentu, tubuh kita overburden, maka kita akan masuk ke wilayah yang disebut freeze. Wilayah freeze ini yang menarik adalah bahwa sistem syarafnya adalah parasimpatik. Para simpatik ini, yang sistem syaraf yang para simpatik ini, itu relax lagi, betul relax. Tapi relaxnya beda. Kok bisa sih Pak? Tadi kan di bawah itu relax, di atas itu tegang. Kemudian kok di atas relax lagi? Yes. Itulah kebanyakan orang nggak sadar bahwa yang Yang di bawah itu disebut understanding, yang di atas itu namanya cuek. Yang di bawah itu sistem syaraf parasimpatik, tapi kita itu pasrah. Kalau di atas itu putus asa. Jadi kalau kita udah ketemu orang yang bilang gini, babah, karepmu, mole gak mole urusanmu, orang Jawa bilang gitu. Atau sabudoteing gitu ya. Terserah. Nah kalau kita sudah sampai ke wilayah cuek, sebenarnya sistem syarif kita relax memang, terserah lah. Tapi sebenarnya di situ itu paling bahaya. Dan di situlah sebenarnya kita masuk ke wilayah yang namanya freeze atau cold itu sendiri. Nah di situ kita tidak terhubung, kita tertutup di situ. Nah ini menarik sekali sih. Banyak orang yang sadar di situ dan sebagian besar orang berpikir bahwa emang gue pikirin itu adalah sesuatu yang baik. Tidak. Ketika kita sampai ke titik yang emang gue pikirin, lu mau ngomong apa, lu mau ngapa, terserah deh. Emang gue gak mau usik. Nah itu sebenarnya bahaya sebenarnya. Itulah goal itu sendiri. Dan ini secara kesadaran, ini yang paling rendah sebenarnya. Jadi kalau kita masih marah-marah, kita masih murus, itu masih bagus. Tapi udah terserah lu mau ngapain, itu sebenarnya yang paling gak oke. Nah, jadi yang bagus gimana? Yang di bagus diantara yang di bawah itu. Kita understanding, kita mengerti. So, itu perbedaannya. Dan kita punya cara sebenarnya untuk bagaimana bisa turunkan itu.
Caranya nanti di event berikutnya. Bukan di sini, waktunya nggak cukup. Jadi langsung aja cari account. Pak Gobind, dilinkin di Instagram, temen-temen nanti akan bisa dapetin ya. Ketemunya di sana. Wow, luar biasa Pak Gobind. Dan... pertanyaan berikutnya saya mau tampilkan dari komentar temen-temen ya. Satunya adalah... Tentang minum kopi nih. Wow, ada hubungannya apa ini ya? Aku mau tanya lagi Pak Gobind tentang minum kopi hitam tanpa gula. itu bagaimana? Dan jika minum matcha setiap hari itu bagaimana juga? Silakan Pak Govind. Ya, yang
pertama adalah kopi matcha, kopi mengandung antioksidan yang bagus, kemudian matcha juga punya banyak antioksidan dan sebagainya. Nah, folifenol dan sebagainya, matcha itu terutamanya, green tea itu punya folifenol dan sebagainya. Menurut saya, it's okay, tapi setiap orang kan punya genetik yang berbeda-beda ya. Kalau saya ini sama yang namanya kopi itu udah fast metabolizer, karena saya pernah tes DNA dan kemudian di situ tertera dan itu tidak mempengaruhi saya kalau saya minum kopi dan kemudian enggak lama kemudian saya bisa istirahat, tubuh kita tegang. Tapi ada beberapa orang yang kalau minum kopi bisa seharian, nggak bisa tidur sampai malam walaupun minumnya jam 2 siang, mungkin sampai jam 2 malam masih ada efeknya. So, kita perlu mengetahui diri kita sendiri. Jadi, sebenarnya selalu kembali ke diri kita sendiri bahwa tidak ada satu hal yang baik untuk semua dan satu hal yang jelek untuk semua. Setiap orang pasti punya perbedaan sendiri-sendiri yang paling penting adalah mengetahui diri kita sendiri dan kemudian mencoba mana yang paling efektif dan yang paling oke untuk
diri kita sendiri. Mudah-mudahan menjawab ya. Baik, ini ada pertanyaan lagi tapi pertanyaannya sebenarnya adalah sama dengan pertanyaan yang akan saya sampaikan ya. Karena waktunya juga kita sudah sepakat hanya 30 menit. Ini kita sudah berada di 32 menit. Nanti teman-teman saya akan tampilkan ya. Pertanyaannya yang terakhir nih, Pak Gobind. Nah ini yang ditunggu-tunggu nih. Kalau cuma boleh kasih satu teknik saja, Pak. Satu teknik. Teknik nafas buat orang sibuk nih. Kayak saya orang sibuk, Pak Gobind juga orang sibuk. Apa yang paling cepat dan paling berdampak bagi kita. Silahkan Pak
Gowin. Oke. Kalau harus ada satu teknik yang paling berdampak dari semuanya adalah kita perlu untuk bernafas selalu dengan hidung. Non-stop. Dengan hidung. Jadi, Tarik dan lepas selalu dengan hidup. Nah, cara bagaimana kita bernafas dengan hidup sebenarnya bukan di hidungnya. Banyak orang merasa sotau dengan hal ini. Tapi fokusnya bukan di hidup, tapi di lidah. Bagaimana caranya kita meletakkan lidah di tempat yang tepat agar kita selalu bisa bernafas dengan hidup. Bagaimana cara meletakkan lidah adalah kita meletakkan lidah kita di langit-langit. Nah, seperti itu. Ketika diletakkan langit-langit, apa yang terjadi? Ada banyak keuntungan. Salah satunya adalah kita tidak mungkin, manusia tidak mungkin bisa bernafas menggunakan mulut walaupun mulut terbuka kalau lidah diletakkan di atas. Jadi contoh paling gampang saya meletakkan lidah di atas itu seperti kita menelan sesuatu tapi enggak ada makanannya. Nah, ketika menelan, lidah akan nempel di atas. Nah, sekarang semuanya tolong lidahnya nempel di atas, kemudian mulutnya dibuka selebar mungkin, dan kemudian mulailah bernafas dengan mulut. Nggak bisa. Dia akan stuck di situ. Maksudnya bahwa 100 persen kita akan bernafas menggunakan hidung. Dan selama ini kita selalu berpikir bahwa hidung itu cuma menyaring saja. Tidak. Dia melembabkan, dia menghangatkan, dia ada antivirusnya, dia menyeimbangkan kanan dan kiri, dia mengeluarkan nitrate oxide yang dimana antivirus, kemudian hidung kita selama ini kita berpikir ini kan, selama ini, Ini hanya 20% dari bagian hidung, 80% bagian hidung kita itu ada di dalam situ. Dan dia punya kemampuan untuk kanan dan kiri ini setiap setengah jam dan sampai 4 jam sekali di sumber. Ada sebuah jaringan namanya erektil. Erektil itu bisa berereksi. Betul sekali bahwa hidung kita itu ada jaringan yang sama seperti di puting susu, vagina, dan di penis. Di mana? Hidung itu adalah indra pertama dalam proses evolusi itu adalah penciuman. Bukan hidung, tapi penciuman. Dan kita tertarik dengan lawan jenis itu juga karena penciuman awalnya. Kalau kita bernafas dengan hidung, maka volume udara yang masuk lebih sedikit. Dan ketika lebih sedikit, karbon dioksida akan meningkat. Ketika karbon dioksida meningkat, maka oksigennya akan masuk ke dalam sel. Jadi impact oksigen itu bisa naik sampai 20% ketika kita bernafas dengan hidung. Dan yang menarik adalah, coba perhatikan, Pak Andreas, anak-anak yang pintar di sekolah, mulutnya tutup, matanya tajam. Anak yang kurang pintar di sekolah, Itu saya dulu, seperti itu. Nah, jadi bernafas dengan hidung, itu yang pertama. Kalau boleh ditambahkan lagi adalah bernafas dengan lambat. Kenapa? Karena ketika kita nafas lambat, maka sistem syaraf kita itu akan langsung relax. Tidak ada satu orang pun bisa marah-marah dengan nafas lambat. Ketika kita bisa melambatkan nafas, maka sistem syaraf kita juga akan merasa bahwa ini dalam kondisi baik-baik saja. Maka tiba-tiba sistem syarafnya tenang, kita bisa melihat detak jantung kita menjadi lebih lem. tenang, dan kemudian pikiran juga lebih tenang karena aktivasi sarafagus. Sarafagus itu dari dua belas geranium sakral di belakang ini, nomor sepuluh itu namanya sarafagus. Sarafagus ini adalah saraf yang paling panjang, namanya fagus itu berasal dari fagabom, artinya rakyat. Jadi dia paling panjang sampai ke pencernaan kita. Jadi ketika kita mengatur nafas kita, maka dia mengaktifkan sarafagus, pencernaannya jadi lancar, lebih bagus. Sehingga kenapa kok banyak orang stres kemudian kena GERD, stres kemudian pencernaannya terganggu, itu karena sarafagusnya yang tidak aktif tersebut. So, bagaimana cara tergampang untuk meningkatkan sarafagus itu merangsang itu? Salah satunya melambatkan nafas kita. Bagaimana hitung aja nafasnya dilambatkan kurang lebih 1 menit, kurang lebih cuma 12 tarikan nafas. Buat 12 tarikan nafas. Anda bisa hitung sekitar mungkin 3-3 atau berapa. Kalau bisa dikurangin jadi 6 tarikan itu lebih bagus. Jadi 10 detik itu 5 detik tarik, 5 detik lepas. Itu sangat sederhana tapi coba dilakukan 2-3 menit. Ingat ya, 3 tariknya banyak-banyak. Kebanyakan orang itu kalau disuruh tarik 4 hitungan dia tarik. Nah, disitulah kesalahan kebanyakan orang. Itu bukan deep breathing, itu big breathing. Beda kan antara deep dan big breathing. Sebenarnya ada ratusan teknik pernafasan begitu. Kebanyakan orang merasa bahwa napas saja harus dipelajarin. Ini yang lucu. Maksud saya begini, dari lahir, hal yang pertama kita lakukan sebelum nangis adalah bernafas. Di akhir kehidupan kita, Itu yang paling terakhir yang kita lakukan adalah nafas terakhir. Jadi hidup kita itu diawalin sampai diakhirin satu-satunya pola yang selalu kita gunakan itu adalah bernafas. Tapi anehnya kita belajar fisika, kimia, matematika, integral turunan ribuan jam dan tidak dipakai. Sementara nafas yang selalu kita pakai sepanjang hidup kita, malah kita nggak pernah belajar. Lucu banget kan? Menurut saya begini, kalau ketika kita mengubah makan kita, kita mengubah 3 kebiasaan sehari. Kalau kita mengubah olahraga, kita mengubah 1 jam kebiasaan sehari. Tapi ketika kita mengubah nafas kita, kita mengubah 24 jam kebiasaan sehari, 25 ribu kali per harinya. So, ketika kita mengubah nafas, kita mengubah kehidupan kita. Maka itu orang kalau salah nafas itu salah hidup saya bilangnya.
Oke, wow ya. Jadi tadi cuma ada satu permintaan kita, satu teknik, diberikan dua teknik. Tapi masih banyak lagi teknik yang lain. Oke, sebelum kita tutup, saya akan tampilkan juga beberapa teman-teman komentar di sini. Ada dari Niko Saputra, salam kenal dari Tangerang. Terima kasih Pak Niko dan ini ada pertanyaan juga tapi sudah mungkin ada sudah dijawab ya teknik nafasnya tadi juga kemudian Pak Gobind untuk bisa menyadari nafas setiap saat gimana awalnya bagi pemula. Oke tadi sudah dijawab ya kita nggak akan ulangi lagi tapi kalau mau ketemu Pak Gobind langsung cari account Instagram linknya dan Anda bisa dapatkan informasi. Oke sebelum Kita tutup nih, teman-teman. Saya mau tanya Pak Gobind, apakah ada event yang paling dekat dari hari ini? Ya, ada.
Hampir setiap minggu saya ada event yang offline, yaitu minggu ini akan ada di Sabtu dan minggu ini ada di Medan. Sabtu minggu depan ada di Jogja, bukan baru. Kemudian Jakarta, berturut-turut setelah Jakarta kemudian di tanggal 2 ada di Surabaya, Bali, Bandung, dan seterusnya. Jadi setiap minggu itu saya ada offline, tapi di antara itu setiap 1-2 minggu ada namanya online, ada 2 kelas online namanya LSD dan Buteko Breathing yang tadi ditanyakan bagaimana caranya untuk memprogram otak sepanjang hari bisa nafas lambat, itu namanya Buteko Breathing.
Siap. Baik. Teman-teman, jangan khawatir nanti event-eventnya akan saya pasang ya di kolom komentar. Jadi teman-teman bisa nanti lihat lagi event ini. Event ini akan ada di sini selamanya, selama LinkedIn masih ada. Masih bisa diputar ulang. Jadi teman-teman bisa nanti lihat dan komentarnya ada nanti event-event Pak Gobind. Dan juga LinkedIn-nya, juga Instagram-nya. Jadi teman-teman bisa nanti lihat. Baik. Luar biasa malam ini 30 menit Pak Gobind, saya banyak sekali dapat insight cara bernapas yang benar. Selama ini saya bernapasnya tarik buang lewat mulut. Tapi ternyata yang betul adalah tarik lewat hidung, buang lewat hidung.
Pak Gobind,
pesan terakhir buat teman-teman nih. Silahkan, pesan terakhir buat teman-teman. Ya pesan
terakhir adalah seperti tadi saya sempat ceritakan bahwa dalam hidup kita ini kita punya dua pilar dalam hidup kita yaitu fisik dan emosi, mental dan apa itu badan dan mental gitu ya. Lahir dan batin sesuatu yang terlihat dan sesuatu yang tidak terlihat. Nah, di antara sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat ini ada sebuah jembatan. Dan jembatan itu namanya nafas. Jadi, ketika kita mengatur nafas kita, kita memperbaikin kedua pilar dalam hidup kita, yaitu tubuh dan emosi. Maka kalau kita ingin membuat tubuh kita menjadi lebih oke, emosi lebih oke, maka mungkin hal yang paling penting yang kita lupakan selama ini missing yang mungkin yang paling sering kita lupakan adalah nafas. Karena selama ini kita selalu diajarin pola makan, pola pikir, pola gerak, dan istirahat. Tapi kita melupakan satu pola yang paling sering kita gunakan dalam hidup kita yaitu pola nafas. Kalau suatu hari kita sudah mencoba yang lain dan tidak banyak berubah, mungkin saatnya kita mengubah pola nafas kita.
Iya, luar biasa. Terima kasih Pak Gobind Fazdef. Dan tentunya, teman-teman, tidak hanya sampai di sini. Teman-teman bisa melihat di profilingnya Pak Gobind tuh banyak sekali teknik-teknik ya. Banyak sekali konten-konten postingan yang bisa membantu kita mendapatkan ilmunya. Silahkan nanti connect, cari namanya Pak Gobind, fast ya. Pak Gobind, saya ucapin terima kasih malam hari ini dan semoga sukses untuk event-event ke depan. Kita ketemu lagi di event berikutnya. Terima kasih, Pak Gobind. Selamat malam. Terima kasih, Pak Bias. Sampai ketemu. Sampai ketemu. Thank you. Bye-bye.











