Untuk Kamu Yang Sering Dicurhatin

Gobind Vashdev breaks down three types of people who vent: those who blame everyone else, those starting to take some responsibility, and those who own their choices. He shows how to listen without enabling, validate feelings without blind support, and push people toward accountability.
Chapters
Video berikut ini adalah untuk teman-teman yang sering mendengarkan curhat. Yang Anda sering curhat, skip aja. Skip, skip, skip. Ini yang sering mendengarkan curhat seperti saya. Ini adalah sesuatu ilmu yang sangat penting. Karena saya sering mendengarkan curhat, saya membaginya orang-orang yang curhat pada saya itu menjadi 3 kelompok. Oke, 1 A, 1 B, dan 2. Mari kita bahas. Yang satu A ini adalah yang mungkin yang paling parah. Apa yang terjadi? Dia selalu menyalahkan pihak lain. Dia tidak bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dalam dirinya. Pilihan-pilihan dia. Tapi dia selalu menyalahkan pihak lain. Nah biasanya nih, biasanya pilihan-pilihan katanya adalah kebanyakan kata-kata dia.
Dia yang menyakitiku. Dia membuat saya begini, Pak. Susah. Gara-gara dia.
Orang-orang ini adalah orang-orang yang butuh dukungan. Dia itu pingin Anda mendukung dia. Mendukung. Dukungan buta istilahnya.
Anda harus percaya sama saya. Anda harus mendukung saya. Dia yang membuat saya begini.
Orang-orang seperti ini, kalau dia curhat tentang pasangannya, ya Anda harus dukung dia untuk melawan pasangannya. Dia menyalahkan negara, dia menyalahkan Donald Trump, menyalahkan apapun disalahkan. Orang-orang ini biasanya, nggak selalu, adalah dia dididik atau dia dibesarkan dengan pola asu memang dari kecil suka menyalahkan pihak-pihak. Contoh nih, anak kecil dia lari dan terantuk kursi, nangis. Ibunya datang dan bukan fokus pada kamu sakit apa nak, tapi kemudian dipukul lah si kursinya ini. Nakal nih, nakal nih. Nah si anak ini kemudian berpikir, oh kalau saya sakit maka saya harus menyalakan pihak lain, ada yang harus disalakan nih. Nah, intinya cari kambing hitam. Kalau nggak ada kambing hitam, cari gajah hitam. Pokoknya harus ada yang disalahkan. Orang ini cuma butuh dukungan. Biasanya saya cuma mendengarkan saja, saya tidak memberikan dukungan yang Anda benar, dia salah, begitu ya. Sampai saya mendengar dari berbagai pihak, baru kemudian saya pikirkan. Kalau nggak, saya cuma berpikir bahwa itu hanya persepsi dia saja tentang keadaan. Jadi orang yang disalahkan, itu belum tentu salah, tapi itu hanya persepsi saja. Oke. Yang kedua, adalah orang-orang yang agak lumayan nih, yang 1B, ya kelompok 1B nih ya. Yaitu dia mulai ada kata-kata sayanya.
Saya merasa sedih. Saya merasa kecewa.
Bagus nih, dia udah mengungkapkan perasaannya dengan kata saya. Tapi... Akhirnya diakhirin dengan...
Gara-gara dia menipu saya, Pak. Saya sedih karena dia terlambat.
Tunggu dulu, tunggu dulu. Kita ini baru bisa ditipu karena kalau kita memberikan kepercayaan pada orang tersebut. Kalau Anda nggak memberikan kepercayaan, Anda nggak mungkin ditipu. Artinya apa? Masih orang tersebut tidak bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya. Oke? Nah, orang-orang ini biasanya pengen perasaannya divalidasi. Oke? Saya biasanya cuma dengerin aja. Oh, oke, oke, oke. Nah, yang paling oke nih, kelompok kedua nih. Nah, orang ini mengungkapkan perasaannya plus dia juga bertanggung jawab terhajab apa yang pilihan-pilihan yang menyebabkan perasaan tersebut. Nah, biasanya kata-katanya begini nih. Saya merasa kecewa. Karena saya berharap, dia datang tepat waktu. So, artinya bahwa kekecewaan yang diungkapkan itu berasal dari mana? Berasal dari harapan-harapan dia. Bukan karena terlambatnya si ACP. Kalau saya nggak berharap apapun, ya saya nggak akan kecewa. Begitu pula, kita ini baru bisa ditipu, seperti saya bilang, karena kita memberikan kepercayaan. Tapi kan seringkali, kita itu nggak elegan bilang gini, aku ini goblok. percaya sama dia itu kurang elegan maka itu kemudian apa yang terjadi paling gampang adalah menyalahkan dan yang lebih parah lagi adalah kemudian mengatakan dengan perasaan aku merasa
dikianatin aku merasa ditipu aku merasa diremehkan
eh tunggu dulu gak ada namanya perasaan dikianatin perasaan diremehkan itu gak ada perasaan itu yang marah, kesel, benci kemudian anda merasa gusar, senang itu perasaan merasa ditipu itu seperti apa? Jadi, hati-hati dengan seperti itu. Jangan terjebak dengan omongan orang lain, apalagi dia menggebu-gebu, menyalahkan sana, menyalahkan sini, dan kemudian menjelekkan sana, menjelekkan sini. Karena menurut saya, siapa yang lebih jelek daripada menjelekkan orang lain? Jadi, saya akan mendengarkan, saya akan memberikan sebuah nasihat kalau diperlukan adalah pada mereka-mereka yang memang sudah bertanggung jawab terhadap perasaannya. Salam bahagia dari saya, Gopi Nufas.











