PILLOW TALKS - GOBIND VASHDEV: BREATHE BETTER LIVE BETTER
28 Mar 2026 · 36 min
Gobind Vashdev, a Buteyko breathing instructor, explains why most people breathe wrong and how it causes anxiety, hypertension, and asthma. He teaches the Bohr effect, why carbon dioxide matters for oxygen delivery, and a simple 5-5 count breathing technique you can do right now.
Chapters
Hai, selamat petang Hard Rockers. Selamat datang kembali. Masih di Pillow Talks bersama Rani Setari. Pastinya setiap hari Kamis dari jam 9 sampai jam 11 malam. Kita membahas semua hal yang kayaknya membuat kamu tuh penasaran. Hal-hal yang biasanya setiap hari kita ambil saja mungkin. Dan lo pengen nanya tapi bingung ke siapa. Makanya Rani selalu menghadirkan expert-expert, ya kan? Untuk lo juga bisa sambil dengerin curhatannya pada malam hari ini. Dan pastinya malam hari ini aku ada di Hotel The Westin Jakarta. Sedang meminjam, dikasih pinjam nih kamarnya yang luar biasa sekali. Ini adalah The Westin Suite. Dan pada malam hari ini aku kedatangan seorang yang aduh bener-bener menarik banget. Dari awal ngeliat profilnya di Instagram. Bapak Gobind Fajdev, apa kabar?
Kabar bahagia.
Kabar bahagia ya. Bapak Gobind ini adalah seorang penulis buku, Happiness Insight. Pekerja keras juga. Salah satu instruktur juga di Buteko Indonesia. Ini adalah instruktur bernafas, tapi juga instruktur penyembuhan trauma. Panjang ya kayaknya nih profilnya Bapak Gobind. Tapi kayaknya sebenernya ini hal yang Hard Rockers tuh perlu tahu, Pak Gobind. Karena Hard Rockers mungkin tanpa disadari gitu ya. Sehari-harinya mungkin penuh tekanan, penuh stres, dan lain-lain. Akhirnya tuh suka lupa sama hal yang kita lakukan secara subconscious setiap hari, yaitu bernafas. Bernafas kan kita nggak sadar, Pak. Autopilot. Tapi sebelum, iya kita take it for granted. Karena kita bernafas, kita punya hidung, ada udara sehari-hari, wah udahlah ya kita hidup dengan nyaman. Padahal belum tentu breathing kita, bernafas kita sudah menggunakan cara yang benar. But before we go into that, ini aku menemukan sebuah fakta yang lagi-lagi blow my mind gitu ya. Padahal udah banyak diomongin sama semua orang. Pak Gobind itu nyeker kemana-mana. Mulai diceritain, Pak Gobind udah berapa lama nyeker dan manfaatnya apa? Kenapa Pak Gobind begini?
Oke, sebelum terima kasih telah menemani saya. Ya, sudah hampir 11 tahun nyeker. 11 tahun ini nyeker. Dan alasan pertamanya adalah saya ingin membantu atau support satu gerakan di Bali namanya Soulman. Yang dimana mereka itu orang-orang yang ingin membantu anak-anak terlantar. Sebagai solidaritasnya mereka melepaskan sandal dan sepatu atau alas kakinya seperti anak-anak terlantar itu. Tapi, selain itu juga, kita tahu bahwa ada keuntungan-keuntungan dari nyeker itu sendiri, bahwa yang sekarang lagi ngetop namanya earthing atau grounding itu sendiri, bahwa kita di bumi ini terlalu banyak sudah mendapatkan ion positif dari matahari, tapi kita nggak dapatkan elektronegatif. Ketidakseimbangan magnetik di dalam tubuh kita, itu menyebabkan berbagai masalah penyakit, seperti Dikatakan stroke itu terjadi lebih banyak di lantai 2 daripada lantai 1. Jadi semakin tinggi kita tinggal, semakin gak sehat. Kita lagi di lantai 6-6.
Apartemen saya juga tinggi loh Pak, aduh saya langsung ngerasa gak grounding.
Tapi jangan khawatir bahwa grounding itu gak harus 24 jam seperti saya nyeker begini, tapi paling tidak 30 menit dalam 1 hari, hubungkan diri kita dengan batu, pasir, tanah, rumput, keempat media ini mengeluarkan elektronegatif. Dan itu akan membuat tidur kita menjadi lebih nyenyak, kemudian inflamasi kita berkurang, detak jantung kita lebih stabil, tekanan lebih stabil, dan kalau punya luka itu juga cepat sembuh, imunitas meningkat. Dan begitu banyak hal yang kita bisa lakukan dengan sebenarnya hanya melepaskan sandal dan sepatu.
Dan cuma perlu minimum 30 menit per hari. Yang penting kena tanah atau rumput atau pasir dan batu. Wow, makanya aku sering ke Bali, Hargers. Karena aku suka disana banyak patir. Cari-cari alasan. Tapi ya Pak, namanya ke Bali. Kan aku tau nih Bapak Gobind juga tinggalnya di Bali, gitu. Memang menurut aku punya sensasi yang berbeda. Ketika sampai Bali tuh kayak mainnya ke switch kayak pengen healing, gitu.
Betul banget.
Sebenarnya aku juga pengen tanya, ini kan kita tadi sempat sedikit ngobrol off air gitu. Ternyata yang namanya healing itu juga bisa kita lakukan sendiri. Menggunakan badan kita sendiri. Kita udah punya toolnya. Kalau kata Pak Gobind, kita punya toolnya, Rani. Tapi kita mungkin lupa dan tidak tahu bagaimana menggunakannya. Salah satunya adalah breathing, bernafas. Can you explain it, Pak?
Iya, ini adalah sesuatu pola yang sering kali bernafas itu paling di-underrated gitu ya.
Betul.
Bahwa selama ini kalau kita pergi ke dokter gitu ya, selalu yang ditanya, sakit apa? Kemudian setelah itu dikasih resep ya, vitamin atau obat gitu dan kemudian mulai ditanya, makannya bagaimana? Oh, makannya banyak gorengan. Oh, mulai stop ya gorengan. Oke, pola-pola makan dirubah nih untuk sehat, betul ya. Kemudian yang kedua adalah, Ditanya apakah pola gerak atau nggak, olahraga nggak, nggak pernah. Oke, mulai sekarang olahraga ya, bagus. Kemudian ditanya lagi, bisa tidur nggak? Nggak bisa. Kenapa? Stres. Ya jangan stres. Cuma dibilang jangan stres, tapi gimana caranya nggak stres?
Kan stressor kita tuh banyak, Pak, sebagai orang ibu kota.
I know, but bener kan bahwa pola makan dirubah, betul. Pola gerak, pola raga, pola tidur, pola pikir. Tapi satu-satunya pola yang gak banyak di otak hati adalah pola nafas. Padahal makan itu cuma 3 kali, olahraga sejam sehari udah bagus tuh. Tidur 8 jam, kalau tidur kita gak berpikir, berarti ada jedanya semua. Satu-satunya pola yang kita lakukan tanpa berjeda adalah pola nafas. Tapi kita gak berpikir untuk ngerubahnya. Padahal nafas kita itu terhubung dengan satu sistem syaraf yang ada di dalam diri kita yang dimana itu mengendalikan kita antara stres dan tidak. Kemudian nafas itu mengendalikan detak jantung kita mau cepat atau lambat. Kemudian suhu tubuh kita, hormon kita, dan begitu banyak sistem yang ada dalam tubuh kita. Nah ketika kita salah nafas itu Kalo kita salah makan, kan kita salah 3 kali sehari nih. Kalo kita salah olahraga, salah 1 jam sehari. Kalo kita salah tidur, ya mungkin 2-3 jam salah. Tapi kalo kita salah nafas, artinya kita salah 24 jam sehari. 25 ribu kali kita salah begitu. Jadi ketika salah nafas, itu fatal sekali. Sebenernya salah hidup kita.
Iya. Karena sepanjang hidup kita, dari kita oe-oe, buka mata, lahir, sampai kita meninggal. Itu kita bernafas.
Satu-satunya. Iya kan? Tapi kan gak banyak yang berbicara tentang nafas. Berbicara tentang diet lah, olahraga lah, dan sebagainya. Nafas kenapa kok jadi anak tiri?
Jadi, berapa pentingnya nafas dan gimana caranya kita tahu, Pak Gobind? Kalau kita selama ini, oh ternyata melakukan cara bernafas yang salah. Harus kita ubah berhati polanya. Gimana tahu ya, Pak?
Iya. Jadi, kalau saya ketemu siapapun orang di sekitar saya, yang pertama saya perhatikan adalah dia nafas pakai hidung atau mulut? Itu satu. Nah mungkin lupa memang ada orang yang gak bernafas pakai hidung. Penelitian mengatakan 25-50% orang modern sekarang itu bernafas menggunakan mulut dari skala yang biasa sampai akut. Bahkan ketika tidur itu sampai 70%. Artinya bahwa ini sesuatu epidemi yang luar biasa. Kemudian dia bernafas dengan dada atau dengan diakfragma. Itu juga adalah sekarang masalah, karena ketika kita stres, kita cenderung nafas dengan dada. Nah kemudian yang ketiga adalah nafas per menitnya berapa? Harusnya. Nah, kalau saya lihat di sekitaran kita, itu begitu banyak yang over breathing atau disebut hyperventilation. Yang tanpa kita sadari.
Iya, iya, iya. Dan mungkin ini terjadinya terlebih ketika kita lagi stress mungkin. Karena kita hyperventilating, menghisap atau menghirup udara lebih cepat dan tanpa disadari. Jangan-jangan mungkin gini ya, Pak. bernafasnya bukan cuma dari mulut, tapi dari hidung dan mulut. Mungkin nggak? Jadi, dua-duanya bekerja padahal sebenarnya tidak efektif.
Iya. Sangat nggak efektif. Kalau kita bernafas dengan mulut, otomatis lebih banyak. Dan emang salah satu faktor utama orang hyperventilation adalah mouth breathing. Yang kedua adalah stres. Karena ketika stres, otomatis kan tubuh kita itu jantungnya lebih cepat, bronkus lebih lebar, pola mata kita lebih lebar. Dan pada saat itu, nafas kita akan menjadi lebih cepat. Karena tubuhnya akan membuat adrenalin, dan kemudian glikogen dirubah jadi glukosa, sehingga pada saat itu harusnya kita dalam kondisi apa yang disebut mode fight or flight. Jadi stres itu inget ya, Rani, bahwa stres itu bukan di kepala, stres itu di sistem syaraf kita.
Sistem Sharaf ya. Ini kalau Hard Rockers mungkin pengen tau lebih banyak mungkin bisa di Google nervous system. Ini sebenarnya..
Autonomic Nerve System.
Autonomic Nerve System. Ini sebenarnya yang benar-benar inti jati diri kita yang membuat kita berjalan, bekerja adalah si nervous system ini ya Pak ya. Dan sangat dipengaruhi dengan pola kita bernafas.
Yes. Nah, ketika harusnya kita harus lebih banyak di parasimpatik atau dimana modenya itu rest and digest harusnya. Tapi, Menurut banyak yang saya baca adalah sebagian besar orang modern dan apalagi di kota-kota besar, itu mereka lebih banyak stressnya atau simpatiknya ini. Nah ini dipicu karena apa? Ya karena ada satu kata-kata yang selalu diartikan kecil. Kata-kata itu adalah, we are what we eat. kita adalah apa yang kita makan, tapi yang kita makan itu sebenarnya kan selama ini kita berpikir lewat mulut, mulut hanya cuma tiga kali yang lebih banyak ya berita dari dari gosip-gosip yang kita denger atau ada bayangkan ya kita tuh pagi-pagi udah nontonnya yang berita kriminal ntar agak siang sedikit artis gitu artis begini, artis begitu terus ada koruptor, malam hantu-hantuan ini kan Terus buka ada penculikan anak, perampokan, pemerkosaan. Ingat ya, kita itu bukan hanya kalau makanan itu kita lihat, kita nggak menjadi kenyang. Tapi itu konsumsi makanan berarti kita makan digest. Tapi berita itu tanpa harus kita lakukan sesuatu, dia langsung masuk ke dalam tubuh kita.
Oh, automatically digested. Apa yang kita lihat dan dengar masuk secara langsung ke nerf sistem tadi. Oh, wow.
Oke, otomatis kan, ketika kita lihat pemerkosaan, walaupun kita tau, tapi, oh, langsung ada suatu bagian tubuh kita yang jadi lebih tegang.
Lebih takut, tegang, hati-hati.
Hari ini kita itu juara dalam ilmu untuk membuat tubuh kita tegang. Iya kan?
Setuju.
Tapi kita gak punya teknik untuk melepaskan ketegangan itu. Ketika saya tanya temen saya gitu, dia bilang, ya Bin kalau stress-stress gampang nonton. Oh iya? Tapi nontonnya Susana bangkit dalam tubuh.
Falah dong.
Lucu banget, kita menghilangkan stres dengan bikin stres baru. Itu, itu masalahnya sekarang. Kita nggak punya tools untuk bagaimana melepaskan si stres itu. Iya kan? Paling ya lari-lari. Ngomongnya healing, tapi ngabisin duit ya. Terus, otomatis ya pulang-pulang tambah stres lagi.
Karena kebanyakan spending, akhirnya hilang. Bukan healing, Pak. Hilang duitnya, Pak. Oke, oke. Jadi, si breathing ini adalah sebenarnya bisa menjadi salah satu teknik untuk merilis stres tadi.
Yes, paling tidak mengurangin stres. Jadi begini, ketika kita stres kan jantung cepat, otak kita kan cepat ya. Betul. Lah kita gak bisa ngomong sama otak, hai otak tenang dong, tenang dong. Gak mungkin. Gak mungkin. Ya kan. Nah otak terhubung dengan jantung. Jantung kita juga gak bisa bilang, hai jantung tenang dong. Gak mungkin.
Ya.
Jantung terhubung dengan nafas. Nah untungnya nafas ini bisa berjalan sendiri, tapi kita bisa juga melakukan intervensi.
Melatih?
Iya. Atau kita intervensi, kita lambatkan contohnya. Jadi detak cepat, nafas juga cepat. Nah kita gak bisa intervensi otak, kita gak bisa intervensi jantung, maka yang bisa kita intervensi adalah nafas kita. Ketika kita nafasnya jadi pelan, maka detak jantung kita menjadi lebih lambat. Otak kita juga akan menjadi lebih relax. Maka itu gak ada satu orang pun di dunia yang bisa marah-marah dengan nafas lambat. Itu tidak mungkin. Maka daripada kita bilang sama anak kita, nak sabar, nanti dimarahin, nanti kamu kalau marah nanti Tuhan nya marah. Dihukum lah, ada neraka lah, ada ini disuntik dokter, di polisi. Daripada gitu, kita perlu untuk ngepelankan nafas, tarik nafas 4 hitungan, tahan, lepaskan 6 hitungan. Nah, hal-hal seperti itu adalah real, nyata. Kata-kata sabar itu sesuatu yang tidak nyata. Iya, iya.
Benar-benar.
Jadi itu yang dilakukan. Maka itu ada satu kata-kata, ketika kita bisa menguasai nafas kita, maka tidak ada satu orang pun di dunia yang mampu mencuri kedamaian di dalam diri kita.
Ternyata artinya deep banget ya. Jadi dengan kita mengatur, mengintervensi nafas tadi, sebenarnya memperlambat ratus hati kita, bikin cara kita berpikir lebih jelas, lebih jelas, karena kita bisa berpikir dengan perlahan, gitu ya. Dan juga pastinya ya bikin kita lebih kalem.
Lebih kalem, lebih sehat juga.
Nah, oke. Ini aku juga tertarik nih. Tadi memang Pak Gobind bilang dengan mengatur nafas kita, mengintervensi nafas kita, melatihnya biar lebih perlahan, memang bagus untuk tadi kesehatan mental. Mengatur emosional. Mungkin ada penyembuhan di sana. Tapi sebenarnya yang aku pikirkan juga, apakah dengan mengatur nafas kita tadi itu benar-benar ngefek juga secara fisik. Kalau tadi kan secara emosional ya, Pak. Tapi secara fisik ngefek juga, Pak.
Oh, sangat ngefek banget. Nah, ini yang menarik bahwa sebagian besar orang berpikir begini. Kalau saya, kita tahu bahwa tubuh kita itu 65% atomnya adalah O, oksigen.
Oksigen, betul.
Oksigen. Itu atomnya itu paling banyak adalah O. Tapi, di sisi lain, kita itu paling tidak tahan dengan nafas. Kalau kita nggak makan dalam arti 3 hari, 4 hari. Rekord dunia 382 hari orang nggak makan.
Wow.
Iya. Dan masih bisa hidup, iya kan?
Tidak ada makanan solid dan tidak ada..
Itu 382 hari, saya gak tau minum atau gak. Nah, kalau kita gak tidur mungkin bisa berhari-hari. Tapi kalau kita gak bernafas, berapa menit udah terjadi masalah fatal dalam tubuh kita. Artinya kita sangat tergantung dengan nafas ini. Nah, semua orang ketika, apalagi ketika Covid, selalu berbicara tentang oksigen, oksigen, oksigen, dan oksigen. Nah, kemudian beli tuh oximeter yang 99 dan berapa.
Itu bener gak sih Pak?
Itu bener, itu adalah darah, oksigen di dalam darah. Tapi tugasnya bukan hanya oksigen masuk ke dalam darah saja, tapi penting juga oksigen ini masuk ke dalam sel, ke dalam jaringan, ke tisu, dan itulah pentingnya satu zat yang lain yang selalu dianggap jelek adalah karbon dioksida. Kalau kita nafas terlalu banyak, maka karbon dioksida kita turun. Dan pada saat itu ketika karbon dioksida turun, maka oksigen akan sulit masuk ke dalam sel. Sehingga tidak terjadi oksigenisasi dalam tubuh kita. Maka ketika itu terjadi, maka energi kita jadi menurun. Dan memang faktor-faktor kesehatan kalau oksigen yang kurang dalam tubuh itu akan Maka itu yang di kaos saya, less is more itu bernafas lebih sedikit untuk mendapatkan oksigen lebih banyak.
Nah, ini menarik banget ya, Hercules. Ternyata dengan memperlembutkan nafas kita, sebenarnya justru kita menyerap oksigen yang lebih banyak. Di mana sebenarnya si oksigen ini jauh lebih berguna lagi untuk jaringan dalam tubuh kita, dalam otak, untuk energi kita juga. Gitu ya, Pak Gobind? Wah, ini sih sebenarnya Hercules perlu banget ya. Karena mungkin tadi kita mikir, Pak Gobind, kan kalau kita lebih banyak bernafas berarti lebih banyak dong oksigen yang masuk. Tapi kan lebih banyak juga karbon dioksiden yang masuk.
Yang keluar. Karena kita perlu, kan kita selama ini berpikir tubuh kita ini kan logis, Pak. Kalau ngambilnya banyak, dapetnya banyak. Tapi tubuh kita bukan logis, tapi biologis. Ini sebenarnya penelitian bukan baru. Penelitiannya juga dilakukan orang-orang yang mendapatkan Nobel namanya Christian Bohr sama Niels Bohr dari Denmark yang dimana disebut Bohr Effect. Bohr Effect. Bisa cek di internet, Bohr Effect itu apa. Pentingnya karbon dioksida dalam membuat si hemoglobin dan oksigen itu lepas sehingga oksigen masuk ke dalam sel. Kalau kita ngeributin oksigen, oksigen di dalam darah kita 99 persen berarti hampir jenuh sebenarnya. Jadi kita lebih pentingkan untuk untuk mempunyai karbon dioksida yang cukup, yaitu 35-40 mmHg, yang dimana itu akan sangat membantu penyerapan oksigen dalam tubuh kita. Jadi, gampangannya adalah kalau kita punya oksigen, oksigen ini, darah itu darahnya nganter. Seperti gosen gitu, nganter. Tapi kalau nganter, nggak ada gopay-nya, nggak ada duitnya, nggak ada e-money-nya, ya nggak bisa gitu. So, supaya bisa nganter sampai ke situ, nah itu. Si e-money ini yang penting, yang karbon dioksida itu. Harus cukup duitnya, saldonya.
Aduh, aduh, aduh. Ini kalau ngomongin breathing ternyata panjang dan ternyata banyak sekali manfaatnya, Pak. Tapi sebenarnya kan Pak Gobind sendiri memang mengajar ya. Bukan cuma ngasih tahu manfaatnya, tapi mengajar banyak sekali teknik breathing. Ternyata banyak sekali. Mungkin ada beberapa yang bisa dijelasin ke Hard Rockers nggak? Karena kan mungkin kita orang awam ya, Pak ya. Kurang mengerti juga. Mungkin bisa dikasih tahu nggak sih ke Hard Rockers? Ada beberapa jenis breathing yang mungkin bisa kita contoh atau lakukan.
Kalo teknik sih super banyak, mungkin ratusan. Nah kita liat Pranayama itu ada Ujaiyabhret, ada Kakobati, Basterika, banyak banget kan. Nah itu aja udah banyak tekniknya, apalagi yang lain juga. Jadi, tapi kalo secara mashab, orang bilang ya, mashabnya itu ada tiga. Yang pertama disebut Water Breathing. Ini saya mengajar dengan teknik namanya LSD, Light, Slow, and Deep Breathing. Nah ini teknik yang sangat dasar, seperti kita dapat air, ya kita bagikan ke orang-orang, nggak ada yang salah. Jadi Anda bisa belajar di Youtube, belajar dengan siapapun, itu oke, dan bisa mengajar ke orang lain. Dan yang kedua adalah disebut Coffee Breathing. Coffee breathing. Jadi sama seperti kalau kita minum kopi, kemudian kita alert gitu, semangat, itu seperti Wim Hof yang ngetop itu adalah Wim Hof. Yaitu dimana kita membuat hyperventilation, sehingga tubuhnya menjadi stress, adrenalinnya naik. Ketika adrenalin naik, maka kekebalan tubuh kita naik. Nah ketika kekebalan tubuh naik, maka dia akan bisa membuat lebih baik tubuh kita. Karena kita perlu stres, Rani. Jadi kita perlu stres. Harus, wajib. Tapi kontrol stresnya harus ada di kita. Setiap hari saya membuat stres. Jadi setiap hari saya sauna di rumah. Saya setiap hari mandi air es. Kemudian saya juga melakukan olahraga, olah nafas. Yang dimana ini membuat stress semua. Kenapa saya buat stress? Karena dengan membuat stress maka kekebalan tubuh saya naik. Tapi kalau terlalu sering stress, ini berbahaya.
Betul.
Jadi kita bisa ngatur. amount tertentu breathing sehingga stressnya terjaga kemudian itu yang kedua namanya coffee breathing yang satunya lagi adalah whisky breathing atau wine breathing tapi halal halal halal halal halal
halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal
halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal halal
halal halal halal halal halal halal halal
halal mempunyai efek untuk meningkatkan sistem parasympatik, dan ketika itu terjadi, maka halal halal tubuh kita akan membuat regenerasi sel lebih baik, dan hal-hal yang lebih baik dalam tubuh kita. Untuk tidur lebih nyenyak, kesembuhan lebih cepat, pencernaan lebih baik, nah itu di Coffee Breathing, yang saya kalau ngajar teknik ini namanya Buteyko Breathing. Oke.
Jadi yang terakhir ini sebenarnya yang Buteko Breathing itu sendiri ya Pak. Memang, oke, mungkin Herokers juga masih ada yang kurang paham mengenai si Buteko Breathing ini. Sebenarnya Buteko Breathing itu apa sih Pak? Gimana awal ini Bapak kan akhirnya benar-benar menjadi seorang instruktornya, gitu.
Jadi Buteko itu adalah Profesor Konstantin Buteko yang lahir di Ukraina, yang dari kecil dia punya masalah penyakit banyak sekali, asma, alergi, dan sebagainya. Di umur 29 itu tekanan darah tingginya 212, dan dokter pada saat itu, walaupun dia menjadi dokter, dokter saat itu mengatakan bahwa umurnya tidak lebih dari 1 tahun. Dan ketika itu dia duduk di taman dan nafasnya, Dia berpikir, kenapa saya gak ngangkat beban, saya gak melakukan apapun, kenapa kok nafas saya berat seperti orang lari gitu. Nah disitulah dia atur nafasnya dan kemudian dia merasa nyaman, hidupnya kok rasa tubuhnya jadi lebih baik. Nah disitu dia mengambil spesialis paru-paru dan kemudian menghabiskan waktu berbulan-bulan, berjam-jam setiap hari, bertahun-tahun. ngitungin nafasnya manusia yang sakit itu. Dan ternyata dikatakan bahwa sebagian besar orang-orang yang sakit itu mengalami hyperventilation. Nah kemudian dicek apa hubungannya hyperventilation dengan diabetes, tekanan darah tinggi, asma, dan sebagainya. Dan ternyata dia mengatakan bahwa sekitar 200 penyakit terkait dengan hyperventilation itu. Dan kemudian dia menyembuhkan begitu banyak pasiennya, dia pun yang tadinya dikatakan umur 30 akan meninggal, ternyata dia bertahan sampai umur 86. Astma-nya hilang, semuanya hilang, dan akhirnya Profesor Buteko itu ngetop-nya ketika dia diminta oleh Uni Soviet untuk mengajar kosmonot yang pertama. Jadi manusia pertama yang keluar angkasa itu orang Uni Soviet. Dan cara nafasnya diajar oleh Profesor Buteko.
Jadi ternyata dengan breathing teknik yang tepat sebenarnya bisa menyembuhkan. Healingnya bukan cuma secara mental atau ngatur emosi, tapi benar-benar sampai ke badan kita yang tadinya penyakit-penyakit yang bisa dibilang penyakit patal ya Pak.
Apalagi kalau sekarang modern ini paling banyak adalah kecemasan berlebih, panic attack, anxiety disorder. Itu sekarang luar biasa. Nah, 80% orang yang punya anxiety disorder itu mempunyai satu hal yang sama, yaitu breathing pattern disorder. 80%. Jadi, Anda bisa lihat orang-orang yang nafas, kalau ketika lagi stress, dia nafasnya banyak, karbon dioksidannya turun. Nah, disitulah terjadilah panic. Jadi maka itu beberapa orang menyarankan atau terapis atau dokter membawa paper bag dan bernafas di paper bag ketika panic itu datang. Tujuannya adalah untuk mengembalikan karbondioksida itu gak keluar, kembali kehirup lagi. Itu alasan.
Alasannya selama ini kita nggak tahu ya. Ternyata justru itu dipakai untuk orang yang sedang tertakut gitu ya, dan sedang kena panic attack. Biar karbon dioksidenya balik lagi. Oke. Berarti bisa dibilang teknik bernafas yang benar itu benar-benar bisa mengembalikan tubuh kita menjadi benar lagi. Nah sekarang mungkin buat high rockers, Pak Gobind bisa kasih tahu nggak sih teknik bernafas yang benar itu seperti apa? Karena dari tadi Pak Gobind bilang, run less is more. Jadi ketika kamu bernafas dengan lebih pelan, oksigen masuk lebih banyak. Benar ya Pak ya?
Betul. Betul banget. Jadi teknik yang nafas yang saya sering ajarkan, yang bisa diajarkan, karena ini adalah bukan pelatihan ya, jadi Anda bisa mendengar dan kemudian bisa membagi kepada yang lain adalah yang disebut LSD atau, pertama, yang paling pertama adalah selalu bernafas dengan hidung. Jadi kalau lupa semua pelajaran atau ilmu hari ini, satu yang selalu diingat adalah selalu bernafas dengan hidung.
Berarti tidak boleh membuka mulut ketika bernafas ya?
Betul sekali. Nah, ketika kita bernafas dengan hidung, hidung kita ini punya antibakteri, antivirus, dia juga mempunyai jaringan erektil yang bisa satu dan lainnya itu bisa mampet, satunya plong. Satunya plong itu tujuannya untuk sistem syaraf kita, menyeimbangkan sistem syaraf kita. Jadi kalau kita, gitu, oh yang di sini lebih kencang dari yang di sini, oh berarti sistem syaraf mana yang bekerja. Itu bisa seperti itu. Jadi kita bisa lihat dari sana. Nah, kemudian hidung kita juga punya, bisa memproduksi nitrite oxide yang dimana membuat tidur lebih nyenya, kemudian energi kita menjadi lebih baik, dan macam-macam. Jadi, yang pertama adalah selalu bernafas dengan hidung. Mulut tutup, olahraga pun mulut tutup, Kapan pun tidur, plaster mulut supaya kita bisa tidur lebih nyenyak. Kemudian yang kedua, coba lambatkan nafas. Nah disini kita bisa pakai teknik 4 atau 5-5, artinya 5 kali tarik, 5 detik tarik, 5 detik lepas. Tapi rasio, golden rasionya itu adalah 5,5 detik tarik, 5,5 detik lepas. Dan itu dalam 1 menit 5,5 kali nafas. Oke, itu kalau kita mau bagikan seperti itu ya. Nah jadi kita, otomatis kan kita nariknya tidak banyak-banyak begitu kan.
Pelan-pelan.
Iya pelan, dan kemudian jangan, sudah pelan jangan banyak. Kebanyakan orang selalu berpikir bahwa tarik 4 hitungan, kemudian dia tarik Terlalu deep gitu ya Pak? Itu bukan bernafas yang dekat, itu bernafas yang besar. Bedakan antara dekat sama besar. Oke, dekat itu yang keempat adalah kita menggunakan diak fragma. Ini shallow, di sini deep. Deep itu di bawah. Jadi kenapa kita harus gunakan diak fragma? Karena ketika kita tarik nafas, diak fragma kita ngembang, otomatis udara lebih masuk akan di bagian paling bawah. Nah, paru-paru kita lebih besar di bawah daripada di atas. Darah lebih banyak di bawah daripada di atas. Sehingga kalau 1 liter oksigen ditaruh, oh udah ditaruh di sini. Dan di sini, di bawah itu ditangkep sampai 7 kali lipat oleh darah. Sehingga menarik banget kan bahwa... Jadi pertama adalah nafas dengan hidung. Yang kedua, lambatkan nafas. Menarik nafasnya jangan banyak-banyak, normal aja. Kemudian, pakailah diakfragma. Itu adalah standar nafas yang ideal.
Silahkan coba dipraktekan taruh kartu di rumah ya. Tapi tadi ada satu yang menurut aku menarik nih. Tadi Bapak bilang harus selalu menutup mulut kapanpun kita bernafas. Berarti kan ini termasuk ketika kita sedang tidur. Sementara kalau kita sedang tidur, Pak, kan gak sadar tiba-tiba mulutnya kebuka, ya kan? Makanya muncullah teknik katanya sekarang mau tapping. Jadi, mulutnya atau bibirnya itu di plaster.
Betul.
Ini emang segitu ngefeknya, Pak? Dan gunanya apa sebenarnya?
Ini sesuatu yang wow banget. Ketika saya menemukan ini, tidak ada satu hari pun yang saya tidak tidur tidak pakai mouth taping. Sangking luar biasa. Nah, jadi... Dan saya ada bilang bahwa 70% orang itu mulai bernafas dengan mulut ketika tidur. Nah, kenapa kita harus memelester mulut kita? Karena kita, kenapa kalau kita bernafas dengan mulut? Kok gak jaman dulu seperti itu? Karena kita gak mengunya lagi. Makanan semua kan ringan. Sehingga otot, otot rahang kita juga gak oke. Maka itu sekarang mulai pake orang pake behel. Iya kan? Karena rahangnya numpuk, karena rahangnya kecil, karena kita gak mengunya. Jadi ini ada satu buku, dua profesor Stanford yang menulis judulnya The Story of Hidden Epidemic, menjelaskan ini lebih detail tentang bahwa kita sekarang tidak mengunya dan akhirnya jadi mouth breathing dan itu merusak gigi, merusak begitu banyak hal. Nah ketika kita tutup mulut kita, maka otomatis kita 100% bernafas dengan hidung, mendapatkan nitrit oksid untuk membuat energi kita menjadi lebih baik, anti-inflammasi, kemudian aroma mulut kita lebih terjaga. Kemudian kita juga, kan kita gak mencuci kasur kita setiap hari atau spray kita.
Betul.
Dan otomatis ada bakteri, ada virus yang masuk. Nah kalau di hidung kan pasti ada.
Ada filter.
Ada filter. Dan satu hal lagi, kalau anda sering, ini Rani mungkin pernah tau banyak orang semakin usia itu kalau tidur sering ngalih ke belakang, kencing-kencing, ya kan? Nah itu kenapa seperti itu, karena ketika kita bernafas dengan mulut, satu zat di otak kita, hormon namanya vasopresin tidak keluar. Nah ketika kita bernafas dengan hidung, maka vasopresinnya keluar. Dan vasopresin ini adalah satu hormon yang untuk menahan air di dalam tubuh. Jadi lucu banget, ketika kita ke belakang malam, kemudian kita merasa.. Ini kering gitu, dan gitu minum air lagi, begitu kan. Padahal kan ketika kita nafasi mulut, itu uap air kan banyak keluar kan. Harusnya kan habis. Enggak. Kencing, minum. Kencing, minum. Enggak, selesai-selesai.
Jadi yang paling benar adalah silahkan di mouth taping kalau mau tidur malam hari ini jangan lupa di plaster mulutnya biar benar-benar hanya menggunakan hidung saja dan mungkin kalau biar sleepnya biar tambah enak lagi pelan-pelan tadi. Lima setengah hitungan mengambil, lima setengah hitungan mengeluarkan nafas.
Tapi sebelumnya, ini karena ada pernah tahun 2019 spiral dan saya pernah di, apa namanya, dihakimi oleh para dokter-dokter itu, maka saya mau ingatkan satu, penggunaan mouth taping harus menggunakan micropore. Jangan pake lakban, jangan pake plaster. Karena banyak juga. Pak Gopind tidur, saya nyenyak, saya detect gitu. Tapi pake lakban. Ini beracun. Micropore. Kemudian letakkan secara vertikal. Jadi gak full begitu.
Hanya di sini aja ya. Micropore. Jangan pake lakban warna hitam. Mengerikan sekali itu ya. Oke, Pak. Ini kan, aduh. Sebenernya saya masih pengen ngobrol. Satu jam, dua jam, tiga jam lagi sebenernya. Tapi ini kayaknya kita sudah hampir selesai. Tapi aku pengen Pak Gobind juga ngajarin aku. Dan juga Heart Talkers. Teknik breathing yang benar. Boleh nggak kita praktekin bareng-bareng, Pak Gobind, biar Harokrash juga tau nih gimana caranya.
Ya, kita bisa lakukan teknik di berbagai cara. Bisa duduk, bisa sambil berbaring. Kalau berbaring tentu adalah teknik sebelum tidur. Nah, ketika duduk, itu usahakan bisa bersilah, bisa duduk di kursi. Tapi kalau duduk di kursi, pastikan kakinya menyentuh lantai.
Oke.
Dan kemudian usahakan tidak bersandar. Kenapa? Karena gak banyak orang tahu. Paru-paru kita bukan di depan, tapi di belakang lebih banyak daripada di depan. Jadi nggak boleh nyanyi. Maka itu tidur disarankan miring lebih baik daripada bersaing. Karena paru-paru kita lebih banyak di belakang daripada di depan. Maka itu waktu covid ada sproning, ya kan? Nah itu karena paru-paru kita di belakang, bukan di depan. Oke. Jadi usahakan tegap dan itu. Kemudian kita akan melakukan teknik nafas, let's see, 4, 4 atau 5, 5. Kita anggap 5, 5 karena 5,5 agak sulit. Maka kita duduk, kemudian tutup mulut. Lidahnya kalau bisa nempel di langit-langit, tapi jangan kena gigi, kemudian boleh buka mata, boleh tutup mata, kemudian relax, full nafas dengan hidung masuk ke luarnya, nafas normal dulu beberapa kali, Nah, ketika sudah nafas normal, kemudian saya akan menghitung 5 hitungan tarik dan 5 hitungan lepas. Dan ingat, waktu narik jangan banyak-banyak. Kalau bisa lebih kurang, kurang sedikit, lebih banyak. Jadi berhenti makan sebelum kenyang, ini berhenti nafas sebelum kenyang. Oke? Kita coba. Lepaskan nafas dulu, kemudian mulai. Tarik 2, 3, 4, 5. Lepas 2, 3, 4, 5. Tarik 2, 3, 4, 5. Lepas 2, 3, 4, 5. Tarik 2, 3, 4, 5. Lepas 2, 3, 4, 5. Tarik 2-3-4-5, lepas 2-3-4-5 Tarik, dua, tiga, empat, lima. Lepas, dua, tiga, empat, lima. Tarik, dua, tiga, empat, lima. Lepas, dua, tiga, empat, lima. Lanjutkan dengan irama nafas sendiri. Lima hitungan tarik, lima hitungan lepas.
I feel calmer already.
Yes, right.
Wow, well done ya.
Agak ngantuk gitu, relax. Di kelas Buteko atau di kelas LSD itu semuanya bilang, Pak Gobind saya ngantuk banget. Mayo Clinic pernah membuat penelitian bahwa orang gak bisa tidur atau insomnia itu lebih terkait karena faktor pernafasan daripada faktor psikologi.
Jadi ketika kita...
Karena stres kan nafasnya jadi banyak kan.
Hyperventilating.
Yes, betul. Maka kita nggak bisa ngatur sistem syaraf kita. Yang kita bisa atur adalah nafas kita. Nafasnya diatur, relax, tidur. Jadi ketika kita beresin nafas, ya tidur sih oke banget.
Boleh hadokers dipraktekan langsung pada malam hari ini. Karena tadi udah dikasih kisih-kisihnya sama Pak Gobind. Rasanya saya juga masih pengen ngobrol lagi sama Pak Gobind. Semoga kita dipertemukan lagi, Pak. Karena dari tadi saya penasaran sama masalah tadi trauma release dan lain-lain. Wah ini... Kayaknya harus next episode nih Pak ya. Tapi untuk malam hari ini kayaknya sudah cukup buat Hard Rockers juga yang mungkin ketinggalan sesi on air-nya. Gak apa-apa tenang saja karena Hard Rockers masih bisa menonton lewat channel YouTube-nya Hard Rock FM dan juga bisa mendengarkan Di Spotify, di ruang siar juara MRA Media, silahkan dicari. Mungkin bisa follow Bapak Gobind juga, mungkin pengen latihan sendiri ya. Bisa nanti mungkin mengikuti, membaca bukunya juga. Kalau gitu, sekali lagi, kami ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Hotel Westin Jakarta yang meminjamkan untuk staycation kita ala-ala ini ya, di Westin Suite-nya. Terima kasih banyak Pak Gobind.
Terima kasih, Rani.
Selamat malam, Harakers. Bye-bye. Selamat bernafas.
More from Gobind
Eps 984 - GIL4 OBROLAN INI RUBAH HIDUP GUE‼️ IKHLAS ITU SEBUAH KEBOHONGAN ! (Ft. Gobind Vashdev)
Friends of Merry Riana 13 TAHUN NYEKER, GOBIND VASHDEV UNGKAP RAHASIA YANG JARANG DIKETAHUI
Seni Bernafas - Mengenal apa itu Buteyko Breathing? Bersama @Gobindvashdev (Bagian 2)
Seni Bernafas - Mempraktikan teknik bernafas untuk hidup yang lebih berkualitas. Bersama @Gobindvashdev (Bagian 3)
