Friends of Merry Riana 13 TAHUN NYEKER, GOBIND VASHDEV UNGKAP RAHASIA YANG JARANG DIKETAHUI
28 Mar 2026 · 84 min
In this episode of the "Friends of Merry Riana" podcast, host Merry Riana interviews Gobind Vashdev, who shares a holistic framework for personal transformation rooted in breath awareness, inner emotional work, and compassionate communication. Gobind explains how the autonomic nervous system (sympathetic vs. parasympathetic) can be consciously shifted by slowing exhalation, turning breath into a lever that rewires up to 25,000 daily habits. He argues that problems, pain, and suffering are internal wounds that become portals for light when faced directly, emphasizing that true ikhlas (letting go) arises from embracing rather than escaping difficulty. The conversation then moves to practical communication skills, introducing Marshall Rosenberg’s Non‑Violent Communication (NVC) model: (1) separate observation from evaluation, (2) name authentic feelings, (3) articulate underlying needs, and (4) make clear, specific requests. Gobind illustrates each step with everyday examples, highlighting the importance of internal dialogue—millions of words we speak to ourselves—as the most influential form of communication. Throughout, he weaves in broader reflections on media‑driven negativity, emotional contagion, and his own minimalist lifestyle (barefoot living, limited soap use, grounding). The episode concludes with mutual gratitude and a call for listeners to adopt these practices to foster resilience, compassion, and a more harmonious world.
Chapters
Saat ini dunia tidak baik-baik saja. Di Nepal ada demonstrasi, penembakan.
Kerusuhan di Indonesia itu berimpek pada kerusuhan yang ada di... Saya juga gak pake sabun, gak pake sampo, gak pake pasta selama 18 tahun. Gak pake alas kaki 13 tahun. Kadang saya di luar negeri gitu ada, kemudian ketemu migran Indonesia gitu. Dia ngomong bahasa Jawa, ngikulo, gak ngayek. Sepatu, bom meledak. Dan pada saat itu... Kalau bom itu melejak beberapa menit setelahnya, saya adalah salah satu korbannya. Ada sekitar 202 jenazah dan 5 ribu potongan tubuh.
Kommunikasi itu menjadi salah satu faktor penting, khususnya zaman sekarang, karena banyak perpecahan terjadi karena salah berkomunikasi.
Dan banyak juga orang berpikir bahwa komunikasi itu keluar. Cara yang terbaik untuk mengurangi berat badan, ada yang tau?
Ya nggak makan.
Yang paling gampang ya, olah nafas.
Olah nafas.
Kamu selingkuh. Aku merasa marah, aku merasa sedih, aku merasa kecewa, itu perasaan.
Jadi aku merasa dihianati.
Gak ada, gak ada.
Seneng banget hari ini bintang tamu saya, temen ngobrol saya adalah sosok yang sangat unik, untuk aku dia laki-laki tanpa title, karena kebijaksanaannya lebih dari title, Gobind Fazdev.
Terima kasih sudah menemani saya. Gimana kabar?
Baik, baik. Ya luar biasa ya, harusnya saya nanya duluan ya. Gimana kabarnya?
Bahagia.
Bahagia.
Ya seneng sekali. Selama ini tau nama Mary Riana dan hari ini baru ketemu. Well happy, merasa terhormat bisa hadir disini.
Terima kasih, terima kasih. Kamu sangat rendah hati. Sebenernya aku yang menantikan. Saya yang udah dari tadi juga semangat dan udah gak sabar pengen ketemu langsung dan pengen ngobrol. Karena saya pikir dunia memerlukan kebijaksanaan sekarang. Jadi saat ini adalah saat dimana dunia itu benar-benar butuh yang namanya bijaksana. Untuk bisa memilih dan memilah bagaimana kita menjalani hidup. Yang sesungguhnya. Dan hari ini tadi juga senang banget ya, Anda mengingatkan saya, karena tadi begitu datang langsung nunjukin bahwa ternyata pertemuan kita sudah dari beberapa tahun yang lalu.
Betul, secara gak langsung ya.
Secara gak langsung.
Iya, iya, iya. Jadi di buku saya, Happiness Inside, buku yang dicetak tahun 2010, itu Mary Riana pernah memberikan endorse di buku tersebut. Tapi itu cukup lama dan penerbit lah
yang meng-contact pada saat itu.
Jadi saya berpikir, mungkin suatu hari pasti ketemu ini. Dan benar-benar hari ini ketemu, senang sekali.
Dan akhirnya dunia mempertemukan kita hari ini. Tidak ada yang kebetulan, saya selalu percaya setiap pertemuan punya makna, Betul sekali. Termasuk juga pertemuan hari ini tepat di saat ini.
Yes.
Oke. So, tadi saya bilang, saat ini dunia tidak baik-baik saja. Kalau kita ngeliat yang ada di televisi, di mana-mana gitu. Bukan cuma di Indonesia, di Nepal, di Perancis, di US, ya kan? Either itu ada demonstrasi, either itu ada penembakan, either ada kemarahan. Dan ketika tadi saya bilang, The world need more wisdom. Banyak orang pintar, banyak orang yang cerdas, tapi mungkin tidak banyak orang yang bijaksana. So, I want to know and hear your view. Bagaimana pandangan Pak Gobind tentang keadaan sekarang?
Jadi begini, kalau kita mau melihat dalam sejarah, dalam data yang ada bahwa kita hidup di dunia yang paling beradab dan paling aman sepanjang sejarah kehidupan. Itu yang ada. Tapi kemudian, Kenapa kok kita merasa bahwa begitu banyak kekacauan di bumi ini? Karena apa yang masuk dalam diri kita itu gak seimbang. Maksud saya begini, selama ratusan ribu tahun manusia itu hidup dalam vlog-vlog yang kecil-kecil gitu. Kalau dia di seratus, seratus lima puluh orang di sebuah desa gitu, mereka udah ngumpul seratus lima puluh orang, mereka berpisah gitu. Nah, terjadilah desa baru, tempat baru, tempat baru gitu ya. Nah, kalau ada pembunuhan di desa yang lain, maka di desa ini gak akan tahu. Tapi hari ini kita hidup di 8 miliar orang lebih yang dimana informasi itu terjadi luar biasa banyaknya. Sehingga apapun yang terjadi di Amerika, di Eropa, di dimanapun itu terjadi dengan sangat dengan ya ya terjadi tapi tapi... Kita mengetahuinya begitu. Nah masalahnya adalah berita buruk selalu menyebar cepat sekali, sementara berita baik tidak. Kenapa kita berpikir bahwa dunia ini sekarang semakin tidak baik? Karena berita buruknya terlalu banyak, sementara berita baiknya enggak. Contoh, di atas kepala kita itu ada 1,4 juta pesawat terbang lalu lalang setiap tahun.
Iya.
Gak ada yang beritain, tapi begitu Air India itu meledak satu, itu beritanya 3 bulan non stop. Sehingga membuat orang ketakutan dalam naik-naik pesawat. Padahal naik pesawat dengan menyebrang jalan, itu jauh lebih aman naik pesawat. Itu datanya seperti itu. Nah, memang ada perang di sana-sini, memang ada kekacauan. Tapi kalau dilihat dari 8 miliar orang yang ada, kita hidup sebenarnya sangat-sangat ratur dan beradab sepanjang sejarah kehidupan. Nah, itu yang menarik. Nah, yang menarik lagi adalah sebenarnya bahwa ada fenomena penularan. Sebenernya saya menulis ini di buku Happiness Insight, itu tentang bunuh diri menular. 2010 itu saya udah menulis hal tersebut, dan banyak orang nggak percaya hal tersebut. Maksud saya begini, bahwa ketika Marilyn Monroe itu meninggal, angka bunuh diri di Amerika itu naik 12% dalam bulan itu saja. Nah, apa yang terjadi? Kenapa kok tiba-tiba begitu banyak orang bunuh diri? Sama, persis seperti sekarang, kerusuhan di Indonesia itu juga akan berimpak pada kerusuhan yang ada di Luar negeri contohnya Nepal dan sebagainya, menginspirasi. Jadi hati-hati saya selalu mengatakan kita adalah apa yang kita makan. Dan apa yang kita makan itu bukan hanya lewat mulut, karena mulut cuma 3 kali sehari. Tapi yang jauh lebih banyak adalah lewat mata dan telinga. Sehingga... Ketika kita membaca berita dan sebagainya, itu mau gak mau itu masuk ke dalam diri kita dan menginspirasi kita untuk melakukan hal yang sama. Mary, kalo kita makan ya, makanan itu kalo belum masuk mulut, itu belum jadi kalori.
Iya.
Memang ada sih orang ngeliat menu jadi lemak itu ada, emang ada. Tapi, adakannya begitu. Tapi ketika berita kita baca, itu masuk ke dalam diri kita. Jadi hati-hati dengan apa yang kita lihat, dengan apa yang kita dengar. Kalau kita makan makanan yang gak bagus, maka tubuh kita akan juga gak baik kan dalam kesehatan kita. Sama, kalau kita konsumsi berita-berita tersebut, maka itu akan juga berpengaruh pada kesehatan fisik maupun mental kita. Maka penting banget untuk kita... memfilter hal tersebut. Kalo belum siap, kalo belum aware, kalo bisa sih kurangin dulu, mantapkan jiwa anda dulu, baru kemudian melakukan sesuatu. Menurut saya sih seperti itu sih. Jadi kalo dibilang dunia ga baik-baik aja, yes. Bener bahwa ada kerusuhan sana-sana, tapi kalo kita mau melihat secara keseluruhan 8,5 miliar orang mungkin yang ada sekarang, sebenernya sebagian besar dalam kondisi yang lebih baik.
Iya, itu sangat setuju sih. Sesungguhnya kayak tadi Pak Gobind memberikan contoh bahwa bunuh diri tuh menular.
Iya.
Ketakutan itu menular. Tapi pada saat yang sama, kebaikan atau hal positif juga menular. Karena exactly poin yang sama, kayak tadi ketika Marilyn Monroe bunuh diri. Akhirnya di tahun itu makin lebih banyak lagi yang bunuh diri. Exactly the same pattern juga terjadi ketika seseorang berhasil membreak record lari kurang dari 4 menit. Ternyata setelah itu semuanya pun hampir banyak orang pun akhirnya bisa. Padahal teknologinya tidak berubah, peralatannya tidak berubah.
Jadi begitu ada kebaikan di satu tempat dan kemudian difiralkan itu akan menginspirasi juga orang melakukan hal-hal yang baik juga. So, bagian kita, sekarang kita ditanya oleh dunia, Anda mau masuk ke wilayah yang mana? Mau masuk ke wilayah yang membuat dunia ini menjadi buruk? Atau kita melakukan sesuatu, hal-hal kecil, tapi dengan konsistensi yang baik, sehingga kehidupan ini menjadi lebih baik. Pilihannya ada di kita, menurut saya. Dan Mary Riana dengan edukasinya, melakukan edukasi selama ini, memotivasi orang dan sebagainya. Ini adalah bagian-bagian yang membuat kehidupan kita menjadi lebih baik.
Karena saya juga ingin belajar dan hari ini kita pengen berbicara lebih banyak tentang, bukan hanya tentang kebaikan tapi bagaimana kita bisa mengelola. Karena baik dan buruk itu bagian dari dunia, bukan berarti kita juga meng-ignore, kita menutup mata dan tidak. Tidak meng-identify atau men-deny bahwa keburukan itu ada. Atau mungkin ruang for improvement itu ada. Ya tapi bagaimana membalance antara keduanya ya. Benar. Kayak tadi Pak Gopi bilang, kalau kita belum siap ya mungkin kita harus membatasi dulu apa yang kita cerna. Karena kalau enggak, bukan yang maksudnya untuk memperbaiki. Tapi kalau kita tidak tahan, justru itu yang malah membuat apa? Kekacauan di dalam diri kita, betul. Tapi kita mau lihat dulu nih, karena kan latar belakangnya Pak Gobind, kamu sangat berdasarkan. Aku masih lagi berproses antara memanggil nama Gobind atau dengan istilah Pak. Tapi manusia memang seperti itu ya. Karena kan kamu lebih nyaman disebut dengan nama aja. Tapi sebagai tatak rama, kayaknya agak sungkan untuk memanggil nama. Tapi kan ini sebenarnya sebuah dilema di dalam kehidupan setiap manusia. Bagaimana kita mau sesuai dengan yang di masyarakat. Atau yang memang nyaman.
Betul sekali. Padahal pada dasarnya kenapa kita melakukan itu karena kita butuh penerimaan, pengakuan, dan yang lainnya. Kenapa kita pergi ke kawinan gitu atau kondangan pake batik, pake kebayang, karena kita butuh penerimaan sosial dan sebagainya. Tapi kan... Pada saat ini menurut saya sih, kita sedang berdua saja dan mana yang paling nyaman untuk orang tersebut itu yang menurut saya lebih baik. Tapi ya karena kebiasaan ya mungkin.
Benar-benar karena kebiasaan.
Mana aja yang nyaman, kalaupun ganti antara Gobind dan Pak juga gak ada masalah loh.
Jangan terjebak dengan title dan sapaan, setuju. Dan itu inside dari hidup juga ya. Kadang-kadang kita terlalu banyak mikir padahal sesungguhnya, don't sweat over the small stuff.
Orang Jawa bilang kafir, kakean pikiran. Kebanyakan pikiran. Semua dipikirin aja gitu. Gak action tapi semua dipikirin.
Tapi menarik dari kehidupan Pak Gobind kan, Pak Gobind terkenal sebagai seseorang yang hidup tanpa alas kaki selama 13 tahun. Bahkan kesini pun tadi juga tanpa alas kaki.
Saya juga gak pake sabun, gak pake sampo, gak pake pasta selama 18 tahun. Lebih lama daripada hal tersebut. Kemudian gak pake alas kaki 13 tahun. Awalnya sebenarnya karena ingin membantu atau mensupport suatu gerakan orang-orang asing di Bali. Mereka itu berkeliling tanpa alas kaki untuk mengumpulkan dana untuk anak-anak terlantar. Jadi sebagai solidaritasnya anak-anak terlantar mereka melepaskan sandal dan sepatu dan kemudian berkeliling. Nama kelompok itu namanya soulmen. So, saya tidak berada di kelompok tersebut, tapi saya terinspirasi ingin mendukung kelompok tersebut gitu. Sehingga saya perlu 1 tahun untuk berpikir dan akhirnya saya melepaskan sandal dan sepatu untuk mendorong. Jadi setiap kali podcast, setiap kali di acara-acara saya, seminar, workshop itu saya selalu membawa slide tersebut untuk menginspirasi bahwa seseorang atau siapapun Lakukan sesuatu, gak harus nyeker seperti saya. Tapi lakukan sesuatu karena menurut saya begitu banyak orang yang beruntung tapi kemudian tidak melakukan sesuatu. Saya ingin menginspirasi bahwa kita harus merasa beruntung dan kemudian melakukan sesuatu pada mereka-mereka yang mungkin memerlukan saat ini, begitu. So, itu awal alasan pertama kenapa saya tidak mulai alas kaki. Tapi yang kedua adalah ada penelitian bahwa dikatakan hari ini kita punya masalah kesehatan fisik maupun mental karena kita tidak terhubung dengan ibu kita, ibu bumi. Kita mendapatkan ion positif dari matahari banyak banget, tapi kita nggak dapatkan elektron negatif dari bumi. Ketidakseimbangan magnetik di dalam tubuh kita menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Ada yang mengatakan bahwa struk itu terjadi di lantai 2 lebih banyak daripada lantai 1. Apalagi lantai 42 seperti ini.
Karena makin jauh dari bumi gitu ya.
Tapi bukan berarti kalau kita hidup di lantai 42 dan kemudian kita harus nyeker seperti saya, secara fisik, ubin dan karpet itu tidak mengeluarkan elektronegatif. Yang perlu kita lakukan adalah paling tidak dalam satu hari 30 menit saja, 30 menit saja terhubung dengan batu, pasir, tanah, rumput. Keempat media ini mengeluarkan elektronegatif. Jadi pagi hari atau siang atau kapanpun lah. Keluar dan letakkan kaki kita atau satu bagian tubuh kita ke batu, pasir, tanah, rumput untuk mendapatkan elektronegatif. Apalagi hari ini Mary, bawa wifi dimana-mana, handphone nggak pernah lepas dari tubuh kita. Kita kan mendapatkan radiasi itu semua. Jadi kita perlu grounding. Ada sekitar 20 jurnal yang mendukung penelitian hal ini bahwa Bahwa grounding ini bisa membuat mood kita menjadi lebih baik, inflamasi kita berkurang, kemudian tidur kita menjadi lebih nyenyak, dan apa itu, heart rate kita menjadi stabil, tekanan darah, bahkan gula darah kita menjadi lebih stabil kalau kita berjalan tanpa alas kaki setelah makan, contohnya. Jadi hal-hal kecil sebenarnya, tapi bisa membuat perubahan dalam hidup kita. Di mana keadaan itu hidup kita yang penuh dengan stres seperti hidup di Jakarta ini.
Ya, menurut saya sih itu. Dan 30 menit setiap hari aja itu sudah cukup ya?
Cukup. Cukup.
Tapi batu itu benar-benar harus batu yang ada di tanah atau sesungguhnya kayak batu pualam yang udah jadi marmer yang sekarang ada di rumah-rumah itu termasuk?
Enggak-enggak, batu yang kalau-kalau bisa sih batu yang di bawah gitu. Kalau berenang atau dimana seperti itu, itu alasan kedua kenapa saya tidak mau alas kaki. Alasan ketiga ya kita sudah tau lah, kalau 18 tahun gak beli sabun sampung, 13 tahun gak beli sepatu, sebenarnya duitnya lumayan juga dikumpul. Tapi saya setiap tahun itu menghitung uang-uang tersebut dan uang tersebut saya kumpulkan dan saya bagikan untuk mereka-mereka yang lebih membutuhkan. Tapi Desember lalu saya membeli sepatu. Sebenarnya tujuannya adalah untuk menghancurkan ego saya. Branding saya yang saya buat. Sebenernya bukan branding, gak kepikiran branding pada saat itu. Saya melakukan ini emang untuk gerakan itu, tapi setelah 12,5 tahun saya terikat dengan identitas itu. Dan saya pengen menghancurkan identitas itu. Dulu saya rambut saya gondrong, saya hancurkan. Semua baju saya putih, saya hancurkan. Jadi emang secara berkala saya ketika saya melekat pada satu identitas, saya kepengen menghancurkan identitas itu.
Iya. Kenapa? Kenapa seseorang tidak boleh melekat kepada suatu identitas? Bukankah identitas itu menjadi bagian dari kehidupan seseorang? Our value, our identity.
Iya. Iya. Iya. Betul sekali. Kalau kita ngomongin soal marketing, kalau kita ngomong soal branding dan sebagainya, itu akan sangat-sangat top of mind kan begitu. Motivasi wanita siapa? Gak ada lain. Mary Riana. Itu nomor satu. Top of mind gitu ya. Nah. Tapi saya tau bahwa kita ngomong bagian lainnya, bahwa identitas yang kita melekat, apapun yang kita melekat itu akan membawa dukah, membawa kesengsaraan bila itu tidak bersama kita. Karena kita tau bahwa di dunia ini kan gak ada yang abadi. Suatu hari kita akan lepas semua itu semua gitu. Jadi saya berpikir bahwa kita perlu untuk belajar untuk melepas dalam kehidupan ini agar supaya tidak sakit nantinya. Nah itu hal-hal tersebut yang saya pelajarin di meditasi atau di pelajaran-pelajaran yang lainnya. Jadi kalau kita melekat pada identitas tersebut, ya kita suatu hari akan meninggalkan itu dan kita sakit kalau itu. Jadi kita mulai menyadari bahwa itu semua adalah ego-ego yang ada dalam diri saya gitu. Contoh bahwa kita melekat pada tubuh ini, yang tubuh yang bagus suatu hari pasti akan tua dan membungkuk gitu. Kemudian kita melekat pada profesi kita yang suatu hari ya nggak akan ada gitu. Dan hal-hal yang lain bahkan identitas-identitas yang selama ini kita anggap suatu hal yang benar pada dasarnya suatu hari kita akan melepaskan. So belajar melepas menurut saya adalah sesuatu dalam menurut saya gini di hidup kita. Kita kan diajarin bagaimana mencapai, menggapai, meraih apa yang kita inginkan. Gak salah. Dan kita menurut saya, semua kita ini udah S3 dalam ilmu ini. Sudah S3 lah.
Gimana caranya mengumpulkan, mencapai, menggapai.
Dan kita tau bagaimana itu. Nah kemudian, tapi kita tau bahwa hidup ini bukan hanya sukses aja, kita pengen bahagia. Dan bahagia itu kan melepas ikhlas, pasrah, berserah. Tapi setiap kali saya bercerita tentang pasrah berserah, semua orang bilang, itu pak yang susah. Itu pak melepas itu bagaimana pak? Nah, saya mau tanya. Ini contoh saya ambil tisu. Jangan ambil tisu deh.
Ini lah benda ini.
Saya mau tanya. Ini benda ya? Kemudian saya ambil. Saya lepas. Oke. Coba dilihat. Mana yang lebih gampang? Nambil atau melepas?
Melepas.
Melepas lebih gampang. Tapi kenapa kok melepas itu susah, berserah itu susah, ikhlas itu susah, ya karena kita gak pernah belajar. Dari kecil kita diajarin bagaimana mencapai menggapai meraih, nah kamu harus juara satu, nah kamu harus ranking, nah kamu harus masuk 10 besar, Mereka tau cara-caranya. Kalau misalnya Miss Mary bicara sama Tim, tahun depan omset harus naik 10%. Mereka tau caranya. Oke kita pake endorse, pake ini, pake apa. Ada tau step-stepnya. Tapi ketika Bitcoin kita turun, ketika duit kita hilang, ketika uang kita dimakan teman, kita curhat. Dan teman kita bilang apa? Ya sudah ikhlasin aja. Namanya rejeki iman nggak kemana. Ya kan? Selalu kan, selalu seperti itu kan. Bahwa, oke saya tau kita harus melepas, kita harus berserah, emang keadaan seperti ini, saham turun dan sebagainya seperti itu. Tapi pertanyaannya, perasaan yang kacau ini diapain? Ya kan? Kita pulang sekolah nih, mah nilai K4 aku udah pelajar mati-matian, tapi nilai K4 gimana ini? Ya orang tua kita bilang, yaudah lain kali belajar lagi. Ya sudah set, kita tau lah belajar lagi itu nanti. Tapi perasaan yang kacau ini kita perlu melepas, ikhlasin aja. Itu bagaimana caranya? Bertahun-tahun saya bertanya, bagaimana caranya ikhlas, berserah. Setiap pejabat orang tua, guru, pendeta selalu berbicara soal ikhlas, berserah dan sebagainya. Saya tahu itu kata-kata indah spiritual yang luar biasa. Tapi pertanyaannya bagaimana, langkahnya ikhlas itu bagaimana? Nah disitulah kemudian saya bertanya, harusnya-harusnya ada dong. Kita gak bisa sabar dengan baca kitab suci kemudian jadi sabar, gak bisa. Dengar ceramah motivasi kemudian jadi ikhlas, gak bisa. So harus ada step-stepnya, kita harus berpraktek keikhlasan baru bisa ikhlas. Nah disitulah kemudian saya berpikir harusnya menciptakan sesuatu yang secara real yang kita perlu lakukan untuk menjadi ikhlas.
Jadi gimana kalau ngomongin secara scientific berarti kan step-by-stepnya, apakah sebenarnya ikhlas itu bisa ada step-by-stepnya menjadi sebuah proses mekanical?
Yes, betul.
Gimana caranya?
Bisa banget, bisa banget. Jadi contoh apa yang saya lakukan adalah, yang pertama adalah ketika saya buat buku, saya bilang sama penderbit bahwa buku ini boleh cetak, kamu boleh mencetak, tapi harus copy left.
Copy left?
Iya. Bukan copyright. Copy left. Copy left.
Bedanya apa copyright sama copy left.
Jadi kebalikannya kalau copyright itu gak boleh orang ngopi, kalau ini boleh ngopi. Jadi orang itu boleh ngopi, boleh apa itu namanya menggandakan, mengambil sebagian seluruhnya, diganti nama saya dengan nama orang lain, diedarkan lagi, saya akan mendukung orang tersebut untuk menggandakan lagi.
Boleh?
Boleh.
Oke.
Itu namanya copy left.
Oke. Dan penerbit oke?
Boleh.
Oke. Kadang-kadang kan kitanya oke tapi penerbit atau orang-orang mungkin, wah ini ga masuk akal.
Tapi coba perhatikan, masuk akal ga sih? Masuk akal, kongruen ga? Contoh gini, happiness inside, membuat anda bahagia, ikhlas dan sebagainya. Kemudian anda buka lah halaman pertama, dilarang keras mengkopi, blablabla, barang mengkopi akan mendapatkan hukuman. Ini ga masuk akal, si satu sisi buku itu mengajarkan ikhlas berserah, di sisi lain kalau kamu kopi kamu akan dapatkan hukuman. Masuk akal gak sih ini? Gak masuk akal menurut saya. Nah disitulah kemudian saya bilang, boleh gak? Oke copy lah. Kemudian yang kedua saya punya wisdom shop. So wisdom shop adalah sebuah toko online. Yang dimana, sebenarnya saya buat gara-gara orang itu bertanya, Gobind, kamu tuh sabun gantinya apa? Air. Sampo apa? Air. Saya kepengen ikut dong, saya kepengen belajar dong. Emang ujuk-ujuk begitu? Enggak. Dulu saya pake produk ini, produk ini, produk ini, kemudian sekarang pake air. Oke-oke, saya mau beli produk itu. Mau pelan-pelan lah ngikutin kamu gitu. Di mana? Di Ubud. Kalau ini di Ubud. Nah dulu kan gak ada marketplace, ya kan? Beberapa belas tahun lalu. Mereka mulai pesen. Nah saya pikir kalau jualan ya oke lah, dapat untung 20-30%, not bad. Tapi bukan itu fokus saya. Nah disitulah kemudian saya berpikir, apa yang saya bisa lakukan untuk mengolah si toko online ini menjadi sesuatu yang membuat saya ikhlas. Disitulah saya buat Wisdom Shop. So fokusnya pada wisdom. Jadi gimana caranya? Begini, jadi kalau Mary juga boleh ngecek sekarang WhatsApp gitu, dan kemudian setelah pesan barang itu, barang dikirim dulu. Baru kemudian dikasih nomor si, baru dikasih nomor kening. Jadi sebenarnya orang bayar atau engga kita juga ga pernah tau.
Oh barangnya dikirim dulu?
Yes. Terus mau bayar atau engga dipercayainya? Wisdom kami adalah setiap orang pada dasarnya baik. Kalo orang itu ga baik, kami ga melabelin ga baik. Kebaikannya sedang terhalang. Mungkin lagi kepepet, mungkin lagi ada keperluan sesuatu dan sebagainya. Kami juga menggaransi 100% money back guarantee. Jadi contoh orang beli nih ya buku saya, kemudian dibaca. Klaim aja, ada tulisannya kok, boleh klaim. Dan uang dikembalikan 100%, buku nggak usah dikembalikan, boleh dikasih ke orang lain. Semua barangnya seperti itu. Kamu juga membukus dengan kertas-kertas yang daur ulang dan sebagainya seperti itu. So wisdomnya ditambahkan di sana. So ini adalah cara bagaimana kita ikhlas. Ini lah langkah-langkah kita lakukan sesuatu tindakan untuk bagaimana kita melebarkan hati kita. Bukan cuma ya dengerin ceramah, dengerin motivasi dan sebagainya, baca kitab suci, rasa-rasanya gak bisa. Indonesia itu sering kali baca, jangan buang sampah sembarangan jutaan kali. Tapi kenapa kok begitu banyak orang buang sampah? Coba liat di Jepang. Itu bagaimana anak, gak ada tulisan tong sampah juga jarang disana. Tapi kenapa bersih? Karena dari kecil dipraktekkan untuk seperti itu. Menurut saya kita perlu untuk mengubah Indonesia ini bukan dari kata-kata yang indah, spiritual, ceramah-ceramah itu, tapi sesuatu tindakan yang real, yang nyata yang kita bisa lakukan dalam setiap harinya. Menurut itu, menurut saya itulah caranya.
Kita adalah apa yang kita lakukan setiap hari, dan latihan untuk mengolah tadi. Kalau misalnya ternyata ada yang gak bayar, Ya ga boleh kecewa, ya itu bagian dari proses dikelaskan aja.
Itu bagaimana saya berharap, saya berhadapan dengan perasaan tersebut. Ketika saya baca di marketplace, buku saya itu dijual soft copy nya seribu rupiah. Lah bagaimana saya harus berhadapan dengan hal tersebut? Saya tuh pengen DM mereka, kesel. Keselnya bukan karena dijual seribu, karena itu copy left. Tapi kenapa lu jual seribu? Kalau kamu jual 10 ribu, kan dia lebih kaya 10 kali lipat daripada itu. Dan lagian kalau orang beli buku seribu rupiah, mana mau dibaca? Nggak dibaca, nggak dihargain kan. Jadi saya itu mendorong orang untuk melakukan sesuatu, ya ayo lakukan sesuatu. Tapi kamu juga harus belajar bukan hanya mencapai, menggapai, meraih. Nggak ada salahnya untuk sukses dalam kehidupan kita. Tapi kita perlu untuk sisi lainnya, untuk bahagia. Dan bahagia ini perlu keseimbangan. Dan kita tahu bahwa yin dan yang itu bukan dipotong garis lurus. Disitu mereka saling berperlukan. Di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam. Jadi kita perlu untuk keseimbangan keduanya tersebut. Antara sukses dan bahagia tersebut.
Dan saya menotis salah satu cara untuk bisa ikhlas adalah dengan memperbaiki narasi kita terhadap apa yang terjadi. Karena kayak tadi Pak Gobind bilang, oh bukan berarti mereka... ga tau terima kasih atau ga bisa bayar, atau mungkin bukan orang baik, tapi mungkin kebaikannya sedang terhalang.
Betul sekali.
Jadi cara kita menarasikan setiap momen, setiap hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita, ya narasi itu yang akan menentukan kita bahagia atau kita menderita.
Yes betul sekali dari narasi tersebut muncullah emosi. Dari emosi tersebut lah kemudian kita bahagia atau tidak dari situ. Jadi sebelum emosi itu muncul ada narasi di dalam kepala kita dan sebelum narasi ini ada program. Nah program inilah yang sebenarnya kita perlu ganti untuk narasinya juga berubah. Dalam hidup ini kan semuanya netral ga ada baik ga ada buruk. Maksud saya ya tergantung kita. fine meaning atau meletakkan makna tersebut. Jadi setiap kali ada peristiwa, saya tuh ditanya oleh dunia, Gobind kamu mau kasih peristiwa ini narasinya apa? Atau kasih makna apa pada kejadian tersebut? Dari proses tersebut muncullah emosi tersebut. Ya kan? So, bagi saya itulah yang membuat kita jadi sakit hati atau tidak. Jadi kita itu sebenarnya, seperti saya selalu bilang bahwa sakit hati itu hoax terbesar sepanjang sejarah. Mana ada orang bisa sakit hati, itu impossible gitu. Tapi kan karena kita mendapatkan data dari apa itu namanya, dari lagu, drakor, Hollywood, Bollywood, itu begitu banyak. Sehingga ketika ada seseorang yang mengatakan saya anjing, kemudian saya sakit hati. Itu menurut saya nggak masuk akal sih. Jadi kalau saya berapa kali mendapatkan hal tersebut, ketika saya jalan, dibilang homeless lah, dibilang apa, dirasa, ih kok nggak pake sepatu sih gitu, dan sebagainya seperti itu. Nah ketika itu terjadi, itu kan keadaan kan netral. Kita sendiri ditanyain, Gobind ini ada peristiwa seperti ini. Kamu mau kasih tau, mau kasih makna apa? Sebenernya kita lah yang ditanya oleh dunia. Gobind kamu mau kasih makna apa kejadian ini? Dan kita punya kuasa untuk memberikan makna tersebut. Tapi biasanya kita terkondisi oleh film-film, lagu dan sebagainya. Ingat kita adalah apa yang kita makan. Jadi apa yang kita makan lewat lagu, berita dan sebagainya itu menjadikan sebuah narasi di dalam kepala kita. Dan kemudian kita membenci kelompok tertentu, agama tertentu dan sebagainya. Walaupun kita gak kenal orang tersebut, tapi kebencian itu sudah ada dalam diri kita. Bahkan turun menurun tanpa kita sadari. Dan itu akan menggerogotin diri kita. Jadi menurut saya kita perlu untuk mengubah program-program tersebut menjadi sesuatu yang lebih baik sehingga kita menjadi lebih bahagia.
Jadi kalau gak peduli orang ngomongin apa, melabel kita seperti apa, asalkan kita tidak menerima itu, ya itu tidak akan menjadi bagian dari kita.
Hati-hati. Kata-kata ini kelihatannya bagus tapi hati-hati. Kata-kata tidak peduli. Ini adalah kesadaran paling rendah. Jadi begini, ada 3, 3, 3 langkah menurut saya ya. Mungkin masih banyak tapi saya menjelaskan dengan 3 langkah. Yang pertama yang paling rendah adalah ignorance atau tidak berdiri. Jadi ketika ada, saya jalan kaki dan kemudian ada orang melihat terus kemudian dia ngomong, Di situ orang gak pake sandal, jorok banget apa sebagainya. Terkadang saya di luar negeri gitu ada, kemudian ketemu migran Indonesia gitu, dia ngomong bahasa Jawa, ngikul loh, gak sepatu, gini-gini. Nah saya bisa bahasa Jawa, saya kemudian, saya kan denger, saya tahu apa yang dikatakan gitu. Dan apa yang terjadi? Nah, kebanyakan orang akan melakukan 2 sikap ini. Yang pertama adalah, emang gue pikirin? Lu mau ngomong apa? Ga ada urusannya lah. Nah itu-itu yang paling sering. Dan itu adalah menurut saya kesadaran yang paling rendah. Ignorance. Kemudian yang kedua adalah fight. Fight itu, lu tau gak sih gue tuh gak pake sandal itu gara-gara gue mau pingin ngumpulin dana blablabla, apa lu gitu. Nah itu menantang fight.
Menjelaskan lah.
Iya menjelaskan, fighting. Yang satunya flighting, jadi dia merasa bahwa emang gue pikirin lu ngomong apa terserah emang gak ada urusan lu gak ngasilin duit juga sama itu. Dan bisa gitu seperti itu, itu yang benar. Kemudian yang kedua fight. Yang ketiga, menyadari. Mengerti bahwa orang tersebut di dalam kepalanya mungkin sudah terprogram manusia itu harus pake sepatu, kalo ga pake sepatu jorok. Dan dia mengutarakan apa isi kepalanya. Saya mengerti, saya bukan cuek, saya juga tidak ingin menjelaskan pada anda rasa ini begini, engga. Gak apa-apa, tidak ada masalah. Saya mengerti. That's statement yang kita perlu lakukan di dalam kehidupan kita untuk meningkatkan kesadaran kita. Bukan cuek. Kebanyakan, kita kan sering kan denger orang, emang gue pikirin dia ngomong apa, terserah lah. Nah itu hati-hati, gak perdulian itu bahaya sebenernya.
Oke. Jadi kita setuju untuk tidak setuju. Ya gue setuju bahwa saya menyadari. Kita menghargai bahwa ya memang berbeda dan mungkin ya dia belum mengerti dan itu oke.
Itu oke, oke dan kata-kata seperti contoh ya kata yang paling populer dan keliatannya bagus, tapi sebenernya maknanya coba diperhatikan kata-kata toleransi. Toleransi itu keliatannya bagus kan? Toleransi beragama dan sebagainya. Tapi menurut saya toleransi itu sesuatu yang perlu untuk kita rubah. Maksudnya kenapa? Tolerir artinya bahwa anda salah, saya tolerir. Oke toleransinya berapa menit? 5 menit deh terlambat. Artinya apa? Harusnya gak boleh dong. Tapi saya tolerir 5 menit. Oke toleransi artinya dari bahasanya tuh To put up with, jadi menahan diri. Kamu salah, kemudian saya tahan diri. Itu kata asalnya begitu tuh. Nah, harusnya bagaimana? Apresiasi. Saya mengapresiasi agamamu. Apresiasi kepercayaanmu. Saya apresiasi. Jadi saya berharap sih suatu hari kalau saya ketemu dengan presiden, mungkin satu-satunya hal yang ingin saya sampaikan. Bisa gak sih diubah kata toleransi menjadi apresiasi?
Jadi bukan lagi toleransi beragama, tapi apresiasi beragama.
Semoga ini didengar ya.
Ntar kita sampaikan ke Pak Presiden. Tapi memang benar sih, satu kata itu bisa mengubah makna. Karena apa yang kita ucapkan itu tentu saja akan membentuk filter-filter tertentu, pikiran-pikiran tertentu, pikiran membentuk perasaan, perasaan akan mempengaruhi tindakan, tindakan mempengaruhi hasil. Jadi semua itu saling berhubungan. Nah mungkin sekarang yang pertanyaan yang paling penting adalah yang orang butuhkan yang mungkin wisdom untuk bisa membedakan. Karena kayak tadi ya, misalnya Pak Gobind bilang, kenapa orang susah untuk melepaskan? Menurut saya karena... mereka ingat bahwa untuk mendapatkannya itu susah banget, butuh perjuangan. Jadi kadang-kadang mungkin lebih sulit untuk melepaskan. Kenapa mungkin kadang-kadang orang susah untuk pasrah atau ikhlas, mungkin kadang-kadang mereka... Nggak tau gitu kapan. Mereka butuh lebih banyak kebijaksanaan untuk mengetahui dimana untuk berjuang, dimana untuk berhenti, kapan harus diperjuangkan, dan yang kapan ya harus let go gitu, batasannya dimana. Kan menurut saya manusia itu kita sangat kompleks ya. Kadang-kadang kita punya kebutuhan manusia, kita punya kebutuhan dasar. Tapi sesungguhnya kalau kita lihat dan teliti, kebutuhan dasarnya pun juga saling kontradik. Pertama, kita butuh ketentuan. Tapi kita juga butuh variety. Kita butuh cinta. Tapi kita juga ingin signifikan. Jadi itu kan sesungguhnya menjadi satu hal yang sangat kompleks. Dan kalau kita tidak punya kebijaksanaan atau wisdom untuk bisa memahami dengan utuh, Iya kita akan sulit untuk menentukan pilihan saat ini yang mana jalan yang harus saya pilih gitu.
Betul banget bahwa kehidupan kita itu penuh dengan paradoks. Semakin sering kita menggali kehidupan, kita akan menemukan paradoks-paradoks itu. yang terjadi. Pada dasarnya ya tukang sampah itu membersihkan sampah. Tapi pada dasarnya dia gak suka kalau semua sampah hilang dia pekerjaannya apa. Dokter tentu menghilangkan penyakit. Tapi karena penyakit itulah dia dihargain, dia dapat gelar kekayaan dan penghormatan dan segala semuanya itu karena ada yang penyakit. Sesuatu yang berkebalikan itu ternyata mereka berteman dan itu sebenernya kalau kita mau perhatikan di filosofi-filosofi China seperti Lao Tzu dan sebagainya, itu mereka cerita tentang hal tersebut bahwa yang yin dan yang itu bukan berhadapan, tapi mereka saling berpelukan, saling memerlukan satu dengan yang lainnya. Maka itu kebijaksanaan seperti Francis Assisi kalau gak salah itu, doanya yang sangat luar biasa, berikan saya kemampuan untuk membedakan antara mana yang harus saya berani dan saya harus melepaskan. Menurut saya itu sesuatu hal yang penting banget. Untuk itu, menurut saya, harusnya kita perlu berubah. Dan perlu berubah, ya rumusnya ABC, awareness before change. Jadi kita perlu aware. Nah bagaimana kita bisa aware? Ya tentu kita perlu makanan-makanan yang membuat awareness kita meningkat. Jadi buku-buku wajahan kita, podcast yang kita dengar, teman-teman kita yang kita lakukan. Nah itu kan... Kumpulan-kumpulan kita, bagaimana mindset kita terbentuk oleh lingkungan kita. Ya itu yang kita harus lakukan, yang perjuangkan sehingga kita mempunyai sesuatu mindset atau pemikiran atau kesadaran yang lebih baik sehingga kita memandang kehidupannya lebih baik, memaknai lebih baik dan emosinya lebih baik, tindakannya juga lebih baik. Menurut saya seperti itu.
Dan gak perlu takut untuk salah. Karena kadang-kadang mungkin di awal ketika kita sedang belajar gitu untuk menjadi lebih bijak, mungkin kita membuat pilihan-pilihan yang salah. Tapi ketika justru karena kesalahan itulah akhirnya kita jadi belajar, kita jadi tau. Jadi kadang menjadi bijak adalah berani untuk menjadi salah.
Berbuat salah. Betul, betul, betul. Nah ini menarik kalau kita ngomong pendidikan ya. Pendidikan salah satu pendidikan terbaik di dunia itu Finlandia. Nah di Finlandia itu ada sebuah apa ya, kepercayaan begitu. Kalau anak itu harus berbuat salah sebanyak mungkin. Dan mereka percaya bahwa kesalahan itu mirip seperti kotoran. Jadi ketika anak itu berbuat salah, kamu harus berbuat salah lebih banyak, lebih banyak. Dan kalau kotoran ini menumpuk, kotoran itu kan jadi pupuk untuk menumbukkan sebuah pohon itu menjadi lebih besar. Wow. Pada dasarnya itu. Dan saya nggak percaya ada kotoran. Sebenarnya Gandhi pernah mengatakan bahwa nggak ada di dunia ini sampah yang adalah benda yang salah tempat. Kalau plastik itu diletakkan di tempat yang tepat maka dia akan bisa menjadikan di daur ulang atau jadi listrik dan sebagainya. Kalau kotoran itu tempat yang tepat akan jadi pupuk. So pada dasarnya nggak ada sampah. Sama seperti kebanyakan orang berpikir sampah masyarakat ini dan sebagainya. Mereka hanya belum menemukan tempat yang tepat. yang saya juga belajar dari seseorang, ibunya Michael Phelps, seseorang yang perenang, yang mendapatkan medali emas terbanyak sepanjang sejarah kehidupan olimpiade, itu anak itu super hiper aktif, dan ibunya stress banget. Sampai akhirnya ibunya itu membawa dia ke kolam renang, dan kemudian dia Renang sampe jam 10 malem sampe tutup dia masih renang dan sejak saat itu dia akhirnya mengetahuin bahwa si anak ini sebenernya mirip seperti ikan. Nah ikan kalo di data di tempat yang kering itu dia gelap-gelap. Tugas kita adalah menemukan kolam untuk ikan tersebut. Begitu dia masuk kolam, dia akan jadi luar biasa. Menurut saya, setiap manusia punya potensi di dalam dirinya. Dia harus menemukan itu. Masalahnya, kebanyakan orang terhambat oleh trauma-trauma masa lalunya. Cerita-cerita yang ada di dalam kepalanya. Sehingga kita perlu untuk mengubah itu sih. Untuk menjadi berubah.
Oke, oke. Itu penuh dengan kebijaksanaan. Itu luar biasa. sederhana tapi itu mengingatkan kita bahwa wow itu benar-benar benar tidak ada yang namanya sampah yang ada hanyalah mungkin benda yang salah tempat termasuk juga kita sebagai manusia saat ini tadi saya membuka dan saya bilang mau gak mau karena kita melihat berita dan itu suatu fakta dan kita gak bisa meng-ignore itu terjadi tapi kita juga tidak bisa meng-ignore bahwa hal-hal tersebut membuat kita jadi stress, atau mungkin kadang ketakutan, atau mungkin kayak, oh, aku ingin melakukan sesuatu, jadi apa yang harus aku lakukan gitu. Jadi kayak kadang-kadang, gimana, apa yang harus dilakukan. Nah, mungkin cara yang paling simpel nih menurut Pak Gobind, gimana cara yang paling relevan untuk bisa mengelola rasa stres, ketakutan, kemarahan, perasaan-perasaan negatif itu yang mungkin, perasaan-perasaan tidak baik itu yang mungkin saat ini sedang kita rasakan karena kita dihadapi oleh dunia yang menunjukkan berita-berita yang tidak baik.
Yang pertama adalah kita mesti tahu bahwa kemarahan tidak pernah di luar, semua ada di dalam. Manusia itu tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Kita bermasalah dengan kemarahan kita, kebencian kita, kesakutan kita, keserakan kita, dan semua yang ada di dalam diri kita. Maka ketika kita punya masalah, tolong jangan cari jalan keluar. Karena masalahnya di dalam, cari jalan ke dalam. Iya kan? Itu sesuatu yang menurut saya penting banget bahwa kemarahan itu ada di dalam diri saya. Kemarahan saya itu akibat dari narasi yang saya bentuk dalam kepala saya. Apakah marah itu salah? Tidak. Semua emosi itu pada dasarnya bagus. Bahwa emosi adalah karunia. Kebanyakan orang berpikir bahwa emosi ada yang buruk, ada yang baik, ada sesuatu sebagainya. Tapi menurut saya emosi sesuatu karunia. Emosi menurut saya, ini begitu banyak orang yang berbicara soal emosi ya. Tapi emosi itu apa sih? Apa itu emosi? Itu... Kalo kita tanya, sebagian besar orang ga tau apa itu emosi, definisi emosi itu apa, contohnya. Atau yang lucu adalah kita belajar jutaan jam atau ribuan jam, fisika, kimia, matematika, integral, turunan, kotangan, sinus, dan sebagainya. Merry masih inget ga itu? Kotangan, sinus, ga mungkin inget kan? 99% orang akan lupa padahal ribuan jam kita pelajarin. Sementara emosi yang dari kecil, kita selalu ada dalam diri kita, Kita gak pernah belajar. Apakah kita mau beli produk A atau B itu kan karena emosi. Semua itu kan karena emosi yang menggerakkan. Kita kan boleh dibilang seperti itu. Dan kita mengambil keputusan-keputusan seringkali karena emosi-emosi kita. Jadi... Nggak banyak orang yang tahu itu apa. Nah, saya mau jelaskan secara sederhana di sini. Bahwa kalau kita ngomong definisi, definisi emosi itu adalah komunikasi dari bawah sadar ke sadar kita. Tapi, lagi-lagi, kebanyakan orang-orang pinter ini selalu menjelaskan dengan definisi. Kalau saya jelaskan komunikasi dari sadaran ke bawah sadar ke sadar, Ya, kita tau kata-kata itu tapi gak ngeh apa itu. Karena abstrak. Lagi-lagi kita itu masalah dengan abstrak. Coba, manusia itu kan belajar dari cerita, belajar dari analogi itu lebih gampang masuk. Kita naik mobil. Mobil kita ada dashboard. Nah di dashboard itu ada lampu-lampu yang nyala, ada lampu-lampu yang nggak nyala. Yang nggak nyala itu biasanya warna merah. Lampu handrame, lampu aki, lampu oli, dan sebagainya. Artinya kalau kita nyetir mobil nggak ada lampu merah, nggak ada lampu yang merah muncul berarti aman dong mobil kita. Tapi ketika kita merasa bahwa, Lampu radiator kok nyala ya? Waduh, berarti ada yang nggak beres nih. Kita mikir bahwa radiator ini bahaya kalau saya nggak berhenti. Saya harus berhenti, kalau saya ngerti mobil ya saya beresin, kalau nggak saya panggil montir. Betul. Oke pertanyaannya, nyalanya lampu itu baik apa nggak? Baik kalau buruk? Baik dong. Sinyal kan? Kita jadi tau apa yang terjadi di dalam mobil kita. Nah, sama bahwa kita nggak pernah tau apa yang di bawah sadar kita. Kita gak tau karena mulai dari kecil kita ditanemin begitu banyak hal. Oke. Nah cara komunikasi di mesin kepada saya adalah melalui lampu-lampu tersebut. Cara komunikasi bawa sadar saya ke saya adalah melalui emosi. Berarti ketika ada kemarahan di dalam diri saya, berarti ada di dalam gawasadar saya ada pemberontakan, ada sesuatu disitu.
Iya.
Oke. Jadi apa yang kita perlu lakukan adalah kita perlu untuk berhenti dan kemudian beresin.
Iya.
Oke.
Iya.
Kalo kita terus aja, yang sering kali kan gini, ada marah, gak boleh marah. Itu mirip seperti kita ambil palu, kita pukul sih itu. Gak usah nyala, kita tekan. Atau kita tutupin dengan buku, pokoknya gak keliatan. Udah diabaikan, dicuekin. Udahlah, namanya marah, namanya benci itu kan gak bagus. Udah, udah dilupakan saja. So, itu gak beresin. Jadi, bahwa sadar anda sedang berkomunikasi dengan kita ada yang satu yang gak beres. Tapi kita teken. Nah, inilah masalah kehidupan kita. So, apa yang kita perlu? Ya berhenti. Stop, pause dulu. Oke, pausnya paling gampang lewat nafas atau apa ambil waktu dan sebagainya. Dan kemudian merasakan, mencari dari mana kemarahan itu terjadi. So apa program-program itu? Socrates pernah mengatakan, hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas dijalani. So kita perlu untuk bertanya, bertanya semua apa, kenapa, apa yang terjadi. Kebencian ini berasal dari mana? So dari situlah kemudian kita tau bahwa, oh saya ter-program. Contohnya waktu saya, selama berbelas tahun saya tuh membenci polisi. Oke sekarang ini kan sering kali polisi menjadi sebuah bulan-bulanan seperti itu.
Apa yang men-trigger? Kenapa?
Jadi ceritanya saya berpikir bahwa waktu saya umur 17, saya punya SIM, saya mulai nyetir, saya ditangkap oleh polisi. Pada saat itu saya langsung marah dan bentak-bentak dan saya kemudian temen saya bilang, Gopin saya tuh tau kamu orang sabar, tapi kenapa kok begitu kelihatan polisi ini kok kamu tiba-tiba meledak gitu. Dan sejak saat itu saya ketemu polisi tuh marah, apalagi kalau ketangkep itu bisa debat dan sebagainya. Saya gak pernah berdebat pada siapapun tapi sama polisi saya bisa berjam-jam tuh saya layanin. Dan kemudian saya berpikir, otak rasional kita. memang polisi kurang ajar, memang dia mau duit aja, dia seperti ini. Pokoknya ada lah alasan-alasan rasional seperti itu. Biasanya berhenti disitu. Dan kita ketemu temen kita dan kita mendapatkan tambahan. Ya memang aku juga pernah kejadian seperti itu. Dan akhirnya semakin neuron di dalam kepala kita semakin meyakinkan bahwa memang mereka itu gak ada yang benar.
Iya, validasi ya.
Validasi seperti itu. Akhirnya kemudian saya duduk dan mencerna. Awal dari mana saya mendapatkan ini semua? Dan ternyata saya mendapatkan. Gobind waktu kecil itu diantar pulang pergi oleh seorang pengembudi. Yang dimana pengemudi ini tuh saya sangat kagumin. Karena nyetirnya saya apa dan sebagainya. Tapi pengemudi ini membenci polisi. Dan setiap hari, setiap kali di lampu merah dia liat polisi, dia pasti bilang polisi itu kurang ajar. Polisi itu mau duitnya. Terus Nagobin kecil yang mengagumin sosok itu, setiap hari mendengarkan itu. Terprogram lah. Ketika saya sudah tidak bersama dengan si pengemudi tersebut, ya saya gak ada trigger, ya saya baik-baik saja. Ketika saya umur 17, saya pegang mobil, dan ada polisi nyamperin saya, karena mungkin saya berbuat kesalahan, mau ditilang. si Gobin kecil yang terluka itu. Sebenernya gak pernah terluka, tapi mendapatkan informasi tentang kebencian terhadap sosok itu. Dan kemudian meledak. Dan akhirnya, dan disitulah kemudian saya tahu bahwa saya, kebencian saya ditanamkan dari waktu kecil. Dan itu, dan akhirnya membentuk emosi saya dan membentuk perilaku saya. So, mau gak kita punya waktu untuk kembali mencari akar ini semua? Iya. Oke. Saya bukan berarti bahwa membenarkan semua apa yang terjadi politisi, apa lakukan dan sebagainya.
Tidak, tidak, tidak.
Sama seperti kita boleh demo, kita boleh melakukan tindakan-tindakan yang membangun bangsa ini dengan cara macam-macam. Tapi hati kita perlu tahu, kita perlu untuk rasional. Kalau kita udah terbajak emosi, otomatis ya kita gak ada rasionalnya. Kita hanya marah aja. Tapi gak ada rasional. Boleh marah. Tapi, nah di India itu ada sebuah kata-kata begini. Yang bahaya itu bukan marah, tapi kalau kita gak sadar kalau kita sedang marah. Yang membuat depresi bukan sedih, tapi ketika seseorang itu gak sadar kalau dia lagi sedih. Jadi kesadaran, awareness ini yang paling penting sih. Dan saya belajar paling banyak itu di bukunya Anthony Demelo, awareness. Seorang pastor San Jesuit yang menurut saya banyak mempengaruhi cara berpikir saya. Itu buku yang wajib dibaca.
Wajib dibaca. Thank you. Thank you for sharing. And I totally agree. Karena kunci dari perubahan adalah kesadaran. Banyak orang aja gak sadar apa yang harus dirubah. Dia aja gak sadar akar permasalah seperti apa. Dan kunci dari kesadaran juga kejujuran. Karena ketika mungkin kita bukan mencari keluar, tapi mencari ke dalam. Dan akhirnya menemukan yang sesungguhnya. Mau jujur gak bahwa ya it's me, it's not them.
Itu gak gampang, ini perjalanan yang gak gampang.
Wow. Berapa, kapan ini triggernya, saya yakin seseorang itu pasti ada titik rubahnya. Apakah Gobin yang kecil itu selalu seperti ini atau ada titiknya dimana itu mengubah segalanya cara pandang, cara pikir, value.
Saya percaya bahwa di dunia ini bukan ada titik balik. Banyak orang turning point mengatakan begitu ya. Tapi saya percaya bahwa kehidupan ini perjalanan. Dan ketika perjalanan itu ada pintu-pintu yang terbuka. Pintu-pintu terbuka itu seperti kita main game level 1 ketemu rajanya. Masalah kan? Wow! Raja musuh, begitu selesai kita masuk ke level 2. Oke, berarti kita awarenessnya lebih tinggi.
Oke.
Nah musuh-musuh di game-game kita itu biasanya ya masalah dalam kehidupan kita. Dan biasanya duka. Dan saya percaya bahwa manusia itu dituntun oleh yang namanya duka. Tidak ada, kita itu selalu mengagungkan suka, sukses dan sebagainya. Tapi menurut saya gak ada satu orang hebat tercerahkan melalui jalan yang namanya suka. Masalah itulah yang membuat kita menjadi luar biasa. Contoh, kita lihat Gandhi dengan kekacauan yang luar biasa di India, menjadikan dia sosok yang luar biasa. Mother Teresa dengan kemelaratan dan kemiskinan yang luar biasa di Calcutta. Kita lihat Nelson Mandela, 27 tahun di penjara dari orang yang sangat kasar, bengis, dan kemudian jadi seorang yang pemaaf. Kita lihat Nabi Muhammad Jahiliya di Arab situ, Yesus yang disalib. Dan begitu banyak orang-orang hebat Buddha. Dengan melihat orang meninggal, orang sakit dan orang tua. Nah, bagi saya yang menuntun saya adalah duka itu sendiri. Kekacauan-kekacauan di dalam kehidupan saya waktu saya kecil. Bagaimana Gopin dengan adalah anak yang salah satu anak paling goblok di kelas. Anak yang paling tidak bisa konsentrasi, fokus kacau. Kemudian emosi yang berantakan gak karuan. Saya adalah monster bagi... Keluarga saya, semua orang bahkan beberapa orang itu percaya bahwa Gobind di akhir hidupnya atau di dewasanya akan pasti masuk penjara. Karena bener-bener brutal. Sangking parahnya, sangking. Nah disitulah saya kemudian saya melihat bahwa kehidupan saya kacau. Salah satu titik yang membuka perhubungan saya adalah ketika saya melihat bapak saya meninggal. Jadi itu pertama kali saya melihat manusia meninggal, melihat menyentuh orang meninggal, dan melihat pertama kali orang meninggal di kremasi. Jadi itu pertama kali bahwa, wah itu di umur 19 dimana pada saat itu saya berpikir bahwa, wah. Ini bisa terjadi pada siapa? Itu shocking gitu. Yang seseorang yang selalu berada di sekitar saya dan tiba-tiba hilang begitu saya tiba-tiba jadi sosok yang tinggal tubuh yang kaku, terbuncur kaku gitu. Itu bikin shock karena selama ini nggak pernah kepikiran gitu bahwa itu bisa terjadi. Itu salah satu titik yang dimana kemudian membuat saya, saya harus menjadi orang baik. Dalam arti orang baik disini, bukan berarti saya harus menjadi dermawan dan sebagainya. Tapi nggak. Saya masuk lebih ke dalam dan kemudian meneliti. Saya belajar banyak hal. Tadinya sama sekali nggak baca buku. Kemudian setelah itu ratusan atau ribuan buku saya baca. Dan kemudian saya meneliti ini, belajar ini, belajar itu. Ikut pelatihan ini, ikut pelatihan itu. Dan seterusnya ikut meditasi. Dan seterusnya. Dan sampai sekarang seperti itu. Dan tentu ada beberapa Masalah juga seperti kebangkrutan saya waktu sekitar tahun 2000. Dan ketika saya bangkrut, saya pindah ke Bali. Saya udah gak punya apapun. Mobil satu-satunya yang saya punya itu saya jual, teman saya yang paling dekat pinjam katanya 2 hari, sekarang udah 22 tahun belum dibalikin. Dia naik BMW, sementara saya gak bisa makan.
Masih terhalang, kebaikannya masih terhalang.
Apa yang terjadi? Waktu saya pindah di Bali, saya gak punya duit, udah pokoknya mau di bar cuci piring juga oke lah. Bom meledak.
2002.
2002, betul sekali, Oktober. Dan pada saat itu, kalau bom itu meledak beberapa menit setelahnya, saya salah satu korbannya. Hampir aja. Dan apa yang terjadi? Malam itu saya langsung ke rumah sakit, mulai mengangkat jenazah, membantu dokter otopsi. Ada sekitar 202 jenazah dan 5 ribu potongan tubuh pada saat itu. Dan setiap hari harus berjibaku dengan hal tersebut. Kekacauan yang luar biasa. Dan kemudian setelah itu mengumpulkan benda-benda yang biasa dipakai korban supaya dikirim ke Australia untuk dicek DNA-nya. Dan setelah ditemukan, kemudian memandikan jenazah yang terbelah-belah itu. Karena orang tua, keluarga itu diminta untuk tidak melihat sosok. keluarganya yang tercerai-berai. Sehingga di dalam kepalanya itu sosoknya masih utuh. Jangan sampai orang tuanya melihat kemudian itu yang teringat sepanjang hidupnya. Sehingga kami sebagai relawan itu meminta keluarganya tidak ikut. Jadi kalau udah dipetikan, udah dibungkus, baru kemudian diberikan kalau perlu kita yang membantu proses kremasi atau penghuburannya hal tersebut. Sehingga tuh kekacauan itu menimbulkan shock pada saat itu bayangkan melihat kejadian dan juga Melihat ratusan atau ribuan potongan tubuh pada saat itu. Itu sesuatu yang ya itu bisa terjadi pada siapapun. Sehingga disitulah kemudian saya merenung cukup dalam. Nah dari kejadian tersebut saya dipilih 1 dari 20 orang. yang dilatih secara khusus oleh sebuah solidaritas internasional untuk trauma healing, dan untuk belajar trauma healing, stress management, self healing, dan disitulah kemudian saya berbagi sampai sekarang.
Berawal dari sebuah duka.
Duka, duka yang luar biasa.
Duka yang luar biasa, iya. Sekarang berarti Pak Gobind anaknya umur berapa?
13.
Sebagai seorang orang tua yang punya anak remaja, saya juga remaja. Bagaimana cara Pak Gobind untuk bisa mendidik mereka sehingga mereka juga bisa apa ya, memahami, mengerti, dan juga menjalani hidup yang sederhana dan berkelanjutan seperti yang dilakukan oleh Pak Gobind, dan tidak terbuai dan ter apa ya, terbanding-bandingkan dengan apa yang ada di sosial media. Bagaimana Anda meneruskan legasi ini?
Ya menurut saya begini, saya tahu bahwa setiap manusia itu punya kepribadian sendiri, kecerdasan sendiri, keinginan sendiri, dan punya apa yang ada di dalam diri kita. Di dalam dirinya masing-masing. Jadi kebanyakan orang tua itu ingin menjadikan anaknya menjadi minimi. Kalo saya agama A, kamu harus agama A dong. Kalo saya begini, kamu harus begini dong. Ngapain lu kerja bisnis aja? Lu jadi biasanya seperti itu. Gak salah tentu. Tapi menurut saya adalah saya waktu kecil, saya gak kepikiran untuk bisa bicara seperti ini. Saya juga waktu kecil orang tua mungkin mengatakan, kamu bisnis aja, kerja aja. Jadi tukang kain aja dan sebagainya seperti itulah. Dari kebanyakan. Tapi kemudian saya percaya loh, saya tuh ternyata gak suka dengan hal tersebut. Saya sukanya dengan berbagi, belajar dan sebagainya. Yang mana gak ada di keluarga saya yang seperti itu. Dan saya berpikir bahwa anak saya juga... punya sesuatu yang mungkin saya gak punya. Jadi tugas saya adalah memberikan ruang yang luas untuk dia, untuk tumbuh sesuai dengan apa yang dia inginkan. Sesuai dengan keinginannya, kecerdasannya dan sebagainya. Jadi tugas orang tua menurut saya adalah membangun hubungan. Membangun hubungan yang bagus. Nah kalau hubungannya bagus, apa yang dilakukan orang tua itu anak akan ngikut.
Iya.
Iya kan? Kebanyakan kan itu yang gak terjadi. Jadi kamu olahraga, nanti anaknya malah males. Disuruh ini, malah kebalikannya. Malah kebalikannya. Karena otomatis, karena hubungannya gak bagus. Sama lah seperti kita sama orang yang kita gak suka. Dia suka A, ya gue suka B. Ya kita pengen seperti itu, kita pengen kembali. Nah, jadi hubungannya bagus. Jadi saya juga gak bilang dia harus olahraga dan sebagainya. Tapi karena saya melakukan olahraga, dia pun akhirnya ikut olahraga. Karena hubungannya bagus. Gitu. Jadi dia mau lakukan apa? Jadi... Tugasnya adalah memberikan ruang yang luas untuk dia untuk tunggu sesuai dengan apa yang dia inginkan, dia hargai. Jadi sebagai orang tua ya kita support. Papa saya pengen ini, ya oke. Papa pengen ini, ya oke. Ayo-ayo kita itu. Tapi ya saya juga memberikan tanggung jawab-tanggung jawab tertentu. Seperti uang ini kamu bisa pake untuk itu, tapi kamu bisa lho investasi. Sekarang itu investasi banyak lho. Dia mulai tuh nabung dan setiap hari. Papa ini udah segini, uangnya udah segini, udah segini dan sebagainya. So, dia melihat saya juga melakukan hal tersebut kan, saya juga belajar dan sebagainya. Well, belajar macem-macem, ada yang suka baca buku, tapi ada juga yang nonton dan sebagainya, seperti itu. Pada dasarnya itu yang menurut saya, menurut saya yang saya lakukan.
Oke, melepaskan dan mengikhlaskan karena setiap anak pasti punya jalannya sendiri.
Betul.
Tapi kita sebagai orang tua juga tetap memberikan contoh dan memberikan kesempatan yang terbaik lah buat mereka. Iya. Ini menarik karena kan tadi sebelum pas lagi nyampe sini, pertanyaan pertama saya ke Pak Gobind, oh Pak Gobind tinggalnya dimana gitu, saya pikir jauh gak dari sini. Tapi jawaban Pak Gobind itu mau buat saya, hah? Pak Gobind bilang saya tinggal di jalanan. Saya bilang ini bercanda, enggak. Tinggal di jalanan maksudnya gimana Pak Gobind?
Jadi saya tuh travelingnya terlalu banyak. Saya tuh emang hobi traveling. Jadi dari kecil hidup saya di otak saya tuh saya kepengen melihat dunia. Dunia ini terlalu indah. Dunia ini terlalu besar, terlalu indah. Sehingga kalau saya harus hidup 70-80 tahun atau malah kurang, maka saya kepengen melihat dunia ini sebanyak mungkin yang saya bisa lihat begitu. Sehingga saya kepengen pergi ke tempat-tempat yang baru, ke negara-negara yang baru dan sebagainya seperti itu. So itu yang pertama. Jadi saya tuh liburannya sering banget. Dan sering kali mengajak anak saya tuh jalan-jalan kemanapun ketika dia-dia libur walaupun cuma sebentar gitu. Itu yang pertama. Yang kedua adalah saya suka berkeliling karena saya suka juga berbagi. Jadi setiap minggu saya punya kelas di kota-kota besar di Indonesia. Dan saya berkeliling kesana kesini dan sebagainya. Terus belum lagi dapet undangan-undangan dari perusahaan-perusahaan dan sebagainya. So ya berkeliling saya suka dengan mencoba sesuatu hal yang baru.
Oke, dan anak biasanya juga ikut?
Kalo lagi libur, ikut. Iya sering sih dia kapan-kapan ya ada-ada kayak hari kecepit dan sebagainya, ikut. Pas liburan pasti lah kami bisa berkali-kali.
Oke. Jadi jadi penasaran kadang-kadang. Jadi kalau anaknya itu suka jalan tanpa alas kaki juga kah?
Oh iya. Jadi seperti saya bilang bahwa awal-awal dia juga melihat saya gak pakai alas kaki. Tapi kemudian dia mulai masuk sekolah kan udah gak boleh. Dan kemudian mulailah suka dengan pemain basket ini, pemain basket itu, dan sebagainya seperti itu. Dan atau dia mengidolakan sosok-sosok ini dan kemudian Ya kepengaruh brand dan kemudian dia beli sepatu ini, papa mau beli sepatu ini, dan sebagainya seperti itu ya. Tentu saya bilang, ya nanti ulang tahun ada hadiah dan sebagainya seperti itu. Ya gak apa-apa, maksudnya dia pake sepatu ya memang haknya dia, dia punya itu, gak harus nyeker seperti saya. Tapi di awal-awal 5, 6, 7 tahun pertama itu dia nyeker sih, dia nyeker terus.
Iya, dan pada akhirnya ini bukan tentang sepatu apa yang kita pakai, pakai sepatu atau tidak, ya tapi pilihan hidup kemana kita melangkah itu yang lebih penting.
Betul, ada alasan-alasan yang kuat dibalik itu.
Iya, bukan hanya sekedar ikut-ikutan, tapi kesadaran, oke saya memilih untuk ini karena seperti apa.
Iya.
Oke. Dua pertanyaan terakhir buat Pak Gobind. Yang pertama nih kayaknya tips nih. Udah bawa alat teraga juga nih. Kayaknya ini satu hal yang paling sangat relevan. Yang mungkin bakalan berguna. Karena zaman sekarang banyak orang yang tidurnya suka ngorok. Dan ada cara efektif untuk bisa menghilangkan ngorok.
Ngorok, betul. Oke. So sebelum kita ngomongin soal ngorok, kita mesti ngomong bahwa manusia itu punya sebuah indra yang sangat underrated. The most underrated menurut saya adalah hidung kita. Selama itu kita berpikir bahwa hidung kita kan ini. Ini hanya 20% dari bagian hidung. 80% bagian hidung kita itu ada di dalam. Seperti itu. Dan dia itu mempunyai fungsi yang bukan hanya seperti ketika SD kita diajarin bahwa itu menyaring kotoran. Tapi dia juga menghangatkan, dia membuat ada munculkan antivirus juga. Dia juga melembabkan. So itu menjadi makanan yang terbaik untuk paru-paru. Jadi ketika kita bernafas dengan hidung, itu kita, tubuh kita itu, udara yang masuk itu sudah dikondisikan sedemikian rupa adalah untuk menjadi yang terbaik untuk paru-paru kita. Sehingga alangkah baiknya kalau kita 24 jam, kecuali lagi berbicara, itu kita bernafas menggunakan hidung selalu. Ada banyak keuntungan yang saya bisa jabarkan berjam-jam di situ. Masalah hari ini adalah 25-50% menurut penelitian, manusia itu bernafas menggunakan mulut. Dari skala yang rendah sampai akut. Nggak selalu, tapi ada yang sejam sehari, mungkin dua jam sehari, atau bahkan yang lebih akut, lebih dari itu. Nah 70% orang sekarang itu bernafas menggunakan mulut ketika tidur. Salah satunya karena tidak terlatihnya otot ini, karena kita gak mengunyah lagi. Kalau kita mau melihat kehidupan kita Meri, kakek nenek kita gak ada yang pake behel. Iya kan? Tidak ada yang pake itu, giginya rapi semua. Tapi hari ini semua anak-anak kecil kan... Giginya kacau, berantakan. Kenapa? Karena gak mengunya. Kenapa gak mengunya? Karena semua makanan gampang dikunyah. Mie, instan, bubur, roti, sosis. Sehingga lep-lep-lep kalorinya meningkat, tapi itu. Sehingga berantakan giginya. Tapi yang lebih parah lagi adalah ini gak terbentuk otot kita. Sehingga apa yang terjadi? Gigi yang belakang gak muncul. Kan sekarang punya masalah gigi bungsu, gogol bungsu. Kenapa? Maksud saya begini. Dari 5500 mamali yang ada, hanya manusia loh, hanya homo sapiens yang giginya berantakan. Dan satu-satunya evolusi yang tercepat sepanjang sejarah, bahwa dalam 300 tahun terakhir, manusia memunculkan kehilangan gigi bungsunya. Hanya dalam 300 tahun, evolusi itu terbentuk. Tidak ada evolusi yang lebih cepat daripada ini, sampai sekarang ini. Hilang gigi kita. Nah, salah satunya nggak mengunya. Nah, akhirnya membuat otot kita nggak kuat, dan otot yang paling kuat di tubuh kita, bukan otot ini, bukan ini, otot paling kuat di tubuh kita adalah otot rahang kita. Nggak banyak lagi orang tau. Dan kita nggak pernah melatih otot itu. Karena kita nggak mengunya. Akhirnya apa? Mulut kebuka, bernafas dengan mulut. Nah, kalau 8 jam kita tidur dan bernafas dengan mulut, maka muncul masalah kesehatan banyak sekali. Dan terutama salah satunya ngorok. Nah, nggak selalu tutup mulut itu nggak ngorok? Nggak. Karena ada beberapa hal. Yang pertama adalah ngorok karena kita tidur terlentang. Nah, kalau kita tidur terlentang, lidah kita jatuh ke belakang. Ngorok. Oke, jadi harusnya bagaimana? Tidurlah miring ke kanan. Mulutnya ditutup. Ya, karena kalau ini kebuka, dia jatuh ke belakang. Dan kebanyakan orang kan supaya awet muda, supaya facelift.
Oh gitu?
Itu rahasia Mbak Titipus, Pak. Yes! Mbak Titipus. Saya tuh dulu kalau tidur terlentang, nonstop terlentang. 8 jam tidur tidak berubah sama sekali. Karena saya kepingin seperti Mbak Titipus, Pak, awet muda. Cuma mungkin ya, almarhum Mbak Titi Puspa itu kalau tidur itu mungkin mulutnya tutup. Sementara saya buka, jadi... Dan terjadilah apa yang disebut orang Jawa ketindian.
Apa tuh?
Erep-erep. Tau gak? Yang kalau tidur terus gak bisa gerak. Pernah kejadian gak?
Pernah denger?
Iya, gak pernah kejadian ya?
Gak pernah di saya.
Nah, kalau orang merasa bahwa kalau tidur kemudian gak bisa gerak, solola katanya ketindian setan gitu. Gak ada namanya setan itu, karena ketindian lidah kita, lidah kita ke belakang. Sehingga otaknya kurang oksigen, namanya sleep paralysis, kurang lebih seperti itu. Jadi gak ada urusan, memang setan mau cari orang yang tidur terlentang, mudah ditinggikan. Ya gak begitu lagi. Tapi itu terjadi karena itu salah satunya. Oke yang kedua, ya jadi tidurnya miring ke kanan kalau bisa malam hari. Supaya hidung kiri kebuka sehingga tubuhnya parasimpatiknya aktif. Jadi pakailah plaster, sehingga tutup mulut. Jadi full nafas pakai hidung sepanjang hari. Ini sekitar 25.000-30.000, ini bukan endorse sama sekali. Tapi ini bisa membuat berbulan-bulan tidur kita nyenyak banget. Beneran di plaster aja gitu? Di plaster. Di plaster begini aja. Supaya kalau ada batuk, itu bisa. Jadi kita ambil kurang lebih segini. Oke.
Oh terus tidur gitu? Iya.
Di awal-awal setengah jam sebelum tidur, sebelum tidur kita pake supaya beradaptasi rasa plaster itu dengan tubuh kita. Tapi setelah beberapa lama sih ga masalah. Kenapa kok yang kalau saya melakukan seperti ini? Atau pernah mungkin liat video saya pake full seperti itu. Ya karena saya ga punya masalah sleep apnea, batuk atau apa dan sebagainya. Tapi kan saya ngomong ke masyarakat. Kan ga tau kondisi tubuh manusia itu bagaimana. Jadi saya sarankan. Vertikal aja. Itu yang pertama kenapa kita ngorok. Yang kedua adalah karena kita kegemukan. Obesitas. Nah caranya adalah kurangin obesitas. Nah ngomong-ngomong, cara yang terbaik untuk mengurangi berat badan ada yang tau?
Ya nggak makan. Olahraga. Kan kalau nggak ada yang masuk nggak akan nambah. Nggak ya?
Yang paling gampang ya, yang paling gampang. Olah nafas. Olah nafas? Yes. Oke. Gimana
caranya?
Maksud saya begini, kebanyakan orang juga gak sadar. Ketika tubuh kita dari 70 kg jadi 60 kg, berarti kan ada 10 kg yang hilang. 10 kg ini hilangnya kemana? Ini karena benda nih 10 kg. Anggap ada benda 10 kg dan hilang. Hilangnya ini kemana?
Ya kalau lemah kan kebakar, keringat, buang air segala,
enggak? Enggak. Jadi buang air besar itu banyaknya serat dan bakteri. Keringat, yes. Air seni dan sebagainya. Keringat ya keluar itu kurang lebih 15%, 16%. 84% melalui nafas. Yes. Lemah itu terbakar dan bakar itu jadi karbon. Oke. Nah maka itu... Apapun yang kita makan itu jadikan molekul gula. Dan molekul gula itu dibakar jadi energi. Ya kan? Molekul gula itu karbohidrat. Karbohidrat itu karbon dan hidrat. Karbon 84% dan hidratnya 16%. Jadi kalau kita nafas itulah yang melepaskan si, menghancurkan, maksudnya yang mengurai si lemak itu menjadi hilang itu, hilangnya melalui nafas. Nah, kemudian pak kalau gitu kan nafasnya borosin aja. Nanti kan turun, enggak,
enggak bisa begitu. Gimana cara nafas yang
bisa makan enak? Jadi kalau kita semakin nafasnya boros, lapar, semakin lapar. Makanya itu orang stres itu lapar, salah satunya karena nafasnya boros. So, sebaliknya sebenarnya kita mengiritkan nafas kita. Nah dari iritnya nafas kita, keinginan nafas, makan juga enggak pengen. Orang nafasnya irit, makannya juga sedikit. Orang yang nafasnya
boros, makannya juga banyak. Gimana cara nafas irit? Pelan-pelan
tarik kayak gitu ya? Lambat kan nafasnya. Tapi kan kita gak mungkin inget dong sepanjang hidup, sepanjang hari mana mungkin bisa inget nafas gitu ya. Nah ada satu program yang saya ajarkan namanya Buteko. Buteko itu sebuah teknik yang dimana kita memprogram otak kita agar bernafas lambat sepanjang hari. Nah kalau kita bernafas lambat, kita gak mungkin marah. Mana ada orang marah-marah dengan nafas lambat? Gak mungkin. Jadi cara untuk membereskan emosi sebenarnya lambatkan nafas. Kita kan gak bisa, gini, ketika stres kan otak kita cepat. Kita kan gak bisa bilang sama otak, otak santai-santai, tenang, gak bisa. Otak terhubungan jantung, jantung tenang dong, gak bisa. Karena jantung, otak ini dipengaruhi oleh sistem syaraf yang bekerja secara otomatis. Nah jantung hubungannya dengan nafas. Kita gak bisa mengintervensi otak, kita gak bisa mengintervensi jantung, yang kita bisa mengintervensi nafas. Jadi ketika nafasnya dilambatkan, maka otomatis emosinya jadi lambat. Ketika kita bisa mengendalikan, menguasai nafas kita, gak ada satu orang pun yang bisa mencuri kedamaian di dalam diri kita. Oke. Jadi... Tidur miring, yang pertama. Kemudian yang kedua adalah kalau anda kegemukan, saya rasa obesitas, saran saya adalah belajarlah nafas untuk mengurangi itu. Atau orang-orang yang punya banyak otot, walaupun lemaknya sedikit, ototnya banyak, itu pun bisa ngoro. Jadi ya itu konsekuensi. Yang ketiga, lupa ada yang bilang, Pak Gobind, saya tuh kurus, tapi kenapa saya ngoro? Skinny fat jawabannya. Oh ada skinny fat. Yes. Jadi visceral fat yang ada di antara ini. Organ-organ. Oke. Sekarang saya mau tanya, ketika seseorang itu nambah fatnya, fat yang pertama kali muncul atau tertumpuk di
mana? Di perut? No. Oh bukan. Di mana? Di lidah. Di lidah, lidah ada
fatnya. Iya di belakang itu muncul, itu yang akan tebal duluan. Gak banyak orang tau lagi, iya. Jadi itu, visceral fat itu disana dulu, sehingga ketika kita tidur itu tebal, dia akan jadi ngor. Nggak sadar, kurus, visral fatnya itu nempel disitu. Jadi ilmu nafas itu bukan sekedar tarik dan lepas aja, tapi begitu banyak hal dibaliknya. Nah kemudian itu yang keduanya, kurangin fatnya, caranya macam-macam lah, tapi paling bagus adalah meningkatkan metabolisme dengan nafas yang lebih baik. Nah kemudian yang ketiga, Kenapa kita ngorok? Karena jaringan lunak yang ada di tenggorokan kita itu udah kendor. Semakin usia biasanya semakin kendor atau orang-orang yang biasa bernafas dengan mulut. Maka apa yang harus dilakukan adalah ya kita bernafas dengan hidung, meletakkan lidah di tempat yang tepat yaitu di atas, dia akan menguatkan si otot-otot tersebut menjadi lebih baik sehingga kita nggak ngorok. Yang keempat, nah ini yang agak susah karena struktur rahang kita udah berubah. Jadi kebanyakan nafas mulut, kurang mengunya, giginya kecil, rahangnya masuk ke dalam. Nah itu begitu. Ini kalau didorong, ini akan mengecil. Nah itu mesti pergi ke dokter gigi, atau dokter gigi biasanya, mereka punya alat yang dimasak, letakkan waktu tidur, jadi letakkan di sini untuk buat si rahang ini agak maju sedikit, sehingga ini rongganya lebih lebar, dan akhirnya bisa bernafas dengan lain. Kurang lebih begitu. Itu caranya. Tapi menurut saya, hal yang paling gampang ini dulu dilakukan. Plaster mulut itu sebelum
tidur. Itu untuk ngorok. Oke, wow! Ini bisa menyelamatkan kehidupan banyak orang. Banyak, karena
ketika manusia itu ngoro, faktor metabolis sindrom, hipertensi, diabetes, apa macem-macem itu. Sampai masalah struk dan sebagainya itu terhubung. Jadi ini bukan masalah estetika saja, tapi masalah kesehatan fisik maupun mental, bangun juga gak akan fresh. Iya,
karena kadang-kadang orang bilang, oh itu ngorek karena kecapekan, gitu. Tapi ternyata semua itu berhubungan ya, dan dimulai dari nafas. Jadi cara untuk nafas yang membakar lemak adalah nafas. Berapa lambat nih? Nggak, menurut saya
sih hal yang paling penting adalah kita perlu untuk belajar, untuk bernafas lambat. Lambat. Tapi kebanyakan orang lambatnya itu banyak. Kalau saya minta tarik 4 hitungan, banyak orang, sebagian besar orang kan... Take a big breath, you know. Menurut saya dilambatkan artinya apa? Tariknya sama, tapi volumenya tetap sama aja. Tapi dilambatkan 4 hitungan. Lepaskan 4 hitungan juga. Nah, kalau mau relax bagaimana? Lepasnya harus lebih lama daripada tariknya. Kenapa begitu? Karena manusia itu punya sistem syaraf. Sistem syarafnya itu ada 2. Sistem syaraf simpatik dan parasympatik. Simpatik itu fight or flight, tegang. Dan parasympatik itu relax. Dan setiap kali tarikan nafas, itu kita mengaktifkan bergantian ini. Setiap kali kita tarik nafas, tubuh kita tegang. Setiap kali lepas nafas, kita relax. Oke, jadi menarik sekali bahwa setiap saat itu tubuh kita itu yindan yang selalu. Nah, apa yang terjadi kalau contoh di depan kita ada kecelakaan, apa yang terjadi? Kita langsung panik, tertarik nafas, panik, tegang. So, artinya membuat tubuh kita otomatis menjadikan itu fight or flight. Jadi tarik nafas banyak, dan begitu. Itu yang terjadi. Nah, kalau orang-orang itu sering kali melihat berita-berita gitu, Nah otomatis tubuhnya tegang terus. Nah tapi contoh kalau kita berada di rumah sakit, keluarga kita di operasi, kemudian dokternya keluar dari ruang operasi dan bilang, oh operasinya berjalan sempurna, ibu anda akan baik-baik aja. Apa yang kita lakukan? Lega. Iya kan, lega kan. Jadi kita relax, jadi tubuh kita melakukan ini. Nah sekarang kita tau bahwa kita bisa membuat tegang, kita bisa membuat relax. Jadi kalau saya ingin membuat relax tubuh saya, maka saya harus melepaskan lebih banyak daripada ngariknya. Artinya apa? Bukan banyak itu dari... Bukan begitu, tapi melepaskan lebih lama waktunya daripada tariknya. Kalau saya tarik 4 hitungan, saya akan lepas 6 hitungan. Dengan cara seperti itu saya akan mengaktifkan parasimpatik. Dengan parasimpatik aktif, tubuh kita relax, pikiran kita begitu tenang. Dengan cara seperti itu tidurnya lebih nyenyak dan seterusnya. Mayo Klinik pernah mengatakan bahwa insomnia itu lebih terkait karena masalah pernafasan daripada masalah psikologi. Sehingga kita bisa mengatur nafas kita, kita bisa mengatur kehidupan kita. Karena begini Meri. Banyak orang mengatakan harus mengubah makan, diet untuk membuat hidup kita menjadi bagus. Bagus, tapi itu hanya mengubah 3 kebiasaan sehari. Kalau kita olahraga, kita mengubah 1 jam kebiasaan sehari. Kalau kita tidur dari 5 jam ke 7 jam, berarti kita mengubah 2 jam kebiasaan sehari. Tapi ketika kita mengubah nafas, kita mengubah 25 ribu kebiasaan sehari. 24 jam kebiasaan hari. Ketika 24 jam berubah, hidup kita akan berubah. Maka itu saya bilang, ketika kita mengubah nafas, kita mengubah hidup kita. Wow. Terima
kasih telah berbagi. Saya menjadi lebih sadar, karena kadang kita gak sadar. Siapa juga yang sadar akan nafas kita, itu kan sudah terjadi otomatis. Tapi lagi-lagi perubahan berawal dari kesadaran. Kesadaran yang paling penting yang bisa kita lakukan adalah Nafas. Wow. Pertanyaan terakhir, dari begitu banyak hal yang hidup sudah berikan kepada Pak Gobind, kalau ada satu kebijaksanaan yang Pak Gobind ingin bagikan kepada siapapun yang menonton hari ini, apa satu kebijaksanaan pelajaran berharga
itu? Menurut saya, tadi sudah saya sebut bahwa manusia itu tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar diri kita. Kemarahan, kebencian, ketakutan, dan sebagainya itu adalah sesuatu yang muncul di dalam diri kita untuk kita kenalin, untuk kita sadarin, dan kita cari apa yang muncul. Dan jangan cari jalan keluar, tapi jalan ke dalam. Dan selalu ingat bahwa setiap masalah itu adalah bagikan luka yang ada dalam diri kita. Tapi luka itulah tempat dimana cahaya itu bisa masuk. Dan semakin dalam luka menyait sang jiwa, Maka semakin mampu lah sang jiwa itu menampung kebahagiaan asal dirawat. Dan satu hal lagi, kita tidak bisa ikhlas bahagia dan sebagainya melalui jalur yang namanya suka itu sendiri. Duka itu sendiri yang membuat kita menjadi lebih baik. Dan setiap masalah itu perlu kita hadapin. Yang dihadapin bukan orang lain dan sebagainya, tapi yang di dalam diri kita sendiri. Masalah dalam bahasa Inggris problem, dalam bahasa aslinya pro and balance. Pro itu maju, balance itu menggerakkan. Jadi masalah itu menggerakkan kita untuk maju. Masalahnya, kita tidak pernah itu, masalah itu selalu, maksudnya kita perlu untuk menghadapi masalah-masalah tersebut. Jadi dihadapinya bukan di luar, tapi di dalam. Dan orang-orang sulit, orang-orang menyebalkan, seperti sakit, bangkrut, perceraian, dan semua itu adalah sebuah cara untuk bagaimana kita bertumbuh dan menjadi orang yang lebih
baik. Thank you for sharing. Terima kasih sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Sebagai hadiah, Pak Gobind boleh nanya satu pertanyaan
untuk saya. Oke, kalau saya boleh tanya adalah sesuatu, sesuatu, nanti tolong diselesaikan pernyataan ini. Sesuatu yang saya takut berbagi dengan Anda adalah,
Oh, saya melanjutkan kalimat itu? Oh, oke. Sesuatu yang
kamu takut bercerita, berbagi kepada diriku adalah?
Saya takut berbagi bahwa saya hanya manusia, saya terhutang. Saya tidak sempurna. Saya bukan seseorang yang sempurna. Dan kadang-kadang ketakutan terbesar saya adalah ketika saya tidak tahu apa yang saya tidak tahu. Jadi itu adalah ketakutan terbesar saya. Karena ketika saya tahu apa yang saya tidak tahu, sebagai manusia mungkin saya akan mencoba untuk meningkatkan dan mencari tahu. Ya, tapi kadang-kadang kita seringkali terjebak dengan hal-hal yang kita sendiri gak tahu gitu. Ya, jadi... Ya, itu yang pertama yang masuk ke pikiran saya. Saya tidak tahu kenapa.
Tidak mudah. Karena itu sesuatu yang saya takut untuk berbagi dengan Anda. Kita harus menghadapi diri kita sendiri. Ketakutan yang ada dalam diri kita. Oh, oke. Itu
menarik. Terima kasih. Terima kasih telah berbagi. Terima kasih telah bertanya. Terima kasih sudah jadi teman ngobrol. Sukses dan sehat selalu. Saya doakan yang terbaik buat Pak Gobind. Terima kasih. Dan terima kasih telah berbagi.
Terima kasih.
Jadi, ini sebenernya kita sudah tutup ya, sudah tutup. Cuma dalam proses kita ngobrol-ngobrol, ternyata masih banyak banget kebijaksanaan. Dan kebetulan kita lagi ngomongin tentang topik buku. Dan akhirnya membawa ke komunikasi non-violent. Dan saya pikir ini satu hal yang sangat penting banget. Harus semua orang tahu. Saya juga belum tahu. Cuma tadi kan Pak Gobind pengen jelasin. Saya bilang, oke kalau gitu kita harus nyalain mic lagi. Karena semua orang harus tahu.
Iya. Ini nih mengubah diri saya dalam pandangan saya tentang kehidupan dan salah satunya tentang komunikasi. Namanya Non-Violent Communication, Marshall Rosberg. Kalo ga salah buku ini kemudian diubah menjadi Compassionate Communication. Nah disitu... Bukunya harus dibaca sendiri sih. Tapi kalau saya mau memberikan, memberikan langkah-langkahnya, ada 4 langkah. Yang pertama, yang paling sulit adalah bedakan antara pengamatan dan evaluasi. Sebagian besar orang itu melihat sesuatu, langsung mengevaluasi, memberikan arti pada kejadian itu. Sementara pengamatan adalah melihat dan dari apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Gitu. Jadi kalo contohnya, kamu terlambat ya. Nah itu berarti udah evaluasi. Tapi kamu datang jam 9 lebih 5. Nah itu pengamatan. Karena dia datang jam 9 lebih 5. Oke. Terlambat itu evaluasi. Kamu jorok. Itu evaluasi. Tapi aku melihat ada banyak debu atau pasir di tangan kamu. Itu adalah pengamatan.
Jadi pengamatan itu menginformasikan sebuah fakta. Fakta.
Tidak mengevaluasi, tidak memberikan makna kejadian itu. Karena itu yang kita tau, itu yang kita lihat. Oke. Saya melihat kamu bergandengan tangan dengan dia. Fakta dong. Fakta ya. Kamu selingkuh. Nah itu, ini yang susah ya. Bedakan antara pengamatan dan evaluasi, itu yang pertama. Jadi ketika kita mau memberikan sebuah, berbicara pada seseorang, kita berikan pengamatan tersebut, bukan evaluasinya. Nah aku tadi, aku tadi melihat jam dan kamu datang jam 9 lebih 5. Evaluasi. Nah dari evaluasi, sorry, dari pengamatan tersebut, apa yang muncul, perasaan apa yang muncul dalam diri saya? Diungkapkan. Perasaan itu adalah kecewa, sedih, marah, kesel, cemburu, itu perasaan. Perasaan itu gak ada, aku ingin memukulimu, itu bukan perasaan. Kamu mengkhianatiku, itu bukan perasaan. Oke. Aku merasa dikhianatin, itu gak ada. Perasaan merasa dikhianatin, aku merasa marah, aku merasa sedih, aku merasa kecewa, aku merasa kesel, aku merasa... Oke. Cemas, itu perasaan. Jadi aku merasa dikhianati. Gak ada, gak ada, gak ada. Perasaan dikhianatin
gak ada, perasaan marah. Karena dikhianati. Tunggu
dulu, dikhianatin mana ada. Oke. Tunggu dulu. Oke itu yang pertama. Kemudian... Kita merasa itu gak boleh berhenti disitu aja. Ini kita karena ada kebutuhan apa disitu. Maka itu kemudian kita merasa itu kan. Nah yang ketiga adalah, ungkapkan kebutuhan kamu. Oke. Nah. Aku tadi melihat kamu jam 9 lebih 5 baru datang. Aku merasa kecewa. Karena kebutuhanku akan tepat waktu itu tinggi sekali. Oke. Jadi kita unculkan juga kenapa seperti itu. Jadi sebenarnya kecewanya bukan karena kamu datang terlambat tuh ya. Tapi karena kebutuhanku loh. Saya yang bertanggung jawab terhadap perasaan itu. Karena perasaan itu ada saya yang buat. Perasaan itu adalah karena ada program-program itu. Karena kebutuhan-kebutuhan saya. Betul? Selanjutnya adalah meminta, bukan menuntut. Mulai besok, maukah kamu datang kesini sampai di depan kantorku. Itu jam 9 kurang. Minimum jam 9. Semakin spesifik kita bisa menyampaikan itu, semakin kemungkinan bisa terjadi. Itu lebih baik. Aku kepengen, Kamu tuh masuk ga hormat sama aku, ga ada hormatnya masuk ke kantor, kantor ku ga ngetuk pintu. Apalagi seperti itu. Tapi kita bisa ngomong bahwa kamu tadi masuk dan aku tidak mendengar
ketukan pintu. Wow. Bisa jadi dia ngetuk tapi kita ga denger. Iya kan. Jadi selalu mih-mih-mih.
Iya betul. Oke wow. Aku merasa kecewa atau aku merasa marah gitu. Karena kebutuhanku untuk privasi itu sesuatu yang penting sekali. Maukah kamu bersepakat denganku untuk mengetuk sebelum kamu masuk? Sih. Gak ada kemana, gak ada, gak ada itu. Jadi, tapi sampaikan dengan itu, itu langkah-langkahnya. Tentu banyak, tentu banyak cerita-cerita disitu dan sebagainya. Tapi 4 langkah ini menurut saya suatu yang muzizat sih. Bisa dapetin, menurut saya sih dapetkan sesuatu inti dari itu, dari sebuah buku itu sih, wah itu keren banget sih. Selama ini kan kita terbiasa dengan penilai, menilai seseorang dan sebagainya seperti itu gitu. Betul. Dan kita gak punya kemampuan, karena dari orang tua kita, guru kita gak bercerita seperti itu kan. Dia langsung, aku marah itu gara-gara kamu. Kamu buat aku marah, mana bisa orang bisa bikin marah. Sama seperti mana ada orang bisa bikin sakit hati. Gak mungkin, impossible orang bisa bikin sakit hati pada kita. Sakit hati, saya cerita tadi itu hoax terbesar sepanjang sejarah di dunia seperti itu. Jadi ya, menurut saya kita perlu untuk belajar lebih dalam tentang hal tersebut.
Dan komunikasi itu menjadi salah satu faktor penting, khususnya zaman sekarang. Karena banyak perpecahan terjadi karena salah berkomunikasi. Dan
banyak juga orang berpikir bahwa komunikasi itu keluar. Anthony Robbins mengatakan bahwa komunikasi adalah kemahiran yang paling penting di dunia. Tapi menurut saya, kebanyakan orang berpikir berkomunikasi keluar. Bagaimana jualan, bagaimana ini. Tapi yang jauh lebih penting. Kita bicara kepada orang itu berapa ribu kata per hari. Tapi bicara pada diri kita sendiri, jutaan kata setiap hari. Dan komunikasi ke dalam diri kita, yang membuat narasi-narasi dalam diri kita, itulah yang membentuk diri kita. Menurut saya itu jauh lebih penting. Jadi, belajarlah di situ. Komunikasi bukan ke orang lain, tapi ke diri kita sendiri.
Oke, sangat menarik. Non-violent communication. Karena zaman sekarang bahkan banyak orang menggunakan komunikasi sebagai cara untuk menyerang, verbal
attack. Betul, betul. Dan saya pikir ini cerita kejadian realnya bahwa si Marsha Rosenberg itu ditodong, ditodong oleh seseorang gitu. Dan apa yang terjadi? Dia bicara sama orang tersebut yang nodong itu. Dan dia mengerti kebutuhan-kebutuhan si orang tersebut. Dan akhirnya diletakkan si pisau itu dan kemudian dia nangis. kepada si Marshall itu. So itulah kekuatan dari komunikasi kalau kita bisa mengerti si emosi yang pada orang tersebut menurut saya. Saya jauh daripada itu, saya masih jauh perlu belajar banyak. Maka itu saya mengungkapkan disini supaya orang-orang di sekitar kita, ayo kita belajar sama-sama supaya lebih kaya dan membuat dunia ini lebih baik.
Thank you. Thank you for sharing. Thank you menjadi bagian dari kebaikan. Thank you. Demikian kalau...
More from Gobind
Eps 984 - GIL4 OBROLAN INI RUBAH HIDUP GUE‼️ IKHLAS ITU SEBUAH KEBOHONGAN ! (Ft. Gobind Vashdev)
Seni Bernafas - Mengenal apa itu Buteyko Breathing? Bersama @Gobindvashdev (Bagian 2)
Seni Bernafas - Mempraktikan teknik bernafas untuk hidup yang lebih berkualitas. Bersama @Gobindvashdev (Bagian 3)
