PILLOW TALKS - GOBIND VASHDEV: THE IMPORTANCE OF TRAUMA RELEASE
28 Mar 2026 · 33 min
Trauma healer Gobind Vashdev explains trauma as blocked energy stored in the body from childhood, media, or everyday stress. He teaches Tension & Trauma Releasing Exercises (TRE), which uses spontaneous shaking to release tension without visualization, plus tapping, breathwork, and movement as daily practices to prevent trauma buildup.
Chapters
Sub indo by broth3rmax Hai, selamat petang Harakers. Ketemu lagi sama Randi Sutari di Pillow Talks setiap hari Kamis dari jam 9 sampai jam 11 malam seperti biasa. Kita akan membahas hal-hal yang mungkin selama ini Harakers tuh pengen omongin, pengen obrolin tapi bingung ke siapa. That's why aku menghadirkan Expert-expert yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita semua, Harekers. But, before we do ask questions, mungkin gua pertama-tama pengen bilang makasih dulu untuk The Sultan Residence yang meminjamkan kamarnya, 3 bedroom unitnya yang benar-benar luas banget. Dan pastinya malam hari ini aku tidak sendiri, aku ditemani oleh Bapak Gobind. Hai, selamat datang kembali.
Terima kasih.
Apa kabar Pak Gobind?
Kabarnya bahagia.
Bahagia ya? Soalnya kita ketemu minggu lalu juga bahagia. Kita membahas mengenai pernafasan, tanpa pernafasan gitu ya. Tapi pada malam hari ini kita akan ngobrolin hal yang lebih dalam lagi. Kayaknya banyak yang tanpa terasa, tanpa disadarin. Mungkin harokers juga sering sekali mengalami trauma di dalam hidup. Kita seru nih Pak ngomonginnya. Ini tentang trauma ya kan. Padahal yang namanya trauma itu banyak yang kita nggak sadar juga. Kejadian sehari-hari ini bisa menyebabkan trauma. Tapi sebelum kita ngomongin tentang trauma rilisnya, Sebenarnya mungkin aku pengen tanya dulu, karena Pak Gobind ini juga punya ekspertis selain menulis buku IA, terus juga instruktur untuk berita Butaiko IA, tapi juga instruktur untuk trauma release. Nah trauma release ini awalnya gimana nih Pak Gobind bisa sampai ke tahap ini?
Ceritanya tahun 2000-an itu saya bangkrut. Trauma sih bangkrut.
Itu juga trauma ya kehilangan uang.
Kehilangan uang, punya mobil satu, habis bisnis di Jakarta, bagus. Kemudian bangkrut, punya mobil satu, saya jual untuk bisnis lagi. Temen saya yang paling dekat, dia bilang, Gobind pinjem 2 hari aja uangnya. Setelah 22 tahun belum kembali.
Wah terawa nih kayaknya, terawa percaya sama orang.
Dan menyedihkan dia naik mobil mewah, sementara saya gak bisa makan. Yaudah akhirnya saya berpikir, saya kepengen tinggal di Bali. Jadi karena saya tidak bisa, saya pikir kalau dari Jakarta 0, Bali juga 0, saya berangkat aja ke Bali tahun 2002. Dan apa yang terjadi? Saya cari kerjaan di Bali. Lagi cari-cari kerjaan, bom ledak. Dan setelah itu 3 bulan saya di rumah sakit. Jadi ya, pada saat itu hampir boleh bilang benar-benar nyaris saya terkena bom itu sendiri. Malam itu emang saya lagi menuju ke Legian dan bom itu meledak. Beberapa menit saya.. sebelum nyampe sana, dan malam itu saya pergi ke rumah sakit, mulai mengangkat jenazah, membantu dokter otopsi, kemudian pada saat itu ada 202 korban dan 5.000 potongan tubuh, dan pada saat itu memang mengumpulkan alat-alat yang digunakan oleh korban untuk DNA mengumpulkan potongan-potongan tubuh itu, memandikan dan sebagainya. Selama 3-4 bulan itu, setiap hari bergumul dengan kesedihan, ketakutan, kemarahan yang kondisinya luar biasa di krisis center pada saat itu. Nah, karena pengalaman-pengalaman itu, kemudian ada satu solidaritas internasional untuk trauma healing di Amerika itu diundang datang ke Indonesia, mereka mencari orang-orang yang mempunyai dedikasi terhadap kemanusiaan, dan saya dipilih 1 dari 20 orang itu dididik secara khusus belajar teknik trauma healing atau stress manajemen gitu, self healing, yang ada sekitar 50 teknik. Dan ya saya kemudian belajar di situ, dimana kalau kita tahu bahwa kalau sananya ada tsunami atau ada kejadian konflik dan sebagainya, ada mungkin ada, yang meninggal mungkin ratusan atau ribuan, tapi yang trauma akan ratusan ribu. Kalau kita pakai one on one kayak sesi konsultasi, kita perlu ratusan atau ribuan konsuler. Nah, apa yang kita lakukan adalah kita datang kesana, mendidik orang-orang itu untuk bisa menyembuhkan trauma-nya sendiri dengan teknik-teknik yang ada, dan kemudian orang tersebut boleh mengajarkan kepada yang lain. Nah, terjadi kesembuhan lebih cepat dibandingkan one on one, seperti itu. Jadi, itu awalnya. Dan kemudian saya menjadi koordinator di Indonesia selama bertahun-tahun, dan dari situlah awalnya saya kemudian mendalami tentang trauma. Wow.
Oke. Ini ceritanya ternyata begitu
deep
ya Pak ya. Tapi aku sih setuju ya. Karena tadi Pak Gobind sempat bilang gitu. Kalau kita melakukan sesi one on one mungkin kapan kelarnya. Apalagi mungkin di saat orang ini pada punya trauma di kejadian yang mungkin cukup masif gitu ya Pak. Tapi kalau kita bicara mungkin kejadiannya bukan yang masif kejadian seperti itu Pak. Yang namanya trauma kan pasti mulai pas kita dari masih kecil mungkin. kita sadarin. Sebenarnya ada nggak sih Pak trauma, jenis-jenis trauma yang mungkin kita juga nggak sadar, tapi ini sebenarnya menyebabkan trauma yang berkelanjutan sampai di umur kita yang sekarang ini.
Hampir semua trauma kita itu, bukan hampir semua, tapi ya banyak sekali yang tidak kita sadari. Emosi-emosi yang mendam dalam diri kita. Tapi kita mesti tau, trauma itu definisi yang saya tau adalah energi yang ngeblok di dalam tubuh kita. Oke. tersumbat di dalam tubuh kita. Ini sejenis emosi biasanya yang ngeblok sehingga aliran kalau orang China mengatakan chi atau ki yang energi yang mengalir dalam tubuh kita itu tersumbat di situ. Di jaringan paling dalam salah satunya di fascia atau tisu konektif. Nah disitulah emosi itu tersumbat. Ini apa aja yang terjadi? Kapan bisa terjadi? Kapan aja. Tapi paling banyak sebenarnya di antara 0 sampai 7 tahun. Di masa-masa kita masih kecil, hubungan kita dengan orang-orang yang paling kita kasihi biasanya adalah orang tua kita. Di mana biasanya orang tua kan sudah tahu apa baik, buruk, benar, salah, dan sebagainya. Sementara anak itu berkembang apa adanya. Nah ketika dia berkembang melenceng daripada pemikiran orang tua yang sudah terkotak-kotak gitu, maka terjadi gesekan, terjadi luka di situ. Tapi kita nggak bisa mengutarakan karena masih kecil dan kemudian ada satu apa ya, kepercayaan bahwa kita nggak boleh loh membantah orang tua. Sehingga kita merepress semua masalah-masalah kita waktu kita kecil, dan kemudian muncul dalam bentuk hal-hal lain waktu kita dewasa, seperti itu. Itu yang paling banyak menurut
saya. Jadi sebenarnya udah mulai dari pas jaman kita masih kecil tapi tanpa kita sadarin gitu ya. Jadi sebenarnya kalau dibilang jenis-jenisnya trauma tuh memang juga ada banyak ya Pak
ya? Banyak banget. Jadi kita itu trauma itu bisa kita alamin sendiri. Yang besar-besar yang seperti kita jatuh dari lantai dua atau pernah dimarahin seseorang. Bisa juga trauma yang kecil, contohnya waktu saya kecil, waktu SD gitu, temen saya yang di depan itu selalu angkat tangan gitu ya. Kemudian temen saya bilang, temen yang sebelah bilang gini, so pinter, so apa itu cari muka. Nah, apa yang terjadi, ketika setelah kejadian itu, guru menerangkan sesuatu, saya mau angkat tangan, saya gak berani. Karena si temen itu mengatakan, oh tuh sok pinter mau cari buka dia sebentar-sebentar angkat tangan gitu. Dia gak ngomongin saya, dia ngomongin orang lain, tapi di depan saya gitu ya. Dan akhirnya saya takut untuk angkat tangan karena takut untuk di... Diomongin. Betul, itu bisa. Sehingga itu membuat saya akhirnya pelajaran begitu gak ngerti, saya gak berani angkat tangan. Akhirnya kita, saya mau masuk ke fakultas kedokteran gara-gara si Suntoloyo ini jadi gak jadi. Bisa bayangin, itu kan keliatannya hal kecil ya. Tapi membelokkan nasib saya gitu. Nah, bisa juga trauma sesuatu yang kita denger berulang-ulang. Contohnya orang takut naik pesawat, sebagian Anda tahu bahwa pesawat itu adalah moda transportasi yang paling aman di dunia. Daripada nyebrang jalan, lebih aman naik pesawat. Begitu banyak orang tua yang waktu dia nyetirin anaknya ke airport, dia takut naik pesawat. Padahal naik mobil itu lebih berbahaya daripada naik pesawat. Tapi kenapa? Karena kalau ada kecelakaan mobil, nggak pernah diberitakan. Tapi kalau ada kecelakaan pesawat, itu beritanya sampai 3 bulan gitu. Diulang, ulang, ulang, ulang, ulang terus. Seperti itu. Bahkan yang masuk nggak, nggak, nggak, yang menarik adalah bahwa trauma itu bisa sesuatu yang kita tidak pernah alamin sama sekali. Contohnya mimpi.
Mimpi? Yes. Jadi kita cuma mimpi, misalnya dikejar-kejar singa gitu. Iya,
atau digigit ular gitu ya. Tiba-tiba kita langsung trauma, fobia sama ular. Padahal tadinya gak fobia? Enggak. Iya, benar sekali. Dan bisa jadi satu trauma yang dimana gak pernah diceritain, tapi apa yang disebut non-verbal communication dari orang tua kepada anak. Contoh, seorang orang tua yang terkena peristiwa 98. Kan itu traumatis ya. Betul. Nah orang tuanya sadar, kalau ini saya ceritakan pada anak-anak saya bisa trauma. Maka dia erat-erat pendam si trauma itu. Nah, tapi rumahnya penuh dengan tralis. Setiap kali keluar rumah, eh, tutup pintu. Masuk rumah, kemudian kunci pintu. Nah, apa yang terjadi? itu menandakan bahwa atau ingin menyampaikan bahwa di luar sana itu ada banyak bahaya. Di dalam rumah aman, begitu. Sehingga ketika anak itu keluar, dia mulai tegang. Dia melihat orang di luar itu jahat atau ya pasti bisa memanipulasi dan sebagainya. Jadi dari cerita-cerita, dari dongeng, dari apapun itu bisa menyebabkan trauma dalam diri kita.
Wow, jadi memang ada beberapa jenis ya, dari yang tadi non-verbal, terus juga yang gak kita alami sendiri juga ternyata bisa gitu ya. Berita. Atau mungkin dari lingkungan yang membentuk gitu, ada berita-berita, terus juga mungkin. Mimpi. Mimpi, dan lain-lain. Ternyata jenisnya banyak ya, Pak, trauma. Nah, terus kapan dong kita tahu, wah kayaknya gue udah trauma berat nih. Kayaknya gue harus melakukan sesuatu untuk rilis di trauma itu. Gimana tuh, Pak,
cara tahunya? Simptom-nya? Jadi, pada dasarnya, tapi sebelum kita ngomongin trauma itu harus dirilis atau apa, kita mesti tahu bahwa trauma itu terjadi. Selama ini kan konotasinya buruk, ya. Betul. Tapi sebenarnya trauma itu adalah sesuatu yang baik. Oh gitu ya? Ya, sebaiknya itu dalam arti apa? Kalau kita mau melihat maksud dari trauma itu terjadi adalah dia ingin melindungi diri kita. Contoh, saya pergi ke Tanah Abang gitu ya, lagi belanja gitu, kemudian saya ditodong. Oke, kemudian setelah beberapa saat, kemudian setelah beberapa sebulan gitu, temen saya yang bilang, ayo Bin ke Tanah Abang. Tiba-tiba badan saya gemeter gitu, teringat peristiwa itu. Saya sebenarnya, tubuh saya memberikan reaksi terhadap bahwa, eh hati-hati. Maka dia memunculkan reaksi itu untuk melindungi dirinya. agar tidak terkena peristiwa itu. Bagus gak? Bagus. Ya, mekanisme tubuh untuk melindungi dirinya. Tapi ya, tentu kita gak bisa beli belanja lebih murah, contohnya itu cerita lain lagi. Tapi kita mesti melihat cara kita melihat masalah itu masalahnya. Anda harus melihat dulu trauma itu dari sisi baiknya bahwa dia sedang melindungi
diri kita. Jadi sebenarnya cara tubuh kita merespon adalah mencoba melindungi diri kita. Jadi si trauma ini ada sisi baiknya, tapi tentu saja si trauma ini juga kalau terlalu lama dibiarkan, mungkin ini ada efek samping yang juga jauh lebih nggak baik.
Iya, betul juga. Tapi ada juga trauma-trauma yang baik. Seperti saya trauma miskin. Jadi saya nggak, saya kerja. Jadi saya mau kerja supaya karena saya pernah trauma miskin. Dan itu bagus kan, itu masuk oke-oke aja kan. Jadi gak selalu trauma itu selalu konotasinya buruk dan harus dihilangkan semua. Bahkan beberapa hal harus kita jaga juga. Nah, seperti itu. Jadi, bagaimana kita bisa tahu apa kita yang, maksud saya, perlu untuk dilakukan sesuatu. Ketika dia sudah mengganggu kegiatan kita, atau hubungan kita, atau hal-hal yang biasa kita kerjakan, kemudian hal itu terganggu oleh trauma itu, dan kita merasa tidak nyaman, pada saat itulah kita perlu untuk merilis. Tapi sebenarnya, kita mesti tahu bahwa di kehidupan kita itu kita itu setiap hari itu kan terus-terusan mengambil trauma secara tidak sadar melalui berita-berita, cerita-cerita. Ada
interaksi dengan teman, ada
interaksi dengan media. Sehingga ini tidak bisa dihentikan begitu saja. Kita adalah apa yang kita makan. Ingat ya bahwa kita adalah apa yang kita makan dan yang paling banyak kita makan. Bukan hanya lewat mulut, tapi lewat mata dan telinga. Dan kita serap itu semua. Nah, penting banget, Anda punya trauma atau tidak merasa punya trauma, kita punya teknik untuk melepaskan trauma itu setiap hari. Iya. Nah, teknik ini tentu ada banyak sekali. Yang saya pelajarinya ada sekitar 50, yaitu ada tai chi, akupressure, polarity, EFT, the hold. macam-macam seperti itu untuk melepaskan energi itu, tapi yang paling sering saya ngomongin adalah, yaitu TRE, Tension and Trauma Releasing Exercise. Nah,
ini juga menarik nih. Soalnya aku juga sempat ngobrol-ngobrol, sempat baca-baca juga bahwa TRE ini adalah salah satu teknik yang bisa dilakukan sama semua orang juga, dan ternyata efeknya juga lumayan, bukan releasing aja gitu ya, tapi ternyata efeknya juga ada keluar di badan. Soalnya kan kita selama ini mikirnya, Oh trauma. Berarti ketakutan itu terciptanya di hati dan di pikiran kita gitu. Jadi kita gak tahu ternyata badan kita itu tuh ikut merasakan si trauma itu. Itu apakah benar, Pak?
Iya. Bahwa trauma selama ini kita berpikir bahwa itu ada di dalam pikiran. Orang jaman dulu juga mengatakan bahwa kebahagiaan itu adalah di pikiran, sesuatu yang abstrak. Tapi para peneliti sekarang neuroscience mengatakan bahwa kebahagiaan kamu tergantung dari hormon-hormon yang muncul di dalam kepala kamu, seperti itu. Nah, jadi trauma juga seperti itu, secara fisik. Jadi ada sebuah sumbatan energi di dalam tubuh kita. Dan maka itu semakin tua, kita itu semakin kaku, semakin berat hidup kita. Coba perhatikan bahwa anak kecil itu kan gampang sekali memaafkan. Iya, iya, iya. Nah dia nangis air mata belum habis, dia udah ketawa lagi. Dia ngomong, saya penci sama kamu, apa adanya? Saya seumur hidup gak mau ngomong sama kamu. Apa yang terjadi? Dia setelah 5 menit ngobrol. Tapi kita yang sudah belajar macem-macem, belum memaafkan, belajar agama, belajar etika, dan begitu banyak yang kita pelajari sepanjang hidup kita. Ketika kita udah tua, senior, ketika kita punya ada masalah, kita biasanya bilang, oh nggak apa-apa kok, mbak. Tenang aja, udah aku lupain. Tapi abis lima minal Aidin, masih aja kita inget. Dendamnya ada. Artinya boh, kita setiap hari itu belajar sesuatu yang berkebalikan. Anak-anak sudah bisa seperti itu. Kenapa bisa seperti itu? Semakin hari ada luka batin di dalam diri kita. Luka batin itu trauma. Betul. Mental block itu trauma. Jadi trauma-trauma itu nempel sehingga kita perlu untuk melepaskan. Karena kalau enggak, apa yang terjadi? Kita akan mengulangi peristiwa yang sama, peristiwa yang sama. Jadi kalau dia akan terus-terusan muncul dalam diri kita gitu. Maka itu kemudian ketika kita dewasa, kita biasanya dibajak oleh dua atau emosi tertentu. Orang ketika terpicu. Iya. Nyolot, nyolot, nyolot. Sama seperti gini, kalau saya punya luka disini, Saya dipukul disini ya, santai. Saya dicubit disini, santai. Tapi ketika disini ditoel, kamu menyakitiku. Sebenarnya orang itu tidak menyakiti kita. Dia hanya memberitahu dimana luka kita.
Betul, betul, betul. Iya
kan? Selama ini belum diobatin, maka kita akan terus-terusan terpicu. Bagaimana kita tahu bahwa orang tersebut banyak trauma, banyak masalah. Ya kalau kita sensitif, kita suka marah-marah, nyolot, senggol bacok. Nah orang tersebut sebenarnya banyak trauma. Heart
rockers, apakah kamu seperti itu? Karena aku jadi merasa juga nih, kayaknya senggol bacok, dikit-dikit, marah. Iya,
kan sama seperti luka, begitu kepencet, langsung marah. Langsung
emosi, padahal sebenarnya kalau kita dicubit di tempat lain biasa aja, tapi ketika diginiin aja di tempat lukanya, langsung. Betul, itu trauma. Jadi sebenarnya, oke. Aku juga tadi pengen nanya nih. Soalnya memang aku juga mempelajari si energi ini, gitu. Bahwa si energi yang tadi terdampak di dalam badan kita itu menjadi trauma, dan ternyata itu bisa dirilis. Karena itu juga salah satu yang paling penting. Katanya merilis Stuck energi itu. Karena kan emosi itu adalah emotion, katanya gitu. Energi, emotion. Ketika energinya nggak bergerak, akhirnya jadi stuck dan menimbulkan si trauma itu. Nah, tapi kalau di teknik TRI ini nih, Pak, si trauma release ini tuh, Apakah si, dengan terapi ini, itu si blok-blok tadi itu akhirnya jadi langsung hilang, atau gimana
tuh? Iya. TRE itu kan singkatan dari Tension and Trauma Releasing Exercise, ya. Nah ketika kita melakukan, kenapa saya memilih teknik ini dari 50 teknik yang lain gitu, walaupun 50 itu tetap saya ajarkan, tapi saya fokus di sana karena teknik ini tidak menggunakan pikiran, tidak menggunakan visualisasi, harus, kan ketika kita punya masalah disuruh duduk meditasi. Nggak semua orang modern bisa duduk meditasi. Ketika tutup meditasi yang muncul mantan, yang muncul utam. Agak susah banget sebenernya. Maka apa yang kita bisa lakukan adalah kita tinggal terlentang dan tubuhnya bergetar dengan sendirinya. Ini gak pake jampi-jampi, gak pake mantra, gak
pake
kepercikan air, gak pake moda-moda gitu, gak. Bahkan Rani kalau dateng ke kelas saya bilang, saya gak percaya 100% saya skeptik, gak apa-apa. Saya gak perlu kepikiran, tapi saya perlu tubuh. Dan tubuhnya, tubuh memang setiap mamalia, sebenarnya bukan manusia saja, itu dibekali oleh kemampuan untuk melepaskan. Dan biasanya lewat getaran. Masih inget gak waktu kita kecil, kalau kita ketakutan, kita gebenter. Iya, iya, iya. Iya kan? Jadi, cara tubuh untuk melepaskan adalah dengan shaking itu sendiri. Justru
ketika kita bergerak, itu kita sedang melepaskan.
Betul. Tapi ketika orang tua bilang apa, kalau misalnya kita mau maju ke panggung, kemudian kita bergerak, orang tua bilang, shhh, malu-maluin. Berhenti. Jangan gemeter. Akhirnya kita tahan. Jadi mekanisme untuk melepaskan ketegangan itu berhenti
di tubuh kita. Jadi stuck lah itu energinya di dalam.
Dan apalagi di dalam stigma kehidupan lingkungan kita, gemeter itu adalah sesuatu yang buruk. Padahal kalau kita mau melihat, kalau kita kedinginan, kita gemeter. Tujuan tubuh gemeter atau shaking itu untuk menciptakan heat, menciptakan panas. Ketika kita tegang, yoga, kemudian gemeter. Tujuannya itu merilekskan si tension itu sendiri. So, emang ada 300 jenis tremor di dunia ini. Tapi sebagian besar di stigma atau dianggap ini buruk. Nah, Sebenarnya tremor-tremor ini mempunyai maksud tertentu, terutama si tubuh yang bergetar ketika ketakutan
itu sendiri. Jadi sebenarnya dengan melepaskan itu adalah dengannya tadi ya, ada shaking, memang ada gerakan di badan yang tanpa kita sadarin kita lakukan, sebenarnya itu kita sedang meriliskan trauma-nya. Betul sekali. Dan ini di teknik yang Pak Gobind ajarkan dengan TRI ini, itu tanpa apa-apa kita dengan perlentang, itu badannya juga bisa bergetar dengan sendirinya. Iya. Dan
itu 100%. Maksud saya, saya belum pernah ribuan orang sudah ikut pelatihan, tidak pernah ketemu satu orang yang tidak bergetar. Pasti bergetar. Cuma ada yang pelan, ada yang kencang. Tergantung
pahala dan dosanya. Tergantung seberapa banyak kayaknya trauma yang disimpan di badan, gitu ya Pak Yan. Oh, tapi Pak, oke. Ini jadi pertanyaan lanjutan nih. Karena yang namanya trauma tadi memang disimpan di dalam badan. Tapi seberapa banyak trauma yang bisa kita handle di badan kita? Karena ketika makin banyak trauma, berarti jelas releasing atau pelepasan trauma ini harus dilakukan berkali-kali dong Pak. Bukan mungkin cuma 1-2 kali.
Atau gimana? Betul. Betul banget. Bahwa Betul banget bahwa kita perlu untuk punya teknik untuk melepaskan setiap hari. Karena kita setiap hari kan bikin tegang tuh, bikin trauma. Kita perlu untuk sebaliknya bahwa kita udah canggih banget dalam mengumpulkan, menegangkan tubuh kita itu sendiri. Apalagi setiap hari pagi bangun nontonnya Puser, Serga, Patroli, siang-siang nonton ini dan sebagainya terus. Itu semua tegang. Jadi setiap hari paling nggak kita punya untuk teknik untuk melepaskan
ketegangan-ketegangan itu. Oke. Jadi sebenarnya setidaknya sehari-hari ada sedikit yang bisa kita lakukan ya. Walaupun mungkin nggak benar-benar deep sampai wah. merilis yang tahunan, gitu. Tapi setiap harinya setidaknya kita ada pelepasan dikit-dikit, gitu. Kayak mupas
bawang aja, begitu. Semakin.. Iya, layer by layer, gitu. Nah, cuma TRI ini, kelemahannya kita tidak bisa meminta, apa itu namanya, yang mau dibereskan trauma mana. Oh gitu. Iya, jadi dulu waktu sama mantan yang ketiga tuh, gue paling trauma tuh. Gue mau keluar, gak bisa gitu. Iya. Waktu dia shaking, dia mau beresin trauma 3 bulan lalu, atau 3 tahun lalu, atau waktu kita umur 3 kita gak tau. Atau dia hanya cuma mau beresin tension, bukan trauma. Iya. Dia juga kita gak tau. Tensionnya
cuma sehari-hari nih, interaksi sama bos misalnya,
sama pasangan. Iya, iya. Betul sekali. Jadi kita nggak
bisa milih. Ah oke. Jadi ketika melakukan sesi pelepasan atau trauma release ini sebenarnya ya biarkan saja gitu. Biarkan saja gitu ya. Nanti kita akan diajarin juga sebenarnya sama Pak Gobind. Tapi sebenarnya, oke Pak, kalau tadi Pak Gobind bilang, ini kan nggak bisa milih, Ran, gitu. Tapi kalau ada orang-orang yang, tapi gue tahu banget nih, sebenarnya tension atau trauma yang terjadi sama gue hari ini sebenarnya gara-gara yang Yaitu tadi yang tah di umur gue tujuh tahun, lima tahun, dan lain-lain. Ada gak, Pak, teknik yang memang benar-benar bisa membenahi itu dulu? Karena mungkin ketika itu belum benar, sekarang kita itu akan berulang terus, gitu, kejadiannya.
Betul, betul. Nah, Paulo Coelho itu pernah mengatakan bahwa saya belajar sejak lama. Bahwa ketika saya ingin menyembuhkan luka-luka batin saya, saya harus berani menghadapi mereka. Mereka. Iya. menghadapi mereka itu berarti menghadapi luka-luka itu. Jadi artinya bahwa kita perlu menghadapi bukan orangnya loh, bukan orangnya, tapi rasa. Jadi kalau saya benci sama temen saya yang 22 tahun itu belum bayar, sebenarnya saya bukan benci sama... sebenarnya kalau saya mau ketemu dia, saya gak kepingin ketemu dia. Orang bilang trauma, saya gak mau ketemu dia, saya benci. Sebenarnya bukan masalah ketemu atau tidak, masalahnya adalah ada kemarahan di dalam diri saya yang saya tekan. Saya gak kepingin ketemu marah ini. Tapi marah itu ada di dalam, di dalam diri saya kan. Saya perlu menghadapin si kemarahan ini. Jadi, sebenarnya jadi apa yang terjadi ketika saya mengingat si wajahnya dia, muncullah perasaan itu. Nah, perasaan atau sensasi di tubuh kita. Nah, disitulah biasanya trauma itu di-store. Nah, kita bisa melakukan disitu. Sebenarnya ada banyak teknik. Saya ingat Tai Chi bisa, kemudian teknik-teknik breathing juga ada juga, dan macam-macam. Tapi, saya kan bagikan satu teknik. Yang dimana, ini sangat sederhana. Semua orang boleh, nggak usah pelatihan karena kalau umpamanya teknik yang menggunakan pelatihan itu kan perlu untuk dijagain. Kenapa TRI itu harus ada, apa itu namanya, workshop-nya. Karena kita nggak pernah tahu meledaknya kapan dan kemudian terjadi relapse dan sebagainya. Beberapa kasus itu dia kembali ke trauma masa kecilnya yang dia tidak pernah sadar bahwa itu terjadi. Dan itu ternyata sangat-sangat berat. Terutama masalah-masalah pelecehan seksual, seperti itu kan selama ini kan ditekan. Iya kan? Sampai akhirnya dilupakan. Dan sampai dia nggak inget. Dan kemudian muncul di sana. Nah pada saat itu, maka itu perlu untuk dilihat. Maka itu ketika pelatihan itu saya observasi satu persatu, dan kemudian memberikan saran apa yang harus dilakukan
di rumah. Seperti itu. Wow, menarik ya. Ternyata memang banyak hal yang selama ini kita terkejut gitu. Kita cuma tekan aja, kita berharap itu bisa terlupakan, tapi sebenarnya itu bisa muncul ketika kita, ya itu, benar-benar mau menghadapi ya. Aduh, ini saya jadi kepikiran nih gara-gara Pak Gomis tadi bilang trauma sama temannya 22 tahun. Nggak bayar-bayar buta. Iya sih, sebenarnya kita mungkin bukan cuma kesel sama orangnya, tapi sebenarnya sama perasaan kita sendiri, gitu
ya Pak ya. Kita nggak pernah bermasalah dengan, manusia itu tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya. Selalu ingat. Kita bermasalah dengan ego kita, keserakaan kita, kebencian kita, ketakutan kita, kemarahan kita, dan semua yang ada di dalam diri kita. Maka itu Rani, ketika kita punya masalah, tolong jangan cari jalan keluar. Karena masalahnya di dalam, cari jalan ke dalam.
Oh, wow. Iya, benar juga ya. Sebenarnya apapun yang terjadi di luar kita, kita kesel sama siapa, kita marah sama siapa, tetap balik-balik lagi itu adalah di dalam kita. Emosinya
di dalam kan. Jadi kalau mau beresin, beresin di dalam dulu. Coba sekarang Pak
Gobi jelasin. Gimana caranya nih kita. Padahal kan keselnya sama orang lain. Biasanya kita jadi kayak pengen marah-marah gitu. Pengen, ah emang dia nih yang kayak gini, ah BCD, gitu. Gue kesel banget gara-gara dia begini, begitu, gitu. Nah, tapi gimana aja. Biasanya kan ada orang yang bilang gini, ketika kamu mengekspresikan si emosi kamu itu, gitu ya, sebenarnya itu sebenarnya sehat, gitu. Mengeluarkan emosi itu sebenarnya sehat, gitu. Tapi kata Pak Gobind, enggak, Ran, kita harus beresin juga di dalam kita. Nah, gimana nih, Pak? Ini kayaknya agak-agak bertantangan.
Mengekspresikan kitanya healthy, orangnya trauma. Benar juga. Enggak. Ketika kita marah-marah ke orang, itu enggak beresin. Betul. Kita merasa lega karena leganya kita merasa ego kita lebih di atas orang itu. Kita marah-marah gitu. Tapi kemarahan terhadap itu kesel. Dia masih cerita kok, wah gue kesel sama dia, gini-gini. Enggak beres. Iya. Beres itu berarti kita bisa memandang dia. melihat dia, melihat di sosmednya atau apa, tapi marahnya gak ada. Ingat kejadiannya. Ingat ya, bahwa kemaafan tidak terlupakan. Iya, iya. Kalau terlupakan itu ditekan-tekan. Betul. Jadi kita memaafkan yang sebenarnya adalah melepaskan energi yang tersumbat di dalam tubuh. Itulah memaafkan. Tuh,
ingat ya. Jadi, kebenaran memaafkan itu sebenarnya kemaafannya benar-benar datang dari dalam diri kita. Jadi, ketika kita lihat mukanya, udah ngeliat. Udah, lega aja. Udah, yaudah. Sudah selesai. Gitu ya, Pak Enus. Teknik yang
pertama yang sering saya bagikan adalah teknik tapping. Ini bisa dilakukan. Jadi, kapanpun kita melihat seseorang tiba-tiba mules, atau kaki lemas, atau sini tegang, begitu kan.
Rasa yang di dada tuh kayak,
wah, panas gitu. Nah, di bagian tersebut sedang ada kekacauan. Oh, oke. Nah, disitulah di tapping. Jadi, kita bisa tapping sini, atau tapping sini. Di tempat dimana ada sensasi. Di tempat
dimana kita merasa itu tegang. Betul. Ya,
ada sensasi. Jadi, sensasi itu biasanya trauma tersimpan di tempat atau dimana tubuh kita ada sensasi tersebut. Sehingga kita bisa tapping disitu. Tapping-nya tuh berapa
lama tuh Pak, Ben?
Gak ada batasan sih sebenarnya, kita bisa lakukan itu. Kemudian, itu yang pertama. Terus kemudian ada juga teknik yang berbeda. Nah ini menarik sekali adalah teknik yang saya juga bagikan di sosial media saya, yaitu begini, kalau Anda mau menghadapi, pokoknya saya mengambil foto si orang yang hutan tadi itu ya. Saya lihat, kesel kan? Marah kan? Nah yang menarik adalah ini, yaitu kita mendoakan dia. Mendoakan dia bahagia, sukses, sehat, makmur, dan sebagainya. Ya. Kenapa? Biasanya
kan orang kayak, uh nyumpahin gitu ya, oh biarkan aja, biar mati lu,
gitu. Kita tidak pernah bermasalah dengan dia. Iya. Kita itu membenci sosok yang kita ciptakan di dalam diri kita. Oh, wow. Inget ya? Bener. Bahwa dia penipu. Iya. Apakah dia seumur hidupnya nipu? Enggak kan? Di antara jutaan kejujuran dia nipu satu kali. Jadi, hidup ini mirip seperti roll kamera-kamera film yang berjalan terus, setiap detik berbeda. Itu kehidupan. Tapi, judgement kita, trauma itu adalah kita memotret satu bagian, dan ketinggalan nyimpen disitu. Jadi saya, wajahnya dia, saya taruh di satu frame, kemudian saya tampil layar. Itulah yang terus kita attack terus, kita benci disitu. Itu gak kenyataan kan? Betul, betul. Kita pasti pernah menipu. Apakah adil kalau kita disebut penipu? Iya, iya. Enggak kan? Betul. Adalah jujuran. Mungkin dia adalah seorang orang tua yang baik, ada seorang suami yang baik pada istrinya dan sebagainya. Tapi dia kepepet atau, kita gak tahu. Tapi yang rugikan kita sendiri. sebenernya kita doakan bukan dia, adalah sosok yang selama ini kita attack terus. Pak itu kan menipu pak, doa seperti itu gak tulus. Jadi kita doakan terus, maka lama-lama apa yang terjadi, hubungan kita dengan sosok yang kita ciptakan, inget ya bukan dia, tapi hubungan masalah trauma itu kita dengan sosok yang kita ciptakan itu. Sehingga hubungan kita ini baik, Kemudian baru kemudian, utang sih kita boleh tagi. Boleh tagi. Saya nggak bilang Anda membiarkan, Anda boleh tuntut-tuntutan dan sebagainya. Tapi bereskan di dalam
dulu. Iya. Justru kita salah satu tekniknya tadi, mendoakan yang baik aja dulu ke dia ya. Masuk akal
nggak gini, Ron. Gini, kalau saya nyantri, kemudian ada orang nyerobot gitu ya. Kemudian saya ambil pentungan. Kemudian saya mentungin diri saya sendiri. Masuk akal nggak? Nggak. Nggak masuk akal. Tapi coba perhatikan setiap orang di dunia ini. Ketika ada yang ngantri, ketika ada yang nyerobot, tiba-tiba apa yang terjadi? Dia kesel. Giginya begini. Jantungnya kencang. Kemudian tekanan darah tinggi. Adrenalin kacau. Kekacauan di dalam tubuh. Orang lain yang salah, dia menghukum dirinya
sendiri. Oh, bener banget ya. Saya kok jadi
ikut marah jadi. Intinya bahwa apa? Anda boleh bilang, mas, mas, ngantri gitu. Tapi ngapain Anda menghukum diri Anda sendiri dengan itu? Orang itu utang. Berarti kan merugikan saya. Kenapa saya harus memakai kebencian saya, ruginya dua kali. Beresin di sini. Beresin di dalam dulu, baru kesana.
Oke, kalau gitu Pak Gobind, mungkin ini kita sudah mau habis waktunya, jadi aku pengen minta Pak Gobind juga kasih tau dong ke Hard Rockers, gimana cara yang paling simpel untuk merilis trauma, mungkin yang bisa dilakukan sehari-hari di rumah. Iya. Yang
tadi saya bilang, bahwa ketika stres, hal yang pertama bergerak. Bergerak ya? Bergerak. Itu penting banget. Apapun itu ya? Apapun itu. Ketika stres kan kita cenderung untuk begitu kan. Padahal ketika itu tubuhnya sedang fight or flight. Nah sedang fight or flight berarti apa yang terjadi? Adrenalin naik, glikogen dirubah jadi glukosa, broncusnya lebar, kemudian nafasnya menjadi cepat, tetap jantungnya cepat. Pada saat itu, sebenarnya pembulu darah kita jadi menyempit. Nah orang dulu kan kalau dikejar macan, seperti kemarin saya cerita, dia lari. Tapi setiap hari kita ketika stres kita duduk depan laptop, kemudian nafas kita cepat, dan itu gampang sekali penyimpanan energi di situ. Jadi apa yang kita lakukan? Kita bergerak. maka itu kita penting banget olahraga itu rutin, apalagi ketika kita lagi masalah banyak, stresnya tinggi, Anda olahraga. Anda harus bergerak. Itu yang pertama. Kalau stresnya jam Senin pagi Pak ngadepin bos, masa saya harus bergerak? Nah, coba perhatikan tubuh Anda ketika tubuh Anda ada, aduh saya kok tiba-tiba mules ya. Padahal bukan karena kepengen BAB, tapi mendengar itu semua, bisa tapping.
Tapping tadi ya, boleh ya? Iya, tapping.
Anda bisa lakukan tapping di situ. Dan kemudian kalau ada kebencian, Anda bisa lakukan yang doakan orang tersebut. Sebenarnya ada satu teknik lagi, memeluk emosi. Tapi bisa lihat di sosial media saya. Saya ada bagikan
di situ. Jadi jangan lupa untuk memeluk emosi dan merilis trauma, karena trauma itu sebenarnya adalah energi yang stuck di badan kita dan jangan sampai tuh ketika energinya stuck di badan kita, emosinya atau traumanya bertambah, nanti malah yang ada menyakiti diri kita sendiri, ya kan? Yang ada kita marahnya sama orang lain, tapi yang sakit malah kita. Itu kan malah nggak baik. Malah jadi rugi dua kali kalau kata Pak Gobind. Oh my God, Pak Gobind ini kayaknya masih banyak yang pengen kita bahas. Tapi tenang aja, Haro Kers juga kalau pengen tahu lebih dalam lagi tentang TRI, tentang teknik trauma release yang Pak Gobind ajar kan juga boleh lihat di sosial medianya. Pak Gobind juga sering ya bolak-balik ke Jakarta dan beberapa kota lainnya untuk mengajar juga. Jadi Haro Kers bisa Ceki-ceki di sana. Dan pastinya thank you banget Hard Rockers yang sudah menonton dan mendengarkan episode kali ini. Mungkin yang ketinggalan sesi on airnya juga nggak apa-apa. Tenang aja karena masih ada. Akan hadir di Youtubenya Hard Rock FM dan juga di channel Spotify di ruang siar juaranya MRA Media. So, once again we would like to say thank you so much. Have a good rest. Have a really good night. Bye-bye Hard Rockers.
More from Gobind
Eps 984 - GIL4 OBROLAN INI RUBAH HIDUP GUE‼️ IKHLAS ITU SEBUAH KEBOHONGAN ! (Ft. Gobind Vashdev)
Friends of Merry Riana 13 TAHUN NYEKER, GOBIND VASHDEV UNGKAP RAHASIA YANG JARANG DIKETAHUI
Seni Bernafas - Mengenal apa itu Buteyko Breathing? Bersama @Gobindvashdev (Bagian 2)
Seni Bernafas - Mempraktikan teknik bernafas untuk hidup yang lebih berkualitas. Bersama @Gobindvashdev (Bagian 3)
