Seni Bernafas - Mengenal apa itu Buteyko Breathing? Bersama @Gobindvashdev (Bagian 2)
28 Mar 2026 · 24 min
In this Indonesian‑language podcast episode, host SPEAKER A interviews breath‑work expert Gobind Vashdev about the history, physiology, and practical application of the Buteyko breathing method. Gobind recounts the life of Dr Konstantin Buteyko, a Soviet‑era pulmonologist who, after a severe health crisis, discovered that chronic over‑breathing (hyperventilation) caused his asthma and hypertension. By deliberately slowing his breath, he restored CO₂ balance, improved oxygen utilization, and later taught the technique to Soviet cosmonauts. Gobind explains why nasal, diaphragmatic, and slow breathing are central to regulating the autonomic nervous system, increasing CO₂ tolerance, and unlocking nitric‑oxide production in the nasal passages. He describes several accessible tools – the free “Bread Ball” app, the 5‑5 breathing pattern (5 seconds inhale, 5 seconds exhale), micropore mouth‑taping, and sport masks – and how they can be used without formal Buteyko certification. The conversation also covers specific use‑cases: managing panic attacks (paper‑bag or hand‑cover breathing), reducing snoring by encouraging nasal breathing, and enhancing athletic performance through higher CO₂ tolerance and nitric‑oxide‑mediated vasodilation. Gobind stresses that breathing is the only physiological process we can consciously influence, and that proper breath control can modulate blood pressure, heart rate, temperature, and emotional state. He warns that improper practice can cause dizziness or nausea, especially for those with low CO₂ tolerance, and recommends gradual training. Throughout, he blends scientific explanations (medulla oblongata CO₂ chemoreceptors, nitric‑oxide’s role in endurance and inflammation) with everyday advice, encouraging listeners to adopt “live breathing” as a lifelong habit.
Chapters
Tadi kan udah sampai disuruh tentang Buteko ya, Mas Gopin. Sebenarnya apa sih Buteko itu?
Buteko itu adalah seorang profesor dari Ukrania. Dia dulu Soviet, kecant sekarang jadi Ukranian. Si Buteko ini adalah profesor paru-paru yang menciptakan teknik Buteko, karena dia waktu kecil itu dia punya asma, alergi, kemudian dia punya tekanan darah tinggi, di umur 29, seorang dokter mengatakan bahwa umurnya cuma setahun lagi karena tekanan darahnya cukup tinggi, 212 pada saat itu, dan kemudian dia suatu sore gitu, atau malam saya lupa, itu dia melihat taman dengan nafas yang Dia berpikir, kenapa ya saya ini, padahal gak sedang berolahraga, kok nafas saya berat seperti orang olahraga. Kemudian dia mulai merubah nafasnya, dan kemudian dia merasa kok jauh lebih baik. Nah ternyata dia menemukan kata ini, bahwa bukan karena saya asma maka saya bernafasnya seperti ini, tapi karena saya bernafas kebiasaan, bernafas seperti ini, itulah yang menyebabkan saya asma. Dan akhirnya dia membuat sebuah teknik yang digunakan diri sendiri dan berhasil. Kemudian dia juga berkeliling-keliling ke bangsa rumah sakit dan dia meneliti sebenarnya orang-orang yang mau meninggal, apa yang terjadi, nafasnya cukup banyak. Dan diukurlah, karena dia profesor paru-paru, diukurlah bahwa si paru-parunya ini kelebihan oksigen, seperti dikurang karbon dioksigen. So, akhirnya si Profesor Buteke ini akhirnya membuat teknik dan kemudian membagikan ke pasien-pasiennya dan banyak sembuh, seperti itu. Tapi lagi-lagi dia dimusuhin oleh banyak orang gitu, mungkin pabrik farmasi juga nggak suka kali. Dan akhirnya dia di-kick out, tapi untungnya di tahun 50-60an itu ada sebuah proyek prestisius dari Uni Soviet, yaitu menerbangkan manusia ke luar angkasa, dan manusia ke luar angkasa pertama itu orang Uni Soviet. Dan mereka sedang mencari seorang yang bisa melatih para astronom untuk bernafas efisien. Dan dipilihlah si Profesor Buteko itu. Dan kemudian akhirnya ilmu ini berkembang sampai sekarang.
Berarti Miles Goebbels mendalami Buteko juga?
Iya, iya. Saya senior instruktur Abuteko, saya juga instruktur dari Oxygen Advantage, itu biasa untuk para atlet dan olahragawan gitu. Dua itu yang sertifikasinya, tapi saya juga, yang TRI itu beda lagi. Itu provider TRI yang berbeda lagi. Tapi yang nafas, dua itu saya pegang.
Kalau misalnya mau belajar tentang butaiko, itu apakah bisa belajar sendiri, atau misalnya ikut pelatihan noskobin, atau apa sih cara-cara yang harus dilakukan?
Iya. Karena ini kita ngomong soal nafas. Memang sih, ketika saya bicara soal nafas ya, temennya tuh, Alvin, nafas kok belajar itu lho. Semua orang kan udah bisa, ngapain? Tapi mas, saya mau bilang, the satu-satunya, hello? Satu-satunya di dunia yang kita selalu lakukan, selalu, hanya satu, yang tidak pernah jeda, yaitu bernafas. Kemudian, satu-satunya yang bisa menembus ke sistem syaraf kita, atau ini autonomic nerve system, kita tahu kan, Back office kita kan ada sistem syaraf yang bekerja secara otomatis, yang naikkan adrenalin, atau naikkan serotonin, atau jantung, cepat atau lambat. Yang bisa membaipas masuk ke situ adalah nafas. Nah, kuncinya seperti itu di situ. Dengan nafas kita bisa meningkatkan tekanan darah, bisa menurunkan. Dengan nafas kita bisa meningkatkan detak jantung dan menurunkan. Membuat tubuh hangat, membuat tubuh dingin. Bisa membuat emosi kita naik juga sebaliknya. Dan begitu banyak yang kita bisa lakukan dengan mengotak-atik nafas ini. Tapi anehnya mas, kita belajar biologi, fisika, kimia, kotangan, sinus, ribuan jam itu yang di sekolah, saya tanya 99 persen orang melupakan, ribuan jam kita duduk di situ, dan kita melupakan hal itu. Tapi satu-satunya yang selalu digunakan itu nafas, kita nggak pernah belajar, itu menyedihkan. Kenapa buteko atau teknik-teknik bernafas itu harus ada gurunya, harus kita ikut pelatihan? Bukan apa-apa, memang ada sih teknik bernafas yang sangat soft, yang selalu saya bagikan, ada banyak aplikasinya, kita bisa lakukan itu. Enggak harus ikut buteko. Tapi kalau Butheko, memang harus ada pendamping, karena makanan ini cukup advanced. Jadi teknik ini, karena ketika kita merubah sedikit, itu melewati diet. Karena kita kalau nggak makan tiga hari, kita masih hidup. Tapi kalau kita nggak nafas tiga menit, itu berbahaya banget. Sehingga mereka yang ikut pelatihan-pelatihan nafas, itu merubah sedikit aja. Waduh itu perubahannya. Luar biasa. Kalau salah sedikit, ini pusinglah, mualah, apalah, itu bisa terjadi. Luar biasa. Tapi tenang aja, kita bisa melakukan. Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan tanpa harus ikut buteko. Dan itu akan sangat membantu sebenarnya.
Boleh dong Mas, di-sharing tekniknya untuk yang dengerin hari ini.
Tekniknya sangat gampang, bisa di aplikasi namanya Bread Ball, itu gratis. Di situ ada banyak teknik, jadi contohnya kalau kita mau relax pakai 55, tekanan darah turun 46, kalau mau tidur 478, kalau lagi asma 26, dan macam-macam di situ dijelasin. Tapi yang paling sering saya berikan adalah nafas 5-5 yang saya anjurkan, yaitu 5 detik tarik, 5 detik lepas. Dan kemudian, jadi 1 menit kurang lebih 6 tarikan, itu adalah ideal 5-6 tarikan per menit itu adalah jumlah yang ideal untuk kita bernafas seperti itu. Jadi, hal yang paling penting adalah yang pertama, dan yang paling penting kalau lupa semua, satu hal ini tolong ingat, bahwa selalu dan selalu dan selalu dan selalu bernafaslah dengan hidup. Itu, itu wajib. Dan ketika saya menggelorakan atau mengkampanyekan sebuah gerakan, namanya gerakan nafas hidup, IG-nya namanya genah gerakan nafas hidung, genah.indonesia, disitu banyak orang bilang, Gobind, memang kita selama ini bernafas pakai apa kalau nggak pakai hidung? Ternyata enggak. Banyak sekali orang yang nggak sadar bahwa bernafasnya lewat mulut, terutama waktu tidur. Sehingga saya selalu kemana-mana bawa ini micropore untuk meng-cluster mulut agar bernafas dengan hidung. Yang pertama adalah selalu bernafas dengan hidup. Kemudian yang kedua, lambatkan nafas Anda. Jadi kalau semakin lambat, otomatis kita juga akan semakin relax. Karbon dioksida akan meningkat. Yang ketiga, nafaslah menggunakan diakfragma. Diakfragma berarti kita menggunakan nafas perut. Ketika kita tarik nafas, perutnya mengembang. Bukan dadanya yang mengembang. Yang keempat adalah nafaslah dengan light. Light breathing. Jadi bukannya... Orang bilang, setiap kali kalau kita denger, eh take a deep breath, pasti gitu. That is not deep breath, that is big breath. Bedakan antara deep sama big. Deep itu adalah dalam, berarti kita menggunakan diapragma. Tapi big breath itu yang banyak, seperti itu. Karena di otak kita kan, semakin banyak udara, semakin banyak oksigen, tubuh akan dapat oksigen banyak. Gak begitu ceritanya. Bahkan berbahaya, bahkan maka itu banyak orang kemudian beli tabung-tabung oksigen dan ditempelin sini, digedein supaya dapatkan oksigen. Enggak. Kalau terlalu banyak oksigen, karbon dioksidannya menipis dan itu akan membuat sepembulu semakin mengecil. Nah kalau kita hidungnya buntu, Salah satu cara asma, kenapa seperti itu? Ya karena karbondioksidanya turun, salah satunya muncul asma atau hidung buntu itu. Maka sebenarnya itu ada respon alami tubuh untuk mengurangi kita bernafas, supaya kita membentuk karbondioksida di dalam tubuh kita, begitu. Berarti oksigen dan
karbondioksida dua-duanya kita perlu ya? Ya, jadi
ini menarik sekali, Mas. Jadi selama ini kan kita itu punya konsep yang merasanya berbeda. Yang satu adalah malekat, yang satu adalah setan, seperti itu. Tapi di dunia ini, Mas, apapun, apapun di dunia ini, yang selama ini kita ditanamkan di otak kita itu berlawanan, sebenarnya enggak. Hitam lawannya putih. Enggak, itu cuma konsep. Di mata kita, mata kan bisa dilihat merah, mejiku, hipinium, begitu kan. frekuensi paling rendah merah, frekuensi paling tinggi ungu. Di atas itu masih ada, di bawah itu masih ada frekuensi, tapi mata kita bisa melihat itu. Di mana hitam, di mana putih, apakah mereka berlawanan? Enggak berlawanan di situ. Dan kalau kita melihat Mejiku Hibinio itu adalah pelangi kan, kita bilang itu kebenaran. Tidak, itu bukan kebenaran, itu terbatasan dari kesepakatan, dari keterbatasan kita. Sama, lawan sehat itu sakit? Tidak, sakit itu adalah cara tubuh itu menjadi sehat. Ketika saya makan sesuatu dan ada bakterinya, bakterinya banyak dan saya diari, diari adalah cara tubuh untuk melepaskan Bakteri. Maksud sakit itu adalah cara tubuh untuk menjadi sehat. Ketika saya tubuh saya panas, sebenarnya itu adalah mekanisme untuk mengatakan bakteri, virus, dan sebagainya. Jadi sakit itu selalu dan selalu adalah cara tubuh untuk menjadi sehat. Jadi bukan berlawanan. Mereka itu bergampingan seperti itu. Sama seperti guru mengetaskan kebodohan. Tapi sebenarnya setiap guru itu dihargai, dipuja-puja, dapet duit karena adanya kebodohan. Jadi mereka sebenarnya saling memerlukan seperti itu. Jadi apapun yang paradoks dalam kehidupan kita ini, itu saling dekat. Lawan hidup apa mati? Enggak. Yang paling dekat dengan kehidupan, mati. Kalau lawan kan berjauhan. Ini yang paling dekat. Sehingga gak masuk akal sebenarnya oksigen sama karbon dioksida itu dipisahkan begitu. Yin dan yang itu kan Hitam dan putih itu kan berpelukan, bukan berlawanan, berpelukan. Dan di dalam hitam ada putih, di dalam putih ada hitam.
Saya rasa itu konsep. Mas, tadi ada yang tanya di kolom pertanyaan tadi, saya lihat sedikit tentang kalau misalnya teknik bernafas, tapi kita kan lagi pakai masker nih, menggunakan masker. Kalau pendapat Mas Rubin sendiri bagaimana penggunaan
masker? Enggak ada masalah, masker itu bermasalah ketika kita mempunyai toleransi karbon dioksida yang rendah, seperti itu. Itu akan menyebabkan pusing, mual, dan sebagainya. Karena kan setiap manusia itu kan punya toleransi karbon dioksida. Ini banyak orang yang salah, bahwa kita berpikir bahwa kita itu bernafas karena oksigen. Bukan. Kita bernafas itu ada atas dorongan karbon dioksida. Jadi, otak kita di belakang ini, bagian otak yang mengatur pernafasan namanya medulla oblongata, itu setiap beberapa detik dia akan mengecek kadar karbon dioksida dalam tubuh kita. Dan kalau kita punya toleransi yang rendah terhadap karbon dioksida, maka orang tersebut akan terus-terusan nafas karena toleransinya rendah. Kalau dia mempunyai toleransi tinggi, inilah yang sebenarnya akan dilakukan kalau kita berlatih butiko, otomatis dia nggak akan masalah dengan toleransi karbon dioksida, sehingga kita naik tangga nggak ngos-ngosan, kita olahraga jauh lebih enak, banyak ada ratusan keunggulan kalau kita mempunyai toleransi karbon dioksida yang jauh lebih tinggi. Masker, it's okay selama kita punya toleransi
karbon dioksida yang bagus. Saya baca lagi pertanyaan, mungkin Mas Gobind mau jawab, saat kita sedang panik, agar cepat tenang, sebaiknya menggunakan teknik bernafas seperti apa? Oke, kalau
kita lagi panik, Mas, kalau kita lagi panik, 80% orang yang kena panic attack, atau apa itu namanya, panic disorder, anxiety disorder, atau panic attack, 80% itu mempunyai BPD, breathing pattern disorder. Jadi ada kesalahan dalam pattern, itu tinggi banget, 80%. Mereka yang kena asma itu sekitar 40% juga BPD, breathing pattern disorder. Artinya bahwa awal panik itu kemudian membuat si napasnya kacau dan kacaunya nafas itu membuat pembuluh-pembuluh itu mengecil dan itu membuat kepanikan, seperti itu. Dalam keadaan panik tentu agak sulit, seandainya dibilang, ayo tahan nafas, narik nafas. Nah, pertolongan pertamanya adalah cari paper bag, paper bag apapun, nafas dengan paper bag, seperti itu. Atau kalau enggak, pakai tangkupan tangan, Supaya karbon dioksida yang keluar masuk lagi. Kemudian yang kedua, bisa juga kita melambatkan nafas kita. Melambatkan. Jadi itu bisa dilakukan, atau tarik dua, lepasnya enam, lepasnya lambat. supaya karbondioksida terbentuk di situ dan itu akan membuat relax. Gini, otak kalau lagi panik, itu kan cepat detoknya. Kalau di EEG itu kan cepat. Tapi kan kita nggak bisa bilang sama otak, ayo otak tenang, tenang, nggak bisa. Otak terhubung dengan jantung, jantung kita otomatis. Kita juga nggak bisa bilang sama jantung, jantung tolong tenang. Jantung terhubung dengan nafas. Nah, nafas kita bisa mengendalikan. Jadi karena kita nggak bisa mengendalikan yang ini, maka kita mengendalikan yang ini. Ini satu irama tubuh kita itu otak, jantung, dan nafas. Sehingga kalau kita nggak bisa mengendalikan otak dan jantung, maka nafasnya dipelanin, otomatis maka jantungnya akan jadi lebih lambat, otak pun akan mengikuti, seperti
itu. Berarti nafas termasuk pintu masuk yang mungkin ke otak kita, Ketubuh kita yang lagi panik itu termasuk ya
salah satunya? Iya, ke sistem syaraf kita. Ketika kita stres itu bukan di otak, tapi di sistem syaraf kita, stres
itu. Nah kalau misalnya yang asma atau punya kebiasaan ngorok ya, itu bisa berpengaruh
dengan teknik uteko? Sangat. Karena Buteko sendiri itu awalnya topnya memang untuk orang-orang asma, seperti itu. Sementara kalau ngorok sendiri, itu ada berbagai macam hal kenapa kita ngorok. Saya bilang tadi, epidemi yang luar biasa. Kenapa, Mas? Kalau kita lihat kakek kita, nenek kita, atau orang-orang tua satu generasi di atas kita, ada enggak sih yang pakai behel? Enggak ada loh. Gigi gitu. Tapi anak-anak milenial sekarang, siapa yang gak pake behel? Kenapa? Emang dulu giginya, jarang sekali kita ketemu orang giginya bertumpuk seperti itu. Croctate itu jarang sekali. Kenapa seperti itu? Kalau kita mau melihat di dunia kita, 5.500 mamalia, tidak ada satu punya giginya bertumpuk. Kita ngomong soal ngor. Dan dari fosil 300 tahun lalu sampai ribuan, ratusan ribu tahun lalu, tidak ditemukan yang giginya bertumpuk. Hanya kita saja. Nah kenapa? Karena semakin ke sini, rahan kita itu mengecil. Otak kita membesar, tapi rahannya mengecil. Dan ini kenapa? Karena kita tidak mengunya. Makanan kita itu 300 tahun lalu ada revolusi pangan, makanan itu lebih gampang dimasak, kita makannya bubur, makan-makan sesuatu yang sangat empuk, sosis lah, atau apapun ultra proses mie instan yang gampang ditelet, sehingga kita enggak mengunya. Dan itu membuat ini yang kecil, kemudian kita mulai jog kita karena enggak dilatih kekuatan si rahang ini, otot ini, akhirnya mulut kita kebuka. Nafas kita mulai dari mulut. Ketika nafas dari mulut, apa yang terjadi? Hidup kita bentuk. Dan kemudian si jagu ini masuk ke dalam. Dan kemudian mengorok, seperti itu. Karena kalau mulutnya terbuka, kemudian kita tidur, lidah kita jatuh ke bawah. dan menghadap ke atas, dan itu turun ke belakang nyumbat si tenggorokan kita, dan itu mengakibatkan ngorok. So, apa yang saya sarankan adalah waktu tidur, gunakan micropore, gunakannya adalah vertikal aja. Jangan pakai plaster cable atau lakban micro. Kemudian tidurlah menyamping ke kanan atau kiri, itu salah satu tipsnya untuk ngurangin ngorok. Dan tidur dengan ini tuh life hack 25 ribu, tapi bisa berbulan-bulan tidur dengan sangat bisa dicoba, kalau Anda merasa oke, tolong di-tag ya, psikologi idea atau saya, nanti akan saya, gitu. Kalau ada tanya-tanya, silahkan juga caranya bagaimana, mungkin ada yang ketinggalan. Ini di-save kan, Mas? Kenapa? Di-save, Mas,
di-save. Ini sampai sekarang udah 540-an sih yang nonton, lumayan. Biasanya kalau di-save, nanti ada sekitar 3.000-4.000. Semoga sih apa yang disajikan nanti berdampak lah buat teman-teman, supaya ikutan gerakan nafas lewat hidung tadi. Nah, tadi kan di sini nafas lewat hidung. Tapi kalau kita nguap atau kita olahraga kan secara nggak langsung kita mau hidup nafas lebih banyak tuh, Mas. Nah, cara mungkin menciasatinya gitu. Oke. Saya olahraga, Mas.
Setiap hari, ya. Setiap hari saya olahraga, hampir 5 kali seminggu. Saya menggunakan hidung, bahkan lebih dalamnya lagi, saya bukan hanya pakai hidung saja, tapi saya pakai sport mask. Jadi, sport mask ini bukan hanya berat, ini sangat
berat.
Jadi kalau saya nafas biasa, lagi duduk aja, udah berat banget. Apalagi lagi olahraga. Jadi pakai ini, mirip seperti kita berada di 3.000-4.000 meter di atas permukaan langit. Sangat berat. Tapi tetap harus menggunakan nafas hijik. Kenapa seperti itu? Jadi kalau saya lari, atau saya olahraga, mulut saya mulai kebuka nih, gitu ya. Nah, disitu saatnya dimana saya perlu untuk mengurangi intensitas. Saya nggak akan mengkorbankan, mengkompetasi kecepatan ditambah dengan nafas mulut. Saya bukan atlet, saya bukan untuk pencapaian rekor dan sebagainya. Saya berolahraga untuk kesehatan. Sebagian besar teman-teman juga melakukan itu. Sayang banget kalau seandainya kita menggunakan mulut, seperti itu. Kenapa? Yang pertama, hidung kita itu udah ada antibakterinya. Kalau apalagi kita olahraga sekarang, kebuka gitu, mumpung kan bakteri masuk. Sayang banget. Jadi hidung itu membuat si udara ini panas untuk mematikan bakteri. Yang kedua, Mas, ini yang super luar biasa, yang selama ini Menyedihkan sih ya. Ada satu zat atau molekul namanya nitrite oxide. Nitrite oxide itu dulu di fitnah, dizolimi, dianggap sebagai zat yang jelek. Tapi tahun 98, pelitian ini mendapatkan Nobel. Dan kalau sudah dapat Nobel, siapa yang bisa membantasi? Nah, dikatakan molekul ajaib. Kenapa? Karena si nitrit oksid ini diproduksi oleh para nasal kita di CV itu, memproduksi si nitrit oksid. Jadi kalau kita nafas pakai mulut, nggak dapat nitrit oksid. Emang nitrit oksid bisa apa sih? Dia menambah endurance, dia menambah stamina. Jadi stamina-nya akan sangat meningkat di situ. Kemudian nitrit oksid sebagai vasodilator, jadi melembarkan pembuluh darah. Kemudian nitrit oxide juga membuat kita menjadi lebih pintar, karena hubungan antara neurobiota itu lebih oke. Dia membawa darah yang dari bawah itu menuju ke atas paru-paru, sehingga penyerapan oksigen menjadi lebih baik. Dan dia juga mengurangi inflamasi. Kalau kita habis lari, kemudian pegel, itu ada inflamasi. Atau habis olahraga apapun, fitness dan sebagainya. So, nitrit oxide itu mengurangi inflamasi. Saya sendiri setiap kali seperti itu. Anti-inflammasi bisa dilakukan dengan cara yang lain. Seperti saya, setiap hari juga mandi pakai air es. Benar-benar air es yang minus suhunya. Itu setiap hari saya lakukan seperti itu. Nah, nitritopsid. itu juga membantu menstabilkan tekanan darah, dan banyak lagi seperti itu kegunaan nitrioksan, yang sayang sekali kalau kita bernafas menggunakan mulut. Nah, kemudian orang bertanya, dengan nafas dengan hidup, intake oksigen di dalam tubuh kita itu naik 20%. Luar biasa, banyak sekali, apalagi kalau kita mau olahraga. Gampang capek. Kemudian kalau kita habis olahraga, ada DOMS. DOMS itu Delete Offset Tunnel. Muscle sore, jadi kalau habis olahraga terus besoknya dipegang sakit, nah itu DOBS namanya. Nah DOBS itu lebih cepat recovery-nya, lebih enggak gampang capek, sakit, setelah kita pakai nafas hidup. Dan satu hal lagi, kenapa saya mengatakan tarik hidup, lepas hidup, karena 40, banyak banget. 40% uang air yang kita keluar, kalau lewat mulut, hilang begitu saja. Tapi kalau lewat hidung, 40% itu kembali lagi ke tubuh kita. Jadi kita nggak gampang haus kalau kita bernafas dengan hidung waktu olahraga. Banyak banget sih
keuntungannya. Sayang kalau nggak pakai. Perkara nafas hidung sama mulut aja padahal ya, Mas.
Hidung itu organ yang paling dispelekan, dianggap
cuma penghias saja. Saya sempat baca tentang Butaeko dari salah satu buku yang bahas tentang nafas, di bagian lampiran terakhirnya teknik Butaeko, koreksinya kalau misalnya salah, Butaeko itu konsepnya lebih ke bernafas, tapi tidak hyperventilasi, tapi bernafas secukupnya.
More from Gobind
Eps 984 - GIL4 OBROLAN INI RUBAH HIDUP GUE‼️ IKHLAS ITU SEBUAH KEBOHONGAN ! (Ft. Gobind Vashdev)
Friends of Merry Riana 13 TAHUN NYEKER, GOBIND VASHDEV UNGKAP RAHASIA YANG JARANG DIKETAHUI
Seni Bernafas - Mempraktikan teknik bernafas untuk hidup yang lebih berkualitas. Bersama @Gobindvashdev (Bagian 3)
