Eps 984 - GIL4 OBROLAN INI RUBAH HIDUP GUE‼️ IKHLAS ITU SEBUAH KEBOHONGAN ! (Ft. Gobind Vashdev)
28 Mar 2026 · 69 min
In this Indonesian‑language podcast episode, host Deddy Corbuzier interviews wellness practitioner Gobind Vashdev. The conversation moves from philosophical reflections on personal responsibility for emotional pain to concrete lifestyle practices. Gobind argues that blaming external people for our suffering prevents self‑healing; we must own our anger, hatred, and trauma. He links this mindset to everyday choices such as trusting investments, accepting fault after accidents, and relinquishing the need for a scapegoat. The dialogue then shifts to Gobind’s work: he lives half‑time in Bali and travels across Indonesia conducting weekly trainings that combine TRE (trauma‑releasing exercises), breathwork (Buteyko, Wim Hof), “force mindfulness” (a technique to deliberately shut down mental chatter), and other somatic practices. They also touch on broader health topics covered earlier in the episode – minimalism in personal hygiene, intermittent fasting, sauna‑ice contrast therapy, grounding, veganism, and criticism of processed‑food industries. The hosts repeatedly emphasize the importance of internal observation over external blame, concluding that the conversation is unfinished and promising future episodes.
Chapters
Mandi nggak pakai sabun juga berarti kan?
Nggak pakai sabun, nggak pakai sampul, nggak pakai pasta. Dan yang menarik adalah penelitian tentang mouthwash. Bahwa mouthwash, ada 2, paling nggak jurnal yang pernah saya tahu. Bahwa satu adalah membuat si tekanan darah tinggi, yang kedua diabetes.
Anyway, gue denger kalau lu nggak percaya juga dengan kata-kata sakit hati.
Yes, betul banget. Sakit hati karena omongan orang? No way. Itu hoax. Nggak ada orang di dunia yang marah-marah dengan nafas lambat. Nggak mungkin. Melambatkan nafas adalah nyata daripada, nak sabar, nak sabar. Nanti kamu dosa loh kalau marah nanti dihukum sama Tuhan. Nanti kamu dibakar.
5, 4, 3, 2, 1. Gobind Fazdev. Baik, bro.
Terima kasih sudah datang.
Senang bertemu.
Oke, terima kasih.
Jadi, Indonesia aja bahasa Indonesia.
Iya, betul.
Jadi, gua ngikutin lu punya banyak hal, pada dasarnya. Dan gua suka. Gua suka. Gua ga bisa melakukannya. Gak bisa ngelakuin, tapi gua suka. Dan gua suka ide tentang minimalis di dunia. Karena ponakan gua, ponakan gua itu mandi gak pakai sabun.
Bagus. Kenapa harus?
Ini gue suka. Dan gue baru baca jurnal, ada yang mengatakan bahwa sebetulnya manusia mandinya 2 hari sekali gak apa-apa.
Iya, 1 minggu 2 kali. Betul banget. Itu penelitian sih.
Iya, gue baca penelitiannya. Kita mulai dengan itu ya. Kita mandi seminggu 2 kali. Tapi kan kita lengket, kita bau, kita kotor gimana?
Iya, semua tergantung dari kebiasaan sih. Jadi contohnya waktu saya nggak pakai sampo, awalnya kan lengket, awalnya nggak nyaman ya. Tapi setelah beberapa saat, itu nggak terjadi sama sekali. Ini kurang lebih gini, kita punya anak nih umur 12-13 atau 14 tahun, dia punya kamar gitu, kamarnya berantakan. Abis itu besok ibunya datang bersihin. Kemudian berantakin lagi. Bersihin lagi. Bersihin lagi. Dia kan tergantung dengan ibunya kan. Kita tiap hari sampoin. Akhirnya tergantung dengan sampo itu. Mekanisme untuk membersihkan dirinya sendiri nggak ada. Tapi ketika anak itu dibiarkan sebulat berantakan, bau, dia pun nggak nyaman kan. Akhirnya kemudian dia mulai melakukan sendiri.
Jadi Anda mengatakan bahwa pikiran kita dan otak kita.
Badan
kita cukup pintar untuk tahu apa yang harus dilakukan. Jadi kalau kita nggak pakai sabun, mungkin sehari, dua hari, tiga hari. Oke, saya melakukan intermittent fasting. Kadang-kadang saya bisa nggak makan tiga hari. Biasanya saya makan cuma omat. Pertama-tama memang susah. Awalnya ada 12 jam, 14 jam. Tapi sekarang kalau saya makan lebih dari sekali malah nggak enak badan saya. Jadi badannya menyesuaikan diri.
Bahkan yang diajarkan di pelatihan-pelatihan saya, bukan ingin promosi atau apa. Tapi ada satu teknik namanya TRE, Tension and Trauma Releasing Exercise.
Tension and Trauma Releasing Exercise, oke.
Apa yang terjadi? Kamu hanya berbaring, dan tubuhmu akan bergerak sendiri. Tidak ada mantra, tidak ada visualisasi, tidak ada sugesti, tidak ada hipnoterapi, tidak ada apa-apa. Meskipun, contoh nih, aku skeptik 100 persen. Nggak percaya. Aku tidak peduli. Aku tidak butuh otakmu. Aku butuh tubuhmu. Hanya berbaring dan tubuhmu akan bergerak. Nah, tapi selama ini yang model-model gini itu selalu ada bumbu mistiknya. You know, roh ini, itu. Atau paling nggak si gurunya bilang, aktivasi kundalini lah, aktivasi cakra lah.
Itu yang bikin gue nggak percaya masalahnya.
Yes, karena itu nggak perlu sama sekali. We are magician, right? Magician kan nggak percaya seperti itu.
Nggak percaya, karena gua dilahirkan mempelajari untuk hal-hal mistik bahwa ini bisa jadi trik.
Yes, betul banget. Kita di satu line yang sama. So karena itu kemudian belajar itu, dan kemudian sekarang bikin pelatihan, semua orang bisa getar.
Jadi basicnya badan kita yang ngatur?
Yes, body intelligent. Jadi tubuh kita punya kemampuan untuk bergerak sendiri. Sebenarnya waktu kita kecil, ketika kita takut, kita gemeter kan? Betul? Ketika kita kedinginan, kita gemeter. Tujuan dingin dan gemeter adalah menciptakan panas. Ketika kita takut, gemeter, melepaskan ketakutan. Jadi tubuh punya mekanisme itu. Cuma mekanisme itu dibunuh, dimatikan, ketika kita udah mulai manggung, kemudian mulai gemeter kan? Malu-maluin aja. Stop! Akhirnya mekanisme yang harusnya lepas itu, kita tahan.
All I know, bahkan shaking itu bisa, shaking itu berguna, little shaking itu berguna untuk ngerilis tension sama fat bahkan.
Betul sekali. Waktu masuk ke es, dan ketika kita shaking, itu adalah cara untuk lepasin fat terbanyak.
Dan fatnya fat yang ini, internal fat yang susah untuk dibuang.
Betul sekali. Exactly.
Okay, so let's back ke nggak mandi. Jadi kalau kita nggak mandi 2 hari, 3 hari, kecuali kalau kita kena sesuatu ya, kalau kotor mungkin ya. Misalnya kecipratan lukur ya harus dibersihkan dong. Dibersihkan air oke. Mandi nggak pakai sabun juga berarti kan?
Nggak pakai sabun, nggak pakai sampo, nggak pakai pasta.
Sikat gigi nggak pakai pasta?
Nggak.
Oke. Kenapa?
Reason-nya, satu adalah hampir semua pasta punya detergen. Dan saya pikir detergen bukan untuk mulut kita. Dan yang menarik adalah penelitian tentang mouthwash. Bahwa mouthwash, ada dua, paling nggak jurnal yang pernah saya tahu, bahwa satu adalah membuat tekanan darah tinggi, yang kedua diabetes. Karena dia mematikan begitu banyak bakteri baik, enzim-enzim yang harusnya membantu dalam proses pencernaan tersebut. Jadi itu nggak terjadi. Jadi kalau kita lihat bahwa seluruh orang jaman dahulu ratusan ribu tahun itu nggak apa-apa, baik-baik saja, kenapa kita harus menggunakannya?
Masalahnya gini, semua yang lu omongin itu gua tahu. Karena gua juga tertarik dengan hal-hal seperti ini. Tapi untuk ngelakuinnya belum lah.
Satu hal ini selalu ingat, yang paling berat di dunia ini bukan menjalankan, tapi mikirin sesuatu yang belum dijalankan. Waktu saya mau nyeker, itu perlu 1 tahun untuk mikirin itu. Begitu dijalankan, ya Allah cuma gini aja. Tapi kita perlu alasan kuat. Kita harus punya alasan kuat. Dan kita perlu tambahan-tambahan ilmu lain lagi. Dan kemudian supaya langsung jalan.
Oke, kemarin gua ngobrol sama dokter. Dokter bilang, gua tuh harus pake sunscreen. Karena kalau nggak penuaan wajah dan semuanya.
Oke, kebanyakan orang yang bilang sunscreen urusannya dengan kanker dan sebagainya gitu ya. Kalau kita mau melihat peta yang di Eropa ya, mereka-mereka yang kena kanker kulit, yang bagian atas itu lebih banyak dapet daripada yang bagian bawah. Artinya kayak Spanyol, Portugal, dan sebagainya, itu lebih sedikit dapet daripada yang bagian atas, yang jarang kena matahari. Kalau matahari itu bikin kanker, harusnya yang di bawah dong yang kena, seperti itu. Tapi lagi-lagi, Saya nggak dalam posisi untuk sebagai peneliti atau apa. Tapi sebagai orang yang berpikir bahwa ini untuk apa? Dulu itu sabun cuma satu. Sekarang ada sabun wajah, sabun kemaluan, sabun tangan, sabun badan, ada conditioner, ada tonis. Untuk apa? Ya, bisnis. Apakah perlu? Enggak tahu. Tapi ya rasanya enggak.
Karena katanya kalau nggak pakai sunscreen, penuaan wajahnya.
Iya, itu ada penelitian sih. Betul, penuaan.
Tapi oke juga kan tua.
Enggak ada salahnya. Masalahnya kan bukan, masalahnya apakah tua itu kelihatan atau body aging-nya. Itu yang lebih penting kan.
Iya, betul. Karena kalau tua body aging beda nih sama Usia sebenarnya beda nih.
Kronologi sama biologi.
Biologi beda. Betul. Jadi orang bisa tuh umur 60, tapi badannya masih umur 40. Umur 30. Ada orang umur 30, badannya umur 60.
Betul banget.
Jadi kalau kita bicaranya kanker bukan karena matahari atau karena apa. Kamu setuju kalau gue bilang muslih karena, selain kalau dibilang karena turunan dan DNA dan sebagainya. Kamu setuju kalau gue bilang karena makanan?
Salah satunya ya. Tapi kita lupa bahwa makanan itu bukan hanya dari mulut. Dari mata, dari telinga, itu juga kita adalah apa yang kita makan. Apa yang kita makan itu, ini cuma 3 kali. Tapi dari mata dan telinga lebih banyak. Tapi yang jauh lebih banyak lagi dan orang nggak banyak tau atau nggak banyak khawatir adalah nafas. Satu hari kita makan 1-2 kg. Kita nafas 10-20 kg. Tapi kenapa nggak ada yang berbicara soal nafas?
Kayaknya banyak deh. Tapi orang nggak terlalu peduli karena mereka merasakan bahwa nafas itu sudah dilakukan secara tidak sedar. Sebenarnya nafas itu bisa dilakukan secara sedar. Kayak Windhoff.
Betul. Bisa juga seperti itu. Tapi sebenarnya kita bisa programming mind kita. Sebenarnya bukan mind, tapi satu reseptor yang ada di dalam otak kita. Agar kita bisa nafas lebih lambat. Coba sesuatu hal lah. Gampangnya sebelum itu saya tanya, kita bernafas untuk apa?
Untuk, secara sains atau pertanyaan sederhana? Untuk hidup?
Enggak, bukan hidup. Maksudnya..
Ngarik oksigen masuk ke dalam?
Enggak.
Enggak? Oke. Stress relief?
Enggak. Keinginan manusia bernafas bukan untuk mendapatkan oksigen. Tapi untuk melepaskan karbon dioksida. Jadi sinyal utama nafas kita bukan oksigen, tapi karbon dioksida. Jadi otak kita sebenarnya itu mengecek kadar karbon dioksida di dalam tubuh kita.
Kalau lu ngomong begini, artinya pada saat kita mengeluarkan nafas kita pelan-pelan, heartbeat kita turun dong?
Betul. Tentu saja. Ketika kita melepaskan nafas pelan, parasympatik aktif. Parasympatik aktif pasti turun. Jadi kalau waktu kita tarik nafas, ini simpatik aktif. Tegang. Lepas nafas. Semakin lambat kita melepaskan nafas, otomatis kita akan turun detak jantung lebih, langsung bisa turun. Itu otomatis. Ketika kita ada kecelakaan di depan kita, kita ngapain? Kita tarik nafas, tegang, tubuhnya langsung tegang. Tapi ketika kita, contohnya ada dokter bilang, operasinya ibu kamu itu udah aman kok. Jadi, langsung relax. Jadi, ketika kita bisa mempertahankan tariknya 4, lepasnya 6, atau lepasnya 8, jadi kita mengaktifkan parasimpatik. Sebaliknya, kalau kita mau aktif, mau bikin kopi, mau dapetin energi, Itu kita akan stres. Nah ketika stres, adrenalin naik. Dan adrenalin naik, kita dapat.. Iya, iya.
Tapi kan artinya itu harus mengenal secara konsyus. Mengenal secara konsyus. Gak bisa secara subkonsyus dong.
Bisa. Jadi yang seperti yang saya ajarkan, nama tekniknya adalah Buteko. Buteko adalah profesor paru-paru dari Rusia, dari Uni Soviet, yang mengajar orang pertama keluar angkasa. Kosmonot pertama keluar angkasa itu dia yang ngajak. Terus dia itu dari kecil lahir, dari kecil dia punya asma, alergi, tekanan darah tingginya waktu umur 29, 220 persatu 120. Dan kemudian dia melihat taman dan... Kenapa nafasku begini? Aku gak angkat berban, gak ngapain, kenapa kok nafasku begini? Nah dia mulai atur nafasnya. Ketika dia mulai atur nafasnya, detak jantungnya turun, tekanan darahnya turun. Kok bisa seperti itu? Nah kemudian disitulah dia mengambil spesialis paru-paru dan meneliti hampir semua pasiennya. Dan dari ribuan pasien itu, mereka melihat bahwa ada satu kecenderungan sama yaitu hyperventilation. Yaitu bernafas melebihi daripada yang seharusnya. Kalau kita menurut buku kedokteran sekitar 6 liter. Berarti 12 kali nafas per menit harusnya manusia. Tapi karena stres, karena mouth breathing, kita bernafas lebih dari itu. Nah, ketika nafas lebih dari itu, maka karbon dioksida turun dalam tubuh kita. Ketika karbon dioksida turun, maka pembuluh darah menjadi mengecil, kemudian kita menjadi lebih stres, hormonal terganggu, dan oksigen tidak bisa masuk ke dalam sel. Jadi nafas yang banyak itu malah mengurangi oksigen. Maka itu less is more, it's less breathing to make oksigen lebih banyak dalam tubuh kita. Dan ini bukan sesuatu yang baru, ini sesuatu yang bore effect 1904.
Tapi tadi balik ke pertanyaan tadi, artinya kita harus consciously know how to breathe. How come? Kalau kita tidur gimana?
Jadi gini, seperti saya bilang tadi, bahwa manusia itu bagian otaknya yang ngurusin nafas namanya respiratory center di medula omblogenata itu ada reseptor tentang ngecek karbon dioksida. Oke? Dia ngecek karbondioksida. Jadi kalau orang-orang yang toleransi karbondioksidanya rendah, eh ada karbondioksida, lepas dong. Karbondioksida, lepas dong. Lepas dong, lepas. Sehingga dia nafasnya cepat. Ketika kita memberikan latihan selama satu bulan, maka toleransi karbondioksida menjadi lebih tinggi. Ketika toleransi menjadi lebih tinggi, maka ini yang terjadi. Ada karbondioksida, santai. Ada karbondioksida, santai. Eh banyak, baru lepas. Jadi lebih pelan. Tadinya toleransinya, ini terlalu teknis sih sebenarnya. Ini di pelatihan. Tapi intinya bahwa kenapa orang olahraga, ketika olahraga kita kan penuh dengan karbondioksida. Tubuhnya dikasih karbondioksida terus kan. Otomatis toleransinya meningkat. Setelah toleransi meningkat dalam sehari, detak jantungnya turun kan. Karena toleransinya udah biasa. Jadi yang ngatur itu karbondioksida itu. Nah selama ini karbondioksida selalu dianggap negatif. Karbon dioksida itu setanya, oksigen adalah malaikatnya. Tapi yin dan yang nggak pernah dipotong garis terkeras. Tapi inget bahwa oksigen nggak bisa masuk kalau nggak ada karbon dioksida. Pernah nyoba Wim Hof? Ketika kita mencoba Wim Hof, apa yang terjadi? Kesemutan, kebas. Kenapa? Kita napas banyak kok. Tapi kenapa kena semutan? Karena oksigen nggak bisa masuk ke dalam sel. Kenapa nggak bisa masuk? Karena nggak ada karbon dioksida. Itulah teori. Itu hyperventilation. Bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh bagus. Tapi digunakan dalam waktu.
Dia buat stresnya untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Karena ketika karbon dioksida turun 50% dalam tubuh kita, adrenalin naik 360%. Ini yang dibuat untuk mandi es. Oke? Dan ketika stres, adrenalin naik, tubuhnya otomatis berpikir, gila, ini kok stres. Maka dia akan naikkan kekebalan tubuh. Nah, itulah cara terbaik untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Menciptakan stres setiap hari. Karena setiap hari kita hidup terlalu enak.
Ya, seperti latihan. Saya melakukan latihan setiap hari. Pada dasarnya, saya olahraga karena saya tahu itu menciptakan stres. Karena jaman sekarang itu stres harus diciptakan.
Ya, betul. Karena kita terlalu enak. Kakek nenek mau yang kita ke dinginan, di salju, puasa, nggak dapat makanan. Kita lihat aja.
Bukan semua stres adalah stres buruk. Itu yang saya mau ngomongin ke orang-orang. Saya makan puasa kenapa? Karena ingin menciptakan stres di badan.
Ya, betul. Olah raga, olah nafas, sauna, mandi air es.
Oh, aku suka sauna.
Sauna.
Aku suka sauna. Harus. Aku suka.
Mereka 4 kali sauna dalam 1 minggu, itu heart attack-nya bisa turun sampe 50%.
Ya, aku suka itu. Dan kadang-kadang kalau sauna mana kuat sama siapa gitu. Ga kuat mereka ikut gue. The pain, yang kerasan. Wow, udah parah banget. I enjoy it. Tapi enjoy itu begini. Enjoy itu, I enjoy the pain. Ya.
Semua orang sukses harus bersahabat dengan pain.
Oh aduh enak banget, sakit banget ya Allah, napas susah banget. Tapi enjoy lah. I don't know you know about this or not. Tapi gue ngelakuin, what they call it? NSDR? Yoga Nidra. Ya, I'll do that also. Kalau pagi-pagi, kalau tidurnya kurang and everything. Kalau yang belum tau, Yoga Nidra atau NSDR, non-sleep deep rest. So you lay down tiduran, dan lu atur napas pelan-pelan, and you imagine every part of your body, step by step. Katanya ngebantu untuk deep rest katanya. I don't know it's true or not, but I'm doing it for years already.
Good. Yoga nidra is very good.
So it's okay?
Oke. Oke banget. Oke banget. Oke banget.
Anyway, gua penasaran ini pester buat apa ya?
Tadi disuruh. Karena ini adalah dulu sempat viral, sempat luar biasa, sempat dicacimaki, dan juga disidang sama dokter-dokter. Karena plaster ini. Karena gara-gara ngajarin orang untuk tidur pakai plaster mouth tip.
Nanti dia nerangkin aja lah. Tapi mood breather tuh jelek loh. Mood breather itu bukan hanya jelek untuk nafasan dan sebagainya, nanti tugasnya Govind aja. Mood breather itu jelek buat muka lu. Karena muka lu berubah kalau lu mood breather.
Am I right? Itu betul.
Kalau lu mood breather, ini berubah, idung jadi bengkok.
Ini masuk ke dalam. Betul sekali. Dan kita manusia adalah makhluk yang paling buruk dalam pernafasan. Dari semua makhluk yang ada di bumi. Gak ada di dunia, dari 5500 mamalia yang diteliti itu, tidak ada satu pun yang kruk tip, gigi bertumpuk. Nggak ada. Coba kita lihat kakek nenek kita. Pernah nggak ada giginya numpuk? Nggak ada semua. Dari ribuan fosil yang, jutaan fosil yang diteliti apapun, tidak pernah satupun fosil yang giginya numpuk. Kenapa seperti itu? Kenapa? Karena rahangnya kecil. Kenapa rahangnya kecil? Karena kita tidak mengunya. Kenapa nggak mengunya? Karena semua makanan gampang dikunyah. Mie instan, bubur, roti, sosis. Kalorinya naik, kita nggak ngunya. Gila ini. Kalau baca buku judulnya The Story of Hidden Epidemic, dua profesor dari Stanford kalau nggak nulis, dia menulis ini udah epidemi parah sebenarnya. Tapi kenapa kita nggak neributin itu?
Wah, kalau mau ngomong itunya, konspirasinya adalah Food Corporation. Karena setahu gua ya, Food Corporation itu sampai ngeluarin miliar dolar, bukan hanya untuk rasa. Mereka tuh ngeluarin miliar dolar, bahkan untuk tau kalau digigit bunyi krecaknya gimana di mulut. Karena bunyi krecak itu bisa bikin adaptif. Kita adik dengan hal tersebut. Jadi mereka menghabiskan miliar dolar untuk kita makan.
Iya. Itu sih gila.
Iya. Dan kadang-kadang makanan-makanan yang super ultra food, ultra processed food. Itu gila lagi malah. Bisa ditaruh, nggak basi, dan kita bisa makan, dan kita dimakan kita ngerasa enak, ngerasa apa, empuk, dan sebagainya.
Dia mengaktifkan beberapa bagian dari otak kita dan memunculkan beberapa hormon tersentuh sehingga kita addict disitu.
Kalau gue sekarang ya, gue bahkan sudah mulai jarang, gue mungkin salah ya. Gue bahkan sekarang sudah jarang makan buah. Karena GMO. Gue nggak tau apakah buah ini benar-benar buah, atau buah yang ditaruh dimana, atau buah yang disuntik apa. Karena sekarang kalau buah yang dijual karena manis. Karena manis.
Betul banget. Pisang awalnya itu banyak bijinya, dan kemudian rasanya nggak manis. Apel juga dulu kecil sekali awalnya. Semuanya udah rekayasa. Sekarang juicy, manis, GMO semua ya?
Genetic Modified Organ.
Itu udah kemana-mana, udah nggak bisa lepas lah kita. Apapun, you name it.
Iya sih. Iya. Ayam juga, suntikan sekarang.
Suntikan, hormon. Antibiotik. Antibiotik terbesar di dunia untuk binatang, bukan untuk manusia.
Gua udah suka makan salmon. Katanya salmon paling parah suntikan. Katanya yang paling aman itu ikan lele.
Oh iya.
Katanya.
Saya vegetarian, saya vegan.
Oh iya, kamu vegan.
Saya vegan, jadi tidak pernah berpikir tentang itu.
Oke, kamu vegan sejak?
33 tahun. Waktu umur 19 udah jadi vegetarian. Waktu dulu kita masih ketemu juga itu, udah vegetarian. Tapi dulu kan nggak ada istilah vegan. Baru 13-14 tahun terakhir baru vegan. Vegetarian. Jadi masih minum susu. Vegetarian kan itu bisa masih ada yang minum susu, ada yang makan telur, ada..
Lu vegan kan?
Sekarang vegan.
Vegan tuh artinya?
No animal thing.
No animal products. Susu nggak?
Nggak. Susu nggak?
Telur nggak?
Telur nggak. Anything nggak?
Fish juga nggak?
Nggak. Any.
Apapun.
Apapun.
Oke. Protein dapet dari?
Protein dari kacang, dari tahu, dari tempe. Ya, you know, that's that thing.
Tapi gua penasaran deh, Bro. Kenapa tiba-tiba lu begini? Kayaknya waktu dulu gua kenal lu nggak begini.
Sudah vegetarian.
Tapi you're not doing this, right?
Iya, enggak. Karena mikir. Karena sebagian besar orang nggak mikir pada dasarnya. Karena kan waktu pakai sabun itu, kenapa orang semua pakai sabun ya? Jadi gini, gue punya rumah di Ubud, kecil, di tengah sawah. Terus mandi. Setiap orang boleh datang.
Setiap orang. Dulu di Jakarta ya?
Dulu di Jakarta, 7-8 tahun, bangkrut. Setelah bangkrut, tos. Bangkrut. Bisnis bangkrut.
Gimana pada saat gua kenal lu tuh?
Ya, nggak tau itu udah bangkrut belum. Tapi harusnya belum waktu itu. Itu tahun berapa itu? Di bawah tahun 2000-an. Iya, 9 sekian.
Masih main sulap ya?
Main sulap, betul. Kita main sulap.
Terus lu ilang ya?
Ilang, ke Bali. Ke Bali. 2002 itu ke Bali.
2002 itu ke Bali? Gila, kita tua banget berarti bro.
2002 ke Bali, habis bangkrut, mau cari, mau apa namanya, mau kerja lah, whatever lah. Cuci piring atau main sulap, whatever lah. Pokoknya, dan bom meledak. Dan kalau bom itu meledak beberapa menit.
Iya, hampir.
Malam itu ke rumah sakit, angkat jenazah, bantu dokter utopsi, 4 bulan kurang lebih ngurusin itu semua. Ada 202 jenazah dan 5 ribu potongan tubuh pada saat itu. Dan dari situlah kemungkinan berubahnya, sih. Terus abis gitu dari situ mulai ada, karena ngelihat begitu banyak kejadian di situ, terus ada satu Solidaritas Internasional untuk Penyembuhan Trauma, itu dia perlu sekitar 20 orang dilatih secara khusus untuk belajar trauma. Healing, self-healing dan sebagainya. Dan kemudian mulailah boleh belajar gratis, tapi berbagi setelah itu. Karena begini, kalau ada satu bom Bali atau gempa Aceh dan sebagainya. Mungkin ada seribu orang meninggal, tapi ada ratusan ribu orang trauma. Kalau kita satu-satu seperti ini, kita perlu berapa ribu psikiater atau psikolog, akan perlu lama. Maka apa yang kita lakukan adalah kita mengajar kelompok 20 orang, dan 20 orang ini diajarkan, kemudian dia bisa mengajarkan yang lain, mengajarin yang lain, mengajarin yang lain. Akhirnya kesembuhan lebih cepat. Itu yang terjadi. Datang ke Yayasan, ke Pantiasuan, ke Kuningan, Bom Bali, gempa Aceh, gempa Jogja, ke daerah-daerah konflik dan bencana, dan ngajar di sana.
Jadi awalnya itu. Tapi bro, curiosity ya. Lu tuh turunan India. Karena orang India atau tidak? Napas dan sebagainya. Itu orang India.
Nggak ada urusannya. Malah belajarnya dari Rusia.
Belajarnya dari Rusia?
Iya, orang Rusia maksudnya. Malah nggak ada. Malah bukan Pranayama atau yoga.
Kundalini gitu kan?
Nggak, sama sekali. Malah ini semua kebalikan dari apa yang dipercaya orang dengan aktivasi-aktivasi cakra dan sebagainya.
Maksudnya kalau Kundalini setahunya kita dulu Kundalini Dek. Terus lu mulai lepas sepatu.
Ya, itu 12 setengah tahun lalu.
Itu pertanyaan bodoh ya? Nggak pernah ketancep paku, beling gitu?
Sekali.
Sekali?
Selama 12 tahun ketancep itu pun di Belgia. Lucu banget ya. Di Belgia, bukan di pasar apa di sini gitu. Nggak.
Di Belgia?
Di Belgia. Kemudian ada... Bukan paku sih, sebenarnya... Apa itu ya? Ya, besi lah segini gitu. Naim plak gitu. Tapi itu... It's only 2 hari kok. Nggak apa-apa. Nggak masalah.
Nah selama ini, lu udah 12 tahun nggak pakai sepatu beling?
Nggak pakai.
Maksudnya lu jalan masa nggak ada beling atau apa?
Jadi gini, selama 1 tahun pertama kan evaluasi, bulan ke-9 kena beling kecil, bulan ke-9 kena stepless. Tapi, tunggu dulu, nggak berdarah, cuma tek, oh apa ini, siplas, copot. Bulan ke-11, ada bling kecil, itu pun nggak berdarah, cuma gesek gitulah. Terus mikir, ini ratusan ribu kali jalan, langkahnya kan, kena dua, nothing lah. Berarti yang ditakutin apa gitu, yaudah jalan terus lah. Akhirnya ke salju, ke gurun, ke mana, ke seluruh dunia.
Kalau gue nanya, alasannya apa nih? Lo akan balikin lagi ke jaman-jaman dulu? Enggak, enggak. Ketika orang masih tidak pakai sepatu. Jadi lo bisa merasakan bumi.
Malah gak nyaranin setiap orang melakukan sama sih.
Oh iya?
Iya. Jadi ceritanya itu, 13 tahun lalu, ada satu kelompok orang-orang asing kecil di Bali, yang dimana mereka itu Datang ke Indonesia dan melihat banyak anak terlantar. Dan mereka ingin menggalang dana untuk anak-anak terlantar. Dengan jalan berjalan kaki sepanjang 500 km. Dan sebagai solidaritasnya mereka melepaskan sandalan sepatu itu. Tapi sepanjang perjalanan mereka mengambil si anak-anak yang malnutrisi, anak-anak yang dipasung, dan sebagainya. Mereka melakukan itu. Setelah 500 km, mereka udah ngumpulin duit nih ya. Karena kan dia kan orang bule itu kan cara ngumpulkan uang begitu kan. Oke gue jalan 500 km, lu mau kasih berapa? Oke 1 kg, gue kasih 1000. Berarti 500 km, 500 ribu dia dapat lah seperti itu. Nah, nama kelompoknya namanya Soulmen. Setelah mereka kumpul, mereka selesai 500 km, mereka kumpul sama anak-anak terantar itu. Ada selebrasi kecil. Lah, dos gue datang ke sana. Main sulap sama anak-anak itu. Main sulap sama anak-anak itu. Mereka kenal. Kenal lah sama si Robert itu. Namanya Robert Epstein. Nah, kemudian setelah berapa bulan, kan udah lewat kan. Tiba-tiba di Sarawak, bule datang gondrong. Hai Gopin, apa kabar? Saya baik-baik saja. Apakah Anda masih ingat saya? Aduh, mati aku, siapa namanya bilang. Ah, maaf, aku lupa nama kamu, tapi kita pernah ketemu. Saya seorang soulman. Oh iya, acara itu. Langsung lihat kakinya. Loh, kamu kok masih nyeker? Bukannya acara sudah selesai. Enggak. Sampai kapan? Nah jawaban sampai kapan inilah yang jelep. Dia bilang, sampai tidak ada satu anak pun di Indonesia yang terlantar. Dan ini pekerjaan seumur hidup loh. Yes. Terus saya mikir, dia orang asing, datang ke Indonesia, mau melakukan hal tersebut. Saya lahir di Indonesia loh. Minjak bumi Indonesia, ngirep udara Indonesia. Apa yang saya bisa lakukan? Apa yang bisa saya lakukan? Satu tahun, satu tahun mikir, mikir, mikir. Akhirnya, oke. Saya nggak bisa bergabung sama situ. Tapi saya akan lepas patu, dan kemudian bawa slide kemana-mana. Jadi kemanapun presentasi, setiap minggu kan pasti ada presentasi kemanapun. Selalu bawa. Bukan untuk minta orang nyeker. Tapi, lakukan sesuatu untuk bumi ini, untuk manusia, untuk hewan, untuk whatever. Kalau kita pada dasarnya bawa... Ada banyak orang yang beruntung di sekitar kita. Lakukan sesuatu untuk kehidupan ini, untuk menjadi lebih baik. Jadi, lakukan gerakan-gerakan kecil untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik. Itu yang pertama. Yang kedua, ada penelitian namanya EARTHING. Dikatakan hari ini kita punya masalah karena kita mendapatkan ion positif dari matahari banyak, tapi kita nggak dapatkan elektron negatif. Ketidakseimbangan magnetik di dalam tubuh kita menyebabkan berbagai masalah. Ada yang bilang bahwa strok itu terjadi di lantai 2 lebih banyak daripada lantai 1. Sehingga semakin tinggi kita tinggal, sebenarnya semakin nggak sehat. Saya nggak bilang orang harus 24 jam nyeker, tapi setidaknya 30 menit. Hubungkan dengan batu, pasir, tanah, rumput. Keempat media ini mengeluarkan elektronegatif. Nggak harus jalan-jalan loh, hanya menghubungkan.
Di rumah bisa nggak?
Bisa, tapi selama batu, pasir, tanah, rumput.
Kalau di rumah ada tekel?
Tekel nggak bisa, nggak bagus. Keramik, tekel itu nggak oke. Keluar aja, walaupun kita di apartemen, keluar aja pergi ke mana itu. Di depan ada rumput atau di kolam renangnya, tempel. Apalagi sekarang wifi di mana-mana. Handphone nggak lepas dari kantong kita. Ini kan radiasi semua. Nah, penelitiannya ada 20 jurnal yang bisa dibaca di situ, bisa menurunkan tekanan darah, menurunkan gula darah, dan heart rate kita menjadi lebih stabil, terus mood kita, inflamasi, yang paling banyak tentang inflamasi, dia akan turunkan inflamasi kita. Jadi ada banyak. Hanya 30 menit sehari, batu, pasir, tanah, rumput. Itu saja. Itu yang kepingin di itu.
Oke, pertanyaan bodoh. Bolehkah kita bawa sebuah kotak isinya batu, pasir, dan saya letakkan kaki saya?
Ya, sebagian orang melakukan itu sih.
Atau dia harus terlubung ke Earth-nya?
Yang ada sekarang adalah sejenis bantal atau apa yang digabung, dicolokin gitu. Kan itu ada ground-nya. Dicolokin itu. Nah itu.
Betul.
Iya negatifnya. Basically itu sih. Terus yang ketiga adalah, you know, kalau 17 tahun nggak pakai sabun, sampo, pasta. 12 tahun nggak beli sepatu dan sandal.
You save a lot of money.
Yes, yes, yes. Banyak orang bilang, Gobind pantes kaya. Udah makannya sayur, nggak makan itu. But, Semua uang itu setiap tahun kumpulin untuk mereka-mereka yang membutuhkan.
Itu sebuah magis nyata.
Tapi, ini baru pertama aku mau munculin di sini. Ada kemelekatan identitas Gobind dengan Nyekar. Maka itu kepengen sekali lagi membulatkan tengkat untuk pakai sepatu dan sandal. Untuk menghancurkan si ego identitas itu. Seperti Anda! Saya belajar dari Anda! The best magician in Indonesia, lepasin itu semua. Dare. Itu kan gak gampang. Itu kan gak gampang. Iya betul kan. Tapi itu lah, bahwa hidup kita ini bisa sukses kalau kita mau berani ngelepasin si pantat yang menempel itu kan.
Iya, karena menurut gua pada saat itu, gua sudah lama, terus pada saat itu lagi top-topnya kan.
Iya, betul, betul.
Gila itu. Gua mau tau, salah satu alasannya adalah gua mau tau kalau gua stop, apa yang akan terjadi pada gua.
Iya, iya. Mungkin setelah ini gua pakai. Wow.
Lu masih main sulap nggak?
Main di pelatihan-pelatihan selalu, masih sedikit-sedikit.
Gue juga masih main, sedikit-sedikit gue juga masih main. Cuman kalau gue udah nggak komersil, tapi gue masih main. Karena ya nggak bisa hilang.
Tapi lagi-lagi sulap itu kan bukan masalah sulap, tapi cara berpikir manusia. Itu yang paling penting. Dan sekarang sedih banget sih karena Indonesia.
Indonesia itu pesulapnya, karena sekarang banyak orang di Indonesia. Bukannya Indonesia di mana-mana, itu pesulapnya main sulap karena main sulap. Jadi akhirnya sulap tuh nggak ada artinya. Zaman kita dulu tuh kan.. Satu mainan, lu pikirin pattern, rutin. Mainan bodoh, stupid tricks. Kita mikirin berapa lama untuk pattern-nya.
Ceritanya, pattern-nya.
Bukan straight of hands-nya.
Straight of hands-nya emang gampang, semua orang
bisa bikin pattern, cerita, meaning. Sampai ketika orang dengar, gimana caranya orang dengar ini bisa sedih, bisa masuk ke dia, change their life.
Ada satu hal yang aku mau cerita ya. Waktu Deddy masih di RCTI di awal-awal, masih konsentrasi. Salah satu produser itu datang, dia bilang, mau nggak masuk?
Oke.
Mau dong, siapa yang nggak mau? Terus dia bilang, tapi main apa? Ngomong-ngomong, aku mainnya close-up, blablabla di sini-sini. Tapi nggak, nggak boleh. Mesti main yang bizar atau apa itu, yang pokoknya setan-setanan gitu lho. Pokoknya yang mendatangan roh dan sebagainya. Seperti, you know, something like. Nggak bilang, nggak bisa. Saya itu belajar sulap untuk mau mengatakan pada kehidupan ini bahwa trik-trik apa sulap-sulap yang dipakai dukun-dukun itu semuanya palsu. Dan saya kepengen mengatakan, mencerdaskan masyarakat bahwa jangan pakai hal-hal seperti itu. Ini cuma trik semua gitu. Sementara kalau dibayar untuk membuat orang percaya bahwa hal itu malah ada, malah nggak oke. Nggak oke. Jadinya ya nggak cocok. Jadi ya nggak mau.
Nggak mau. Kenapa gua nggak pernah tau cerita ini?
Peter yang tau.
Peter yang tau?
Peter yang tau.
Ya Tuhan. Dulu kita ketemu di mana dia?
Banyak. Di RCTI dulu sering banget. Terus pertama kali di mana lo? Grand Indonesia. Masih di restoran? Masih ingat? Pertama kali, saya datang ke restoran itu, terus Deddy datang. Terus, ya saya tahu trik ini. Itu awal pertama kali ketemu. Di Grand Indonesia, di restoran yang di bawah itu.
Ini ada orang India, siapa?
Wow.
Jadi hidup berubah ya, Bro?
Ya, hidup berubah.
How about the family now?
Ya, tinggal di mana tuh? Di Denpasar.
Ngikutin gaya lu nggak?
Nggak sih. Ya, kita nggak pake sabun sampo memang udah lama banget sih. Tapi ya, minim gitu. Seperti itu.
Oke. Tadi kita belum ngasih tau nih, kalau nggak pake pasang gigi karena deterjen. Kalau nggak pake sabun karena?
Karena nggak perlu. Sebenarnya tubuh kita punya cara untuk melepaskan kotoran-kotoran itu.
Kalau ada orang yang bau badan.
Saya mau tanya, bau badan itu karena apa?
Bakteri.
Bukan keringat kan?
Bukan.
Yes, betul. Dan bakterinya ada di mana? Apakah ada di sini?
Bukan, di kelinjar.
Ya, di ketia ini. Di situ lah. Seperti itu. Ya beresin di situ aja. Ngapain mesti seluruhnya?
Gitu.
Ya, maksudnya ada produk-produk alami yang lebih oke gitu.
Tawas, tawas.
Ya, tawas lah, baking soda. Gini, intinya gini. Organ terbesar di dalam tubuh kita adalah kulit. Kulit tidak ngeluarkan saja, dia menyerap juga. Setiap hari kalau kita meletakkan benda-benda itu, dia sedikit banyak akan terserap oleh tubuh kita. Oke? Dan kita nggak sadar hal itu. Bahwa kita hari ini begitu banyak racun yang tertumpuk dalam tubuh kita. Kita tahu bahwa, ada penelitian bahwa seorang wanita setiap tahun rata-rata sekitar 1,2 kg meletakkan kimia-kimia itu ke dalam tubuhnya. Melalui makeup, melalui macam-macam seperti itu. Mau nggak mau terserap di dalam tubuh kita. Jadi ya, kenapa nggak cari yang lebih alami, dan kemudian kalau bisa nggak pakai, kenapa nggak pakai. Bel, ini bukan saran kesehatan ya. Ini bukan saran kesehatan, saya bukan dokter, saya bukan ahli, dan sebagainya. Tujuan Gobind untuk tidak melakukan ini adalah satu, sebenarnya memberdayakan diri. memperdayakan bahwa tubuh kita itu mampu punya kemampuan-kemampuan itu. Kenapa harus ditaruhin begitu banyak yang kemudian merusak tubuh, merusak lingkungan, dan tubuh kita jadi nggak bisa terberdaya karena hal tersebut.
Mungkin karena mereka ingin terlihat palsu, mereka ingin terlihat cantik. Gak kita ngomong itu ya, kita ngomong yang lain ya.
Gak apa-apa sih. Ya gak apa-apa, semua orang punya ego.
Tapi yang lucu ya, banyak orang yang ngomong sama gue, bahwa kalau cowok tuh enak tuh, kalau jerawatan jarang, kalau ini jarang, ya paham sih, karena kita jarang taruh apa-apa di muka kita.
Bisa jadi.
Bisa jadi gitu kan, kita gak pernah tau juga.
Banyak juga yang bilang, Pak Gobind setelah saya lepas sampo, saya lepas sabun dan sebagainya, kemudian jerawatnya hilang. Ya, bisa jadi. Bisa jadi seperti itu. Mungkin setelah nyoba macam-macam dan berjuta-juta, coba nggak melakukan apa-apa.
Coba nggak apa-apa.
Nggak ada salahnya.
Less is more. Nah kalau sakit gimana? Lu masih mau minum obat nggak?
Ah oke. Kalau sakit, ke dokter. Oke? Ke dokter untuk diagnosis. Kenapa? Tipes kah? Apakah? Karena dokter punya dashboardnya kan. Kita tahu darah kita, apa yang terjadi kan kita punya dashboard itu. Dari situ kemudian apa yang kita harus lakukan. Dan contoh, oh ini karena hal ini, yaudah kita pakai. Coba usahakan untuk kalau pen killer sebenarnya kalau nggak dikasih nggak apa-apa. Bisa tidur, ya oke istirahat. Atau kunyit, atau apa. Yang sesuatu yang benar-benar yang lebih alami.
Up until apa lu makan obat dokter?
Contoh seandainya kecelakaan. Das.
Ya kalau itu nggak usah ngomong.
Ya oke, mau seperti itu. Atau memang benar-benar nggak bisa ditoleransi. Gini. Banyak orang berpikir bahwa kalau Gobind nggak pakai sabun berarti anti sabun. Bahwa Gobind nggak minum obat berarti anti obat. Nggak. Nah sama sekali. Dokter. Bahkan gue tuh kepengen jadi dokter dulu itu. Tapi nggak mungkin.
Tapi kalau gue lihat justru kata-kata less is more itu bukan kata-kata nul. Less is more artinya minimal. Artinya kalau makan obat dokter pun minimal yang diperlukan. Apapun minimal, itu kan intinya kan?
Betul. Kita ngurangin, kalau selama kita bisa memanfaatkan diri kita, memberdayakan diri kita, kenapa kita harus sebentar-sebentar pusing. Kita nggak cari, ini pusing kenapa gitu loh. Pusingnya karena posturnya salah, atau dehidrasi, atau ada apa-apa, cari dulu.
Kadang-kadang seorang berpikir, kalau gue makan obat satu enak, kalau gue makan tiga lebih enak lagi. Iya dong, karena gue pikir kalau gue painkiller satu enak, kalau dua lebih enak. Belum lagi toleransi badan kita ke painkiller dan ke obat-obatan tersebut. Akhirnya lu bahkan udah gak Goldilocks principle ya, lu bahkan less udah.
Dan bahaya antibiotik luar biasa. Antibiotik bisa membuat miliaran orang tersembuhkan. Bahkan manusia itu bisa berkembang jadi 8 miliar karena ada penemuan antibiotik. Kalau nggak kan pasti seperti dulul 1, sekian miliar. Nah apa yang terjadi? Tapi sekarang, penelitian sekarang itu banyak ke mikrobioma. Pernah dengar itu ya? Dan antibiotik itu ini. Nah salah satu kenapa kok mikrobioma kita semakin hari semakin kecil? Karena hidup kita terlalu bersih. Ini penelitiannya di sukuh Hadza atau yang di Afrika itu mereka dicek. Dan ternyata ada 770 mikrobiome. 700 sekian lah. Orang-orang di New York dicek, ternyata cuma 200 sekian. Semakin diversitasnya besar, jadi semakin sebenarnya orang itu oke.
Di Indonesia juga?
Indonesia nggak tau, belum tau. Tapi kita mesti cek sih. Setiap orang mesti cek stul test gitu paling tidak untuk tau mikrobiome apa. Karena kalau ada bakteri tertentu yang tidak ada, maka dia nggak bersintesis jadi melatonin. Kita nggak bisa tidur. Bahkan nggak bisa tidurnya gara-gara bakteri yang kurang. Ini kita sangat berkurang. Dulu kan nggak pernah kepikiran kalau depresi itu bisa jadi karena mikrobioma itu sendiri. Iya, karena hormon-hormon kita dibentuk oleh bakteri. Ingat ya, dari satu sel manusia itu ada sekitar 20 bakteri. Jadi tubuh kita ini 95% bakteri. Jumlah ya, bukan volumenya. Oke? Jadi sebenarnya kita ini manusia tuh bakteris. Di China sana, di China sana percaya bahwa kalau kita mau panjang umur, kita penting banget untuk menjaga ini. Jadi kalau kita ingin hidup panjang ya, kita harus hidupin menjaga yang hidup di dalam diri kita, yaitu mikrobiome. Dan makanan ultra proses makanan dan yang begitu banyak kimia dan sebagainya seperti itu. Iya, iya. Itu betul sekali.
Ini itu ya, Gobind. Saya tahu tentang ini. Saya tahu tentang mikrobiome ini. Saya pelajari tentang mikrobiome ini. Tapi saya belum pernah nyampaikan ini ke orang-orang. Karena menurut saya agak sulit untuk menerangkan orang-orang tentang mikrobiome. Jadi, Anda menerangkan ini ke mana-mana tentang mikrobiome.
Iya. Menerangkan ini. Menurut saya sih kita harus ngomongin hal-hal seperti ini atau sesuatu yang sensitif. Karena nanti kalau ini dibicarakan yang sensitif ini lama-lama nggak sensitif. Orang mulai aware.
Kalau ada orang yang nanya, oke ini microbiome apa blablabla, oke microbiome itu bakteri yang hidup di sini, dalam guts kita. Tapi gimana supaya jaganya gimana? Adakah makanan-makanan tertentu?
Iya, makanan Indonesia sebenarnya banyak yang fermentasi. Itu aja dimakan. Tempe, oncom, tape, apapun lah yang punya fermentasi kimchi itu yang di luar negeri, nato, terus sauerkraut, atau sesuatu seperti itu. Itu yang akan membuat si mikroba yang berkebun. Berkebun itu keluarin banyak bakteri yang kita bis gitu. Di blue zone itu mereka para berkebun semua. Salah satunya karena hal itu. Kita nggak sadar hal seperti itu.
Jadi Anda bilang bahwa hidup jangan tahu bersih-bersih amat juga ya?
Ini dokter Os yang bilang ya, kalau kita pakai sabun, kita membunuh 5.000 bakteri buruk, betul. Tapi kita juga membunuh 50.000 bakteri baik. Kita bunuh setannya, tapi cilakannya, malaikatnya juga mati. Masalahnya malaikatnya 10 kali lebih banyak. Jadi ya, bukan anti itu. Yes, gunakan seperlunya. Gunakan dengan bijak. Gunakan dengan
bijak. The fact now, Gobind, banyak anak-anak sekarang yang gen Z itu definitifnya lebih cepat stres. Dibandingkan umuran kita. Iya sebenarnya sih kalau gua menjawabnya sederhana bahwa kita dulu gak dikasih waktu buat
stres.
Kita dulu stres mau ngomong sama
siapa. Jadi kenapa kita stres? Karena kita nggak bergerak. You know, Universitas South Australian itu Februari 2023 bikin jurnal atau penelitian laporan mengatakan bahwa latihan itu 1,5 kali lipat lebih efektif daripada konsulin atau medikasi. Kalau kita kasih obat, 20-30% efektifnya. Tapi kalau kita olahraga, 40-60%. Tapi kita masih bergerak, kita masih ngejar bis, kita masih melakukan apa. Tapi sekarang kita diem. Dan tau dari 111 negara di dunia, Indonesia nomor satu yang paling males bergerak. 3.300 langkah. Di atas itu Arab Saudi. Arab Saudi 3.500 langkah. Bayangin ya, orang Arab yang kaya dan gurun itu masih banyak yang bergerak daripada kita. Kita ada Gosen, ada GrabFood, ada apa dan sebagainya. Semua coba bayangin setiap orang. Nomor satu siapa? Hongkong. 6.800 langkah. Dan angka harapan hidup tertinggi sekarang ada di mana? Di Hongkong. Oke. Dan nomor selanjutnya Jepang, kemudian Singapur. Singapur 83 tahun angka harapan hidup. Dan orang di Singapur hanya 11% yang menggunakan, yang punya mobil. Mereka dipaksa untuk bekerja. Mereka bergerak. Dan namanya gula itu kan dibatasiin banget. Dengan iklan yang iklannya sebaliknya. Kita ini. Oh disini
mah gula dipromosikan. Yes. Itu dia. Kalau Indonesia?
Kenapa? Harapan hidupnya. Berapa ya? 67 atau segala. Jadi kalau kita lahir di Singapura atau lahir di Hongkong, itu kita masih punya 18 tahun ekstra. Artinya kita masih, yang disini cuma lihat cucu, disana bisa lihat
cici. Salah satu
hal itu. Tentu ada banyak hal. Tapi kalau kita mau melihat itu, bahwa bergerak adalah faktor penting. Kita itu manusia diciptakan untuk tidak duduk, tapi bergerak. Ya kalau kita lihat 3.300 langkah itu rendah sekali. Rata-rata manusia 5.500. Dan tadi lu mengatakan bahwa
ternyata 1,5 kali lipat lebih
baik kita olahraga, daripada konsulin. Iya, itu penelitiannya.
Ya makanya ada meme tuh. Tadi pagi gue baru baca meme. Going to gym because I don't have money for go to my therapist. Yes,
exactly. Gini, yang gua ajarin sekarang. Sekarang itu, banyak orang stres. Selama ini, orang stres itu disuruh positive thinking. Suruh itu, model-model seperti itu. You know, salah satu kenapa Indonesia nggak maju. Karena kita terlalu spiritual. Dalam arti apa? Kata-katanya coba lihat ya. Ikhlas, menerima. Pasrah, eh gue lagi gondok duit gue dimakan sama dia. Suruh ikhlas, ikhlas gimana? Nantikan dibalas sama Tuhan. Ya kalau dibalas, kalau cuma diret aja gak dibalas gimana? Tapi intinya bahwa sering kali kita gitu, coba tanya sama mereka yang bilang ikhlas itu bagaimana caranya. Kita suka dengan kata-kata abstrak, kita suka dengan bahasa-bahasa yang indah spiritual. Tapi gimana caranya? Sabar. Sabar itu gimana? Tekan emosinya. Caranya gimana? Kan nggak banyak. Iya, itulah masalah. Dan itulah yang gua ajarkan sekarang. Jadi kan ini tubuh, ini pikiran. Ini lahir, ini batin. Ini fisik, ini mental. Ini kelihatan, ini nggak kelihatan. Di antara yang kelihatan dan tidak kelihatan, ada jembatan. Namanya nafas. Sekarang kita punya 3 pilar. Pikiran, nafas, tubuh. Kalau pikiran lagi kacau, ya jangan pakai pikiran lagi. Kita masih punya nafas dan kita punya tubuh. Gerak kan tubuh. Kalau gerak nggak bisa. Contohnya lagi meeting nih. Stres gimana nih masa gerak-gerak. Ya nafasnya yang diatur. Karena gini, ketika kita stres, otak kita cepat sekali. Bisa nggak kita bilang, hai tenang otak, nggak bisa. Karena otak itu dikendalikan sistem syaraf yang bekerja secara otomatis. Otak terhubung dengan jantung, jantung kita cepat. Dan jantung terhubung dengan nafas, nafas kita cepat. Kita nggak bisa intervensi otak, kita nggak bisa intervensi jantung, tapi kita bisa intervensi nafas. Ketika nafasnya dilambatkan, detak jantungnya menjadi lambat, otaknya juga tenang. Nggak ada orang di dunia yang marah-marah dengan nafas lambat. Nggak mungkin. Oke? Jadi nafas, melambatkan nafas adalah nyata daripada sabar, sabar. Nanti kamu dosa loh kalau marah, nanti dihukum sama Tuhan, nanti kamu dibakar. Wajah Tuhan yang tadinya indah, penuh senyum, welas asih, jadi kejam bakar dan sebagainya. Ini siapa yang mengganti seperti ini? Kemudian kita berharap kita hidup dengan welas asih, sementara setiap hari ngasih ketakutan-ketakutan seperti itu. Loh, daripada gitu kenapa nggak, nah oke tarik nafas, tahan dulu secenak, lepaskan pelan. Pelan, pelan, oke pelan. Lebih pelan lagi. Dengan cara seperti itu. Dan itu ada sesuatu yang nyata yang dilakukan. Bukan sesuatu yang diawang-awang sabar, ikhlas. Saya rasa itu simpel. Kenapa Indonesia jangan buang sampah sembarangan ribuan kali, jutaan kali kita lihat. Tapi kenapa itu? Karena kita dari kecil diajarkan cuma teori-teori itu. Kita nggak bisa sabar dengan baca kitab suci. Kita harus berpraktek kesabaran. Kalau kita lihat di Finlandia, di Jepang dan sebagainya. Peran Jepang kan namanya tong sampah itu jarang sekali. Tapi dari kecil diajarin. Buang sampah, diajarin cara untuk ngantri, diajarin tentang sesuatu yang remeh-temeh. Bahkan dia nggak diajarin kalau ada benda ketinggalan gitu, kamu jangan ngambil, nanti dosa, kamu nanti dihukum, dan sebagainya. No, mereka nggak ngajarin ketakutan, tapi dibangun empatinya. Dia bilang gini, oke. Kamu pernah kehilangan? Pernah. Gimana rasanya? Sedih. Oke. Orang ini lagi ketinggalan. Kalau ketinggalan gimana rasanya dia? Pasti bingung. Kalau kamu ambil, dia balik gimana? Dia kesedih. Enak nggak sedih? Nggak enak. Oke. Kalau gitu biarkan saja. Yes. Dibangun empatinya. Dibangun cintanya. Bukan ditakutin. Tapi dibangun cintanya. Dia jadi ngerasain empatinya. Maka itu negara itu kan aman sekali. Gua pernah ketinggalan kembali dan sebagainya di tengah kota Tokyo yang sangat rame itu berjam-jam. Kembali. Masih...
Biasanya logiknya dinaikkan juga. Tidak ditakut-takuti dengan cerita-cerita mitos-mitos. Karena lama-lama ketika manusianya menjadi lebih dewasa, dia mulai ngerti bahwa ini bohong semua.
Betul banget. Tapi banyak juga ya. Sampai mati juga masih percaya bahwa itu.
Oh iya. Ya, saya paham. Oh oke. Gua pernah lihat, saya lupa, Dr. Peter Attia atau siapa yang bilang cara paling mudah untuk melepaskan stres adalah tarik nafas 2 kali cepat, terus
buang pelan. Itu si Uberman. Ya, ya, ya. Itu bisa. Itu bisa. Tapi pada dasarnya si lepasin lebih lambat akan memicu parasimpatik. Dan ketika parasimpatik aktif, otomatis kita akan relaks. Lambatkan nafas, maka kita akan otomatis ini. Dan kalau bisa nafasnya lebih sedikit. Karbon dioksida naik, kita jantung
turun. Karena nariknya
lebih dikit daripada normalnya. Normal aja tapi pelan. Panjangnya itu, jadi kalau kita lepas jangan lepas yang Bukan begitu, tapi dipelanin. Sama seperti yang normal, kita keluarin, tapi lambat. Dia, contohnya kalau kita lepas nafas 2 detik, jadikan 4 detik, jadikan 6 detik. Semakin lambat, semakin kita relaks. Itu sederhana itu.
Tapi kalau dibilang kurang lebih banyak, itu termasuk barang-barang yang lu punya? Atau dalam hidupan? Adakah orang yang minimalis? Mereka minimalis? Dari beberapa
hal, iya. Jadi contohnya baju dan sepatah baju sini seperti itu satu koper. Ya kurang lebih seperti itu. Jadi kalau traveling satu bulan ke Binter juga cuma satu koper kabin ukuran. Ya kurang lebih kalau ada satu koper besar ya itu semua pakaian di situ.
Tapi lu lebih ke logik. Lu masih pake Apple Watch untuk tau detak jantung juga. Maksudnya lu tau.. Bukan anti yang begitu kan artinya? Bukan.
Lu punya mobil, tapi waktu beli mobil, cari yang agak gimana gitu supaya apa. Saya tahu ini investasi, bukan mobil hanya di.. dll sebagainya. Logik.
Betul. Betul. Nggak sama sekali nggak. Semua pake.
Semua pake. Tapi logik. Jadi mikir dulu sebelum memutuskan, mikir. Sabun nggak perlu. Saya tidak menggunakannya. Baik-baik saja selama 17 tahun. Pakean apakah perlu? Nggak sekarang. Ya udah, pake itu-itu aja. Nggak masalah. Nggak perlu penerimaan, penghargaan, pujian, dan sebagainya. Di situ nggak masalah. Menurutku sih ya orang lebih mikir aja gitu. Logik, menurutku. Iya,
karena less is more ya. Bukan say no to it gitu ya. Gua penasaran, have you check ke dokter tentang cek darah total dan sebagainya? It's all good? It's all
good. Sampai sekarang boleh dibilang kemarin ke Singapura, kemarin ke Apa itu namanya? Ke Bangkok, sempat cek hormon. Ya, bagus. Banyak orang bilang, kalau lu vegan nanti testosteron. Tidak. Testosteron jauh di atas kebanyakan orang. Manusia normal. Ya karena bukan
dari makanan doang kan. Dari latihan, dari apa yang lu lakukan kan itu naikin testosteron
juga kan. Tapi ya itu lagi-lagi, underrated-nya di nafas sih. Dulu kan kalau pernah ingat Gobind dulu kecil, kurus gitu ya. Terus kena lemes, nggak banyak energi yang seperti sekarang ini gara-gara missing-nya di nafas. Ngerubah makan nggak berubah banyak. Ngerubah olahraga, capek-capek, ngantuk, cedera. Kemudian ngerubah mindset. Oke, tiba-tiba jatuh lagi. Oke, jatuh lagi. Ternyata ujung-ujungnya adalah ketika merubah nafas, ini semua kena. Ini semua kena. Karena gini, ketika kita merubah makan, kita merubah 3 kali kebiasaan sehari. Kalau kita merubah olahraga, tadinya nggak olahraga, kita merubah 1 jam sehari. Kalau tidur 5 jam, 7 jam, 2 jam sehari. 25 ribu kali. Yes. Ketika merubah nafas, kita merubah kehidupan. Orang salah nafas itu salah hidup. Kita mengambilnya secara berdasarkan, untuk nafas ini sendiri. Iya. Anyway,
gua denger kalau lu nggak percaya juga dengan kata-kata sakit
hati. Iya. Betul banget. Sakit hati karena omongan orang. Tidak mungkin. Itu hoax. Itu hoax terbesar,
sih. Apakah itu benar kalau saya bilang bahwa kebencian pada dasarnya adalah kebencian diri?
Iya. Manusia nggak pernah mencintai orang lain. Manusia juga nggak pernah membenci orang lain. Yang dicintai dan dibenci adalah sosok yang dia pikir adalah orang lain. Oke. Daddy, kamu kenal cinta anakmu?
Lo abis ngomong gitu gue jadi harus mikir dong jawabannya.
Tentu saya cinta. Kita nggak pernah cinta itu. Ini sesuatu yang sensitif. Tapi coba perhatikan bagaimana jatuh cinta itu terjadi. Kayak cowok ya, kita cowok ya. Di dalam cowok pasti ada cewek impian dong. Wah wajahnya seperti artis ini, badannya seperti ini, ininya seperti ini. Wah kita lagi santai nih jalan-jalan di mall gitu ketemulah cewek yang mirip seperti apa bayangkan nih. Tiba-tiba jatuh cinta. Waduh ini. Bolehlah diketin, betul? Diketin, habis ngobrol, nyata kok makannya banyak. Habis makan, ngomong nggak nyambung. Tiba-tiba ilfeel. Terus cintanya kemana? Sebenarnya saya mencintai dia, atau mencintai sosok yang ada di kepala dia. Kalau kamu cocok dengan saya, ya saya cinta. Tapi kalau kamu, kalau kamu pindah agama, kalau kamu kahwin sama dia, seumur hidup mama nggak akan akuin kamu. Ini cinta atau dagang? Ini cinta atau dagang? Itu bukan cinta yang selama ini kita pikir cinta. Cinta adalah hilangnya kebencian. Lu nggak bisa cinta dengan kaum sesuatu dan kemudian mencintai kaum yang lain. Hilangnya benci, itu cinta. Bangkitlah cinta. Jadi apa itu cinta? Hilangnya kebencian. Lu nggak ada bencian. Rumi pernah mengatakan ini. Ini filosofi. Bahwa tugas kita bukan mencari cinta. Karena esensi dari hidup kita adalah cinta. Tugas kita adalah menghilangkan skat-skat yang menghalangi diri kita dengan cinta. Apa itu? Kemarahan, kebencian, ketakutan, dan sebagainya. Tapi kan tadi
pertanyaannya udah sayang sama anak lu gak gitu kan? Artinya kalau sayang artinya menghilangkan hal yang gua gak suka kepada mereka.
Gimana? Kalau... Bukan. Dalam arti apa? Selama ini yang kita pikir cinta, itu hanyalah dagang. Dua beli. Iya. Karena kamu masih dalam koridor toleransiku. Ketika dirimu keluar dari... Sayang nggak? Nggak sayang udah. Iya kan? Iya kan? Oke. Kita komitmen ya. Lu nggak sama ini, gini, gini. Tiba-tiba lu kok sama dia? Kok lu mengkhianatiku? Tiba-tiba cintanya hilang. Jadi itu bukan cinta, itu dagang. Semuanya dagang.
Jadi harusnya cinta sama anak
gimana? Gak ada. Berarti kita itu cinta. Berarti
hidup kita itu perspektif
terhadap Semuanya di dalam. Tapi ketika kita benar-benar udah hilang semua itu, ya itu baru muncullah cinta. Nggak ada benci, nggak ada apa. Kita memberi ruang yang luas pada anak kita untuk melakukan apapun, tanpa harus ada itu. Tapi itu panjang lah ceritanya. Terlalu susah untuk dijelaskan dalam podcast atau cerita-cerita
seperti ini. Iya, iya. Saya mengerti itu. Kadang-kadang cinta juga adalah untuk melepaskan. Bisa jadi gitu juga kadang-kadang. Itu belum tentu cinta
juga. Selama ini yang kita bilang cinta bukan cinta.
Pasti. I agree with you. Tapi gua kadang-kadang juga suka ngomong begitu ke orang-orang tentang logical thinking about love. Ya, sama seperti yang lu omongin. Not in the right way lu ngomong. I think lu ngomong ini lebih bagus buat gua. Kadang gua juga bilang bahwa ya sama, cinta itu apa gitu. Kalau gua nggak suka banyak orang yang over thinking tentang cinta, banyak orang akhirnya drop gara-gara cinta, banyak orang yang insecure gara-gara cinta, and it's become so stupid. Karena akhirnya terus orang-orang tersebut terus akhirnya they breakdown, mental breakdown dan sebagainya karena hal-hal tersebut yang bahkan salah dari awal pemikirannya pun sudah salah.
Kita didrive oleh suka nggak suka. Tapi sebelum itu kita bicara apa ya tadi? Enggak. Tiba-tiba kok kecinta. Tapi ada sesuatu yang tadi keputus.
Sakit hati. Sakit hati. Sakit hati. Iya, iya. Ngomongin orang dan sebagainya. Iya,
betul. Jadi gini. Kita adalah hasil dari programing masa lalu kita. Betul? Nah, ketika ada orang yang bilang gini, Gobind goblok otak isinya sampah. Coba perhatikan bagaimana cara kita bereaksi, bagaimana kata-kata itu kita artikan. Otak kita kan... Kamu kalau dibilang seperti itu artinya dihina, dilecehkan. Akhirnya kata-kata itu datang dan kita, aku dihina, aku dilecehkan, aku direndahkan. Akhirnya kita sakit hati. Oke. Tapi ketika kalau ada satu orang bicara sama Gobind, otak kamu isinya sampah gitu. Well, sekarang saya yakin sekali apa yang dikatakan orang itu tidak mencerminkan diri saya. Apapun yang dikatakan orang tersebut hanya mencerminkan siapa dirinya. Ketika, ini podcast seperti ini ya. Ada beberapa orang lihat, wah keren Pak, tercerahkan, bagus sekali. Sebagian bilang, apa itu, tau ini, dan sebagainya. Jadi podcast itu podcast. Status itu status. Satu status, satu orang senang, satu orang jelek. Yang menentukan siapa? Saya nggak baik, saya nggak buruk. Kalau apa yang saya katakan cocok dengan apa yang ada di dalam kepalamu, maka kamu katakan bagus. Tapi kalau nggak cocok, dikatakan jelek. Jadi baik apa buruk itu bukan tergantung ini, tapi tergantung apa yang di dalam. Tergantung
dari mereka.
Jadi sakit hati? Enggak. Dan kita tidak
bisa membuat semua orang setuju dengan
kita dan mencintai kita. Gandhi pernah mengatakan bahwa Tidak ada satu orang pun di dunia yang bisa menyakiti
hatimu tanpa persetujuan. Ya, itu benar. Itu juga mengatakan bahwa hadiah yang tidak diambil akan kembali
kepada pengasuh. Ya, betul. Contoh satu lagi. Coba jawab. Satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka hati kita siapa? Kalau satu-satunya orang yang di dunia yang bisa menyembuhkan luka hati kita adalah diri kita sendiri. Satu-satunya orang yang bisa menyakiti diri kita. Yes. Jadi ketika kita tahu ini, maka kita akan bebas dari luka hati. Ada seorang ibu nih. Gara-gara dia, dia itu bikin aku lagi sakit kanker ini. Gara-gara dia begini, gara-gara dia. Dia ngululah seperti itu. Ibu, kenapa dia? Dia menyakiti ku. Kemudian saya pencet. Benar. Dia menyakiti ibu. Seperti saya menyakiti ibu seperti ini. Atau ibu yang setiap hari di dalam kepala ibu menciptakan sosok dia, dan ibu benci setiap hari, dan menciptakan kekacauan di dalam tubuh ibu, dan memunculkan kanker itu. Mana yang benar? Selama kita masih berpikir bahwa dia bikin marah, kita akan kehilangan waktu untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Kita harus bertanggung jawab pada semua kemarahan, kebencian yang muncul. Kita terprogram sehingga kita membenci kelompok ini, kelompok itu, agama ini, ini, dan sebagainya. So mau gak kita mundur ke belakang, mengubah program-program
itu. Karena kita diajarkan dari awal memang lebih gampang nyalahin orang lain dibandingkan melihat diri kita dulu.
Betul. Ketika kita jatuh, terantuk, orang tua kita nakal nih, nakal nih. Oh, kalau saya sakit harus ada yang disalahkan. Harus aja cari kambing hitam. Kalau nggak ada kambing hitam, cari gajah hitam. Pokoknya harus ada yang disalahkan. Ketika dia besar, pacarnya ninggalin. Kemudian sakit hatinya, kamu menyakitiku. Ya bisa orang menyakiti hati kita.
Gua tuh baru kena, my back. Baru aja. Well, actually what happen is I got a little accident this morning. Because I do something with someone. I got an accident. Begitu kejadian, that person say sorry to me. Gua langsung bilang, no, my fault, not your fault. Karena buat gua, even I agree to do that, it's already my fault. Dan kalau ini salah saya, saya akan menyelesaikannya sendiri. Buat saya sendiri. Daripada kalau saya nyalahin orang lain atau nyalahin dia. Dan dalam pikiran saya, gara-gara lu nih, gara-gara lu nih. Akhirnya ini nggak sembuh. Ini tambah stres, nyalahin orang. Dan aku percaya kalau kita gak ngontrol itu, malah tambah sakit guanya. Karena kita gak nerima apa yang udah terjadi. Ini terjadi, oke, sudah selesai. Ini salahku. Karena bahkan untuk setuju denganmu untuk melakukan itu, sudah salahku. Iya. Betul. Kita investasi. Iya, kita ada investasi di sana.
Kita investasi dan orang makan uang kita. Kita lupa bahwa kita memberikan kepercayaan pada itu. Ada bagian dari diri saya, peran dari saya untuk memberikan kepercayaan. Dan kita ignore terhadap hal ini.
Ini sudah salah. Dia, kan kita
punya... Imajinasi bahwa dia bisa dipercaya. Kamu kan yang memberikan iman itu. Karena
kita bisa bilang tidak kan dari awal, kita
bisa memilih tidak. Tapi kita, kebanyakan orang nggak melihat ini, bahwa ada sebuah peran kita dalam memberikan kepercayaan. Bahwa kita salah, tapi kita nggak enak dong, ngomong salah kan nggak elegan. Dia menyakiti, dia mengkhianati, itu lebih gampang.
Gampang. Lebih gampang. Lebih gampang dibandingin kita yang lihat diri kita dulu sendiri, balikin diri kita dulu sendiri. Wow. I love this. This is so deep. Wow. Ini kayaknya nggak akan selesai ya ato episode ini. Lu tinggal di Bali dong berarti
sekarang ya? Tinggal di Bali. 50% sisanya di jalan. Di
Jakarta berapa lama sekali?
Atau di jalan? Sebulan sekali biasanya ada. Bikin pelatihan di 8 atau 10 kota di Indonesia. Jadi setiap minggu bikin pelatihan-pelatihan itu, yang TRI, yang shaking itu. Tapi waktu minggu ada pelatihan nafas. Ada teknik satu lagi namanya force mindfulness. Jadi kita paksa otak kita untuk shut down untuk bisa mindful. Itu juga ada gitu. Iya. Tadi ngobrol-ngobrol sama yang lain, dia bilang, kapan buat disini gitu. Oke,
bagus. Kita coba. Oke. Kita nggak akan selesai sekarang, nggak akan selesai hari ini juga nih kayaknya. Tapi, you know what, next time let's do this again. Karena kayaknya masih banyak yang bisa kita bahas disini. Dan setelah Goblin ini, saya pikir saya tidak memiliki nomor telepon Anda lagi, kan? Jadi setelah kali ini kami minta nomor Anda ya. Bro, sangat mengagumkan bertemu dengan Anda lagi. Ini belum dibahas. Bahkan kurang lebih banyak. Berarti masih banyak lagi yang bisa kita bahas. Tapi terima kasih banyak sudah datang. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima Terima kasih. Terima Terima kasih. Terima Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima
kasih. Terima kasih.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. kasih. Terima kasih. kasih
More from Gobind
Friends of Merry Riana 13 TAHUN NYEKER, GOBIND VASHDEV UNGKAP RAHASIA YANG JARANG DIKETAHUI
Seni Bernafas - Mengenal apa itu Buteyko Breathing? Bersama @Gobindvashdev (Bagian 2)
Seni Bernafas - Mempraktikan teknik bernafas untuk hidup yang lebih berkualitas. Bersama @Gobindvashdev (Bagian 3)
