Tonton Video ini 3 Kali

An Indonesian self-help talk about staying calm when others criticize you. The key: recognize that any comment about you is just their perception filtered through their own experiences, not a fact about who you are. Treat praise the same way to avoid arrogance.
Chapters
Kalo anda ingin bahagia dan hidup lebih tenang atas apa omongan orang lain terhadap diri anda, anda harus nonton video ini 3 kali. Yes, video ini emang agak panjang. Tapi saya janji, di akhir video ini Anda akan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana menyikapin pandangan orang lain terhadap diri Anda. Yang pertama, yang paling sering kita dengar ketika ada orang lain mengatakan sesuatu pada kita. Contoh, Gobind itu jorok, bau, kotor, dan sejenisnya. Biasanya kita akan melakukan apa?
Emang gue pikirin dia mau ngomong apa. Bodoh amat lah. Nggak penting ngomongan orang, yang penting adalah diri kita sendiri.
Yes, itu kelihatannya bagus, tapi sebenarnya itu adalah sebuah kesadaran yang paling rendah, yang dimana kita fly, kita meng-ignore, kita nggak mau tau. Oke. Lalauannya itu adalah fight, berarti kita lawan.
Apa lu? Emang lu siapa berani ngomong gitu? Nih gue tunjukin, gue nggak bau, gue nggak jorok, nih dateng sini dan sebagainya.
agar kita berargumentasi dan nggak berkonfrontasi dan nggak selesai-selesai jadi kedua reaksi tersebut Reaksi, ya. Itu berasal dari otak reptil. Dan kita tahu bahwa reaksi itu dua kata dijadikan satu. Re, mengulang. Aksi, mengulang. Aksi. Oke, dia tidak kreasi, dia tidak berpikir. Nah, manusia disebut Homo sapiens, artinya makhluk yang berpikir, makhluk yang bijak. Jadi idealnya, setiap manusia itu mengambil sikapnya, setiap keputusannya juga, itu berdasarkan otak yang bagian atas. Yaitu neokortex kita, yang dimana kita bisa berpikir masa depan, rasional, imajinasi, semuanya ada di sini. Orang menyebutnya proaktif, bukan reaktif. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Sikap kita adalah yang pertama. Dan ini yang paling-paling penting. Yaitu menyadari. Saya garis bawahi. Menyadari. Bahwa apapun yang dikatakan orang lain terhadap diri anda, itu bukan realitas. Itu adalah persepsi dirinya terhadap diri anda. Apakah diri anda kotor, jorok, bau? Itu perlu pembuktian. Tapi... penting banget untuk menyadari bahwa itu adalah persepsi dia, mendefinisikan siapa dirinya jadi, contoh ada orang mengatakan di kolom komentar itu ya padahal saya mengatakan saya nggak pakai sabun tapi apa yang terjadi? muncul tuh komentar, oh ini orang yang nggak pernah mandi ya dan kemudian ada kemudian orang paling bau sedunia dan sebagainya seperti itu nah, apa yang digatakan orang? terhadap saya tentang saya ini bau kan dia gak pernah ketemu saya saya pikir netizen ini sakti-sakti belum apa-apa udah belum ketemu udah tau saya itu bau atau enggak gitu ya nah tapi saya menyadari bahwa mungkin dia itu pernah ketemu seseorang yang gak pernah pakai sabun atau gak mandi dan kemudian tubuhnya bau dan itu melekat di dalam kepalanya Sehingga ketika dia mendengar atau melihat seseorang, mengetahui seseorang yang tidak menggunakan sabun, tiba-tiba muncullah yang melekat itu. Tapi itu dari data yang masuk dan kemudian bercampur dengan berbagai emosi dan pengetahuan yang lain. Sehingga muncullah bahwa nggak pakai sabun itu bau. Padahal kita tahu bahwa ada juga orang yang 3 kali mandi, 3 kali pakai sabun dan tetap bau, tapi itu tidak melekat. So, saya menyadari bahwa apa yang dikatakan orang tersebut pada saya bukan saya, tapi itu adalah persepsinya. Apakah saya bau? Apakah saya wangi? Ya, itu mungkin perlu dibuktikan. Tapi, setiap bulan itu saya mengadakan berkali-kali pelatihan dan yang datang ratusan, bahkan ribuan orang. Dan mereka dekat dengan saya dan pelatihan saya itu tetap rame. Nah, kalau saya bau, jorok, kotor begitu, pasti nggak banyak yang datang. Pasti omongan orang yang ketemu saya itu pasti menyebar. Tapi semuanya baik-baik saja. Dan orang-orang di sekitar saya yang bertemu saya dan mereka nggak pernah cerita bahwa saya ini bau. Tapi kemudian, yang paling penting adalah kita menyadari. Omongan-omongan tersebut hanyalah persepsi-persepsi. Dan seringkali kan, ya itulah netizen ya. Begitu kita ngomong sesuatu, kemudian diartikan yang berbeda-berbeda dan kemudian biasanya kemana-mana dan kemudian membentuk persepsi dalam kepala mereka. Jadi, ya saya tidak menyalahkan dia, itu adalah persepsi dalam dirinya kepalanya dia dan saya juga tidak terganggu karena saya menyadari bahwa semua itu hanya persepsi di dalam kepalanya. Jadi persepsi itu, itu adalah seperti ruang sempit. Dia tidak mengetahuin saya apapun, dia hanya mengetahui saya melalui media dan itu seperti sesuatu yang kecil. Dia itu cuma beberapa menit melihat saya kan, tapi persepsi yang ada di dalam kepalanya itulah yang kemudian yang membentuk sebuah judgement atau penghakiman bahwa saya bawa. That is okay. Saya menyadarin. Dan ketika saya menyadarin, saya gak sakit hati. Dan hidup saya menjadi tenang. Begitu pula ketika ada orang yang memuji saya, saya juga tidak merasa bangga, selain merasa keren dan sebagainya. Karena itu hanya persepsi dari diri Anda terhadap saya. Itu bukan saya. Saya nggak baik, saya juga nggak buruk. Karena saya adalah saya. Salam bahagia. Sampai ketemu. Semoga ini membuat tidur Anda nyenyak.











