In this Indonesian monologue, Gobind Paskar challenges common misconceptions about self‑love, arguing that it is not about pampering oneself with sweets, coffee, or whims, but about sustained, responsible care for one’s body and mind so that one can stay healthy and live with the body as long as possible. He likens self‑love to loving another person: you want to stay together as long as you can, which requires nurturing. He outlines concrete, research‑backed practices: regular moderate exercise, breathwork and mental exercises to keep the brain sharp, a diet rich in probiotics and prebiotics, and mindful nutrition. He acknowledges occasional treats are permissible if they are rare and accompanied by preventive actions—such as taking apple cider vinegar, berberine, cinnamon, or walking after a sugary meal—to mitigate blood‑sugar spikes. Gobind emphasizes consistency, awareness of consequences, and a balanced approach rather than daily indulgence. He ends by inviting viewers to share their own self‑love practices.
Chapters
Yo, kita ngomongin self love hari ini. Dan banyak orang ini salah kapra tentang self love. Self love itu dianggap seperti memanjakan diri kita sendiri. Meni pedi, kopi-kopi cantik, makan makanan yang manis, menurutin apa yang hati inginkan. Tidak, tidak, tidak. Ini parah banget sih sebenarnya. Jadi, menurut saya adalah... Love itu kan mencintai diri kita sendiri. Sama seperti kalau kita mencintai orang lain. Nah, kalau kita mencintai orang lain, kita kan kepengen bersama dengan orang tersebut selama mungkin. Ya, pengennya selama-lamanya, tapi kan nggak mungkin. Maka selama mungkin. Sama, ketika saya mencintai diri saya sendiri, saya ingin bersama diri saya selama mungkin. Artinya, saya perlu merawat diri saya sebaik mungkin. Agar saya bisa bersama tubuh ini selama mungkin. Artinya apa yang harus kita lakukan? Penelitian mengatakan bahwa olahraga yang cukup, tidak memaksa yang parah ya, itu akan membuat tubuh kita bisa bertahan lebih lama. Kemudian kita juga olah nafas, olah pikir, karena otak kita yang terus digunakan, itu akan membuat otak kita tetap berkembang, tidak tumpul. Kemudian juga kita melakukan makan-makanan yang sehat, dengan probiotik yang cukup. Kemudian prebiotik dan macam-macam lah yang ya kita tahu. Intinya bahwa kita perlu untuk melakukan usaha atau ikhtiar yang secara konsisten kita lakukan. Tapi boleh nggak Pak, kalau Sandi ngopi-ngopi cantik? Ya boleh aja, tapi itu kan sesuatu yang keriaan ya. Bukan yang setiap hari kita lakukan yang dimana kita malah merusak tubuh kita. Tapi Pak, saya kan sudah olahraga pagi hari. Kalau sore atau malam kemudian saya makan makanan yang ya agak menawur, agak jorok, itu boleh nggak? Itu sama seperti gini. Boleh nggak kita memanjakan anak kita, kemudian kita menyakiti juga, kemudian memanjakan. Malah itu nggak bikin sesuatu produktif, menurut saya nggak bikin sesuatu yang baik. So itu bolehlah sekali-sekali, mungkin lagi ada pesta atau apa, tapi pastikan ketika kita melakukan makan-makanan itu kita tahu, sadar konsekuensinya. Dan Anda perlu mengambil tindakan-tindakan untuk melakukan preventif seandainya. Contohnya kalau saya nih, wah ini tahu nih mau makan makanan sesuatu yang manis-manis. Nah, saya tahu di usia sekarang ini gula darah saya bisa loncat. Lalu bagaimana? Apa yang saya harus lakukan? Saya mungkin konsumsi cuka apel dulu sebelum makan atau berberin atau kayu manis gitu ya. Atau saya melakukan setelah habis makan itu kemudian saya jalan kaki 2-3 kilo untuk menekan gula darah saya. So kita tahu, so itu adalah cara untuk bagaimana kita mencintai diri sendiri. Jadi jangan diambil sisi manja-manjanya, mani pedi kemudian makan makanan yang kita inginkan atau hasrat hati inginkan. Tapi kita perlu untuk menjaga diri kita agar kita bisa hidup selama mungkin bersama tubuh ini. So, itulah konsep self-love yang ada dalam kepikiran saya. Bagaimana dengan Anda? Anda tulis komen-komen Anda. Apa tindakan Anda selama ini untuk melakukan self-love untuk diri Anda? Salam bahagia dengan saya, Gobind Paskar.