#33 - Bincang dengan Gobind Vashdev - Buteyko Breathing
28 Mar 2026 · 56 min
In this episode of the Rianto Astono Podcast, host Rianto Astono interviews Gobind Vashdev, an Indian‑Indonesian practitioner who combines trauma‑healing work, Wim Hof training, and the Buteyko breathing method. Gobind shares his personal health journey—from a frail childhood, through a near‑miss bombing in Bali, to discovering the power of breath control. He explains the origins of the Buteyko method (Konstantin Buteyko, Soviet‑Ukrainian physician), its physiological basis (hyperventilation, CO₂ tolerance, Bohr effect, nasal nitric‑oxide production), and how it differs from other popular breathing protocols such as Wim Hof, Oxygen Advantage, and “coffee‑breathing”. Gobind outlines the practical NLSD protocol (Nose, Light, Slow, Deep), recommended training frequency (2‑5 sessions per day for about a month), and the BOLT/hold‑time benchmarks (≈25‑40 s). He discusses measurable benefits—improved CO₂ tolerance, lower resting breathing rate, better sleep, reduced snoring, enhanced immune response, and potential support during the COVID‑19 pandemic. The conversation also covers practical tools (the BreadBall app, breath‑hold tests, nasal plasters), the importance of nasal breathing for nitric‑oxide, hydration, and parasympathetic activation, and details about Gobind’s weekly online Buteyko classes, registration process, and related emotional‑release workshops. Throughout, Gobind emphasizes that breath is a modifiable tool for autonomic regulation, and that consistent, low‑volume nasal breathing can act like a “fasting” of the respiratory system, yielding health‑span benefits.
Chapters
Hai, selamat datang di Rianto Astono Podcast.
Hai
teman-teman, di podcast kali ini saya akan berbincang-bincang dengan Mas Kobin Vazdev mengenai sebuah teknik pernafas bernama Butekyo Breathing. Sebagai informasi, perlu diketahui jika konten yang ada di dalam podcast ini bukan merupakan saran kesehatan. Tidak ada muatan, produk, atau bagian manapun di dalam konten yang seharusnya dianggap atau digunakan sebagai pengganti dari saran, diagnosis, maupun perawatan medis. Jika Anda mengalami kondisi medis tertentu, silakan menghubungi tenaga ahli dalam layanan kesehatan yang resmi dan kompeten. So, disclaimer on. Mari langsung saja dengarkan diskusinya. Halo, Mas Gobind. Selamat sore, Mas.
Terima kasih, Mas. Gimana?
Sehat?
Bahagia.
Bahagia. Jadi saya mau terima kasih karena sudah mau bersedia diundang di podcast saya untuk berdiskusi terutama masalah butaiko breathing. Nantinya saya akan bertanya banyak hal mengenai butaiko ini. Tapi mungkin sebelum itu, saya minta Mas Gobin untuk coba untuk jelaskan bagaimana latar belakang Mas sampai bisa mempelajari Butaikyo ini, Mas?
Iya. Awalnya dari kecil itu saya punya banyak masalah secara fisik maupun mental. Dalam arti secara fisik saya termasuk orang yang paling lemah di kelas. Saya sama cewek aja lari kalah. Kemudian kalau, namanya, apa itu namanya? Kalau upacara, itu sering mau pinsan. Jadi secara fisik, termasuk orang yang inilah lemah dan sering sakit-sakitan, bolos paling banyak, temen saya bilang kalau bahasa Jawanya itu gopo gitu ya. Jadi lahir dengan kelemahan itu. Itu belum apa-apa, tapi juga dibarengin juga Kesehatan, bukan kesehatan mental ya, emang masih kecil itu ya biasalah suka berantem dan sebagainya. Tapi lebih dari itu nilai prestasi saya itu selalu juara 1, 2, 3 dari belakang. Selalu. Jadi nggak ada bagus-bagusnya lah seperti itulah.
Boleh dibilang kalau.. Mas Gobind ini, sorry mas, mas Gobind ini orang Rusia bukan?
Bukan saya orang India, tapi lahir di Indonesia.
Di mana Mas itu? Di Jakarta ya?
Di Surabaya lahirnya.
Oke, di Surabaya. Oke lanjut Mas.
Terus kemudian besar di Surabaya dan pindah ke Jakarta dan akhirnya bertobat di Bali. Kemudian apa yang terjadi, jadi waktu kecil karena begitu banyak masalah, sering ke dokter setiap bulan sakit tenggorokan dan sebagainya. Dan itu mungkin memicu saya untuk bagaimana mengatasi ini semua. Setelah besar, mulai bisnis, mau apa dan sebagainya, Entah gimana itu, saya percaya kalau kita punya masalah, biasanya kita ingin menyelesaikan dengan belajar hal itu untuk menyelesaikan masalah kita. Kalau kita punya problem komunikasi, ya kita suka dengan komunikasi dan sebagainya. Karena saya punya problem di IQ dan FQ, physical intelligence, atau quotient gitu, otomatis saya kepengen sebenarnya menjadi kuat, saya kepengen menjadi pintar, tapi terus bagaimana? Terus saya didorong oleh berbagai kebetulan, contohnya saya bangkrut di tahun 2000-an seperti itu, nggak punya duit, udah bener-bener habis begitu, punya uang sedikit dipinjem temen katanya 2 hari, ternyata udah 20 tahun belum kembali-kembali. Di situ saya pindah ke Bali. baru pindah ke Bali dan kemudian bom ledak. Tadinya mau cari kerjaan tapi banyak orang dipecat karena bom ledak. Dan saya hampir saja menjadi korban dari bom Bali itu karena menuju ke situ dan bom itu meledak sebelum saya nyampe di sana. Jadi saya malam itu juga bukan melihat mayat berkelimpangan saja, tapi malam itu ke rumah sakit, kemudian membantu dokter otopsi, kemudian mengangkat mayat, membantu krisis center, berbulan-bulan di situ menjadi volunteer. Mungkin dari situ kemudian saya dipilih menjadi salah satu orang yang dilatih khusus untuk menangani trauma healing. Atau penyembuhan trauma. Dan disitu saya belajar banyak sekali tentang self healing, trauma healing, stress management, dan sebagainya. Jadi saya belajar tai chi, ngajar juga acupressure, polarity, AFT, dan sekitar 50 teknik penyembuhan seperti itu. Kemudian dari situlah mulai berbagi, berbagi, berbagi, dan sebagainya. Tapi belum ngomongin soal nafas begitu. Tahun 2015, Itu 2016, waktu saya baru pindah ke Ubud, ada seorang Rusyani, ceritanya. Dia ketemu, dan kemudian dia punya banyak sekali pertanyaan yang aneh-aneh. Saya berpikir, saya ini orang aneh, tapi dia lebih aneh lagi, gitu. Suatu hari ditanya, gitu. Gobind, kamu apa yang kamu lakukan? Saya bilang, oh, aku berbagi. Berbagi apa? Oh, banyak teknik. Ini-ini saya sebutin. Tai chi lah, akupresur lah, apa dan sebagainya. Dia bilang, berhenti, berapa bernafas? Saya bilang, itu tarik nafas dalam-dalam, kembungkan diakvarma, lepaskan. Oh, bernafas dalam? Ya, bernafas dalam. Terus dia bilang, oh, kamu tahu? Bernafas dalam sangat berbahaya. Apa? Saya bilang. Breathing is very dangerous. Bagaimana mungkin guru yoga saya mengajarkan untuk tarik nafas dalam-dalam. Meditasi begitu. Ketika duduk di kursi hipnoterapi, juga itu terjadi. So, apa sebenarnya? Kenapa di breathing very dangerous? Mereka diceritain soal karbon dioksida, diceritain tentang Prof. Buteko. Tapi pada saat itu nggak nyantol. Bener-bener di otak saya itu berpikir bahwa ini. Ini nggak bener lah, ini cuma cari sensasi mau viral lah kalau istilahnya zaman sekarang gitu.
Terlalu bertolak belakang ya?
Bertolak belakang. Katanya harus less breathing, not big breathing dan sebagainya seperti itu. Intinya saya lupakan dan kemudian saya tetap dengan gaya saya yang setiap saat menarik nafas dalam-dalam karena saya percaya itu adalah cara untuk meningkatkan oksigen di dalam tubuh. Tapi apa yang terjadi, tubuh saya lemah, loyo. Saya nggak punya kekuatan untuk banyak hal, dan apalagi kalau saya tinggal di Ubud, itu lebih parah lagi kondisinya. Padahal ketika saya di Ubud, saya lebih banyak olahraga, lebih banyak meditasi, lebih banyak yoga, dan sebagainya. Tapi kenapa kok hidup saya menjadi lebih parah? Sampai akhirnya suatu hari saya ingin memperdalam satu teknik namanya TRE, Tension and Trauma Releasing Exercise. Saya ingin ke Jepang untuk mempelajari TRI, tapi di Jepang itu lagi musim salju. Kendalanya, saya sudah 4 tahun tidak menggunakan alas kaki. Sekarang ini saya sudah 9 tahun tidak menggunakan alas kaki. Saya juga nggak pakai sampo, pasta, dan sebagainya. Tapi saya belum rela pakai sepatu. Tapi gimana namanya salju? Nah disitulah saya ingat bahwa saya pernah dengar ada satu orang yang luar biasa yang bertahan di es namanya Wim Hof. Iceman julukannya. Dia punya 26 rekod. Nah disitulah saya kemudian cari Youtube-nya dan sebagainya, dan langsung latihan di depan Youtube, itu sampai jam 2 malam saya latihan, saya kaget. Wow. Efeknya luar biasa banget ya. Nah singkat cerita, saya ambil pelatihan Wim Hof, nah pada saat itu kemudian saya berangkat ke Jepang. Harusnya pelatihan itu 10 minggu, saya berangkat Padatkan jadi 7 minggu saya berangkat, karena 7 minggu ke Jepang, saya berangkat ke Jepang. kemudian saya harus berangkat. Dan berangkatlah ke Jepang tanpa alas kaki, dan disitulah saya kaget. Kok bisa saya ini yang istilahnya tubuhnya yang sangat-sangat lemah, terus habis itu nggak kuat dingin, AC itu nggak pernah nyala di rumah atau di dimanapun, kok sekarang kok bisa bertahan di salju, main-main salju. Bahkan di Jepang itu saya mandi dengan air-air dingin walaupun di luar itu cuaca minus ya, tapi saya tetap mandi air dingin, berendam air dingin, saya kaget. Marvel banget ya si nafas ini. Gitu saya pulang, kemudian saya inget tuh orang Rusia. Di situlah kemudian saya belajar Buteko. Di situlah kemudian saya menggali kedua teknik ini. Mencoba dan kemudian di suatu titik saya harus menentukan, saya harus menjadi, memperdalam yang mana gitu. Dan akhirnya..
Karena keduanya kalau nggak salah bertolak belakang, Mas.
Iya, kalau kita ngomong secara awam, saya pun mengiranya begitu dulu, tapi sebenarnya bukan bertolak belakang. Ini kalau kita ngomong soal aliran nafas itu ada dua aliran, yang disebut satu adalah coffee breathing, yang seperti Wim Hof kalau jadi habis melakukannya kita seperti minum kopi gitu, meningkatkan adrenalin. Tapi yang satu disebut whisky breathing atau wine breathing. Jadi, tapi halal kok. Jadi ini...
Yang kita lakukan sepanjang hari gitu ya?
Apanya?
Kalau yang whisky. Whisky itu kita lakukan terus-menerus. Oh enggak juga?
Jadi tergantung dari kapan kita perlukan. Sama seperti apakah wine itu jelek, ini kita gak ngomong halal ya. Apakah kopi itu, kalau kopi diminum malam hari tentu gak cocok. Whisky diminum pagi hari juga gak cocok. Jadi apakah mereka bertolak belakang? Ya enggak. Semua ada waktunya, semua ada tempatnya. Apakah kita memerlukan meningkatkan syaraf simpati kita atau parasimpati kita? Tentu tergantung kita. Kalau kita punya alat saja, mana yang kita mau gunakan seperti itu. Jadi bernafas itu seperti alat bagaimana kita bisa bisa memanfaatkan itu untuk kepentingan pada saat itu tentunya. Nah, saat itu pilihan saya, hati saya yang mengatakan ya Buteiko. Akhirnya saya memperdalam Buteiko, mengambil kursusnya menjadi instrukturnya begitu.
Oke. Nah sekarang kita ke Buteiko kalau gitu. Buteiko, nyebutnya Buteiko maksudnya.
Ya, Profesor Buteiko itu yang penemunya.
Oke, sekarang kita mendalami Buteko-nya, Mas. Apa sih Buteko itu? Buteko Buryating itu bagaimana?
Ya, itu sebuah teknik yang diciptakan oleh dokter Konstantin Buteko. Dia adalah seorang yang dari Ukrania, tapi dulu itu masih Soviet. Kita sebutnya Soviet, ya. Nah, dia seorang suka ngotak-ngatik, apa itu namanya, mainan tank atau mesin, begitu, dan kemudian Tapi dia punya masalah banyak. Asthma, alergi. Umur 29 dia punya tekanan darah 212. Dokter udah bilang bahwa dia akan meninggal maksimum 1 tahun. Karena penyakit-penyakit kronis yang dia miliki walaupun dia masih sangat-sangat muda. Ketika itu suatu hari dia menengok di jendela, dia seorang dokter, tapi dalam keadaan santai, nafasnya banyak banget, seperti orang lari. Dia pikir, saya kok begini. Kemudian dia mulai melambatkan nafasnya, mencari. Jadi ternyata dia kemudian menemukan sebuah kesimpulan bahwa bukan karena saya asma, maka kemudian nafas saya begini, tapi karena nafas saya yang kacau inilah yang membuat saya menjadi asma. Jadi kemudian dirubahlah si nafas itu, dan kemudian dia berubah Menjadi lebih baik, gitu. Dan menjadi karena dia adalah, asma. kemudian mendalamin paru-paru, dia profesor di paru-paru, dan kemudian dia melihat begitu banyak orang-orang yang di rumah sakit itu, apalagi yang mau meninggal, dia melihat bahwa nafasnya terlalu banyak, atau yang disebut hyperventilation, hyperventilasi. Definisinya adalah bernafas melebihi daripada metabolisme yang diperlukan di saat itu. Dan dia ngecek paru-parunya ternyata kelebihan oksigen. Atau lain bahwa dia kekurangan karbon dioksida. Nah, dia menciptakan teknik. Teknik ini sebenarnya tujuannya adalah untuk memprogram, lagi-lagi ya, bukan digunakan saat itu, tapi untuk memprogram respiratory center atau pusat pernafasan kita yang ada di otak, tepatnya di medula oblongata, itu untuk menjadikan Karena dengan toleransi yang tinggi, otomatis nafas kita menjadi lebih irit. Tapi di sisi lain, karbon dioksida di dalam tubuh kita, itu mencapai kondisi yang ideal. Karena dari banyak riset, itu ditemukan banyak sekali orang, terutama orang modern, itu tanpa sadar melakukan apa yang disebut hyperventilation. Itu bernafas lebih irit daripada masyarakat. Ya kelebihan nafas. Jadi masalah kita sebenarnya bukan kekurangan, tapi kelebihan nafas.
Kelebihan nafas. Nah, kita kembali lagi. Tadi katanya Butekyo itu adalah Whiskey Breathing. Artinya dia nggak dilakukan sepanjang hari. Apa yang kita lakukan sepanjang hari?
Jadi, lagi-lagi, ini bukan teknik yang seperti pranayama yoga, atau teknik Wim Hof, atau teknik-teknik yang dimana itu hanya digunakan, maksudnya efektif ketika digunakan pada saat itu. Contoh, nafas 478, ya itu nafas yang dimana itu digunakan untuk membuat kita tidur. Jadi, pada saat itu kita jadi relax dan kemudian kita tidur. nafas 46 itu untuk menurunkan tekanan darah, digunakan pada saat itu. La Butteco ini sebenarnya bukan hanya teknik pernafasan, tapi adalah programming. Jadi ketika kita melakukan teknik Butteco 3-5 kali sehari selama 1 bulan, maka apa yang terjadi? Tubuh kita atau otak kita yang ngurusin soal nafas, ya itu dia akan berubah, patternnya akan berubah. Iya, patternnya yang tadinya kalau kita bernafas 30 kali semenit, maka itu akan menjadi lebih turun, menjadi 25 kali, menjadi 20 kali. Itu akan sangat-sangat mempengaruhi semuanya. Karena menurut saya tidak ada satu hal pun yang lebih mempengaruhi tubuh kita ketika dirubah, melebihin daripada nafas itu sendiri.
Berarti kita latihan Butaiko 2-3 kali sehari. 3-5 kali sehari.
Selama 1 bulan.
Selama 1 bulan. Nanti nafas kita akan mengikuti jadi nafas yang lebih efisien.
Betul sekali. Dan setelah itu tentu perlu pertahanan. Mungkin 1-2 kali cukup. Tapi di 1 bulan pertama, ya sama seperti pemrograman teknik, pemrograman yang lain, bahwa kita perlu untuk kurang lebih 1 bulan untuk melakukan dengan rajin, sampai itu menjadi kebiasaan di dalam tubuh kita.
Saya ini sudah baca bukunya Patrick McCown ini, yang Oxygen Advantage itu. Itu saya udah coba nih, saya bisa tahan 40 detik, itu bagus apa enggak?
Oh itu termasuk sangat bagus, hold score kalau di Oxygen Advantage, karena saya juga instruktur di Oxygen Advantage, mereka nyebutnya BOLD, Body Oxygen Level Test. Yang pertama harus diketahui bahwa ketika kita menahan nafas, itu tidak boleh dipaksa. Jadi begitu ada keinginan pertama untuk tarik nafas, harus lepas. Itu biasanya ditandai oleh menelan luda, atau ada getaran di diaphragma, seperti itu. Kalau bisa mencapai 40, itu sudah level yang bagus. Kalau di Oxygen Advantage, Targetnya 25 sebenarnya. Kalau di atas 25 detik, itu disebut functional breathing. Kalau di bawah 25 detik, disebut dysfunctional breathing, atau nafasnya kurang berfungsi dengan baik. Jadi, ya, itu termasuk bagus. Bahkan di butiko sendiri, 40 itu menjadi acuan yang sehat.
Iya, saya liatnya 40, soalnya di situ yang saya baca. Makanya saya cobain 40. Pertama kali 25, 30, terus satu minggu, dua minggu, loh, bisa juga 40. Sebenarnya
sebagian besar orang, sebagian besar orang itu ada di sekitar 20-an, bakal mencapai 20-30, tapi banyak juga yang belasan, banyak juga yang dibawa itu. Setiap minggu kami mengadakan pelatihan, dan di situ kita bisa tahu berapa 40-an, skor dari 50-an, mereka. 60-an, 70-an. Biasanya begitu. Dan kebiasaan orang di Indonesia mungkin suka nahan. Jadi harusnya sudah berlepas, tapi demi skor. menahan lebih gitu. Padahal tujuan skor itu bukan untuk dicapai, tapi tujuan skor itu sebenarnya seperti tes darah, tes tekanan darah, atau tes gula darah, yang dimana kita nggak boleh memanipulasi begitu ada keinginan. Pertama kali harus stop untuk indikator, tapi juga untuk protektor. Jadi kalau ada tekanan darah tinggi, diabetes, atau apa, mereka menjadi protektor, kita nggak boleh maksa, dan sangat berbahaya kalau dipaksa.
Oh iya. Saya juga mungkin karena saya sendiri, mungkin pasti salah lah. Nanti saya mau ikut kelasnya Mas Gobind juga sekalian. Nanti saya akan tanya tentang kelasnya. Pasti salah sih kalau saya. Karena saya pasti nahan juga sih. Nah, mengenai nafas dengan hidung, Mas Gobind. Dan mengenai karbon dioksida. Itu kan adalah dua hal yang yang banyak orang gak tau gitu loh. Ada sesuatu yang begitu mind blowing. Penjelasan singkatnya tentang itu apa itu mas?
Ya sebenernya bukan sesuatu.
Sebentar. Tentang kita plaster mulut pas tidur dan karbon dioksida kita harus toleransiin tinggi. Itu mas.
Yang pertama soal bernafas dengan hidung. Hidung itu organ paling kurang diberi nilai, saya rasa. Organ yang tidak banyak diceritakan, seolah-olah cuma penghias dan penyaring. Tapi sebenarnya yang kita lihat, hidung kita yang kita lihat itu hanya 20% dari bagian hidung kita. 80% dari organ itu ada di dalam wajah kita sebenarnya. Tugas hidung apa sih? Menyaring itu adalah salah satunya. Tapi yang pertama adalah dia menghangatkan udara, sehingga mematikan bakteri. Yang kedua, si hidung ini menciptakan satu zat yang namanya nitrit oksida. Nitrit oksida ini dulu dianggap zat yang jelek, yang buruk. Tapi apa yang terjadi? Tahun 1992 penelitiannya mengatakan bahwa ini molekul ajaib, dan tahun 1998, Jadi, penelitian ini mendapatkan Nobel. Kalau sudah dapat Nobel, agak sulit untuk dibantai. Kemudian sekarang ini, sinitrito oksida ini, apalagi di pandemi ini, sangat jadi prima dona begitu, bahkan dijual spray nitrate oxide dan sebagainya. Kenapa? Karena dia adalah antivirus. Jadi bayangkan bahwa hidung kita itu sudah dilengkapi antibakteri dan antivirus. Jadi penjaga pertama dari kesehatan tubuh kita sebelum masuk ke paru-paru. Kemudian setelah itu, nafas dari hidung itu Hidung akan memadatkan si udara ini sehingga apa yang terjadi, sehingga tubuh kita akan mendapatkan oksigen itu jauh lebih banyak daripada nafas mulut. Hanya dengan menutup mulut dan kemudian bernafas dengan hidung, intake oksigen itu bisa sampai 20%. Artinya bahwa orang itu bisa cerdas hanya dengan cara seperti itu. Orang bisa lebih sehat hanya dengan kuat, energinya penuh, itu hanya dengan menutup mulut dan bernafas dengan hidung. Kemudian hidung juga mengaktifkan parasympatik, artinya tubuh kita menjadi lebih relax, dimana parasympatik itu modenya adalah rest and digest. Ketika kita sedang sakit, maka tubuh kita harus lebih banyak relax. Modenya rest and digest atau rest and repair, dimana regenerasi sel terjadi, penyembuhan terjadi di mode itu. Kalau kita nafas pakai mulut, maka kita menjadi lebih agresif, adrenalinya keluar dan sebagainya. Nah, selain itu juga, bernafas dengan hidung itu akan membuat kita tidak gampang dehidrasi, karena 40% dari uap air yang keluar itu akan terserap oleh kita. Jadi artinya bahwa ada begitu banyak manfaat yang lain-lainnya juga saya nggak usah sebutkan, terlalu detail, terlalu banyak. Jadi sayang banget kan kalau seandainya kita tidak memanfaatkan itu, karena kita tidak tahuan. Bukan kita nggak bisa, karena semua orang pasti bisa, tapi karena kita nggak tahu manfaat si hidung ini sendiri dan nggak pernah dibahas. Yang dibahas kan pola gerak, pola makan, ketika kita ke dokter, Iya, dokter kan selalu meresepin atau terapi, selalu ngasih petunjuk, makannya seperti ini, kemudian ditanya lagi apakah tidurnya enak atau enggak, kalau nggak bisa tidur ditanya stress atau tidak, jangan stress, Tapi dia nggak kasih tahu bagaimana caranya supaya tidak stres. Olahraga atau tidak, yang ditanya pola gerak, pola makan, pola pikir, pola istirahat. Saya nggak bilang empat pola ini salah. Ini adalah pilar-pilar dalam kehidupan agar kita menjadi sehat. Tapi ada satu pola yang selalu kita gunakan sepanjang hari, sepanjang hidup, satu-satunya pekerjaan yang tidak pernah kita lewatkan sepanjang hidup kita. Dan itu hanya satu, yaitu bernafas. Kita nggak ngomong, nggak ada yang para terapi atau dokter mengatakan, eh, nafas kamu kok, kenapa ini? Kecuali dia lagi asma, kecuali Anda pergi ke dokter paru-paru. Tapi dokter yang lain akan nyaranin. Makan, gerak, olahraga, olam bingkir, stress, tapi nggak ngomongin soal pola nafas. Padahal dengan merubah nafas kita, kita akan bisa merubah energi kita. Apapun yang kita makan, itu dijadikan molekul gula. Dan molekul gula ini dibakar. Kalau kita nggak ada oksigen cukup, maka molekul gula ini jadi 2 ATP. Tapi kalau oksigennya cukup, maka bisa jadi 38 ATP. Artinya energi kita bisa naik sampai 16%. Kemudian tidur kita akan jauh lebih nyenyak. Kemudian makan kita akan terkontrol, karena penyerapan nutrisi lebih baik. Kemudian fokus kita menjadi lebih baik, karena otak kita kan memerlukan dua hal, glukosa dan oksigen. Dan kalau kita enggak makan tiga hari, kita masih hidup. Tapi kalau kita enggak bernafas tiga menit, ada kerusakan otak. Artinya bahwa ini kan sangat-sangat penting, tapi kenapa kok enggak ada yang berbicara tentang hal ini? Kalaupun kita tahu hari ini tentang Mereka berpikir bahwa lebih banyak oksigen yang saya hirup, maka itu semakin baik. Tapi ternyata nggak begitu, nggak sesimpel itu. Jadi saya mengakui bahwa di dunia ini yin dan yang itu bekerja secara dimanapun. Bahkan di Selama dunia ini kita berpikir bahwa ini, yin dan yang adalah sesuatu yang berkebalikan di dunia ini, di dunia ini, atau bertentangan. Tapi kalau kita lihat simbol yin dan yang, hitam dan putih, itu mereka nggak bertentangan, mereka berpelukan. Bahkan di dalam putih ada hitam. Kembali ke tahun 1004 yang saya bilang adalah Niels Bohr dan Christian Bohr yang mendapatkan hadiah Nobel, disebutlah si penelitian ini Bohr Effect. Yang mengatakan bahwa diperlukan karbon dioksida untuk membuat si darah, membuat si oksigen ini masuk ke dalam sel. Jadi kalau kita bernafas, maka udara itu sampai ke paru-paru kita. Di ujung paru-paru kita itu ada sebuah Bagian organ paru-paru namanya alveoli, itu seperti hub atau terminal, pertemuan antara darah dan udara. Jadi si darah ini datang ke alveoli, eh ada udara, ambil dia. Udara yang kita hidup itu 21% adalah oksigen. Karbon dioksidanya cuma 0,03%. Jadi di udara kita ini karbon dioksida super sedikit. kemudian membawa udara ini ke sel. Jadi kalau kita pakai oximeter, itu hanya menunjukkan kadar oksigen di dalam darah, bukan di sel ya. Bukan di jaringan. Nah, darah itu seperti gosennya gitu loh. Jadi gosen. Nah, gosen ini baru bisa nge-sen kalau ada gope-nya kan, begitu kan.
Betul.
Nah, darah ini, Itu mengikat udara, yang mengikat itu namanya HB, hemoglobin, protein di darah. Ini terlalu kuat hubungannya, affinity-nya itu kuat. Diperlukan karbon dioksida yang cukup untuk membuat hubungan ini lemah. Ketika hubungannya lemah, maka oksigen itu masuk ke dalam sel. Dan kemudian si HB ini menangkap CO2, CO2-nya kemudian keluar Jadi kita perlu untuk menciptakan kondisi paru-paru yang cukup karbon dioksida kalau dalam ukuran kedokteran sekitar 5,5% sampai 7,5% atau 35 mmHg sampai 45 mmHg.
Oke, jadi yang kalau yang dari saya tangkap adalah lebih sedikit bernafas, lebih sedikit oksigen, lebih tinggi toleransi kita terhadap karbon dioksida, tapi justru membuat kadar oksigen di dalam darah kita lebih bagus gitu ya.
Bukan berarti kalau terlalu tinggi itu kena hypokapnia itu juga nggak bagus. Tentu menjadi sesuatu yang buruk.
Terlalu tinggi apa? Oksigen?
Dua-duanya. Kalau karbon dioksida terlalu tinggi juga berbahaya. Kita perlu untuk dalam kondisi yang ideal. Tapi karena terlalu banyak orang itu bernafas melebihin itu. Karena kan kalau menurut buku kedokteran kita itu bernafas harusnya satu menitnya itu Tapi kalau saya menghitung banyak orang di sekitar saya, nafasnya itu jauh di atas 20. Jadi Bahkan ada yang 30 lebih per menit. Dan kita kalau saya menghitung banyak orang nggak boleh di ngitung sendiri ya. sekitar Jadi saya, kalau nafasnya itu jauh di atas 20. Jadi kalau saya menghitung banyak orang di sekitar saya, nafasnya itu jauh di atas 20. Jadi kalau saya menghitung banyak orang di sekitar saya, pendengar podcast ini kemudian dia menghitung sendiri, dia pasti intervensi. Jadi harus meminta orang lain untuk menghitung. Waktu kita nggak nyadarin. Nggak sadar.
Waktu kita nggak nyadarin.
Iya, betul. Jadi karbon dioksida ini diperlukan. Sekarang ini kalau menurut berbagai penelitian kita itu bernafas berlebih itu saja. Maka buteko itu adalah cara teknik untuk memprogram si respiratory center agar kita bernafas lebih irit. Semua keunggulan yang tadi saya sebutkan tentang nafas lewat hidung, itu akan baik sekali kalau kita juga melakukannya waktu tidur. Waktu tidur ini kan banyak sekali orang yang mulutnya terbuka dan bernafas lewat mulut. Akhirnya apa yang terjadi? Banyak sekali. Ngorok, itu salah satunya. Dan kemudian dia asma dan alergi muncul pagi-pagi bersin. Seperti itu. Kemudian...
Sakit tenggorokan.
Iya, sakit tenggorokan kering. Malam-malam pipis-pipis terus.
Minum, harus minum.
Iya, tapi kenapa kita kok kencing di malam hari? Karena ketika kita bernafas dengan mulut, salah satu bagian otak kita, kelenjar pituitary, itu nggak mengeluarkan apa yang disebut vasopressin. Vasopressin itu tujuannya adalah untuk mengikat air di dalam tubuh. Akhirnya apa yang terjadi? Kita bangun, dan kemudian kencing, dan kemudian karena tenggorokan kering, kita minum lagi, airnya kencing. Jadi kencingnya bisa berkali-kali, dan akhirnya tidurnya nggak nyenyak. Belum lagi bahwa... nitrit oksidenya nggak dapat. Tadi nitrit oksidenya selain meningkatkan stamina, antivirus, dia juga membuat tidur kita jauh lebih nyenyak, dan dia juga anti-inflamasi kalau kita capek-capek, sakit, misalnya olahraga atau karena kerja. Maka dia akan mengurangi inflamasi di dalam tubuh kita. Jadi sayang banget kan 8 jam tidur dan kemudian nggak mendapatkan zat ajaib itu.
Nah tadi kan di awal kita mas memberitahu kalau tarik nafas dalam-dalam itu bukan cara yang baik gitu ya untuk pernafas. Yang sebaiknya kita lakukan itu adalah nafas yang irit dan perlahan-lahan. Itu kalau teknis yang kita lakukan tuh gimana sih mas caranya itu?
Jadi, sebenernya begini, kenapa sih kok saya bilang jangan tarik nafas dalam-dalam. Sebenernya maksudnya begini, kalau saya mengatakan, ayo take a deep breath gitu ya. Apa yang terjadi, semua orang akan melakukan, gitu kan. Tarik nafasnya banyak banget. Dan otomatis kompensasinya akan lepasnya juga banyak kan. Gitu kan ya. Nah, apa yang terjadi ketika kita menarik nafas, Banyak, biasanya melepasi juga banyak. Dan itu mengakibatkan karbon dioksida di dalam tubuh kita turun. Seperti itu. Nah, apa yang kita lakukan adalah, yang dikatakan deep breath, itu bukan deep breath. Deep artinya dalam. Kedalaman. Dalam itu artinya apa? Kita meletakkan udara itu paling bawah paru-paru, kan? Seperti paling bawah paru-paru itu mengikat 2 per 3 oksigen, karena di bawah lebih banyak darah, alkuli juga banyak di bawah, paru-paru kita bentuknya sekitiga, lebar di bawah, dan seterusnya. Jadi, boleh dibilang kita perlu untuk memanfaatkan si diafragma kita untuk mengembang. Jadi itulah sebut deep breathing. Nah itu yang pertama. Jadi kalau saya mau merumuskan nafas yang ideal, yang saya harus bagaimana adalah nafas yang disebut NLSD. Jadi N-nya itu nose breathing, kita masuk dan keluar pakai hidung, dengan segala manfaatnya itu disebut. Yang kedua adalah light breathing. Jadi bukan yang banyak-banyak, Light, light breathing. Jadi kalau Nabi Muhammad itu mengatakan, bila makan sebelum kenyang, ini bila nafas sebelum penuh. Seperti itu.
Oke.
Nah, kemudian yang ketiga adalah slow, slow breathing. Jadi lebih pelan. Dan kemudian lepasnya juga pelan. Kalau hitungannya, maka lepas biasanya lebih, volume lebih banyak dan waktunya juga lebih banyak. Jadi kalau sana kita narik.
Volume lepas lebih banyak ya?
Iya, volumenya lepas lebih banyak, karena kan kalau kita narik, kita oksigen, tapi kalau waktu lepas kan karbon dioksida ada di situ, jadi volumenya lebih banyak pasti, dan kemudian lebih lama.
Durasi lebih panjang?
Durasi lebih panjang, dan keempat adalah deep breathing, deep, menggunakan diafragma. Jadi light, slow, and deep, dan menggunakan hidup, seperti itu, sorry.
Oke, Mas. Nah sekarang kan kita lagi di pandemi nih, Mas. Ini udah satu tahun lebih nih bikin kita pusing semua nih. Masalah pernafasan ada di mana-mana. Saya tau jika ButeQ ini itu adalah cara yang sangat efektif untuk mengatasi asma. Dan berbagai masalah pernafasan lainnya. Nah, sekarang dari perspektif kita ini, kira-kira apa sih yang dapat dilakukan ButeQ ini untuk membantu mengatasi masalah pandemi yang berhubungan dengan Covid ini, Mas? Ada nggak kira-kira?
Karena tubuh kita memiliki antibakteri, hidung kita, dan juga antivirus. Dan kita Dan itu adalah bisa mengalami itu, sebenarnya masker utama kita. kita bisa mengalami ini, kita bisa mengalami ini, kita bisa mengalami ini. Sebelum masker sekarang itu di-double dan sebagainya. Maka itu saya menggelorkan satu gerakan namanya gerakan nafas hidung, atau saya sebut genah. Bahasa Jawa genah, gerakan nafas hidung, seperti itu. Dan banyak orang yang bertanya pada saya, Memang kita selama ini nafasnya pakai apa? Iya, saya tahu kita nafas pakai hidung, tapi banyak sekali yang bocor. Jadi di buteko itu diajarkan begitu. Dan kemudian yang kedua adalah bahwa ketika kita berlatih buteko, atau berlatih teknik-teknik bernafas itu, bahwa otot-otot pernafasan kita menjadi kuat. Diakfragma kita menjadi lebih baik karena kita menggunakannya seperti itu. Bila virus itu sampai ke dalam tubuh kita dan berkembang, apabila Covid-19 positif, paling tidak otot pernafasan kita kuat. Jadi banyak sekali temen-temen itu tanya pada saya, karena dia tahu saya nganjrebut eko dan teknik penafas, gitu. Kuben, saya kena COVID nih, saya udah gini-gini. Terus gimana dong, saya harus bagaimana? Saya bilang, saya bisa kasih teknik penafasan macam-macam nih. Tapi bukan itu. Masalahnya kan otot pernafasannya bagaimana? Sama seperti kalau kita nggak pernah latihan otot, beban gitu, kemudian ada beban di depan kita gitu. Saya bisa kasih teknik untuk mengangkat barbel, itu yang enak, yang bagus, yang benar, itu begini. Tapi kalau ototnya nggak kuat, kan juga akan susah kan? Seperti itu. Jadi kalau kita berlatih teknik bernafas, otot-otot pernafasan kita kuat, maka paling tidak itu adalah satu hal yang sangat prinsip atau utama untuk mengalahkan si virus itu dalam bentuk otot pernafasan. Kita nggak ngomong soal yang lain dulu. Karena yang paling diserang itu, maka kapasitas paru-paru kita, kekuatan otot-otot kita, diafragma kita harus dikuatin. Dan ada penelitian selama 7 dekade melibatkan 5.000 orang lebih bahwa Dikatakan bahwa salah satu faktor utama dari panjang umur itu bukan diet, bukan olahraga, bukan stres, bukan genetik, tapi adalah kapasitas paru-paru, yang mana sampai sekarang tidak banyak cara itu. Jadi, apa yang kita bisa lakukan? Saya, karena Buteko itu harus dilakukan atas pimbingan, dan ada arahan seperti itu, yang bisa saya sarankan selalu pada mereka yang belum sempat ikut pelatihan buteko atau apapun, ada sebuah aplikasi, sebenarnya ada beberapa aplikasi, tapi yang sering saya rekomendasikan, BreadBall namanya. Apa, Mas? BreadBall. Bread nafas, ball bola. Diciptakan oleh seorang komputer. Si aplikasi BreadBall ini, kita setelah download gratis, dan di situ ada beberapa panduan untuk nafas kalau lagi panik, apa yang kita lakukan. Cemas itu nafas 55. Kalau untuk tekanan darah supaya diturunkan atau merendahkan tekanan darah 46. Untuk tidur 478. Untuk asma 26. Dan seterusnya seperti itu. Jadi seseorang dengan kondisi tertentu, yang dibutuhkan tentunya, dia tinggal scroll, cari, dan kemudian ikutin saja apa yang dilakukan. Semakin kita sering berlatih nafas, yang sering saya rekomendasikan adalah nafas 5-5, 5 tarik, 5 lepas. Sehingga kita kurang lebih 5-6 tarikan per menit. Itu bisa dilantik dengan mengembangkan diakfragma tentunya, itu akan memperbaikin. Satu hal lagi bahwa diakfragma ini tugasnya sangat luar biasa, karena tugasnya adalah menjadi pompa dari kelenjar geta bening. Kalau kita sakit, itu salah satunya karena terlalu banyak beban racun di dalam tubuh kita. Racun-racun ini biasa dikeluarkan lewat sebuah Sebuah sistem dalam tubuh kita namanya limb system atau kelenjar geta bening. Nah, kelenjar geta bening ini itu bekerja, dia nggak punya pompa seperti jantung, maka dia bekerja dengan cara kalau kita bergerak, kalau kita bergerak, maka kelenjar ini memompa untuk melepaskan racun. Nah, ada penelitian ini tentang pasien-pasien Covid, ada 1400 orang yang diteliti, mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara mereka yang terkena Covid dengan inaktif atau gaya hidup yang mager itu sendiri, jarang bergerak. Kalau saya lihat di Indonesia ini termasuk negara yang paling pertama atau nomor 1 peringkatnya, atau 10 besar lah, yang penduduknya males bergerak. Rotoar kita kan lihat aja udah bagus, tapi masih banyak yang gak ada yang jalan di situ. Kemudian apalagi juga Grab, GoFood, dan yang lainnya, apalagi sekarang PPKM. Semakin hari, semakin males bergerak. Ini terjadi penumpukan akhirnya racun, apalagi kemudian makannya di rumah, mie instan. Lah racun-racun ini masuk ke dalam tubuh kita jadi beban, sehingga virus yang harusnya kita bisa bereskan dengan antivirus yang ada dalam tubuh kita, itu nggak kuat karena ngurusin si toksin-toksin yang ada di dalam tubuh kita ini. Maka itu perlu untuk selalu bergerak. Dan ketika bergerak, dan ketika olahraga, saran saya selalu dan selalu dan selalu menggunakan hidung. Jadi tidur gunakan plaster dan plasternya harus micropore, jangan plaster yang lain. Jangan lakban atau pakai plaster lain. Sakit. Ya, tapi banyak yang melakukan itu waktu
tahun 2014. Saya pakai juga yang micropore itu. Itu juga sakit juga loh. Lumayan loh lepasinnya. Apalagi yang lakban.
Iya, itu beda-beda sih. Ada-ada, seperti saya, nggak ada masalah sakit karena mungkin kelembapannya udah cukup, gitu ya, di situ.
Enggak, dia kalau pertama kali pasang ya, memang kayak bisa geser-geser. Tambah pagi, tambah lengket itu.
Iya. Nggak ada hasilnya. Nggak tahu. Iya, iya, iya. Gitu. Oke, jadi kalau untuk
yang Covid nih, Mas, saya itu betul-betul agak Gimana ya, agak bingung gitu. Bingung satu sisi, di sisi lain juga masih ngeri-ngeri gitu ya. Ngeliat misalnya orang masukin oksigen di hidungnya gitu, deres banget, kenceng banget gitu sampai berdarah hidungnya. Nah, oh ada tuh? Iya, yang selangnya itu loh mas. Tapi saturasinya gak naik-naik juga gitu loh. Apakah itu lebih menyiksa? Atau kok ada cara lain? Saya ini, karena saya bukan dokter ya, saya nggak tahu apa-apa masalah ini juga, bukan nggak mempelajari tenaga nafas juga. Maksud saya tuh, Saya pengen, mungkin enggak ya, ini masalah nafas nih, butaiko ini bisa enggak jadi solusi? Paling enggak untuk orang yang isoman, atau yang orang lagi recovery, setelah dia masalah paru-paru, ada kabut segala macam gitu, dia memperbaiki nafas dia, jadi ini jadi semacam lompatan, setelah ini orang hidup lebih sehat, bernafas dengan lebih
sehat lagi gitu loh. Tapi kalau saya melihat teman-teman yang kena COVID-19 dan pernah ikut Buteco, mereka mempunyai kesehatan recovery cepat, lebih cepat yang seperti sangat itu. Kemudian banyak tinggi. Mereka mempunyai kesehatan juga yang tidak terasa karena yang sangat tinggi. Mereka memiliki kesehatan emang pernafasannya cukup kuat seperti yang sangat tinggi. Mereka itu. memiliki kesehatan yang sangat tinggi. Jadi lagi-lagi bisa dihubungkan. Tapi saya melihat bahwa orang-orang yang bukan buteko saja, teknik-teknik yang lain, kalau mereka benar-benar aware terhadap nafasnya, dan dia nggak punya banyak masalah dengan tubuhnya, saya rasa virus ini tentu bisa diimbangin sebenarnya. Dan kerusakannya mungkin tidak terlalu parah dibanding orang-orang yang sama sekali nggak memperhatikan nafas. Dan saya setuju tadi, Mas bilang bahwa ini mungkin akan jadi sesuatu yang sangat luar biasa di kedepannya, karena selama ini nafas itu ... Pilar kesehatan yang paling nggak dianggap itu nafas, padahal satu-satunya yang bisa punya akses ke backdoor atau autonomic nerve system, itu adalah nafas yang bisa membuat badan kita hangat atau dingin, yang bisa membuat detak jandung kita cepat atau tidak, yang bisa membuat pH kita naik atau turun, hormon apa yang keluar, adrenalin atau yang lain, dan membuat kita ngantuk atau segar, dan sebagainya. Itu kan sesuatu tools yang luar biasa kalau kita bisa mainkan untuk ini. Tapi lagi-lagi, kalau sakit ya urusannya makan, yang diganti, saya nggak bilang Gak penting, itu penting. Tapi kenapa yang ini kok jadi gak pernah diceritain, gak pernah diomongin. Nah, saya pikir satu ada buku namanya Bread, James Nestor. Itu saya udah mulai podcast-nya juga, Mas. Dia kan bukan seorang terapi, tapi dia kan seorang jurnalis saintifik. Di situ menjelaskan tentang begitu banyak urusan nafas. Karena dia pun ketemu begitu banyak ilmuwan dan dokter, dia bilang gak masalah, mau nafas pake mulut, pake hidung, sama aja. Mau nafas hidung kanan, hidung kiri, gak ada bedanya. Mau nafas 10 kali, 25 kali, gak ada bedanya. Tapi kemudian dia mencoba selama 10 hari nonstop hidungnya dibuntu, dipasangin silikon atau apa itu, dan kemudian dia nonstop pakai mulut, dan kemudian 10 hari kemudian nonstop pakai hidung, dan itu perbedaannya langit dan bumi, dan datanya semuanya ada.
Iya, betul. Nah, gini Mas, saya tuh pengen mengangkat tagline judulnya puasa nafas, gitu Mas. kayaknya mas Gobind juga pernah saya baca dari mas Gobind kalau nggak salah malahan ada tagline itu ya puasa nafas itu mas ya nah itu itu kira-kira apa sih puasa nafas itu mas yang tadi itu nafas
ngirit-ngirit itu Betul. Jadi sama seperti kehidupan apapun, puasa itu fondasi dari kesehatan. Puasa itu adalah milik alam semesta, which is harusnya kita melakukannya semua. Karena tanpa itu habislah kita. Kalau kita lihat dokter David Sinclair, itu yang dari Harvard yang dia nulis tentang lifespan, bukunya yang sangat terkenal tentang longevity, atau orang-orang yang panjang umur, dan dia mengatakan bahwa rahasia pertama panjang umur adalah less eating. Jadi semua orang, Orang yang tua-tua, umur 100 lebih, nggak ada yang gemuk. Semuanya kurus. Dan makannya selalu sedikit. Dan dia juga ngomong, less breathing. Artinya apa? Jangan nafas banyak-banyak. Tarik nafas dalam-dalam banyak, kemudian ngembuskan. Dan itulah orang stres. Ketika kita stres, kita ketemu orang dan sebentar-sebentar dia side-side. Walaupun ditanya, kamu stres ya? Enggak, aku gak ada apa-apa, santai aja kok. Tapi sebenarnya dia tarik nafas banyak-banyak, udah dipastikan bahwa dia dalam keadaan stres. Karena otak itu terhubung dengan jantung, jantung terhubung dengan nafas. Jadi kita gak bisa tahu otak seseorang itu cepat atau lambat. Tapi kita bisa lihat dari nafasnya, cepat atau lambat, seperti itu. Sehingga... Kalau kita memenuhi keinginan kita semuanya, dalam hidup kan begitu ya, kalau kita makan apa, kita suka apa, dipenuhi semuanya. Maka itu adalah cara untuk cepat mati. Sama dalam kehidupan, kita punya keinginan apa, kita belanjain duit kita, itu rahasia atau cara tercepat untuk menjadi bankrupt. Sebegitu pula ketika udara ini berlimpah, tapi kemudian kita kan enak nih narik nafas. Enak. Tapi itu sama seperti kalau kita lagi stres kita makan permen. Nyaman, nyaman. Melegakan, melegakan betul. Tapi tidak mungkin. Itu adalah salah satu cara bagaimana kita cepat mati menurut saya.
Jadi saya ini sebenarnya selama ini juga sama sama orang-orang lain, gak peduli juga sama nafas gitu, otomatis aja. Saya gak tahu bahkan saya napasnya dari hidung atau dari mulut. Tapi yang jelas dulu sih ngorok gitu ya, istri saya bilang ngorok artinya dari mulut dong ya. Nah, sampai kira-kira Agustus tahun kemarin itu, Mas. Itu setelah saya sekian lama nggak keluar rumah, saya akhirnya ke gym, karena udah lama banget nggak nge-gym. Saya nge-gym gitu satu minggu, dua minggu. Setelah itu tiba-tiba saya demem. Ya, habis demem itu, tiba-tiba saya rasanya nafas saya itu, saya mau hisap sebanyak apapun, itu nggak ada yang masuk di paru-paru. Kayak kosong gitu loh. Sampai malam itu saya mau ke rumah sakit, tapi karena waktu itu masih takut gitu ya. Saya pikir, ah besok aja. Nggak bisa tidur saya, Mas. Semalaman. Saya takut nafasnya berhenti. Karena itu, nggak bisa nafas, gitu. Nggak bisa tidur saya. Besoknya, saya pikir gini, ah nggak usah dipikirin lah nafasnya. Biarin aja dia otomatis, gitu. Jadi gini, apa, saya cuma nafas, saya ngikutin paru-paru aja. Nah, pas saya ngikutin itu, yang terjadi adalah, saya nahan nafasnya panjang banget, Mas. Tapi setelah nafas itu ketahan lama, jadi plong dan langsung masuk ke koru-paru. Abis itu saya gak belajar dari mana-mana nih, otodidak aja. Abis itu saya terapin itu terus 2-3 hari, udah gak ada masalah lagi. Nah dari situ saya baru pas waktu itu ketemu bukunya Brad itu, Gem Nestor itu, saya baru mulai ya gak tau cocokologi atau gimana tapi kok saya ngerasa loh kayaknya Ini yang saya alamin gitu loh. Saya nafas banyak-banyak gitu ya. Saya takut sampe itu isi paru-paru kosong, gak bisa ngisi. Tapi gak ada yang masuk. Saya udah isep-isep gitu. Tapi begitu saya stop-in nafasnya, saya ikutin paru-paru sampe dia, apa di... gitu ya. Keluar terus, keluar terus. Kemusnya banyak banget sampe kosong paru-paru saya. Kayaknya udara basi itu keluar semua kayaknya ya. Pas dia isep gitu, diidung kerasa, di paru-paru tuh langsung ngisi. Itu benar-benar, saya bilang, nah dari situ makanya saya tertarik sama tema ini, sampai hari ini. Maksud saya, bisa nggak orang COVID, saya tapi nggak bisa bilang, kan? Oh kalau kamu COVID, kamu nafasnya harus gitu. Saya takut untuk kasih saran itu, Mas.
Saya sarankan yang paling aman, karena saya bukan juga dokter. Dan saya pikir kalau mau pakai oksigen, jangan pakai oksigen di rumah tanpa pengawasan dokter. Seperti itu. Yang kedua adalah Anda bisa berlatih untuk nafas yang paling gampang sebenarnya lima-lima itu sendiri. Itu yang selalu saya sarankan. Amannya. Karena latihan nafas itu kan gini, Mas, kalau kita merubah diet, kalau saya kasih, kamu harus diet ini, gitu. Toh salah itu enggak banyak apa ya, Ya dia kan berpengaruh, tapi nggak signifikan seperti kalau salah nafas. Ketika nafas itu salah, tekanan darah bisa naik, bisa turun, bisa kelingan, bisa macam-macam seperti itu. Jadi kalau tanpa pengawasan, terus saya ngomongnya di keadaan umum seperti podcast ini, siapapun bisa mendengar, yang saya syarankan adalah yang paling aman tentunya, yaitu bernafas 55, walaupun di bukunya si Jim Nestor itu ada kan teknik namanya itu sebenarnya tubuh kita sudah kekurangan oksigen. Sama seperti yang kita melakukan Wim Hof. Dan kemudian ketika kita melakukan Wim Hof, kemudian kemudian kemudian kemudian kemudian itu dikeluarkan dan kemudian kita kembali narik, nah itu tubuhnya langsung nyerapnya luar biasa. Iya,
itu saya benar-benar waktu itu, saya udah beli oksigen juga waktu itu, masih yang pakai kaleng-kaleng itu, nggak ada yang kepake. Oke Mas Gobind, untuk pertanyaan ini yang terakhir adalah, Mau menanyakan informasi kelas, kalau misalnya ada teman-teman yang mendengarkan podcast ini, ingin belajar lebih jauh tentang Buteko, itu kemana, Mas?
Ya, kelas Buteko ini dilakukan setiap minggu, Mas. Hari minggu, pagi, seperti itu. Awalnya kita cuma rencana melakukan sekali aja, tapi ternyata permintaannya sampai sekarang setiap minggu dan selalu penuh, begitu. Nah, saya berpikir karena keefektifan, maksudnya orang bisa ngerasain langsung, maka kemudian terjadi word of mouth-nya kuat sekali dari mulut ke telinga itu. Nah, kita melakukan setiap minggu sampai sekarang ini sudah satu setahun setengah, kecuali hari raya dan sebagainya. Dan kalau mau daftar, bisa DM saya di Instagram saya di kopikvas. DM bisa, atau ngubungin Mbak Viva namanya, itu di 08 081 998 462463 saya ulangin 081 998 462463 Silahkan DM saja, minta informasi tentang Buteko, nanti diarahkan, kira-kira mungkin ditanyakan keluahnya apa, apa yang bisa dilakukan, apakah cocok atau tidak. Setelah itu baru kemudian mendaftar. Waktu mendaftar itu akan dibimbang juga oleh aplikasi yang sebelumnya mengisi form kesehatan juga. dan ada grupnya, dan kemudian ada pemantapan, dan setiap bulan juga saya memberikan gathering, dan di gathering itu ada teknik-teknik tambahan selain teknik penafas seperti sistem immune boost, bagaimana kita meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita, membalancing energy, melepaskan stress dan trauma, itu semuanya gratis. Jadi satu kali daftar dan selamanya akan bisa ikut di gathering-gathering
butaiko. Itu untuk sekarang berarti semuanya
online via Zoom berarti? Iya, semuanya online via Zoom, tapi nanti kalau pandemi berakhir saya mengadakan kelas offline, maka yang sudah ikut online, kalau mungkin merasa nggak serak kalau nggak ikut offline, maka bisa ikut offline lagi sekali gratis. Dan saya juga punya satu kelas namanya Emotional Release, itu biasanya dilakukan di kota-kota besar. Dan bila itu dilakukan, kami mengundang teman-teman yang di kota tersebut, dan itu datang boleh gratis satu kali untuk ikut seminar Emotional Release, seperti itu. Oke,
oke Mas Gobind.
More from Gobind
Eps 984 - GIL4 OBROLAN INI RUBAH HIDUP GUE‼️ IKHLAS ITU SEBUAH KEBOHONGAN ! (Ft. Gobind Vashdev)
Friends of Merry Riana 13 TAHUN NYEKER, GOBIND VASHDEV UNGKAP RAHASIA YANG JARANG DIKETAHUI
Seni Bernafas - Mengenal apa itu Buteyko Breathing? Bersama @Gobindvashdev (Bagian 2)
Seni Bernafas - Mempraktikan teknik bernafas untuk hidup yang lebih berkualitas. Bersama @Gobindvashdev (Bagian 3)
